AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk “Hasrat Menjadi Manusia dalam O” yang menghadirkan sastrawan ternama Eka Kurniawan sebagai pembicara. Kegiatan tersebut berlangsung di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, Selasa (21/7/2026).
Partisipasi Eka Kurniawan dalam Festival Seni Bali Jani menjadi pengalaman pertamanya tampil dalam ajang tersebut. Pada kesempatan itu, ia tidak hanya mengulas novel O, tetapi juga berbagi kisah mengenai proses kreatif di balik penulisan karya-karyanya.
“Baru pertama kalau di festival ini, ya. Membahas novel O sama mungkin proses kreatif penulisan, macam-macam,” katanya.

Antusiasme peserta tampak mewarnai jalannya diskusi. Eka mengaku senang melihat tingginya minat masyarakat terhadap sesi yang diikutinya maupun rangkaian kegiatan Festival Seni Bali Jani secara keseluruhan. Pelajar, komunitas sastra, pegiat literasi, hingga pencinta buku memenuhi arena diskusi. Bahkan, menurutnya, masih banyak peserta yang ingin mengajukan pertanyaan ketika waktu diskusi telah berakhir.
“Kayaknya antusias banget, enggak cuma sesi saya, tapi juga sesi-sesi sebelumnya juga, karena saya datang dari agak sore. Banyak pelajar, komunitas sastra, komunitas buku yang bahkan kayaknya masih banyak yang ingin bertanya tapi waktunya udah habis,” ujarnya.
Menanggapi tema “Hasrat Menjadi Manusia dalam O“, Eka menjelaskan bahwa gagasan tersebut berangkat dari perjalanan tokoh-tokoh dalam novelnya yang masing-masing memiliki keinginan dan berusaha mewujudkannya. Ada yang berhasil, ada pula yang gagal. Menurutnya, hasrat untuk mengejar cita-cita, baik yang sederhana maupun yang besar, merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
“Di novel itu semua tokoh-tokohnya itu kan selalu punya keinginan tertentu dan mereka mencoba untuk mewujudkannya. Ada yang berhasil, ada yang gagal. Ya saya kira semua kita selalu seperti itu. Kita punya keinginan, keinginan sederhana maupun keinginan besar, kita berusaha mewujudkannya. Ya kurang lebih kayaknya menjadi manusia itu kurang lebih seperti itulah,” ungkapnya.

Eka Kurniawan berfoto bersama pengemar di sela diskusi buku bertajuk “Hasrat Menjadi Manusia dalam O” | Foto: Istimewa
Eka juga menilai festival seni dan sastra seperti Festival Seni Bali Jani memiliki peran penting sebagai ruang perjumpaan antara penulis, seniman, dan para penikmat karya. Menurutnya, kegiatan semacam ini membuktikan bahwa proses menulis maupun membaca tidak sepenuhnya berlangsung secara individual. Festival justru menghadirkan ruang untuk saling bertemu, berdiskusi, bertukar gagasan, dan berbagi pengalaman.
“Event yang mempertemukan penulis atau seniman secara umum dengan pembacanya, dengan sesama seniman, pembaca dengan pembaca, pembaca dengan penulis, penulis dengan penulis. Artinya kita meskipun ya orang sering bilang penulis itu kan kerja sendirian di kamar di depan komputer, terus orang baca juga sendirian, tapi pada dasarnya kita masih bisa bertemu, berbagi, dan ya ternyata kita enggak sendirian-sendirian amat,” tutur penulis novel Lelaki Harimau tersebut.
Di akhir diskusi, Eka turut membagikan kabar mengenai proyek terbarunya. Ia mengungkapkan tengah menyelesaikan sebuah novel baru yang ditargetkan terbit sebelum akhir tahun 2026.
“Yang rencana sih mau mengeluarkan novel baru. Mudah-mudahan sih tahun ini, ya. Masih ada beberapa bulan sampai akhir tahun. Judul novel baru, judulnya Coreng Hitam,” pungkasnya.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto


























![Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-genesis-350x250.png)
![Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/sihab.-purple-350x250.png)


