20 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

Hairunnisa Br. Sagala by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
in Esai
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

Hairunnisa Br. Sagala

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan lahir keputusan. Dan dari keputusan, peradaban dibangun.

Namun kini, di abad yang dipenuhi kecerdasan buatan, ada sesuatu yang perlahan menghilang bukan suara manusia, melainkan jeda untuk berpikir. Kita hidup di zaman ketika jawaban datang lebih cepat daripada pertanyaan selesai diucapkan. Cukup beberapa detik, layar memuntahkan ribuan kata. Esai selesai. Presentasi jadi. Ringkasan tersedia. Bahkan nasihat kehidupan pun kini bisa diproduksi oleh mesin.

Semua terasa praktis. Terlalu praktis. Seolah hidup telah berubah menjadi restoran cepat saji: pesan, tunggu sebentar, semua tersaji. Sayangnya, yang ikut menjadi “cepat saji” adalah cara kita berpikir. Kita mulai terbiasa menerima jawaban, tetapi enggan menikmati proses mencari makna.Padahal, manusia tidak dibesarkan oleh jawaban. Manusia dibentuk oleh pencarian.

Ada kisah menarik dari filsuf Yunani, Socrates. Ia tidak dikenal karena memberi banyak jawaban, justru sebaliknya, ia menghabiskan hidupnya dengan mengajukan pertanyaan. Baginya, pertanyaan adalah pintu menuju kebijaksanaan.

Ironisnya, hari ini kita justru hidup dalam kebudayaan yang alergi terhadap pertanyaan. Kita lebih menyukai jawaban instan, bahkan sebelum sempat bertanya kepada diri sendiri.

Ketika menghadapi tugas kuliah, kita bertanya kepada AI. Ketika bingung menentukan pilihan karier, kita bertanya kepada AI. Ketika ingin menulis pidato, menyusun proposal, bahkan merangkai ucapan ulang tahun, kita kembali bertanya kepada AI. Sedikit demi sedikit, kita menyerahkan pekerjaan berpikir kepada mesin.

Yang mengkhawatirkan bukan karena AI menjadi semakin pintar. Yang mengkhawatirkan adalah manusia mulai merasa tidak perlu lagi berpikir terlalu dalam. Teknologi memang selalu lahir untuk memudahkan hidup manusia. Mesin cuci menggantikan tenaga mencuci. Kalkulator membantu berhitung. Mobil mempercepat perjalanan. Namun tidak pernah ada teknologi yang diciptakan untuk menggantikan hati nurani.

AI mampu menjelaskan apa itu kejujuran, tetapi tidak pernah diuji untuk memilih jujur ketika berbohong lebih menguntungkan. AI dapat menulis pidato tentang empati yang menyentuh, tetapi tidak pernah merasakan sesak melihat orang lain menderita. AI bisa menyusun kalimat indah tentang cinta tanah air, tetapi tidak pernah menangis saat menyaksikan bendera berkibar di tanah kelahirannya.

Mesin belajar dari miliaran data. Manusia belajar dari pengalaman. Dan pengalaman selalu meninggalkan bekas yang tidak bisa diunduh. Yang sedang kita hadapi hari ini bukan sekadar revolusi teknologi. Kita sedang menghadapi revolusi cara berpikir.

Perlahan, kemampuan manusia untuk diam, merenung, dan berdialog dengan dirinya sendiri mulai tergerus oleh budaya serba instan. Padahal renungan adalah ruang sunyi tempat karakter bertumbuh, di sanalah kita belajar membedakan yang benar dari yang sekadar populer, yang baik dari yang sekadar menguntungkan.

Ketika ruang itu hilang, keputusan kita mungkin tetap cepat, tetapi belum tentu bijaksana.

Inilah ironi abad ke-21: kita memiliki akses pada pengetahuan yang nyaris tak terbatas, tetapi semakin sedikit waktu untuk mencerna maknanya. Kita dikelilingi informasi, namun sering kekurangan kebijaksanaan. Kita sibuk mengejar kecepatan, tetapi lupa bahwa tidak semua hal yang penting harus berlangsung cepat.

Benih tidak tumbuh karena dipaksa. Ia tumbuh karena diberi waktu. Demikian pula manusia.

Perubahan ini mulai tampak nyata di ruang-ruang kelas. Tugas-tugas mahasiswa semakin rapi, kalimat-kalimatnya semakin sistematis. Namun ketika diminta menjelaskan alasan di balik tulisannya, tidak sedikit yang terdiam, seolah kata-kata itu memang indah, tetapi tidak pernah benar-benar singgah di dalam pikirannya.

Inilah yang perlu kita waspadai. Jangan sampai kita melahirkan generasi yang mahir menghasilkan teks, tetapi gagap melahirkan gagasan. Jangan sampai kita memiliki lulusan yang fasih menyusun argumen, tetapi bingung menentukan sikap ketika dihadapkan pada persoalan nyata. Sebab kehidupan tidak selalu menyediakan kolom prompt untuk setiap persoalan. Ada saatnya manusia harus berdiri sendiri, tanpa bantuan mesin, dan memutuskan berdasarkan nurani.

Maka tugas pendidikan hari ini bukanlah mengajak mahasiswa menjauhi AI itu mustahil, sekaligus tidak bijaksana. Yang jauh lebih penting adalah mengajarkan mereka untuk tetap menjadi manusia ketika menggunakan AI.

Teknologi boleh membantu mencari jawaban, tetapi makna tetap harus dicari sendiri. AI boleh mempercepat pekerjaan, namun karakter tidak pernah lahir dari kecepatan. Ia tumbuh dari perenungan, keberanian mengakui kesalahan, kesediaan mendengar, dan kerendahan hati untuk terus belajar.

Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang sejarah bukanlah mesin yang mampu menjawab segala pertanyaan, melainkan manusia yang tetap berani bertanya kepada dirinya sendiri:

“Apakah keputusan ini benar?”

“Apakah ini adil?”

“Apakah saya masih menjadi manusia yang utuh?”

Sebab mungkin, krisis terbesar abad ke-21 bukan ketika mesin berhasil meniru kecerdasan manusia melainkan ketika manusia, tanpa sadar, berhenti menggunakan anugerah paling berharganya: kemampuan untuk merenung. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

Next Post

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Hairunnisa Br. Sagala

Hairunnisa Br. Sagala

Dosen Mata Kuliah Wajib Universitas, Pusat MKWK dan Pengembangan Karakter UPNVJ Jakarta

Related Posts

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
0
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

Read moreDetails

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

by Nur Inayah Yushar
July 19, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BAGI kelompok orang yang tidak mengikuti sepak bola, riuh rendah Piala Dunia sering kali terasa seperti latar belakang suara yang...

Read moreDetails

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

by Agung Sudarsa
July 19, 2026
0
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

"People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls." Manusia rela melakukan apa...

Read moreDetails

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

by Muhammad Syahrul Wafda
July 19, 2026
0
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

MENGINGAT banyaknya pengguna media sosial saat ini, orang-orang gemar membagikan musik yang mereka dengarkan di platform seperti Instagram, WhatsApp, dan...

Read moreDetails

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails
Next Post
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Setiap Gerakan Punya Cerita  ---Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”
Khas

Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”

LOMBA Menyanyi Lagu Pop Bali dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 berlangsung bak "perang bintang". Hampir seluruh...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026

 “Hari ini kalian mungkin berpikir narkoba itu urusan orang lain. Padahal, yang dibutuhkan pengedar hanya satu celah, yaitu rasa penasaran.”...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SORAK-sorai ratusan murid baru memenuhi Aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sesekali tepuk tangan bergemuruh tatkala acara diselingi penampilan...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara
Kritik Seni

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

SEBELUM kalian marah-marah dengan judul tulisan ini, perlu dijelaskan topik ini adalah auto kritik yang aku layangkan pada tiap seniman...

by Made Chandra
July 19, 2026
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya
Ulas Pentas

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?
Esai

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co