MINAT masyarakat terhadap dunia sastra kembali menunjukkan geliat yang menggembirakan. Lomba Menulis Cerpen dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 berhasil menjaring 172 naskah dari peserta berbagai daerah di Indonesia. Seluruh karya mengangkat tema “Kembara Sukma Atma Kerthi: Pengembaraan Menuju Jiwa Mahasuci”, dengan beragam pendekatan dan sudut pandang kreatif.
Dalam rapat penentuan pemenang di Ruang Rapat Padma, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026), dewan juri mengakui proses penilaian berlangsung cukup menantang. Selain jumlah peserta yang tinggi, kualitas naskah yang masuk dinilai cukup merata sehingga membutuhkan pembacaan dan diskusi yang mendalam.
Lomba ini menjadi salah satu ruang bagi pelajar, mahasiswa, seniman, dan masyarakat umum untuk mengekspresikan gagasan melalui karya sastra sekaligus mengembangkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan berbahasa.
Namun, di balik tingginya antusiasme peserta, dewan juri menyoroti satu persoalan yang semakin mengemuka dalam kompetisi kepenulisan, yakni penggunaan teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menurut sastrawan Wayan Jengki Sunarta, S.Sos., sebagian besar naskah memperlihatkan pola penulisan yang identik dengan hasil olahan AI.

“Sebagian besar cerpen rata-rata ditulis dengan AI. Pola-pola kalimat AI, algoritme AI terlihat jelas. Hingga gaya cerpen dan pola kalimat, gaya ucap, gaya bahasa cenderung seragam,” ungkap Jengki saat menyampaikan evaluasi hasil penjurian.
Ia menjelaskan, petunjuk teknis lomba memang tidak melarang penggunaan AI. Namun, dewan juri tetap mengutamakan karya yang memperlihatkan kekuatan kreativitas, kepekaan, dan karakter khas penulis.
“Tidak ada syarat soal AI dalam juknis lomba. Namun, yang ada soal plagiat. Kami sebagai juri ingin mencari karya yang benar-benar orisinal atau setidaknya penggunaan AI-nya sangat minim. Kalau pun memakai AI, hasilnya seharusnya diolah kembali sesuai gaya penulisnya, bukan langsung disalin begitu saja,” tegasnya.
Menurut Jengki, kehadiran AI merupakan realitas yang tidak mungkin dihindari dalam dunia kepenulisan. Karena itu, teknologi tersebut sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti proses kreatif seorang penulis.
“Hari ini semua orang bisa menulis pakai AI. Idealnya, hasil AI dijadikan draf awal, lalu penulis mengolahnya kembali dengan pengalaman, imajinasi, dan gaya bahasanya sendiri. Lomba-lomba menulis sekarang memang banyak bersentuhan dengan AI, dan itu tidak bisa dihindari,” katanya.

Selain persoalan AI, dewan juri juga mencermati pengolahan tema. Secara umum, para peserta dinilai telah berusaha menerjemahkan tema besar FSBJ VIII, namun sebagian besar masih melakukannya secara harfiah sehingga ruang tafsir dan eksplorasi artistik menjadi kurang berkembang.
“Cerpen-cerpen yang masuk ke panitia sudah berusaha menerjemahkan tema. Namun pengolahan tema terlalu harfiah,” ujarnya.
Proses penilaian dilakukan secara objektif melalui metode blind review. Seluruh identitas penulis dihilangkan sehingga juri hanya menilai kualitas naskah. Tim juri yang terdiri atas Wayan Jengki Sunarta, S.Sos., I Wayan Suardika, dan Dewa Ayu Carma Miradayanti, S.S., masing-masing memilih sepuluh naskah terbaik sebelum membahasnya dalam sidang pleno.
Persaingan menuju podium juara berlangsung cukup ketat. Dari puluhan karya unggulan, hanya satu cerpen yang memperoleh dukungan bulat dari ketiga juri. Sementara karya-karya lainnya hanya mendapat dukungan dua juri sehingga diperlukan pembacaan ulang dan diskusi mendalam sebelum akhirnya ditetapkan Juara I, II, dan III.
Para pemenang akan memperoleh hadiah uang tunai, masing-masing Rp5 juta untuk Juara I, Rp4 juta bagi Juara II, dan Rp3 juta untuk Juara III.
Melalui kompetisi ini, FSBJ VIII kembali menegaskan perannya sebagai ruang apresiasi seni budaya Bali modern dan kontemporer yang berpijak pada lima semangat utama, yakni eksplorasi, eksperimentasi, lintas batas, kontekstual, dan kolaborasi. Di tengah derasnya perkembangan teknologi, lomba ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kreativitas, kejujuran, dan suara autentik penulis tetap menjadi ruh utama sebuah karya sastra.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























