22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Era Chatting Telah Berlalu

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 7, 2026
in Esai
Era Chatting Telah Berlalu

Ilustrasi tatkala.co

MENGOBROL, berdiskusi, atau berdebat secara daring, yang dalam bahasa Inggris lazim disebut chatting, pelan-pelan ingin saya tinggalkan. Bukan karena saya anti terhadap perkembangan teknologi. Bukan pula karena merasa dunia digital tidak lagi berguna. Saya hanya sampai pada sebuah kesadaran sederhana bahwa aktivitas itu terlalu banyak menghabiskan energi.

Semakin bertambah usia, semakin saya memahami bahwa energi jauh lebih berharga daripada waktu. Waktu memang terus berjalan dalam hitungan yang sama bagi setiap orang. Sehari tetap dua puluh empat jam. Namun, energi untuk berpikir, mendengarkan, memahami, lalu menanggapi sesuatu tidak pernah benar-benar sama. Ada masa ketika kita begitu murah hati membaginya kepada siapa saja. Namum, ada pula masa ketika kita mulai memilih, kepada siapa dan untuk apa energi itu diberikan.

Saya merasa sedang berada pada masa yang kedua. Sejak era mIRC, Yahoo Messenger, Facebook, Twitter yang kini berganti nama menjadi X, Instagram, Threads, hingga entah aplikasi apa lagi yang akan lahir beberapa tahun mendatang, kebiasaan manusia sesungguhnya tidak banyak berubah. Platform datang dan pergi. Nama berganti. Tampilan diperbarui. Algoritma disempurnakan. Namun, hasrat manusia untuk berbicara tidak pernah benar-benar berubah.

Semua orang ingin didengar. Semua orang ingin dipahami. Tidak sedikit pula yang ingin memenangkan perdebatan. Di situlah saya mulai merasa lelah. Percakapan di ruang digital sering kali tidak benar-benar menghadirkan percakapan. Yang hadir justru saling membalas pendapat. Saling mengoreksi, menyela,  mempertahankan keyakinan masing-masing. Tidak jarang pula saling menyerang.

Padahal, percakapan yang baik mestinya membuat kita pulang dengan pemahaman yang bertambah, bukan dengan kemarahan yang semakin panjang. Dunia maya memiliki satu kelemahan yang hingga hari ini belum mampu diatasi oleh teknologi secanggih apa pun. Kita tidak benar-benar melihat manusia yang sedang berbicara kepada kita.

Kita hanya melihat huruf, namun kita tidak mendengar nada suaranya, atau tidak melihat sorot matanya. Kita tidak mengetahui apakah ia sedang tersenyum, bercanda, gugup, atau sebenarnya menyesali kalimat yang baru saja ditulisnya.

Yang kita baca hanyalah teks. Dari situlah kesalahpahaman lahir dengan sangat mudah. Ironisnya, kesalahpahaman sering terjadi bukan di antara orang asing, melainkan justru di antara mereka yang telah saling mengenal. Pertemanan yang telah berlangsung bertahun-tahun bisa menjadi renggang hanya karena sebuah kalimat yang dibaca dengan intonasi yang keliru.

Media sosial membuat kita merasa sedang berbicara dengan seseorang. Padahal sering kali kita sedang berbicara dengan bayangan yang kita ciptakan sendiri tentang orang tersebut. Saya tidak mengatakan bahwa chatting adalah sesuatu yang buruk. Ia menjadi buruk ketika menggantikan pertemuan.

Di Indonesia, kita mengenal istilah “kopi darat”. Saya selalu menyukai istilah itu. Percakapan yang semula berlangsung di udara akhirnya dipindahkan ke daratan. Orang-orang duduk di meja yang sama. Secangkir kopi menjadi saksi bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan melalui papan ketik. Banyak kesalahpahaman yang ternyata selesai hanya dengan saling memandang wajah. Barangkali sejak awal manusia memang diciptakan untuk bertemu.

Jauh sebelum internet memasuki rumah-rumah, masyarakat Indonesia telah mengenal radio amatir. Di kampung saya, orang-orang menyebutnya “brik”. Mereka bercakap melalui gelombang radio hingga larut malam. Ada yang sekadar bertukar kabar, berteman, bahkan pula yang akhirnya saling jatuh cinta.

Ketika masih kecil, saya pertama kali mendengar kata “selingkuh” bukan dari televisi atau surat kabar, melainkan dari cerita para tetangga. Seorang perempuan dikabarkan menjalin hubungan dengan laki-laki lain yang dikenalnya melalui radio amatir. Sebagai anak kecil, saya belum memahami kerumitan hubungan orang dewasa. Namun, saya mulai mengerti bahwa komunikasi, meskipun hanya melalui suara, ternyata mampu menghadirkan kedekatan yang sangat nyata.

Hari ini, teknologi telah berkembang jauh melampaui masa itu. Dulu kita hanya mendengar suara. Kini kita dapat melihat wajah melalui panggilan video. Bahkan, dengan kecerdasan buatan, wajah dan suara pun dapat dimanipulasi sedemikian rupa sehingga sulit dibedakan dengan kenyataan.

Teknologi memang semakin mendekatkan manusia yang berjauhan. Namun, saya tidak yakin teknologi juga membuat manusia semakin dekat secara batin. Justru pada zaman ketika kita dapat berbicara dengan siapa saja, kapan saja, dari mana saja, kita semakin sering kehilangan kemampuan untuk benar-benar mendengarkan.

Semua orang berbicara, tapi sedikit yang mendengar. Semua orang ingin menjelaskan, hanya sayangnya sedikit yang ingin memahami. Mungkin karena itulah saya mulai mengambil jarak.Bukan dari manusianya, melainkan dari kebiasaan yang membuat saya menghabiskan terlalu banyak waktu untuk percakapan yang, setelah selesai, tidak meninggalkan apa-apa selain rasa lelah.

Memasuki usia kepala empat, saya merasa ada banyak hal yang berubah. Bukan hanya cara memandang dunia, melainkan juga cara menggunakan waktu. Dulu, telepon genggam seperti memiliki daya tarik yang sulit ditolak. Setiap bunyi notifikasi seolah memanggil untuk segera dibuka. Ada rasa khawatir tertinggal percakapan, kehilangan informasi, atau dianggap tidak peduli.

Sekarang, saya justru menikmati saat-saat ketika telepon genggam dibiarkan diam. Jika ada pesan yang penting, tentu saya balas. Jika menyangkut pekerjaan, keluarga, atau sahabat, saya berusaha menjawab secepat mungkin. Namun, saya tidak lagi merasa berkewajiban menanggapi setiap kiriman video, setiap tautan berita, setiap candaan yang berulang kali beredar di grup WhatsApp, apalagi setiap perdebatan yang tampaknya tidak akan pernah mencapai titik temu.

Saya mulai belajar bahwa tidak semua hal membutuhkan respons. Diam pun kadang merupakan jawaban. Ada hari-hari ketika saya membuka media sosial hanya beberapa menit. Bukan karena tidak ada yang menarik, melainkan karena saya sadar selalu ada sesuatu yang lebih penting untuk dikerjakan.

Menulis, misalnya, atau membaca buku yang sudah lama menunggu di rak. Atau, duduk di warung kopi sambil memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Mengobrol dengan teman tanpa terganggu bunyi notifikasi. Atau juga, sekadar menikmati sore di Denpasar ketika matahari mulai turun perlahan dan lalu lintas kembali padat oleh orang-orang yang pulang bekerja.

Semakin saya menjauh dari keramaian percakapan digital, semakin saya menemukan kembali kesunyian. Dan saya percaya, kesunyian bukanlah musuh bagi seorang penulis. Sebaliknya, ia adalah ruang kerja. Di dalam kesunyian, kalimat-kalimat mulai berdatangan. Ingatan yang semula tercecer menemukan tempatnya. Pengalaman yang selama ini hanya lewat begitu saja perlahan berubah menjadi bahan renungan.

Barangkali karena itulah saya merasa sayang ketika melihat penulis, penyair, atau sastrawan menghabiskan begitu banyak waktunya untuk berdebat di media sosial. Bukan berarti mereka tidak boleh menyampaikan pendapat. Tentu saja boleh. Dunia literasi juga membutuhkan percakapan.

Namun, ada perbedaan antara percakapan yang melahirkan gagasan dan percakapan yang sekadar menguras tenaga. Ada perdebatan yang membuat kita pulang dengan wawasan baru. Ada pula perdebatan yang berakhir dengan saling memblokir akun.

Saya semakin sering bertanya kepada diri sendiri, apakah waktu yang saya habiskan hari ini menghasilkan sesuatu yang dapat saya baca kembali beberapa tahun mendatang? Komentar di media sosial akan tenggelam oleh komentar berikutnya. Percakapan di grup akan tertutup oleh ratusan pesan baru. Tetapi sebuah esai, puisi, atau sebuah buku mungkin masih akan dibaca ketika percakapan itu telah lama dilupakan. Kesadaran itulah yang perlahan mengubah kebiasaan saya.

Saya tidak lagi ingin menjadi orang yang selalu hadir dalam setiap percakapan. Saya lebih ingin hadir sepenuhnya ketika sedang berbicara dengan seseorang. Saya tidak ingin sekadar mengetahui banyak hal. Saya ingin memahami beberapa hal dengan lebih dalam. Mungkin ini juga bagian dari pertambahan usia. Kita mulai memilih. Memilih pekerjaan, pertemanan, bacaan, percakapan. Dan, yang tidak kalah penting, memilih apa yang tidak perlu lagi diberi perhatian.

Saya teringat seorang teman yang pernah berkata, “Media sosial membuat kita merasa produktif, padahal belum tentu menghasilkan apa-apa.” Kalimat itu terus terngiang hingga sekarang. Berapa jam yang kita habiskan untuk menggulir layar setiap hari? Berapa banyak yang benar-benar kita ingat dari semua itu? Sebaliknya, satu jam membaca buku sering kali meninggalkan bekas yang jauh lebih lama daripada berjam-jam membaca linimasa.

Satu jam mengobrol dengan seorang sahabat di warung kopi kadang menghasilkan gagasan yang tidak pernah muncul selama berminggu-minggu berada di media sosial. Mungkin karena percakapan yang sesungguhnya selalu membutuhkan kehadiran. Bukan hanya tubuh, tetapi juga perhatian.

Saya tidak sedang mengajak siapa pun meninggalkan media sosial. Setiap zaman memiliki teknologinya sendiri, dan setiap teknologi membawa manfaat yang tidak sedikit. Saya pun masih menggunakannya untuk bekerja, berkomunikasi, membaca berita, dan membagikan tulisan.

Yang ingin saya tinggalkan adalah kebiasaan menghabiskan energi pada percakapan yang tidak membawa saya bertumbuh. Hidup rasanya terlalu singkat untuk terus-menerus membuktikan bahwa kita benar. Dan, terlalu singkat untuk memenangkan perdebatan dengan orang yang bahkan belum tentu ingin mendengarkan.

Saya lebih memilih menyelesaikan satu esai daripada menulis seratus komentar. Lebih memilih bertemu seorang teman daripada berbalas pesan sepanjang malam. Lebih memilih secangkir kopi dan percakapan yang jujur daripada ribuan kata yang melintas begitu saja di layar telepon. Mungkin memang begitulah akhirnya. Bukan era internet yang telah berakhir, bukan pula era media sosial.

Yang berakhir adalah masa dalam hidup saya ketika chatting menjadi pusat perhatian. Kini, ia hanya pelengkap. Selebihnya, saya ingin kembali pada hal-hal yang lebih nyata; pada buku yang belum selesai dibaca, naskah yang menunggu diselesaikan, atau perjumpaan yang menghadirkan tawa, jeda, dan tatapan mata.

Sebab, pada akhirnya, kehidupan tidak berlangsung di kolom komentar. Kehidupan berlangsung di antara manusia yang saling menyapa, saling mendengar, dan saling mengingat setelah percakapan usai.

Denpasar, 3 Juli 2026

Tags: komunikasimedia online
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

Next Post

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal ---Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co