7 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
June 7, 2026
in Esai
Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP kali menghadiri acara hajatan, seminar, reuni, atau pertemuan keluarga besar, ada satu momen yang hampir selalu ditunggu banyak orang: saat prasmanan dibuka. Entah mengapa, pengumuman bahwa makanan sudah siap disantap sering kali mampu mengalihkan perhatian dari apa pun yang sedang berlangsung. Obrolan yang sebelumnya hangat mendadak terputus, kursi-kursi mulai ditinggalkan, dan barisan manusia perlahan terbentuk di depan meja hidangan.

Prasmanan memang menarik. Di sana, setiap orang bebas memilih apa yang ingin dimakan, menentukan porsi sesuai selera, dan menikmati beragam menu dalam satu waktu. Namun di balik kebebasan itu, ada serangkaian aturan tak tertulis yang seolah dipahami bersama oleh semua orang. Tidak ada papan pengumuman yang menjelaskannya. Tidak ada petugas yang mengingatkan. Meski begitu, sebagian besar orang tahu bahwa aturan-aturan tersebut perlu dihormati agar suasana tetap nyaman.

Aturan pertama yang paling mendasar adalah soal antrean. Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin ada banyak situasi ketika orang tergoda untuk mencari jalan pintas. Namun di depan meja prasmanan, antrean menjadi semacam hukum alam. Semua orang memahami bahwa siapa yang datang lebih dulu berhak mengambil makanan lebih dahulu. Ketika ada seseorang yang tiba-tiba menyelip dari samping dan langsung mengambil piring, suasana biasanya langsung berubah.

Tidak ada yang menegur secara terbuka, tetapi tatapan mata dari beberapa orang sering kali sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ada etika yang sedang dilanggar. Menariknya, antrean di prasmanan juga memperlihatkan karakter manusia. Ada yang sabar menunggu meskipun barisan panjang. Ada yang berkali-kali menjulurkan leher untuk melihat apakah makanan favoritnya masih tersedia. Ada pula yang tampak gelisah seolah-olah hidangan akan habis dalam hitungan detik.

Padahal, pada banyak acara, panitia atau tuan rumah sudah menyiapkan makanan dalam jumlah yang cukup. Kekhawatiran itu sering kali lebih banyak berasal dari naluri manusia daripada kenyataan. Aturan tak tertulis berikutnya adalah mengambil makanan secukupnya. Hampir semua orang pernah melihat pemandangan seseorang yang memenuhi piring hingga menyerupai bukit kecil.

Nasi bertumpuk, lauk saling menindih, kerupuk diselipkan di sudut-sudut yang tersisa, dan kuah berusaha bertahan agar tidak tumpah. Tidak ada larangan resmi untuk mengambil banyak makanan. Namun ada kesadaran bersama bahwa prasmanan adalah ruang berbagi. Ketika seseorang mengambil secara berlebihan, muncul kekhawatiran bahwa orang lain mungkin tidak kebagian.

Karena itu, banyak orang memilih strategi yang dianggap lebih sopan: mengambil secukupnya terlebih dahulu, lalu kembali lagi jika masih ingin menambah. Cara ini bukan hanya lebih adil bagi tamu lain, tetapi juga mengurangi kemungkinan makanan terbuang. Pada akhirnya, tidak ada yang lebih disayangkan daripada melihat piring penuh makanan yang akhirnya tidak habis dimakan.

Selain soal porsi, ada pula aturan mengenai kecepatan. Prasmanan bukan tempat untuk merenung terlalu lama. Memang memilih makanan membutuhkan waktu, tetapi berdiri berlama-lama di depan meja sambil mempertimbangkan setiap pilihan bisa membuat antrean tersendat. Semua orang tentu berhak menentukan menu favoritnya, tetapi ada kesadaran bahwa di belakang masih ada banyak orang yang menunggu giliran.

Situasi ini sering menghadirkan pemandangan yang lucu. Seseorang berdiri dengan piring kosong sambil menatap seluruh hidangan seperti sedang menghadapi ujian hidup. Matanya berpindah dari ayam goreng ke rendang, lalu ke sate, kemudian kembali lagi ke ayam goreng. Sementara itu, antrean di belakang mulai memanjang. Pada titik tertentu, keputusan harus dibuat. Tidak harus sempurna, yang penting barisan tetap bergerak.

Aturan tak tertulis lainnya berkaitan dengan alat saji. Sendok sayur untuk sup sebaiknya tetap berada di wadah sup. Penjepit ayam sebaiknya tidak digunakan untuk mengambil buah. Hal-hal seperti ini terdengar sepele, tetapi sangat menentukan kenyamanan bersama. Ketika alat saji berpindah tempat atau tercampur, orang berikutnya akan kesulitan. Dalam acara besar, kekacauan kecil semacam itu dapat menyebar dengan cepat dan membuat meja prasmanan terlihat berantakan.

Ada pula etika yang jarang dibahas tetapi hampir selalu dipraktikkan, yaitu memberi kesempatan kepada kelompok tertentu untuk mengambil makanan lebih dulu. Lansia, ibu yang membawa anak kecil, atau tamu kehormatan biasanya mendapat ruang untuk mendahului antrean. Tidak ada kewajiban tertulis yang mengatur hal tersebut, tetapi banyak orang melakukannya sebagai bentuk penghormatan dan kepedulian.

Sikap semacam ini menunjukkan bahwa prasmanan bukan sekadar urusan makan, melainkan juga cerminan hubungan sosial. Di sisi lain, prasmanan juga menjadi panggung kecil bagi berbagai strategi manusia. Ada yang langsung menuju menu favorit sebelum mengambil yang lain. Ada yang berkeliling terlebih dahulu untuk melakukan “survei lapangan”. Ada yang sengaja menyisakan ruang di piring untuk hidangan penutup.

Bahkan ada pula yang sudah memiliki perencanaan matang sejak awal melihat susunan meja makanan. Semua strategi itu sah-sah saja selama tidak mengganggu orang lain. Menariknya, aturan tak tertulis di prasmanan tidak lahir dari peraturan resmi, melainkan dari pengalaman kolektif. Orang-orang belajar dari kebiasaan yang terus berulang. Mereka memahami bahwa kenyamanan bersama hanya bisa tercipta jika setiap individu bersedia membatasi dirinya sedikit.

Tidak menyerobot antrean, tidak mengambil berlebihan, tidak menghambat orang lain, dan tidak membuat kekacauan di meja saji merupakan bentuk-bentuk kecil dari kesadaran tersebut. Jika dipikirkan lebih jauh, prasmanan sebenarnya menyerupai miniatur kehidupan sosial. Di sana ada sumber daya yang digunakan bersama, ada kebutuhan pribadi yang ingin dipenuhi, dan ada kepentingan orang lain yang harus dipertimbangkan.

Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati hidangan, tetapi kesempatan itu berjalan baik hanya ketika semua pihak menghormati aturan yang tidak pernah dituliskan. Mungkin karena itulah prasmanan selalu menarik untuk diamati. Di balik piring, sendok, dan aneka hidangan, terdapat pelajaran sederhana tentang bagaimana manusia hidup berdampingan.

Kita belajar menunggu giliran, berbagi ruang, menghargai orang lain, dan mengambil secukupnya. Nilai-nilai itu tampak sederhana, tetapi justru menjadi fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Keberhasilan sebuah prasmanan tidak hanya ditentukan oleh lezatnya makanan yang disajikan. Suasana yang tertib, nyaman, dan saling menghormati juga memiliki peran yang sama besar.

Dan semua itu terwujud bukan karena adanya aturan resmi yang dipasang di dinding, melainkan karena adanya kesepahaman diam-diam yang dijaga bersama. Sebuah kesepahaman yang membuat puluhan bahkan ratusan orang dapat menikmati makanan dalam satu ruang tanpa banyak masalah. Itulah kekuatan dari aturan tak tertulis yang hidup di setiap prasmanan. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: filosofimakananprasmanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Next Post

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

by Wayan Esa Bhaskara
June 7, 2026
0
Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Catatan ini diniatkan sebagai evaluasi bagi para peserta dan pembina lomba baca puisi serangkaian HUT ke-37 SMA Negeri 1 Petang....

Read moreDetails

Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran

by Agung Sudarsa
June 7, 2026
0
Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran

Yajña: Dari Ritual Persembahan Menuju Laku Kehidupan Banyak orang memandang yajña sebagai ritual keagamaan yang diwujudkan melalui sesajen, canang, bunga,...

Read moreDetails

Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain —Mengapa Begitu?

by I Gede Janitra Rad Winatha
June 6, 2026
0
Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain —Mengapa Begitu?

JIKA seseorang ditanya mengapa datang ke Bali, jarang sekali jawabannya karena ingin melihat gedung tinggi, kawasan bisnis modern, atau deretan...

Read moreDetails

Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

by I Nyoman Tingkat
June 6, 2026
0
Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

ANTARA Bung Karnodan Chairil Anwar adalah Bung Sjahrir. Chairil Anwar sebagai pengarang berhasil mengintip dan menguntit Bung Sjahrir untuk mengorek...

Read moreDetails

Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

by Agung Sudarsa
June 6, 2026
0
Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

Niels Bohr dan Kerendahan Hati di Hadapan Misteri DALAM sejarah sains modern, nama Niels Bohr sering dikaitkan dengan lahirnya mekanika...

Read moreDetails

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

by I Wayan Artika
June 5, 2026
0
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

Read moreDetails

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
0
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

Read moreDetails

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

by Chusmeru
June 5, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

Read moreDetails

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman
Cerpen

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala
Esai

Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala

SETIAP kali menghadiri acara hajatan, seminar, reuni, atau pertemuan keluarga besar, ada satu momen yang hampir selalu ditunggu banyak orang:...

by T.H. Hari Sucahyo
June 7, 2026
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan
Ulas Pentas

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang
Esai

Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Catatan ini diniatkan sebagai evaluasi bagi para peserta dan pembina lomba baca puisi serangkaian HUT ke-37 SMA Negeri 1 Petang....

by Wayan Esa Bhaskara
June 7, 2026
Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran
Esai

Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran

Yajña: Dari Ritual Persembahan Menuju Laku Kehidupan Banyak orang memandang yajña sebagai ritual keagamaan yang diwujudkan melalui sesajen, canang, bunga,...

by Agung Sudarsa
June 7, 2026
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga
Puisi

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

by Angga Wijaya
June 6, 2026
Belajar Tentang Laut Bersama Para Ahli di Peninsula Island, Bali
Lingkungan

Belajar Tentang Laut Bersama Para Ahli di Peninsula Island, Bali

KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan bersama WWF-Indonesia, Konservasi Indonesia, GIZ Indonesia, CTI-CFF, Coral Triangle Center, Yayasan Pesisir Lestari, dan Coca-Cola Europacific...

by Nyoman Budarsana
June 6, 2026
Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain —Mengapa Begitu?
Esai

Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain —Mengapa Begitu?

JIKA seseorang ditanya mengapa datang ke Bali, jarang sekali jawabannya karena ingin melihat gedung tinggi, kawasan bisnis modern, atau deretan...

by I Gede Janitra Rad Winatha
June 6, 2026
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA
Khas

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali
Pameran

Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali

DI salah satu sudut ruang pamer lantai dasar gedung Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, sebuah lukisan terpajang dalam bingkai...

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co