Jamaras
Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrar
Kampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hati
Siapa yang mulai mengucap janji tak begitu penting ketimbang malam yang kian berembun
Dingin kota Bandung datang dari utara, barat, selatan, dari bus kota, dari martabak yang kau jinjing
Kusandarkan punggung di kursi kayu yang tak bisa bicara tetapi curiga mendengar cerita kita
Lalu kau suguhkan kopi agar aku tak mengantuk
Dan aku pun tak tidur semalaman: bersamamu
Arcamanik
Mamang ojek itu yang selalu setia mengantarmu ke tempat kerja
Aku bahkan belum pernah merasakan dekap tanganmu di pinggangku
Tapi mamang ojek itu tak memiliki cintamu, apalagi tubuhmu
Akulah sang pemenang yang menaklukanmu dengan tatapan penuh kasih
Kau berikan cinta seutuhnya di siang bolong ketika rumahmu sepi tanpa penghuni
Lalu aku tarik tanganmu melingkar di pinggangku
Sambil kubisikkan janji di telingamu: akan aku jemput kamu setiap hari dengan motor yang kupinjam dari seorang teman
Kamu mengangguk sambil tersenyum menjawab: tapi kamu bukan mamang ojek
Lantas aku siapa buatmu?
Kamu adalah lelaki kokoh memahat hatiku hingga mematung
Kamu adalah nahkoda yang mengajakku keliling samudra tanpa mabuk di tengah laut
Lalu kita duduk berdua saja, menikmati makan siang dengan petai rebus dan goreng ikan jambal
Kita seperti suami dan istri
Cicaheum
Angkutan kota warna hijau kuning dan hijau oranye pernah mengendap di kepala
Simpang Dago, Dipatiukur, Jalan Surapati adalah lintasan perjalanan sebelum bertemu seorang gadis manis
Ia berjanji menunggu di terminal Cicaheum
Katanya tak berbekal uang untuk melanjutkan perjalanan ke rumah
Ia hanya membawa cinta yang tak mungkin tercecer di jalanan
Dengan sigap aku turun dari angkutan kota, kuhampiri dia yang berdiri dikelilingi debu
Aku antar hingga tiba di hadapan ayah ibunya
Tak kubawakan mereka uang, karena memang tak perlu
Hanya kuserahkan anak gadisnya yang terpaku di terminal penuh debu
Kuberikan sekarung cinta yang tak mungkin tercecer dengan ikatan kuat
Jalan Braga
Kugenggam erat tanganmu di jalan yang tak pernah sepi
Kita susuri tapak demi tapak sambil mengenang masa lalu dan menatap masa depan
Bangunan dan toko-toko di jalan itu sudah tua
Namun kita tak pernah menua lantaran jiwa yang selalu mengembara
Aku peluk pundakmu di jalan yang tak pernah mati
Melangkah pelan tanpa beban tanpa rintangan
Gedung-gedung di jalan itu masih kokoh berdiri
Dan kita lebih kokoh dari apa pun dan siapa pun karena dua raga yang tak terbelah
Aku kecup keningmu di ujung jalan yang tak lagi ramai
Memandang langit bulan purnama penuh bintang penuh harap
Sekeloa
Lorong berliku mengantarkanmu pada satu titik temu
Tok.. tok.. tok.. suara sepatumu setiap melintas di selasar kamar
Engkaukah yang datang? Tanyaku sambil kuintip tirai dengan penuh debar
Tak perlu jawaban itu, karena sigap kau duduk di sampingku
Apa lagi yang harus kulakukan selain menatap mata rusamu
Membelai rambutmu yang terurai menjuntai ke lantai
Lalu kita tiba-tiba menjadi dewasa di tengah gairah muda
Mengantar irama tembang Kalangkang dari kaset yang kau beli di Pasar Cihapit
Gerimis di luar menetes dekat kaca kamar yang tak begitu tebal
Lalu kita kian dewasa melepas senja di ujung Sekeloa
*Kalangkang, lagu pop Sunda ciptaan Nano S yang dipopulerkan oleh Nining Meida. Bercerita tentang bayangan, impian, kemesraan, dan kesetiaan.
TPU Cikutra
Jauh sudah perjalanan yang kau tempuh
Istirahat di tempat yang sunyi adalah pilihan terbaik untukmu
Malam larut dan berkabut di sela lantunan doa peziarah
Matamu terpejam tapi bukan berangkat tidur
Tetes air yang mengurai di setiap kelopak mata adalah tanda cinta tanda rindu
Pada senyummu
Pada sabarmu
Lepaslah luka lepaslah duka
Pada setiap waktu orang menyapamu: “ Selamat jalan, Neng”
Purwokerto, 2026
.
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole





























