CITRA Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni rupa tahunan Sovereign Art Prize 2026 yang diselenggarakan oleh Sovereign Art Foundation di Hong Kong. Ini tentu menjadi kebanggaan Indonesia di kancah internasional.
Kompetisi ini merupakan ajang tahunan yang mempertemukan seniman-seniman terbaik dari kawasan Asia Pasifik, yang dipilih melalui serangkaian proses seleksi yang ketat dan melibatkan tokoh-tokoh dari institusi berpengaruh di kawasan tersebut.
Pada ajang itu Citra Sasmita menampilkan karya rupa berjudul “Poetry of The Fountain” dan karya ituberhasil menarik perhatian juri di antara 30 seniman lain yang masuk dalam daftar finalis.
“Poetry of The Fountain”, sebuah lukisan dengan teknik tradisional Kamasan yang dipadukan dengan ragam tekstil dari budaya Bali. Karya ini memperlihatkan bahwa kekayaan tradisi yang kita warisi dari leluhur bukanlah objek mati yang berhenti di masa lalu dan hanya dirayakan semata mata sebagai nostalgia, melainkan menjadi semangat dan ideologi yang dapat terus berkembang dan kontekstual seiring zaman.
Dalam karya ini, Citra memberi sorotan pada seni lukis tradisi yang selama ini dianggap tertinggal, yang justru menjadi sarana yang kuat untuk menyampaikan sikap kritisnya terhadap warisan budaya poskolonial yang feodalistik dan patriarkis.

Karya Citra ini menunjukkan bahwa feminisme tidak hadir sebagai perlawanan kaum perempuan semata mata terhadap eksistensi kaum laki-laki, melainkan sebuah kritik terhadap sistem sosial yang melanggengkan relasi kuasa antargender tersebut. Bagi Citra, tradisi seni lukis kamasan menjadi contoh konkret bagaimana akses pengetahuan selama ini memiliki batasan gender. Tidak mudah bagi perempuan dari Desa Kamasan untuk memperoleh akses pengetahuan tentang seni lukis Kamasan secara utuh. Mereka cenderung terbatas hanya menguasai aspek teknis tanpa basis pengetahuan naratif yang kompleks. Meskipun dalam sejarahnya muncul beberapa tokoh revolusioner yang menerabas batasan ini, seperti Made Suciarmi dan Mangku Muriati, yang berhasil secara utuh menjadi pelukis Kamasan.
Bagi Citra, seni lukis tradisi memiliki relevansi dalam linimasa zaman. Di Bali, seni menjadi bagian dari ritual dan praktik spiritual yang berjalan selama ratusan bahkan ribuan tahun. Seni tidak berhenti pada keterampilan teknis maupun dekorasi ruangan semata, tetapi menjadi sarana untuk mewariskan pengetahuan turun-temurun sekaligus sebagai laku spiritual bagi para penekunnya.
Dalam konteks inilah, seni menjadi titik tumpu dari laju kebudayaan dan peradaban secara esensial, bukan hanya menjadi identitas tempelan yang dirayakan secara semu.
Sejak kisaran tahun 2016, nama-nama seniman Indonesia hampir selalu ada dalam deretan finalis. Termasuk tahun ini, Citra Sasmita tidak sendirian mengisi daftar panjang itu. Ia berbagi tempat bersama Sinta Tantra dan Filippo Sciascia, dua seniman lain yang juga berbasis di Bali.
Pada beberapa gelaran sebelumnya, dua seniman Indonesia pernah mendapat penghargaan untuk kategori “pilihan pengunjung” (Public vote), namun untuk Penghargaan Utama baru bisa diraih tahun ini oleh Citra Sasmita setelah melalui proses penjurian yang panjang oleh para juri yang terdiri dari Ozge Ersoy (executive director Asia Art Archive), Man Ray Hsu (kurator independent dan kritikus seni), David Elliot (penulis, kurator dan direktur museum), dan Arpita Akhanda (seniman pemenang Sovereign Art Prize 2025).
Proses penjurian dimulai dari penjaringan nama-nama seniman yang diajukan oleh para nominator yang terdiri dari tokoh-tokoh seni dan institusi berpengaruh di Kawasan Asia Pasifik. Tahun ini Citra berhasil masuk daftar panjang atas rekomendasi dari Yvone Wang, Sakda Chantanavanich, Lisa Botos, Tanya Michele Amador dan Sofia Coombe. Di antara finalis lainnya, ia menjadi salah satu seniman dengan nominator terbanyak.
Tahap penjurian selanjutnya dilakukan secara langsung di Hong Kong, setelah terpilih nama nama para finalis dan karyanya dipamerkan untuk publik di sana. Terdapat tiga kategori pemenang yang dipilih oleh juri dan penyelenggara, yaitu Pemenang Utama (Grand Prize) yang diraih oleh Citra Sasmita, Vogue Hong Kong Women’s Art Prize yang diraih oleh Nomin Zeezegma dari Mongolia, dan Public Vote Prize yang diraih oleh Joey Cobcobo dari Filipina.

Sovereign Art Prize tidak hanya berhenti sebagai ajang kompetisi seni rupa, tetapi juga menjadi gerakan kemanusiaan dan filantropi melalui seni. Sejak didirikan tahun 2003 oleh Howard Bilton, Sovereign Art Foundation telah menggalang dana yang disalurkan untuk bantuan kemanusiaan bagi masyarakat marhaen melalui mekanisme lelang karya karya para finalis yang terpilih.
Penyaluran dana kemanusiaan ini dilakukan melalui beberapa program seperti Make It Better Programme yang berfokus pada pendampingan dan pelatihan pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Hong Kong dan international community arts programmes yang bekerja sama dengan berbagai organisasi non-profit di berbagai negara Asia untuk proyek perlindungan hak anak, pencegahan perdagangan anak, serta penyediaan fasilitas pendidikan bagi perempuan dan anak jalanan. Beberapa program yang telah berjalan antara lain di Hong Kong, Nepal dan Kamboja.
Bagi Citra, penghargaan yang diraihnya saat ini bukan hanya sebuah pencapaian atas kerja kerasnya selama ini, tetapi lebih dari itu, ini menjadi kesempatan untuk semakin menyebarluaskan gagasan dan ideologi yang dibawa melalui praktik dan kekaryaannya selama ini. Ia berharap semakin banyak ruang bagi para perupa perempuan di kancah seni rupa dunia. Saat ini seni rupa Indonesia tengah memasuki masa gemilang. Tidak sedikit seniman Indonesia yang memperoleh pengakuan di tingkat global, menjadi penanda bahwa kebudayaan Indonesia memiliki relevansi di tengah situasi dunia yang terus berubah. [T]
Reporter/Penulis: Budarsana/Siaran Pers
Editor: Adnyana Ole





























