HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari menjelang Hari Suci Saraswati, sekolah ini menggelar lomba ngelawar dan membuat gebogan. Berbeda dari tahun sebelumnya yang berlangsung di halaman sekolah, kali ini kegiatan dipusatkan di beberapa ruang kelas. Perubahan tempat itu justru menghadirkan suasana yang lebih intim, sekaligus memperlihatkan proses secara lebih dekat.
Kegiatan ini bukan sekadar perlombaan. Lawar dan gebogan yang dibuat para siswa nantinya akan menjadi bagian dari sarana upacara. Ada nilai spiritual yang menyatu dengan proses kreatif dan kerja sama di dalamnya.
Di salah satu kelas, peserta lomba ngelawar tampak serius. Tangan-tangan mereka cekatan mencacah bahan, menakar bumbu, lalu mencampurnya dengan teliti. Aroma rempah yang khas perlahan memenuhi ruangan. Sebagian besar peserta adalah perempuan, namun keterampilan mereka tidak kalah dengan para peserta laki-laki.


Di sisi lain, suasana berbeda terlihat pada lomba gebogan. Tumpukan buah seperti pisang, jeruk, dan apel disusun bertingkat, dipadukan dengan bunga warna-warni serta hiasan dari janur. Tantangan terbesar bukan sekadar estetika, tetapi juga keseimbangan. Susunan yang tinggi harus tetap kokoh, tidak mudah goyah.
Ketua panitia, Putu Dihari Purnama, menilai kegiatan ini berjalan dengan penuh antusiasme meskipun masih ada hal yang perlu diperbaiki. “Menurut saya, lomba kali ini seru. Meski ada banyak sekali hal yang perlu kita perbaiki ke depannya, namun kerja sama antar tim sangat bagus,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa kekompakan OSIS menjadi salah satu kunci kelancaran acara. Purnama menjelaskan bahwa lomba ini tidak hanya tentang kompetisi, tetapi juga upaya menjaga tradisi. Menurutnya, melalui kegiatan ini, siswa belajar langsung bagaimana membuat lawar dan gebogan dengan benar, keterampilan yang kelak akan mereka butuhkan di tengah masyarakat.


Pernyataan itu sejalan dengan pandangan Kepala SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar, I Komang Rika Adi Putra, M.Pd. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki makna yang lebih luas dari sekadar perlombaan.
“Lomba-lomba yang kami adakan dalam rangka memperingati Hari Suci Saraswati bertujuan menjaga budaya Bali, terutama semangat menyama braya,” katanya.
Menurut Komang Rika, nilai gotong royong menjadi inti dari kegiatan tersebut. Melalui proses ngelawar dan menyusun gebogan, siswa belajar bekerja sama, berbagi tugas, dan bertanggung jawab atas hasil yang mereka buat. Ia menilai pengalaman ini penting sebagai bekal generasi muda di tengah arus modernisasi yang semakin kuat.
“Kegiatan seperti ini menjadi cara konkret untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya. Tidak hanya memahami secara teori, siswa diajak terlibat langsung dalam praktik yang sarat nilai tradisi,” kata Komang Rika.


Puncak kegiatan berlangsung pada Sabtu, 4 April 2026, bertepatan dengan Hari Saraswati. Setelah persembahyangan di halaman sekolah, pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah dilakukan. Momen ini menjadi penutup sekaligus perayaan atas kerja keras yang telah dilakukan sehari sebelumnya.
Untuk lomba gebogan, juara 1 diraih oleh Kelas XI MPLM, disusul Kelas XI KC 3 sebagai juara 2, dan Kelas XI KC 2 di posisi juara 3. Sementara itu, lomba ngelawar dimenangkan oleh Kelas XI KC 2 sebagai juara 1, Kelas XI FKK 2 sebagai juara 2, dan Kelas XI KC 3 sebagai uara 3.
Melalui kegiatan ini, peringatan Hari Saraswati di Kesbam tidak hanya hadir dalam bentuk doa, tetapi juga melalui karya nyata para siswa. Dari lawar hingga gebogan, semuanya menjadi simbol rasa syukur, kreativitas, dan kebersamaan. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole





























