11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 4, 2026
in Esai
Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di era digitalisasi sekarang, dengan teknologi yang amat maju, ponsel pintar dan internet, orang-orang bisa berkomunikasi tanpa hambatan melalui telepon atau fitur pesan. Atau dengan video call. Dunia seolah-olah dipadatkan ke dalam satu benda kecil yang selalu kita genggam di saku celana, di meja makan, di samping bantal ketika tidur, bahkan di tangan ketika kita sedang berbicara dengan orang di hadapan kita.

Namun justru di titik ini paradoks itu muncul, bahwa semakin mudah kita terhubung, semakin sulit kita memahami batas. Sayangnya, semua kemudahan itu menciptakan pergeseran etika. Orang dengan mudah dan tak berpikir panjang bisa menghubungi kita tanpa mengenal waktu, bahkan saat tengah malam atau dini hari—pada jam-jam umumnya orang-orang beristirahat. Notifikasi dianggap netral, padahal ia telah berubah menjadi bentuk interupsi sosial yang paling halus sekaligus paling invasif dalam sejarah manusia. Etika menjadi sesuatu yang mahal.

Kesunyian Tidak Lagi Dihormati

Dulu, malam adalah wilayah sunyi yang disepakati bersama. Ada semacam kontrak sosial tak tertulis: setelah jam tertentu, dunia melambat, suara dikecilkan, urusan ditunda. Malam adalah milik tubuh untuk pulih, milik pikiran untuk diam, milik manusia untuk tidak menjadi “siaga”.

Kini, batas itu runtuh.  Pesan bisa datang jam 1 pagi. Telepon bisa berdering jam 2 dini hari. Bahkan jika tidak dijawab, ia meninggalkan jejak psikologis, yakni rasa bersalah, rasa ingin tahu, atau tekanan halus bahwa kita “harus” segera merespons.

Dalam banyak studi tentang perilaku digital, fenomena ini disebut sebagai always-on culture—budaya selalu terhubung. Dalam laporan Microsoft Work Trend Index (2023), ditemukan bahwa sebagian besar pekerja digital mengalami lonjakan notifikasi di luar jam kerja formal, dan banyak yang merasa tidak punya ruang benar-benar “offline”. Dunia kerja dan dunia pribadi melebur tanpa sekat.

Di titik ini, kita tidak hanya kehilangan waktu istirahat. Kita kehilangan hak atas ketidakhadiran. Ada hal lain yang lebih dalam dari sekadar etika komunikasi, kesepian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam beberapa laporan terbarunya menyebut kesepian sebagai global public health concern. Bukan lagi sekadar perasaan personal, melainkan fenomena sosial yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Studi meta-analisis yang dilakukan Julianne Holt-Lunstad (2015) bahkan menunjukkan bahwa kesepian dan isolasi sosial dapat meningkatkan risiko kematian dini setara dengan merokok 15 batang sehari.

Ironisnya, di era ketika kita bisa menghubungi siapa saja dalam hitungan detik, manusia justru semakin merasa sendiri. Kesepian modern tidak selalu berarti tidak punya teman. Sering kali ia hadir di tengah keramaian percakapan digital yang dangkal, cepat, dan terputus-putus. Seseorang bisa memiliki ratusan kontak, ribuan pengikut, namun tetap merasa tidak benar-benar didengar.

Di sinilah paradoks digital semakin nyata: koneksi meningkat, kedekatan menurun. Dan dalam kondisi kesepian seperti ini, manusia menjadi lebih reaktif terhadap notifikasi. Setiap bunyi ponsel bisa menjadi pengganti kehadiran emosional. Setiap pesan menjadi semacam “validasi eksistensi”. Maka kita tidak hanya berkomunikasi. Kita mencari pengakuan bahwa kita masih ada.

Masalah utama dari komunikasi digital bukan hanya soal kapan kita menghubungi orang lain, tetapi juga bagaimana cara kita memaknai waktu orang lain.

Dalam dunia sebelum digital, komunikasi membutuhkan usaha: menulis surat, datang langsung, atau menelepon dengan perangkat terbatas. Ada jeda., pertimbangan, dan kesadaran bahwa mengganggu orang lain bukan hal sepele.

Kini, hambatan itu hilang. Dan ketika hambatan hilang, kontrol diri sering ikut menghilang. Orang merasa bebas mengirim pesan kapan saja, dengan asumsi sederhana: “Toh nanti juga dibalas.”

Padahal di balik layar kecil itu, ada kehidupan lain yang sedang berjalan. Ada orang yang sedang bekerja, tidur, menangis, berpikir, atau sekadar ingin tidak terganggu. Etika digital seharusnya bukan hanya tentang sopan santun formal, tetapi tentang kesadaran spasial dan temporal, bahwa orang lain hidup dalam waktu yang tidak selalu sama dengan waktu kita.

Namun justru kesadaran ini yang semakin pudar. Salah satu masalah besar dalam komunikasi digital adalah ilusi urgensi. Setiap pesan terasa penting karena ia datang secara instan. Padahal tidak semua hal perlu instan.

Kita mulai kehilangan kemampuan membedakan antara “penting sekarang” dan “bisa nanti”. Akibatnya, banyak orang merasa berhak mengganggu waktu orang lain hanya karena mereka sedang merasa ingin menyampaikan sesuatu. Bahkan hal-hal yang sebenarnya bisa menunggu esok pagi dipaksakan menjadi pesan malam hari.

Di sini etika berubah menjadi ego. Dan ego yang difasilitasi teknologi menjadi sangat cepat, sangat mudah, dan sangat sulit dikendalikan.

Jam Sunyi yang Hilang

Bagi sebagian orang, terutama pekerja kreatif seperti jurnalis, penulis, atau pekerja media, malam bukan selalu waktu istirahat. Sering kali justru malam adalah waktu bekerja paling produktif. Pikiran lebih tenang, dunia lebih sepi, dan ide lebih mudah mengalir.

Namun justru pada jam-jam inilah gangguan sering datang. Pesan-pesan seperti “lagi di mana?”, “bisa telepon sebentar?”, atau “urgent ya” muncul tanpa mempertimbangkan bahwa di sisi lain ada proses kerja yang sedang berlangsung.

Ini bukan sekadar ketidaksopanan kecil. Ini adalah bentuk erosi terhadap ruang kerja mental seseorang. Dalam jangka panjang, gangguan seperti ini berkontribusi pada kelelahan digital (digital fatigue), kondisi yang kini banyak dibahas dalam literatur psikologi kerja modern. Otak tidak lagi memiliki ruang jeda yang cukup untuk memulihkan fokus.

Sering kali kita merasa dunia terlalu cepat. Tetapi mungkin masalahnya bukan kecepatan dunia, melainkan hilangnya batas. antara siang dan malam, antara penting dan tidak penting, dan batas antara aku dan orang lain.

Dalam masyarakat tradisional, batas itu dijaga oleh norma sosial. Dalam masyarakat digital, batas itu diserahkan kepada individu. Dan tidak semua individu siap dengan tanggung jawab itu. Akibatnya, kita hidup dalam ruang sosial tanpa pagar.

Kesepian dan Pelanggaran Batas

Ada sisi lain yang perlu dipahami dengan lebih jujur: banyak orang menghubungi orang lain pada waktu-waktu tidak pantas bukan karena tidak tahu etika, tetapi karena kesepian. Kesepian membuat seseorang mencari respon segera. Ia tidak sabar. Ia ingin merasa terhubung sekarang juga. Maka tombol “kirim” menjadi pelarian emosional.

Namun di sinilah masalahnya: kesepian satu orang bisa menjadi gangguan bagi ketenangan orang lain. Inilah yang membuat kesepian modern menjadi paradoks sosial. Ia bukan hanya kondisi individu, tetapi juga kekuatan yang memengaruhi perilaku kolektif.

Dan jika tidak disadari, kesepian bisa berubah menjadi bentuk invasi kecil terhadap ruang hidup orang lain. Lalu apa yang bisa dilakukan?

Mungkin kita perlu kembali membangun etika, tetapi bukan etika lama yang kaku, melainkan etika digital yang berbasis kesadaran. Beberapa prinsip sederhana sebenarnya bisa menjadi awal:

Pertama, kesadaran waktu orang lain. Tidak semua orang hidup dalam ritme yang sama. Kedua, kesadaran bahwa tidak semua pesan harus segera dikirim, apalagi segera dibalas. Ketiga, kesadaran bahwa diam bukan berarti menolak, dan lambat merespons bukan berarti tidak peduli. Keempat, kesadaran bahwa privasi adalah hak, bukan kemurahan hati. Dalam dunia yang terlalu cepat ini, etika justru berarti memperlambat diri.

Hak untuk Tidak Tersedia

Salah satu konsep yang mulai banyak dibicarakan dalam studi budaya digital adalah right to disconnect—hak untuk tidak selalu tersedia. Beberapa negara bahkan mulai membahas regulasi jam kerja digital agar pekerja tidak terus-menerus dibebani notifikasi di luar jam kerja. Namun lebih dari regulasi, ini adalah soal kesadaran sosial.

Kita perlu menerima bahwa seseorang tidak harus selalu bisa dihubungi, tidak harus selalu membalas, dan tidak harus selalu hadir secara digital. Karena manusia bukan mesin respons. Pada akhirnya, masalah kita bukan hanya teknologi. Teknologi hanya mempercepat apa yang sudah ada dalam diri manusia, yakni, keinginan untuk segera, untuk didengar, untuk diakui.

Namun dalam kecepatan itu, kita kehilangan sesuatu yang sangat manusiawi, yakni jeda. Jeda adalah ruang di mana etika tumbuh, dan tempat kita mengingat bahwa orang lain bukan extension dari kebutuhan kita. Dan mungkin, dalam dunia yang terlalu bising oleh notifikasi, bentuk paling sederhana dari etika adalah, menunggu. Menunggu waktu yang tepat. menunggu orang lain siap, dan menunggu diri sendiri cukup tenang untuk tidak mengganggu.

Karena pada akhirnya, menghormati orang lain bukan hanya soal apa yang kita katakan, tetapi juga kapan kita memilih untuk tidak mengatakannya. Dan di era digital yang serba cepat ini, kemampuan untuk tidak mengganggu mungkin adalah bentuk kesopanan paling tinggi yang tersisa. [T]

Denpasar, 4 April 2026, 00:04 WITA

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saraswati dan Cara Kita Menghargai Ilmu

Next Post

Seni dan Sains: Ketika Rasio Menari Bersama Rasa

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Seni dan Sains: Ketika Rasio Menari Bersama Rasa

Seni dan Sains: Ketika Rasio Menari Bersama Rasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co