25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Ruko ke Banjar Toko alias Banko, Perubahan Ruang Sosial-Ekonomi yang Jarang Dibicarakan

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
March 29, 2026
in Esai
Dari Ruko ke Banjar Toko alias Banko, Perubahan Ruang Sosial-Ekonomi yang Jarang Dibicarakan

Salah satu banjar toko (banko) di sebuah kota di Bali | Foto: tatkala.co/Dede

PERUBAHAN ruang sosial acap kali berjalan pelan, nyaris tak terasa, hingga suatu saat kita menyadari bahwa fungsinya telah bergeser jauh. Di Bali, salah satu contohnya adalah balai banjar ─ ruang komunal yang sejak lama menjadi pusat kehidupan sosial masyarakat. Kini, di beberapa tempat, banjar tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul, rapat, atau menyelenggarakan kegiatan adat. Ia juga menjelma menjadi ruang ekonomi. Dari sinilah muncul istilah yang saya sebut sebagai “Banko” alias Banjar Toko.

Fenomena banko ini pada dasarnya merupakan bentuk adaptasi. Di tengah kebutuhan ekonomi yang terus meningkat, banjar sebagai institusi sosial juga dituntut untuk mandiri secara finansial. Salah satu cara yang dianggap praktis adalah dengan menyewakan sebagian lahan atau bangunan banjar kepada pihak ketiga, biasanya untuk minimarket atau toko modern. Dengan kontrak jangka panjang, banjar memperoleh pemasukan tetap yang relatif stabil. Dalam konteks ini, banko bisa dipahami sebagai strategi bertahan, bahkan berkembang.

Namun, seperti banyak perubahan lainnya, banko tidak datang tanpa konsekuensi.

Secara ideal, balai banjar adalah ruang kolektif yang fleksibel dan sepenuhnya dimiliki warga. Di sanalah rapat berlangsung, keputusan diambil, dan solidaritas dibangun. Ketika fungsi ekonomi masuk, fleksibilitas ini mulai tergerus. Ruang yang dulu bebas digunakan kini terbagi. Ada bagian yang tidak lagi bisa diakses karena menjadi area komersial. Akibatnya, aktivitas warga harus menyesuaikan diri.

Hal ini terasa terutama dalam kegiatan yang melibatkan banyak orang. Misalnya saat rapat banjar, persiapan upacara, atau kegiatan pemuda seperti pembuatan ogoh-ogoh dan bazaar. Keterbatasan ruang membuat kegiatan tersebut tidak lagi leluasa. Bahkan dalam beberapa kasus, warga harus mengatur jadwal atau memindahkan sebagian aktivitas ke tempat lain. Ini tentu mengurangi efektivitas, bahkan bisa memengaruhi kualitas interaksi sosial itu sendiri.

Masalah lain yang cukup nyata adalah soal lokasi. Banyak banko berdiri di pinggir jalan raya yang padat. Secara ekonomi, ini memang menguntungkan karena mudah diakses dan memiliki potensi pelanggan tinggi. Namun dari sisi sosial, ini menimbulkan persoalan baru, terutama terkait parkir. Ketika banjar digunakan untuk kegiatan warga, kendaraan sering kali membludak dan sulit tertata. Jalan yang sudah padat menjadi semakin semrawut. Situasi ini tidak hanya merepotkan warga, tetapi juga dapat mengganggu pengguna jalan lainnya.

Di titik ini, terlihat adanya tarik-menarik antara fungsi sosial dan fungsi ekonomi. Banko menghadirkan efisiensi finansial, tetapi di saat yang sama mengurangi kenyamanan sosial.

Kendati demikian, fenomena ini jarang menimbulkan protes terbuka. Salah satu alasannya adalah manfaat ekonomi yang dirasakan secara kolektif. Pemasukan dari penyewaan toko bisa digunakan untuk berbagai keperluan banjar: perawatan bangunan, biaya upacara, hingga kegiatan sosial lainnya. Dengan adanya dana yang stabil, banjar tidak perlu terlalu sering membebani warga dengan iuran. Dalam jangka panjang, ini tentu meringankan.

Salah satu banjar toko (banko) di sebuah kota di Bali | Foto: tatkala.co/Dede

Selain itu, ada juga faktor penerimaan sosial. Masyarakat mungkin melihat banko sebagai sesuatu yang wajar di tengah perubahan zaman. Modernisasi dan kebutuhan ekonomi dianggap sebagai hal yang tidak bisa dihindari. Dalam kerangka ini, banko bukan dipandang sebagai masalah, melainkan sebagai kompromi.

Namun, penerimaan ini tidak berarti tanpa catatan. Justru di sinilah pentingnya refleksi. Apakah keuntungan ekonomi yang diperoleh sebanding dengan berkurangnya kualitas ruang sosial? Apakah banjar masih bisa menjalankan fungsinya secara optimal ketika sebagian ruangnya telah dikomersialkan?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak selalu memiliki jawaban yang sederhana. Setiap banjar memiliki konteks dan kebutuhan yang berbeda. Ada yang mungkin berhasil menyeimbangkan kedua fungsi tersebut dengan baik, tetapi ada pula yang mengalami ketimpangan.

Karena itu, yang dibutuhkan bukanlah penolakan mutlak terhadap banko, melainkan pengelolaan yang lebih bijak. Misalnya dengan memastikan bahwa ruang utama banjar tetap terjaga dan tidak terganggu oleh aktivitas komersial. Atau dengan merancang sistem parkir yang lebih tertata, sehingga tidak mengganggu kegiatan warga maupun lalu lintas umum. Bahkan, dalam tahap perencanaan, warga seharusnya dilibatkan secara aktif agar keputusan yang diambil benar-benar mencerminkan kebutuhan bersama.

Pada akhirnya, banko adalah cermin dari dinamika masyarakat Bali hari ini ─ di antara tradisi dan modernitas, antara kebutuhan sosial dan tuntutan ekonomi. Ia menunjukkan bahwa ruang komunal pun tidak kebal terhadap perubahan. Namun, perubahan tidak harus selalu berarti kehilangan. Dengan pengelolaan yang tepat, banko bisa menjadi bentuk adaptasi yang tetap menghargai fungsi dasar banjar sebagai ruang kebersamaan.

Tulisan ini, tentu tidak bermaksud menghakimi, melainkan mengajak melihat fenomena ini secara lebih jernih. Dari ruko ke banko, kita menyaksikan bagaimana ruang public berubah, dan bagaimana manusia di dalamnya terus bernegosiasi. Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah banko itu baik atau buruk, tetapi bagaimana kita memastikan agar ia tetap berpihak pada kepentingan bersama. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: arsitektur balibalai banjarbanjartoko modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

Next Post

‘Linglung’, Debut Solo Rahtwo Rock Bali yang Enerjik, Jenaka, dan Penuh Warna

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
‘Linglung’, Debut Solo Rahtwo Rock Bali yang Enerjik, Jenaka, dan Penuh Warna

'Linglung', Debut Solo Rahtwo Rock Bali yang Enerjik, Jenaka, dan Penuh Warna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Khas

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Khas

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co