LAMPU panggung menyala. Seorang penari perempuan masuk panggung. Ia membaca puisi bahasa Bali. Suaranya menggema dari panggung ke seluruh ruangan. Dari vokalnya yang jelas, intonasi yang tepat, penghayatan dan emosi yang terkontrol, dipadu gerak tubuh natural, penari perempuan itu bercerita: sekelumit kisah perang bharatayuda.
Suara gender pelan-pelan menimpali. Sementara, penari lainnya bergerak, memainkan asep dan prayascita. Di panggung sebelah kiri dan kanan, membentang kain panjang yang penuh dengan aksara, ditarikan penari perempuan yang gemulai.
Pembacaan puisi itulah awal dari sasolahan (pergelaran) Teater Tari bertajuk “Swarga Rohana Parwa” serangkaian Bulan Bahasa Bali VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Kamis 26 Pebruari 2026.
Garapan teater tari ini disajikan oleh Komunitas Lemah Tulis, Institut Agama Hindu Negeri (IHDN) Mpu Kuturan, Buleleng, dengan melibatkan 49 pemain, terdiri dari penari, pemusik, tembang dan lainnya. Garapan ini dikemas dengan pesan-pesan moral.


Di hadapan penonton itu, puisi terus dibaca, suara gender pelan-pelan menimpali. Seorang penari laki-laki berperan sebagai warga membawa lontar. Selanjutnya diikuti istrinya menceritakan kehidupannya sebagai petani, namun masih melestarikan lontar-lontar sebagai pusat ilmu pengetahuan tradisional Bali. Penari yang berperan sebagai seorang warga itu kemudian bercerita seperti seorang dalang.
“Garapan teater tari ini berangkat dari teks Lontar Swarga Rohana Parwa yang diterjemahkan dan dialihwahanakan ke dalam teater tari. Di situ, ada pendramatisasian, gerak tari, vocal atau tembang dan menggunakan music audia midi dipadu dengan gamelan tradisional serta berbagai elemen lainnya,” kata koordinator I Putu Ardiyasa di sela-sela pergelaran itu.
Pada babak pertama, teater tari yang didukung oleh mahasiswa dari semua program studi di IHDN Mpu Kuturan itu menceritakan perjalanan Panca Pandawa ke Gunung Mahameru yang divisualisaskan melalui pembacaan puisi dengan gerak tubuh. Teks-teks aksara yang dibentangkan selebar panggung seakan menerangkan setiap kisah itu.

Yudistira yang kemudian dikisahkan telah sampai di sorga menyaksikan keindahannya. Namun, ia tidak melihat saudara-saudaranya. Yudistira sedih karena tidak melihat saudara-saudaranya. Ia justru melihat Sang Korawa yang ceria menikmati suasana sorga. Yudistira bersedih, lalu mendapat wahyu dari Sang Narada yang menyebutkan saudara-saudaranya ada di Neraka yang sedang menjalani hukumuan.
Pada babak kedua, Yudistira menuju Neraka mencari adik-adiknya. Di sana, Sang Suratma menyambut para atma yang masuk ke Yamaloka. Para atma disiksa di Tegal Penangsaran. Atma disidangkan Di situ, Yudistira bertemu Sang Suratma. Setekah melakukan diskusi, Sang Suratma memberitahu Yudistira, bahwa saudaranya sedang menjali penyiksaaan di kawah Candradimuka.
Yudistira datang sebagai saudara yang akan nyupat, membersihakn kembali atau membersihkan karma dari Panca Pandawa itu sendiri. Yudistira masuk ke dalam Kawah Candradimuka untuk mengakhiri karma Sang Panca Pandawa, seketika itu Neraka berubah menjadi sorga.
“Teks ini menyiratkan, manusia mati tidak akan ada barang apapun yang dibawa ke alam Sunya. Kita hanya membawa “asu”, yaitu asuba karma, karma kita. Maka dari itu, garapan ini mengajak semua orang untuk berkarma yang baik, berkarma sepenuhnya untuk kebenaran sesuai dengan ajaran agama kita,” ucap Adiyasa.



Nilai-nilia itulah yang mesti bisa diteladani oleh para generasi muda, untuk menjalami karma itu. “Melalui garapan ini, semoga bahasa ibu lestari sesuai dengan perayaan Bulan Bahasa Bali ini. Garapan ini menekankan bahasa ibu dalam kontek pelestarian bahasa Bali. Kami ingin menterjemahkan kembali teks-teks kuno ke dalam karya-karya kebaharuan, sehingga teks-teks kuno bisa dibaca kembali,” harapnya. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























