GRIA Purnawati di Banjar Tengah, Désa Blahbatuh, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, barangkali bisa disebut gria atau tempat tinggal yang begitu setia merawat lontar warisan leluhur. Gria itu adalah gria yang menjadi tempat tinggal Ida Pedanda Gede Made Gunung semasa hidupnya.
Ida Pedanda Gede Made Gunung dikenal sebagai sulinggih yang sangat rajin memberikan dharma wacana semasa hidupnya. Dharma wacana itu selalu digemari warga Bali karena isi dan pesan-pesan yang disampaikan sangat berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
Di gria tempat tinggal Ida Pedanda Gede Made Gunung ternyata terdapat sebanyak 179 cakep lontar yang terawat dengan baik. Lontar itu masih bisa dibaca dengan jelas.
Dalam Festival (Utsawa) Konsérvasi lontar serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali VIII, penyuluh Bahasa Bali melakukan kegiatan konservasi lontar di Gria Purnawati, Rabu 4 Februari 2026. Dalam festival itu, Penata Layanan Operasional (Penyuluh Bahasa Bali) Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali berhasil mengkonservasi dan identifikasi sebanyak 179 cekep lontar.

Dinas Kebudayaan Provinsi Bali berhasil mengidentifikasi sebanyak 179 cakepan yang merupakan warisan Gria Purnawati Blahbatuh. Jenis lontar yang berhasil diidentifikasi tersebut terdiri dari 12 jenis, seperti Tutur akéhnyané sebanyak 45 cakep, Kanda (34 cakep), Usadha (28 cakep), Mantra/Stawa (20 cakep), Wariga (19 cakep), Kalpasastra (17 cakep), Babad (4 cakep), Parwa (3 cakep), Sasana (3 cakep), Kakawin (2 cakep), Kidung (2 cakep), dan Gaguritan (2 cakep).
Salah satu staf Disbud, Ida Bagus Ari Wijaya yang mengkoordinir konservasi lontar tersebut mengatakan, semua jenis lontar tersebut sangat bisa dibaca. Hal itu karena lontar yang menjadi warisan leluhur Gria Purnawati dirawat dengan sangat baik. “Lontar ini memang biasa dibaca. Walau lontar itu dibaca sewaktu-waktu, namun hal itu mernjadi bagian dari perawatan. Disamping diupacarai setiap hari Saraswati,” katanya.
Meski lontar itu tergolong tua, tetapi tulisannya masih sangat jelas dan bisa dibaca. Kondisi lontar sangat bagus, bahkan tempatnya pun dibuat khusus, sehingga kondisi lontar sangat bagus. Disamping itu, lontar-lontar tersebut juga selalu diupacara pada saat Saraswati. “Dari sekian lontar tersebut, hanya satu yang rusak karena factor usia,” sebutnya.

Ida Bagus Purwita Suamem yang menjadi pewaris lontar tersebut mengatakan, kegiatan konservasi dan identifikasi lontar yang dilakukan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. “Kami sangat mengapresiasi dan berterimakasi dengan adanya kegiatan ini sehingga lontar milik Gria Purnawati bisa dirawat dan dibersihkan untuk menjaga dan melestarikan warisdan leluhur,” ungkapnya. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























