BALI-Indonesia dan Korea Selatan segera menjalin kerjasama dalam bidang seni dan pendidikan. Ini terjadi setelah akademisi dan maestro seni Prof. I Wayan Dibia dari Bali bertemu dengan akademisi dan maestro seni dari Korea Selatan, Duk Hyung Yoo, di Bali dalam beberapa kesempatan.
Prof. I Wayan Dibia, mengatakan kerja sama tersebut akan mulai direalisasikan tahun ini dengan menitikberatkan pada pembelajaran jarak jauh dan kolaborasi penciptaan karya seni. Program ini melibatkan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Bali dan Seoul Institute of the Arts, Korea Selatan.
“Dengan memanfaatkan teknologi telematika, kami merancang perkuliahan seni jarak jauh. Kalau dunia medis bisa menangani pasien dari jarak jauh, mengapa seni tidak bisa dipelajari dengan cara serupa,” ujar Prof. Wayan Dibia, Minggu (8/2/2026).
Selain pembelajaran daring, kerja sama jangka pendek juga diarahkan pada penciptaan karya kolaboratif yang direncanakan dipentaskan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026. Karya tersebut akan menjadi simbol pertemuan dua tradisi seni besar Asia dalam satu panggung kreatif.
Prof. Dibia menjelaskan, Duk Hyung Yoo (89) merupakan mantan Rektor Seoul Institute of the Arts dan salah satu tokoh budaya paling berpengaruh di Korea Selatan. Sepanjang hidupnya, Yoo dikenal sebagai seniman dan pendidik yang berperan besar mengangkat seni Asia ke tingkat internasional. Ia juga tercatat sebagai salah satu dari tiga tokoh Asia penerima John D. Rockefeller III Award (JDR) atas kontribusinya dalam pemahaman dan pengembangan seni Asia di dunia.
“Meski sempat hampir satu dekade berkarya di Amerika Serikat dan tampil di ruang-ruang seni prestisius seperti La MaMa Experimental Theatre Club di New York, dedikasinya justru semakin kuat untuk memajukan kesenian Korea dan memperjuangkan posisi seniman Asia di panggung global,” kata Dibia.
Sementara itu, Prof. I Wayan Dibia (78) sendiri dikenal sebagai maestro tari Bali dan pemimpin budaya yang berpengaruh sejak dekade 1980-an. Mantan Ketua STSI Denpasar ini memiliki pengalaman panjang berinteraksi dengan seni Barat dan Asia, termasuk melalui Asian Theatre Workshop di La MaMa, New York, serta studi Master dan Doktoral di University of California Los Angeles (UCLA) dengan beasiswa Asian Cultural Council dan Fulbright-Hays.
Pengalaman internasional tersebut, menurut Dibia, justru memperdalam kecintaannya pada seni Bali dan melahirkan berbagai karya kolaboratif lintas budaya, seperti Body Tjak (1990), Pralaya (2016), dan Arisi Rice (2022).
“Keinginan Duk Hyung Yoo untuk bekerja sama dengan Bali sebenarnya sudah muncul beberapa tahun lalu. Sejumlah rencana sempat disusun, namun tertunda akibat pandemi Covid-19. Kini, semangat itu kembali menguat dan mulai menemukan bentuk nyata,” ungkap mantan Rektor STSI yang kini menjadi ISI Bali.
Kerja sama ini melibatkan dua institusi seni terkemuka, Seoul Institute of the Arts dan ISI Bali, yang memiliki visi sejalan dalam melestarikan sekaligus mengembangkan seni budaya lokal agar mampu bersaing di kancah global. Kemitraan tersebut telah diperkuat melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU).
Selama berada di Bali, Duk Hyung Yoo bersama jajaran pimpinan Seoul Institute of the Arts melakukan kunjungan ke sejumlah pusat kebudayaan, di antaranya Geria Olah Kreativitas Seni (GEOKS) Singapadu, Puri Agung Ubud, serta Taman Budaya Art Center Denpasar. Dari kunjungan tersebut, disepakati dua agenda utama kerja sama tahun ini, yakni kolaborasi seni untuk PKB 2026 dan penyelenggaraan kuliah jarak jauh tentang kesenian Bali dengan Prof. Wayan Dibia sebagai pengajar.
Kedua maestro berharap jembatan budaya Indonesia–Korea yang dirajut melalui seni ini dapat berjalan berkelanjutan. Dukungan berbagai pihak dinilai penting agar kolaborasi ini tidak hanya memperkaya dunia akademik dan seni, tetapi juga memperdalam pemahaman lintas budaya bagi generasi mendatang. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























