23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maduro dan Kedaulatan Negara yang Tergadai: Ketika Presiden Bisa Diburu dan Kesadaran Bangsa Diuji

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
January 5, 2026
in Esai
Maduro dan Kedaulatan Negara yang Tergadai: Ketika Presiden Bisa Diburu dan Kesadaran Bangsa Diuji

Ilustrasi dibuat tatkala.co dari Chatgpt

Presiden yang Mudah Disentuh

DALAM tata negara modern, presiden adalah simbol tertinggi kedaulatan. Ia bukan sekadar kepala pemerintahan, melainkan perwujudan negara itu sendiri. Karena itu, ketika dunia menyaksikan betapa mudahnya Nicolás Maduro diperlakukan sebagai buronan internasional, muncul kegelisahan yang lebih dalam daripada sekadar soal Venezuela: apakah kedaulatan negara masih sungguh ada, atau hanya formalitas hukum di atas kertas?

Kasus Maduro menunjukkan bahwa di era global, kedaulatan tidak runtuh karena invasi, melainkan karena tekanan ekonomi, delegitimasi politik, dan retakan dari dalam.

Sejarah Panjang Permusuhan: Minyak dan Pembangkangan

Amerika Serikat tidak memburu Maduro karena ia diktator semata. Sejarahnya jauh lebih panjang dan berakar pada satu kata: minyak.

Sejak era Hugo Chávez, Venezuela memilih jalan berbahaya:

  • Nasionalisasi industri minyak
  • Pembatasan peran korporasi asing
  • Retorika anti-imperialisme terbuka

Dalam politik global, ini bukan sekadar pilihan ideologi, tetapi pembangkangan terhadap tatanan ekonomi dunia. Chávez dianggap ancaman karena ia berani berkata bahwa sumber daya alam harus berada di tangan rakyat, bukan pasar global.

Maduro mewarisi konflik ini, tanpa memiliki kharisma dan legitimasi moral sekuat Chávez. Ia memimpin negara kaya yang telah dimusuhi kekuatan besar, namun dengan kemampuan manajemen yang terbatas.

Maduro: Lemah sebagai Individu, Kuat sebagai Simbol

Secara personal, Maduro bukan figur kuat. Namun sebagai simbol perlawanan, ia menjadi target utama. Amerika Serikat menjatuhkan sanksi, membekukan aset, mendukung oposisi, bahkan secara terbuka menetapkan hadiah bagi penangkapannya.

Di sinilah kedaulatan berubah makna. Presiden tidak lagi diperlakukan sebagai kepala negara berdaulat, tetapi sebagai aktor ilegal yang boleh disingkirkan demi stabilitas versi kekuatan besar.

Dalam bahasa David Hawkins, tindakan semacam ini bukan ekspresi power (kekuatan sejati), melainkan force—kekuasaan yang bekerja lewat tekanan, ketakutan, dan paksaan.

Orang Dalam dan Retaknya Negara

Pertanyaan tentang keterlibatan orang dalam sangat relevan. Tidak ada negara yang bisa dilumpuhkan hanya oleh tekanan luar jika solid dari dalam.

Venezuela menghadapi:

  • Elite politik yang terbelah
  • Militer yang diuji loyalitasnya
  • Oligarki ekonomi yang kehilangan privilese

Ketika sebagian elite tidak lagi percaya pada negara, kedaulatan mulai bocor. Retakan ini yang kemudian dimanfaatkan kekuatan eksternal. Amerika tidak menciptakan krisis Venezuela; ia memanfaatkannya.

Ini pelajaran klasik: negara runtuh lebih dulu di ruang elite, baru kemudian di hadapan dunia.

Sanksi Ekonomi: Kekerasan yang Sah

Sanksi ekonomi sering dibungkus bahasa moral: demokrasi, HAM, kebebasan. Namun dampaknya nyata dan brutal:

  • Inflasi ekstrem
  • Kelangkaan obat
  • Runtuhnya layanan publik

Rakyat membayar harga konflik elite global. Dalam kerangka Hawkins, sanksi semacam ini bekerja di wilayah ketakutan dan penderitaan, bukan kebijaksanaan. Ia tidak menaikkan kualitas hidup manusia, tetapi menurunkannya.

Ironisnya, penderitaan rakyat kemudian dijadikan bukti kegagalan pemerintah yang disanksi. Sebuah lingkaran yang kejam dan efektif.

Demokrasi: Prinsip atau Alat?

Amerika menolak Maduro atas nama demokrasi, namun mendukung pemimpin tandingan tanpa pemilu. Ini menimbulkan pertanyaan mendasar: demokrasi milik rakyat atau milik kekuatan global?

Jika legitimasi ditentukan oleh pengakuan asing, maka kedaulatan sejati telah berakhir. Demokrasi berubah dari prinsip menjadi instrumen geopolitik.

Dalam kacamata kesadaran, demokrasi hanya bermakna jika dijalankan dengan integritas. Tanpa itu, ia mudah diselewengkan oleh kepentingan.

Sentuhan Peta Hawkins: Force vs Power

Tanpa menjadikannya kerangka utama, Peta Kesadaran Hawkins membantu memberi jarak etis pada konflik ini.

  • Tekanan, sanksi, kriminalisasi → force
  • Dialog, legitimasi, keadilan → power

Baik Amerika maupun Venezuela sering terjebak pada force. Maduro mempertahankan kekuasaan dengan simbol dan represi; Amerika menekan dengan ekonomi dan diplomasi koersif. Keduanya menciptakan penderitaan, bukan solusi.

Negara yang bertahan lama bukan yang paling keras, tetapi yang beroperasi dari rasionalitas, integritas, dan legitimasi moral.

Pelajaran untuk Indonesia

Kasus Venezuela memberi cermin penting bagi Indonesia:

  1. Kedaulatan tidak hanya soal wilayah, tetapi integritas elite

Negara mudah ditekan jika elitnya mudah dibeli atau dipecah.

  1. Sumber daya alam adalah berkah sekaligus jebakan

Tanpa kebijakan cerdas dan legitimasi rakyat, ia mengundang intervensi.

  1. Nasionalisme tanpa kapasitas hanya menjadi slogan

Kedaulatan perlu kecakapan, bukan sekadar retorika.

  1. Rakyat yang terdidik adalah benteng sejati

Bukan senjata, tetapi kesadaran kolektif yang rasional dan berani.

Kedaulatan yang Diuji Kesadaran

Kasus Maduro bukan hanya tentang Venezuela. Ia adalah peringatan global bahwa kedaulatan hari ini diuji bukan oleh tank, tetapi oleh kesadaran politik suatu bangsa.

Negara yang kuat bukan yang berteriak paling keras, tetapi yang mampu:

  • Mengelola konflik dengan rasional
  • Menjaga legitimasi dari rakyat
  • Tidak tergelincir ke permainan force

Indonesia masih punya ruang belajar. Venezuela mengingatkan kita bahwa ketika kedaulatan tidak dirawat dengan kebijaksanaan, ia akan perlahan tergadai—bahkan tanpa kita sadari.

Dan ketika itu terjadi, presiden hanyalah simbol terakhir dari negara yang telah lama bocor dari dalam.[T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Jaswanto

Tags: Amerika SerikatDonald TrumpgeopolitikNicolás MaduroVenezuela
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BPD IHKA Bali Awali Agenda 2026 dengan Persembahyangan Bersama di Pura Mengening Gianyar

Next Post

Kesenian Jegog dan Sebuah Pertanyaan tentang Masa Depan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Kesenian Jegog dan Sebuah Pertanyaan tentang Masa Depan

Kesenian Jegog dan Sebuah Pertanyaan tentang Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co