GUA TEMPURUNG
Tanganku mengelus getar udara ketika surya
Perlahan-lahan meredup di balik arakan awan
Menjelang senja. Kembali aku membayangkan
Bagaimana sabda-sabdamu menjadi tetesan air
Ketika sebuah gunung membuka selubungnya
Gua yang menyimpan endapan-endapan rindu
Menjadi cahaya bagi semadiku. Dalam kegelapan
Aku khusyuk menyusuri semua permukaan batu
Menarik benang lembut di antara artefak-ertefak
Yang bisu. Saat dahaga kureguk pelan sabdamu
2022
MENDAKI BATU CAVES
Ketika pagi mulai merumbaikan tirai sutranya
Mataku memantul pada permukaan tebing padas
Tampak tangga merambat naik menuju singgasana
Di tengah alunan kidung serta dupa. Sebuah patung
Menjadi penanda antara mengharap dan menerima
Ketika siang mulai menanggalkan jubah peraknya
Akanan menjelma gumpalan mega yang mengendap
Kulihat orang-orang khusyuk menapaki anak tangga
Hingga ke puncak doa. Ketika langit beranjak lindap
Terjawablah bahwa tidak ada nyanyian yang abadi
2022
GUGURNYA BUNGA-BUNGA
Melewati persimpangan tidak ada yang dapat kucatat
Ranting-ranting pinus meluruhkan daun-daun tuanya
Kabut dari tenggara turun perlahan mengurapi jurang
Angin bagai diembuskan langsung dari puncak gunung
Udara alangkah sejuk. Tidak ada yang dapat kulukiskan
Gugurnya bunga-bunga tidak mengisyaratkan apapun
Selain kefanaan. Lampion-lampion yang bergantungan
Hanyalah cahaya samar yang menerangi sudut katedral
Tanpa memancarkan suatu pemaknaan atau pencitraan
Mengenai natal. Tidak ada yang dapat kuterjemahkan
2023
KEIMANANKU YANG TERSISA
Bunga mawar tampak bergetar oleh dentang lonceng
Dari arah katedral. Burung-burung terbang menjauh
Lampu-lampu sepanjang pedestrian mulai dinyalakan
Dari seberang jalan lolongan anjing terdengar lantang
Cakrawala meredup seiring dengan bergulirnya waktu
Udara tiba-tiba basah oleh gerimis yang turun berderai
Lalu orang-orang berhamburan dengan membawa doa
Tanpa jawaban. Rembang petang perlahan-lahan lindap
Di depan altar tak ada persembahan selain deretan lilin
Yang lamat-lamat melelehkan keimananku yang tersisa
2023
LUKISAN SENJA
Ketika surya mulai tenggelam pelan-pelan
Mega yang berlumuran lembayung menerangi
Langkah kecilku. Ufuk menjadi sebuah komposisi
Dengan sapuan halus dari cahaya yang meredup
Siluet punggung bukit menjadi garis pembatas
Ketika surya menghilang dari pandangan mata
Anugerah sesaat yang telah dipersembahkan senja
Tersimpan di hati. Aku berjalan dalam keremangan
Menyusuri kembali jejak cahaya sepanjang pesisir
Buih air terbayang jelas pada permukaan kanvas
2024
Penulis: Acep Zamzam Noor
Editor: Adnyana Ole



























