28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Alam Tak Lagi Pasti: Dari Newton ke Quantum

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 12, 2025
in Esai
Ketika Alam Tak Lagi Pasti: Dari Newton ke Quantum

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SELAMA berabad-abad, manusia hidup dalam keyakinan bahwa alam semesta dapat dijelaskan secara pasti.
Isaac Newton, dengan hukum-hukum geraknya, menunjukkan bahwa setiap benda di alam ini mengikuti aturan yang jelas: jika kita tahu posisi dan kecepatannya, kita bisa memprediksi masa depannya.

Planet-planet berputar mengikuti garis edar yang teratur, apel jatuh dengan gaya gravitasi yang terukur, dan setiap sebab selalu menghasilkan akibat yang pasti. Dunia seperti jam raksasa — berjalan teratur tanpa kejutan.

Kepastian itu memberi kita rasa aman. Kita membangun sistem pendidikan, ekonomi, bahkan hubungan sosial berdasarkan asumsi yang sama: bahwa jika kita bekerja keras, kita akan sukses; jika kita jujur, kita akan dipercaya; jika kita menanam, pasti akan menuai.

Namun, ternyata semesta tidak sesederhana itu. Di balik keteraturan dunia makroskopik, ada lapisan halus realitas yang tak tunduk pada kepastian.

Dunia yang Tak Pasti: Pelajaran dari Quantum

Ketika para ilmuwan menengok ke dunia atom dan partikel, mereka menemukan sesuatu yang mengguncang keyakinan lama: hukum-hukum Newton tidak berlaku di sana.

Dalam dunia kuantum, elektron bisa berada di dua tempat sekaligus, bergerak seperti gelombang sekaligus partikel. Kita tidak bisa mengetahui posisi dan kecepatannya secara bersamaan.

Yang bisa kita ketahui hanyalah peluang atau probabilitas — bukan kepastian.

Fisikawan Niels Bohr dan Werner Heisenberg menyadarkan kita bahwa kenyataan tidak selalu hitam putih. Alam semesta bekerja dalam ketidakpastian yang harmonis, dan justru di sanalah letak keindahannya.

Realitas bukan sekadar “apa yang ada di luar sana”, tetapi juga “bagaimana kita mengamatinya.” Pengamat memengaruhi yang diamati.

Kita bukan sekadar penonton pasif di panggung semesta — kita ikut menciptakan realitas melalui kesadaran kita.

Hidup dalam Ketidakpastian

Jika hukum alam pun tidak pasti, bagaimana dengan kehidupan kita?

Kita sering gelisah ketika sesuatu tak berjalan sesuai rencana. Kita ingin semua hal dapat diprediksi, seperti rumus matematika. Namun kehidupan lebih menyerupai dunia kuantum: dinamis, berubah-ubah, dan penuh kemungkinan.

Ketika seseorang menanam benih kebaikan, hasilnya tidak selalu langsung tampak. Ada kalanya alam “mengacak” prosesnya — menunda, memutar arah, bahkan membawa kita melalui jalan yang tidak kita rencanakan.

Tapi di balik itu semua, seperti gelombang yang terus berinterferensi, kehidupan tetap mencari keseimbangannya sendiri.

Ketidakpastian dalam hidup bukanlah hukuman, melainkan ruang bagi pertumbuhan kesadaran. Kita belajar melepaskan kontrol yang berlebihan dan mulai mempercayai proses.

Seperti elektron yang tak bisa dipaksa memilih posisi pasti, jiwa manusia pun tumbuh ketika diberi ruang untuk menemukan jalannya sendiri.

Dari Sains ke Kesadaran

Pelajaran besar dari mekanika kuantum bukan sekadar bahwa alam semesta rumit, tetapi bahwa segala sesuatu saling terhubung. Foton di ujung galaksi bisa “terbelit” (entangled) dengan foton lain di bumi, seolah tak ada jarak di antara mereka. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa pada tingkat terdalam, semua kehidupan — manusia, hewan, tumbuhan, bahkan planet — terhubung dalam jalinan energi yang sama.

Dalam keseharian, keterhubungan itu bisa kita rasakan sebagai empati, cinta kasih, dan kesadaran ekologis. Ketika kita mencemari sungai, kita sebenarnya sedang mencemari tubuh kita sendiri. Ketika kita menebang hutan tanpa kendali, kita sedang memutus aliran napas bumi yang menopang hidup kita.

Hukum kuantum mengajarkan: tidak ada tindakan kecil yang benar-benar terpisah dari keseluruhan. Setiap pikiran, kata, dan perbuatan adalah getaran energi yang memengaruhi keseluruhan jaring kehidupan.

Menemukan Harmoni dalam Ketidakpastian

Di tengah ketidakpastian, kita justru menemukan makna baru tentang harmoni. Hidup bukan sekadar menaklukkan alam, melainkan menyatu dengannya. Bukan sekadar mencari kepastian, melainkan menari di antara kemungkinan.

Ketika kita belajar menerima bahwa masa depan tidak bisa dipastikan, kita menjadi lebih rendah hati. Kita mulai menghargai setiap momen sekarang — detik ini, napas ini — sebagai keajaiban. Kita mulai menyadari bahwa seperti gelombang kuantum, hidup tidak harus tetap, melainkan boleh berubah, bergetar, dan berevolusi.

Ketika kesadaran ini tumbuh, kita akan memperlakukan bumi bukan sebagai sumber daya untuk dieksploitasi, tetapi sebagai tubuh semesta yang hidup. Kita tidak lagi merasa terpisah dari sesama, karena dalam level energi yang terdalam, kita semua hanyalah satu kesadaran yang sedang bereksperimen dalam bentuk yang berbeda.

Menuju Masa Depan yang Sadar

Mekanika klasik mengajarkan kita berpikir logis dan teratur. Mekanika kuantum mengajarkan kita berjiwa lembut dan sadar. Keduanya tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi — seperti kepala dan hati, seperti sains dan spiritualitas.

Masa depan umat manusia akan bergantung pada kemampuan kita memadukan keduanya: menggunakan sains untuk memahami dunia luar, dan kesadaran untuk menata dunia dalam. Ketika kedua aspek ini berjalan seiring, kita bisa membangun peradaban yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berbelas kasih.

Kita Adalah Gelombang Kesadaran

Jika dunia klasik Descartes berkata “aku berpikir maka aku ada”, maka dunia kuantum berbisik lembut: “aku sadar maka aku menyatu.”

Dalam setiap diri ada percikan kesadaran semesta — cahaya kecil dari sumber yang sama. Tugas kita bukan menaklukkan alam, melainkan menjaga harmoni dalam tarian energi ini.

Sains membantu kita memahami bagaimana semesta bekerja, tapi kesadaran membantu kita hidup selaras dengannya. Dan di situlah, mungkin, Semesta sedang berbicara — tidak lewat kepastian, melainkan lewat keajaiban yang tersembunyi di balik ketidakpastian itu sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: alamIsaac Newton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Aguru Waktra”: Narasi antara Spiritual dan Ekologi

Next Post

Hyang Ratih: Ode untuk Bulan, Perempuan, dan Semesta — Tampil dalam Festival Musik Indonesia 2025

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
Hyang Ratih: Ode untuk Bulan, Perempuan, dan Semesta — Tampil dalam Festival Musik Indonesia 2025

Hyang Ratih: Ode untuk Bulan, Perempuan, dan Semesta -- Tampil dalam Festival Musik Indonesia 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co