BANYAK yang menganggap bekerja di perguruan tinggi pasti bergaji besar. Anggapan itu berkaca dari mereka yang bekerja sebagai guru di SD, SMP, dan SMA. Jika gaji guru saja sudah cukup buat hidup sehari-hari, maka mereka yang bekerja di perguruan tinggi, entah dosen maupun pegawai pasti gajinya juga tinggi.
Kenyataannya, gaji dosen dan pegawai di kampus tidak setinggi anggapan orang. Sama dengan pegawai lain, dosen dan pegawai di kampus boleh dikata pas-pasan saja. Cukup untuk hidup sehari-hari. Tidak berlebih. Kecuali dosen atau pegawai yang menduduki jabatan di kampus, akan mendapat tunjangan jabatan yang jumlahnya juga tidak terlalu besar.
Apalagi pegawai administrasi di kampus. Gajinya justru lebih kecil dibanding mereka yang bekerja di perusahaan. Dengan pendidikan yang hanya tamat SMA, pegawai di kampus tak mungkin dapat hidup mewah. Tak heran jika banyak pegawai yang memiliki kerja sambilan dengan membuka warung kelontong di rumah atau menjual jasa servis barang elektronik.
Sopandi adalah pegawai biasa di sebuah perguruan tinggi. Ia tidak memiliki jabatan. Pendidikannya hanya tamat SMA dan belum lama bekerja. Gaji sebulan jauh dari kata cukup jika untuk menghidupi istri dan dua orang anaknya. Ia tidak memiliki bakat bisnis seperti teman lain yang membuka warung makan di dekat kampus.
Sopandi hanya memiliki keterampilan berbicara. Setiap kali berbicara dengan orang lain, Sopandi menarik perhatian. Ia banyak memiliki teman, baik di lingkungan tempat tinggalnya maupun di kampus. Sopandi banyak dikenal oleh dosen, bahkan dosen dari fakultas lain. Pergaulannya yang luas memang membuat Sopandi banyak punya kenalan.
Menyebut nama Sopandi di kampus hampir pasti semua orang mengenalnya. Pejabat kampus pun mengenal Sopandi sebagai pegawai yang supel, mudah bergaul, sopan, dan pandai membujuk orang lain. Keterampilan Sopandi dalam berkomunikasi tidak pernah ia pelajari dari buku atau latihan. Sejak kecil ia memang sudah memiliki keterampilan berbicara.
Berbekal keterampilan berbicara dan membujuk orang lain itulah Sopandi memilih kerja sampingan sebagai makelar atau calo tanah. Minat masyarakat terhadap tanah di daerahnya cukup tinggi. Ada yang memang membutuhkan untuk dibangun rumah, ada pula yang sekadar berinvestasi. Harga tanah di daerahnya setiap tahun juga membumbung tinggi.
Semakin banyak kampus yang berdiri di daerahnya membuat tanah menjadi investasi bagi orang yang berduit. Tempat kos dan kafe banyak bermunculan. Bukan hanya minat untuk beli, masyarakat yang berminat menjual tanah pun semakin meningkat. Untuk itulah Sopandi memutuskan untuk menjadi makelar tanah saja.
***
Banyak cara yang dilakukan Sopandi untuk menjadi makelar tanah. Di lingkungan kampus, ia tahu betul kapan harus menawarkan tanah kepada dosen-dosen. Tahun anggaran baru menjadi saat yang tepat baginya untuk menawarkan dosen maupun pegawai untuk membeli tanah yang ia makelari.
“Ada tanah yang strategis mau dijual. Murah dan aksesnya bagus..,”. Begitu biasanya kata-kata Sopandi yang sering digunakan untuk membujuk orang agar mau membeli tanah yang ditawarkan. Jika tidak mempan, Sopandi memiliki jurus lain agar calon pembeli berminat terhadap tawarannya.
Dosen-dosen muda acapkali menjadi sasaran bujukan Sopandi. Mereka biasanya belum memiliki rumah. Tanah dengan ukuran kecil banyak diminati. Kalau terbentur dengan anggaran yang tidak mencukupi, Sopandi juga bersedia membantu dosen untuk mengurus pinjaman uang di bank. Prinsipnya, jika ada orang yang meminta jasanya untuk menjualkan tanah, maka harus berhasil mendapatkan pembeli.
Pendapatan dari pekerjaan sampingan Sopandi sebagai makelar tanah cukup lumayan. Bahkan jika berhasil menjual tanah yang luas, komisi yang ia terima lebih besar dari gajinya sebulan. Sopandi biasanya mendapat uang komisi 2,5% dari hasil transaksi penjualan tanah. Bila ia mampu membantu menjual tanah seharga ratusan juta atau miliaran rupiah, maka komisi yang ia terima sangat banyak untuk ukuran pegawai biasa di kampus.
Musim Pemilu akan menjadi masa yang menjanjikan bagi Sopandi. Banyak calon anggota legislatif (caleg) yang meminta bantuannya menjual tanah sebagai modal kampanye. Jika sudah begini, maka ia akan segera mencari investor tanah. Para pebisnis dari kota besar juga banyak yang melakukan investasi tanah, dan mereka sering menggunakan jasa Sopandi. Tanah yang dibutuhkan pebisnis biasanya bukan hanya ratusan meter, tetapi dalam hitungan hektare.
Kesuksesan Sopandi menjadi makelar tanah telah mengubah segalanya. Semua kebutuhan rumah tangganya tercukupi dari hasil komisi penjualan tanah. Penampilan Sopandi juga berbeda dengan pegawai teman-teman kerjanya. Sopandi telah mampu membeli mobil dan merenovasi rumahnya.
Gaya hidup Sopandi mulai berubah drastis. Sebagai pegawai administrasi di kampus, penampilan dan gaya hidupnya nyaris melebihi para dosen. Sopandi mulai hidup berfoya-foya. Hampir setiap minggu ia bersama teman-temannya mengunjungi tempat hiburan malam. Kadang pulang dini hari dalam keadaan mabuk, karena terlalu banyak mengkonsumsi minuman beralkohol.
Kesetiaan istrinya yang merangkak bersama dari nol, dari kehidupan yang serba kekurangan, tak dibalasnya dengan kasih sayang yang sebanding. Bagi Sopandi, membelikan barang-barang perhiasan bagi istrinya dianggap cukup untuk membahagiakan seorang istri. Perangai Sopandi mulai goyah. Ia mulai bermain mata dengan wanita lain.
Sopandi selingkuh. Bukan hanya dengan seorang wanita, tetapi beberapa. Kehidupannya berubah drastis. Pergaulannya dengan para pebisnis membuatnya lupa daratan. Sopandi mengingkari kesetiaan istrinya. Banyak teman-teman pegawai di kampus yang mengingatkan Sopandi, tetapi ia tak peduli.
“Sadarlah Sopandi.. Ingat istri dan anak-anakmu..,” saran Wardiman teman sekantornya di kampus.
“Aku selalu ingat istri dan anak-anakku. Semua keperluan mereka sudah aku cukupi..!!” kata Sopandi dengan nada sedikit congkak.
Kalau sudah begini, teman-teman Sopandi hanya bisa mengelus dada. Kelimpahan materi telah mengubah hidup Sopandi. Lelaki yang dulu hidup begitu sederhana, kini menjadi pongah. Pegawai yang dulu sangat rajin bekerja di kampus, kini sering meninggalkan kantor untuk urusan jual beli tanah.
***
Sopandi berubah drastis. Sebagai makelar tanah ia bukan hanya menunggu ada orang yang menjual atau membeli tanah. Kini ia lebih agresif mendatangi pemilik tanah sekiranya ada investor yang berminat membeli tanah di pedesaan. Bahkan Sopandi tak jarang memaksa petani untuk menjual tanah yang diinginkan pembeli.
Suatu ketika seorang pengusaha besar dari Jakarta membutuhkan lahan luas untuk mendirikan pabrik dan gudang. Sopandi diminta untuk mencari lahan itu. Layaknya peluru lepas dari selongsong, Sopandi bergerak cepat ke sebuah desa. Sawah menghijau menjadi incaran Sopandi. Bergegas ia temui Prayitno, pemilik sawah yang telah lanjut usia.
“Maaf, Pak Sopandi. Saya tidak berniat menujual sawah saya..,” kata Prayitno saat Sopandi membujuk untuk menjual sawahnya.
“Ini teman saya siap membeli dengan harga yang sangat tinggi, Pak Prayitno..,” bujuk Sopandi.
“Tapi saya tidak mau jual sawah saya. Lagi pula sawah ini masuk zona hijau, nggak bisa didirikan bangunan,” ujar Prayitno tetap bertahan.
“Ahhh.., itu masalah sepele. Nanti saya akan urus agar bisa jadi zona kuning,” kata Sopandi meyakinkan Prayitno.
“Ini sawah warisan dari kakek saya, Pak Sopandi. Saya tidak akan jual sampai kapan pun..!!” Prayitno mulai kesal dengan bujuk rayu Sopandi.
Kali ini Sopandi tak berkutik. Prayitno tetap kukuh tak mau menjual sawahnya. Padahal pengusaha dari Jakarta itu sangat menginginkan sawah itu, karena letaknya yang sangat strategis di tepi jalan besar. Sopandi tidak kehabisan akal. Ia mencari kesempatan pada waktu lain untuk kembali mendatangi rumah Prayitno.
Sopandi tetap ngotot agar Prayitno mau menjual sawahnya. Terbayang di benaknya begitu banyak uang komisi yang akan diterimanya jika sawah itu bisa dibeli pengusaha dari Jakarta. Hidupnya akan bergelimang rupiah. Itu berarti ia bisa berfoya-foya menghabiskan uang di tempat hiburan malam. Atau bercengkerama dengan wanita selingkuhannya.
Teman-teman Sopandi di kampus tak tinggal diam melihat perilakunya yang semakin agresif sebagai makelar tanah. Mereka mengingatkan Sopandi agar tidak memaksa orang lain untuk menjual tanah. Jual beli tanah bagi masyarakat Jawa berkaitan dengan pulung, keberuntungan. Tidak boleh ada paksaan. Keserakahan terhadap tanah dapat berakibat buruk. Namun Sopandi menganggap nasihat teman-temannya bagai angin lalu.
“Ahh.. takhayul itu..!!!” kata Sopandi ketus menanggapi nasihat temannya.
Teman-teman Sopandi pasrah. Istri Sopandi juga tak mampu lagi menasihati suaminya yang telah hilang kendali. Berkali-kali istri Sopandi mendapat cerita dari tetangganya tentang wanita selingkuhan suaminya. Menangis. Itu yang dapat dilakukan istri Sopandi ketika suaminya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan bau aroma wanita lain.
Sopandi bukan hanya diingatkan oleh teman dan istrinya. Sepertinya semesta juga mengingatkan sepak terjangnya. Entah mengapa, keanehan terjadi. Lantai di bawah meja kerja Sopandi di kampus tiba-tiba retak. Bukan hanya itu, lantai keramik di seputar meja kerja Sopandi terasa panas. Sedangkan meja kerja teman-temannya biasa saja, tidak terjadi keanehan apa pun.
Banyak yang mengaitkan peristiwa di bawah meja kerja Sopandi dengan hal gaib. Wardiman mengatakan jika Sopandi sedang ditolak bumi, karena perilakunya yang rakus sebagai makelar tanah. Seolah bumi marah ketika Sopandi memaksa orang untuk menjual tanah. Sopandi tak percaya dengan anggapan itu. Ia masih tetap pongah menjadi makelar tanah, berburu, dan memaksa pemiliknya untuk menjual tanahnya.
Peringatan demi peringatan, nasihat demi nasihat, bukan membuat Sopandi sadar. Ia semakin menjadi-jadi. Sopandi kian serakah menjadi makelar tanah. Ia menggaet beberapa pengusaha besar untuk membeli lahan petani. Hampir tiap hari Sopandi keluar masuk pedesaan untuk memaksa petani menjual sawahnya.
Alam semesta mungkin masih bisa bersabar dengan ulah Sopandi, tetapi tidak dengan tubuhnya. Suatu malam Sopandi pulang ke rumah dengan terhuyung-huyung. Bau alkohol begitu kuat tercium dari mulutnya. Sopandi terjungkal di depan pintu rumah. Ia muntah. Darah segar keluar dari mulutnya. Sopandi gontai, dan tersungkur di lantai rumahnya.
Belum sempat dilarikan ke rumah sakit, Sopandi menghembuskan napas terakhir. Istri dan anak-anaknya menjerit histeris. Lelaki yang dulu sabar, sederhana, dan sangat sayang kepada keluarga telah pergi selamanya. Kesedihan istri Sopandi bukan semata lantaran ditinggal mati suaminya, namun lantaran suaminya pergi dalam keadaan yang berbeda; pongah, serakah, pemabuk, dan bergelimang wanita.
Prosesi pemakaman Sopandi dihadiri sanak keluarga, tetangga, dan rekan-rekan kerjanya di kampus. Semua kehilangan Sopandi yang pandai berbicara. Sopandi yang mudah bergaul. Dan Sopandi yang di hari-hari terakhirnya menjadi lelaki yang tak bisa menerima nasihat orang lain.
Liang lahat sudah disiapkan para penggali kubur. Perlahan jenazah Sopandi hendak dimasukkan ke dalam kubur. Namun semua yang hadir di pemakaman terkejut. Mayat Sopandi tak dapat masuk ke liang kubur. Padahal para penggali kubur sebelumnya sudah mengukur panjang tubuh Sopandi. Mereka kemudian menggali kembali liang kubur agar lebih panjang. Namun saat mayat Sopandi akan diturunkan, lubang kubur kembali tak mencukupi untuk memasukkan jenazah Sopandi.
Semua peziarah saling pandang. Suasana mencekam dan merinding mewarnai prosesi pemakaman Sopandi. Berulang kali penggali kubur menambah ukuran galian lubang, berkali-kali pula mayat Sopandi tak dapat dimasukkan ke dalam liang lahat. Mereka saling berbisik, mayat Sopandi ditolak bumi. Seorang tokoh masyarakat di desa mencoba menenangkan.
“Bapak ibu sekalian, kita ikhlaskan dan kita doakan almarhum dapat diterima di sisi Tuhan..,” kata tokoh masyarakat itu seraya memimpin doa.
Berakhirnya doa, mayat Sopandi berhasil dimasukkan ke liang kubur. Semua menarik napas lega. Entah apa yang akan dilakukan Sopandi di alam baka sana. Mungkin ia masih akan berburu lahan yang tak pernah cukup buatnya. Atau mungkin ia merasa sepi dan terlunta-lunta di alam baka, karena semua penghuni menolaknya, sebagaimana ia ditolak bumi. [T]
- Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

![Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/01/chusmeru.-cover-cerita-misteri-750x375.jpg)


























