1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [39]: Makelar Tanah Ditolak Bumi

Chusmeru by Chusmeru
November 6, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

BANYAK yang menganggap bekerja di perguruan tinggi pasti bergaji besar. Anggapan itu berkaca dari mereka yang bekerja sebagai guru di SD, SMP, dan SMA. Jika gaji guru saja sudah cukup buat hidup sehari-hari, maka mereka yang bekerja di perguruan tinggi, entah dosen maupun pegawai pasti gajinya juga tinggi.

Kenyataannya, gaji dosen dan pegawai di kampus tidak setinggi anggapan orang. Sama dengan pegawai lain, dosen dan pegawai di kampus boleh dikata pas-pasan saja. Cukup untuk hidup sehari-hari. Tidak berlebih. Kecuali dosen atau pegawai yang menduduki jabatan di kampus, akan mendapat tunjangan jabatan yang jumlahnya juga tidak terlalu besar.

Apalagi pegawai administrasi di kampus. Gajinya justru lebih kecil dibanding mereka yang bekerja di perusahaan. Dengan pendidikan yang hanya tamat SMA, pegawai di kampus tak mungkin dapat hidup mewah. Tak heran jika banyak pegawai yang memiliki kerja sambilan dengan membuka warung kelontong di rumah atau menjual jasa servis barang elektronik.

Sopandi adalah pegawai biasa di sebuah perguruan tinggi. Ia tidak memiliki jabatan. Pendidikannya hanya tamat SMA dan belum lama bekerja. Gaji sebulan jauh dari kata cukup jika untuk menghidupi istri dan dua orang anaknya. Ia tidak memiliki bakat bisnis seperti teman lain yang membuka warung makan di dekat kampus.

Sopandi hanya memiliki keterampilan berbicara. Setiap kali berbicara dengan orang lain, Sopandi menarik perhatian. Ia banyak memiliki teman, baik di lingkungan tempat tinggalnya maupun di kampus. Sopandi banyak dikenal oleh dosen, bahkan dosen dari fakultas lain. Pergaulannya yang luas memang membuat Sopandi banyak punya kenalan.

Menyebut nama Sopandi di kampus hampir pasti semua orang mengenalnya. Pejabat kampus pun mengenal Sopandi sebagai pegawai yang supel, mudah bergaul, sopan, dan pandai membujuk orang lain. Keterampilan Sopandi dalam berkomunikasi tidak pernah ia pelajari dari buku atau latihan. Sejak kecil ia memang sudah memiliki keterampilan berbicara.

Berbekal keterampilan berbicara dan membujuk orang lain itulah Sopandi memilih kerja sampingan sebagai makelar atau calo tanah. Minat masyarakat terhadap tanah di daerahnya cukup tinggi. Ada yang memang membutuhkan untuk dibangun rumah, ada pula yang sekadar berinvestasi. Harga tanah di daerahnya setiap tahun juga membumbung tinggi.

Semakin banyak kampus yang berdiri di daerahnya membuat tanah menjadi investasi bagi orang yang berduit. Tempat kos dan kafe banyak bermunculan. Bukan hanya minat untuk beli, masyarakat yang berminat menjual tanah pun semakin meningkat. Untuk itulah Sopandi memutuskan untuk menjadi makelar tanah saja.

***

Banyak cara yang dilakukan Sopandi untuk menjadi makelar tanah. Di lingkungan kampus, ia tahu betul kapan harus menawarkan tanah kepada dosen-dosen. Tahun anggaran baru menjadi saat yang tepat baginya untuk menawarkan dosen maupun pegawai untuk membeli tanah yang ia makelari.

“Ada tanah yang strategis mau dijual. Murah dan aksesnya bagus..,”.  Begitu biasanya kata-kata Sopandi yang sering digunakan untuk membujuk orang agar mau membeli tanah yang ditawarkan. Jika tidak mempan, Sopandi memiliki jurus lain agar calon pembeli berminat terhadap tawarannya.

Dosen-dosen muda acapkali menjadi sasaran bujukan Sopandi. Mereka biasanya belum memiliki rumah. Tanah dengan ukuran kecil banyak diminati. Kalau terbentur dengan anggaran yang tidak mencukupi, Sopandi juga bersedia membantu dosen untuk mengurus pinjaman uang di bank. Prinsipnya, jika ada orang yang meminta jasanya untuk menjualkan tanah, maka harus berhasil mendapatkan pembeli.

Pendapatan dari pekerjaan sampingan Sopandi sebagai makelar tanah cukup lumayan. Bahkan jika berhasil menjual tanah yang luas, komisi yang ia terima lebih besar dari gajinya sebulan. Sopandi biasanya mendapat uang komisi 2,5% dari hasil transaksi penjualan tanah. Bila ia mampu membantu menjual tanah seharga ratusan juta atau miliaran rupiah, maka komisi yang ia terima sangat banyak untuk ukuran pegawai biasa di kampus.

Musim Pemilu akan menjadi masa yang menjanjikan bagi Sopandi. Banyak calon anggota legislatif (caleg) yang meminta bantuannya menjual tanah sebagai modal kampanye. Jika sudah begini, maka ia akan segera mencari investor tanah. Para pebisnis dari kota besar juga banyak yang melakukan investasi tanah, dan mereka sering menggunakan jasa Sopandi. Tanah yang dibutuhkan pebisnis biasanya bukan hanya ratusan meter, tetapi dalam hitungan hektare.

Kesuksesan Sopandi menjadi makelar tanah telah mengubah segalanya. Semua kebutuhan rumah tangganya tercukupi dari hasil komisi penjualan tanah. Penampilan Sopandi juga berbeda dengan pegawai teman-teman kerjanya. Sopandi telah mampu membeli mobil dan merenovasi rumahnya.

Gaya hidup Sopandi mulai berubah drastis. Sebagai pegawai administrasi di kampus, penampilan dan gaya hidupnya nyaris melebihi para dosen. Sopandi mulai hidup berfoya-foya.  Hampir setiap minggu ia bersama teman-temannya mengunjungi tempat hiburan malam. Kadang pulang dini hari dalam keadaan mabuk, karena terlalu banyak mengkonsumsi minuman beralkohol.

Kesetiaan istrinya yang merangkak bersama dari nol, dari kehidupan yang serba kekurangan, tak dibalasnya dengan kasih sayang yang sebanding. Bagi Sopandi, membelikan barang-barang perhiasan bagi istrinya dianggap cukup untuk membahagiakan seorang istri. Perangai Sopandi mulai goyah. Ia mulai bermain mata dengan wanita lain.

Sopandi selingkuh. Bukan hanya dengan seorang wanita, tetapi beberapa. Kehidupannya berubah drastis. Pergaulannya dengan para pebisnis membuatnya lupa daratan. Sopandi mengingkari kesetiaan istrinya. Banyak teman-teman pegawai di kampus yang mengingatkan Sopandi, tetapi ia tak peduli.

“Sadarlah Sopandi.. Ingat istri dan anak-anakmu..,” saran Wardiman teman sekantornya di kampus.

“Aku selalu ingat istri dan anak-anakku. Semua keperluan mereka sudah aku cukupi..!!” kata Sopandi dengan nada sedikit congkak.

Kalau sudah begini, teman-teman Sopandi hanya bisa mengelus dada. Kelimpahan materi telah mengubah hidup Sopandi. Lelaki yang dulu hidup begitu sederhana, kini menjadi pongah. Pegawai yang dulu sangat rajin bekerja di kampus, kini sering meninggalkan kantor untuk urusan jual beli tanah.

***

Sopandi berubah drastis. Sebagai makelar tanah ia bukan hanya menunggu ada orang yang menjual atau membeli tanah. Kini ia lebih agresif mendatangi pemilik tanah sekiranya ada investor yang berminat membeli tanah di pedesaan. Bahkan Sopandi tak jarang memaksa petani untuk menjual tanah yang diinginkan pembeli.

Suatu ketika seorang pengusaha besar dari Jakarta membutuhkan lahan luas untuk mendirikan pabrik dan gudang. Sopandi diminta untuk mencari lahan itu. Layaknya peluru lepas dari selongsong, Sopandi bergerak cepat ke sebuah desa. Sawah menghijau menjadi incaran Sopandi. Bergegas ia temui Prayitno, pemilik sawah yang telah lanjut usia.

“Maaf, Pak Sopandi. Saya tidak berniat menujual sawah saya..,” kata Prayitno saat Sopandi membujuk untuk menjual sawahnya.

“Ini teman saya siap membeli dengan harga yang sangat tinggi, Pak Prayitno..,” bujuk Sopandi.

“Tapi saya tidak mau jual sawah saya. Lagi pula sawah ini masuk zona hijau, nggak bisa didirikan bangunan,” ujar Prayitno tetap bertahan.

“Ahhh.., itu masalah sepele. Nanti saya akan urus agar bisa jadi zona kuning,” kata Sopandi meyakinkan Prayitno.

“Ini sawah warisan dari kakek saya, Pak Sopandi. Saya tidak akan jual sampai kapan pun..!!” Prayitno mulai kesal dengan bujuk rayu Sopandi.

Kali ini Sopandi tak berkutik. Prayitno tetap kukuh tak mau menjual sawahnya. Padahal pengusaha dari Jakarta itu sangat menginginkan sawah itu, karena letaknya yang sangat strategis di tepi jalan besar. Sopandi tidak kehabisan akal. Ia mencari kesempatan pada waktu lain untuk kembali mendatangi rumah Prayitno.

Sopandi tetap ngotot agar Prayitno mau menjual sawahnya. Terbayang di benaknya begitu banyak uang komisi yang akan diterimanya jika sawah itu bisa dibeli pengusaha dari Jakarta. Hidupnya akan bergelimang rupiah. Itu berarti ia bisa berfoya-foya menghabiskan uang di tempat hiburan malam. Atau bercengkerama dengan wanita selingkuhannya.

Teman-teman Sopandi di kampus tak tinggal diam melihat perilakunya yang semakin agresif sebagai makelar tanah. Mereka mengingatkan Sopandi agar tidak memaksa orang lain untuk menjual tanah. Jual beli tanah bagi masyarakat Jawa berkaitan dengan pulung, keberuntungan. Tidak boleh ada paksaan. Keserakahan terhadap tanah dapat berakibat buruk. Namun Sopandi menganggap nasihat teman-temannya bagai angin lalu.

“Ahh.. takhayul itu..!!!” kata Sopandi ketus menanggapi nasihat temannya.

Teman-teman Sopandi pasrah. Istri Sopandi juga tak mampu lagi menasihati suaminya yang telah hilang kendali. Berkali-kali istri Sopandi mendapat cerita dari tetangganya tentang wanita selingkuhan suaminya. Menangis. Itu yang dapat dilakukan istri Sopandi ketika suaminya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan bau aroma wanita lain.

Sopandi bukan hanya diingatkan oleh teman dan istrinya. Sepertinya semesta juga mengingatkan sepak terjangnya. Entah mengapa, keanehan terjadi. Lantai di bawah meja kerja Sopandi di kampus tiba-tiba retak. Bukan hanya itu, lantai keramik di seputar meja kerja Sopandi terasa panas. Sedangkan meja kerja teman-temannya biasa saja, tidak terjadi keanehan apa pun.

Banyak yang mengaitkan peristiwa di bawah meja kerja Sopandi dengan hal gaib. Wardiman mengatakan jika Sopandi sedang ditolak bumi, karena perilakunya yang rakus sebagai makelar tanah. Seolah bumi marah ketika Sopandi memaksa orang untuk menjual tanah. Sopandi tak percaya dengan anggapan itu. Ia masih tetap pongah menjadi makelar tanah, berburu, dan memaksa pemiliknya untuk menjual tanahnya.

Peringatan demi peringatan, nasihat demi nasihat, bukan membuat Sopandi sadar. Ia semakin menjadi-jadi. Sopandi kian serakah menjadi makelar tanah. Ia menggaet beberapa pengusaha besar untuk membeli lahan petani. Hampir tiap hari Sopandi keluar masuk pedesaan untuk memaksa petani menjual sawahnya.

Alam semesta mungkin masih bisa bersabar dengan ulah Sopandi, tetapi tidak dengan tubuhnya. Suatu malam Sopandi pulang ke rumah dengan terhuyung-huyung. Bau alkohol begitu kuat tercium dari mulutnya. Sopandi terjungkal di depan pintu rumah. Ia muntah. Darah segar keluar dari mulutnya. Sopandi gontai, dan tersungkur di lantai rumahnya.

Belum sempat dilarikan ke rumah sakit, Sopandi menghembuskan napas terakhir. Istri dan anak-anaknya menjerit histeris. Lelaki yang dulu sabar, sederhana, dan sangat sayang kepada keluarga telah pergi selamanya. Kesedihan istri Sopandi bukan semata lantaran ditinggal mati suaminya, namun lantaran suaminya pergi dalam keadaan yang berbeda; pongah, serakah, pemabuk, dan bergelimang wanita.

Prosesi pemakaman Sopandi dihadiri sanak keluarga, tetangga, dan rekan-rekan kerjanya di kampus. Semua kehilangan Sopandi yang pandai berbicara. Sopandi yang mudah bergaul. Dan Sopandi yang di hari-hari terakhirnya menjadi lelaki yang tak bisa menerima nasihat orang lain.

Liang lahat sudah disiapkan para penggali kubur. Perlahan jenazah Sopandi hendak dimasukkan ke dalam kubur. Namun semua yang hadir di pemakaman terkejut. Mayat Sopandi tak dapat masuk ke liang kubur. Padahal para penggali kubur sebelumnya sudah mengukur panjang tubuh Sopandi. Mereka kemudian menggali kembali liang kubur agar lebih panjang. Namun saat mayat Sopandi akan diturunkan, lubang kubur kembali tak mencukupi untuk memasukkan jenazah Sopandi.

Semua peziarah saling pandang. Suasana mencekam dan merinding mewarnai prosesi pemakaman Sopandi. Berulang kali penggali kubur menambah ukuran galian lubang, berkali-kali pula mayat Sopandi tak dapat dimasukkan ke dalam liang lahat. Mereka saling berbisik, mayat Sopandi ditolak bumi. Seorang tokoh masyarakat di desa mencoba menenangkan.

“Bapak ibu sekalian, kita ikhlaskan dan kita doakan almarhum dapat diterima di sisi Tuhan..,” kata tokoh masyarakat itu seraya memimpin doa.

Berakhirnya doa, mayat Sopandi berhasil dimasukkan ke liang kubur. Semua menarik napas lega. Entah apa yang akan dilakukan Sopandi di alam baka sana. Mungkin ia masih akan berburu lahan yang tak pernah cukup buatnya. Atau mungkin ia merasa sepi dan terlunta-lunta di alam baka, karena semua penghuni menolaknya, sebagaimana ia ditolak bumi. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Paradoks BPHTB dalam PPJB: Ketika Keadilan Fiskal Mengabaikan Kepastian Hukum

Next Post

Yudiati Kuniko Menyembuhkan Luka lewat ‘Hana: Jangan Biarkan Mereka Lihat Lukamu’ –Dari Sesi Peluncuran Buku di UWRF 2025

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Kemping yang Mencekam

by Chusmeru
October 15, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails
Next Post
Yudiati Kuniko Menyembuhkan Luka lewat ‘Hana: Jangan Biarkan Mereka Lihat Lukamu’ –Dari Sesi Peluncuran Buku di UWRF 2025

Yudiati Kuniko Menyembuhkan Luka lewat ‘Hana: Jangan Biarkan Mereka Lihat Lukamu’ --Dari Sesi Peluncuran Buku di UWRF 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co