24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Vegetarian: Melihat Kaka Slank, Teringat George Harrison

Angga Wijaya by Angga Wijaya
October 6, 2025
in Esai
Vegetarian: Melihat Kaka Slank, Teringat George Harrison

Ilustrasi tatkala.co

POLA hidup vegetarian kini bukan hanya tren global, melainkan juga semakin mendapat tempat di Bali. Pada 2018, saya pernah menulis esai berjudul Pengalaman Susah Senang Menjadi Vegetarian.

Esai tersebut menceritakan bagaimana saya mengurangi daging secara bertahap, mendengarkan tubuh sendiri, lalu merasakan perubahan fisik dan batin, Saya merasa lebih ringan, lebih tenang, lebih sadar akan makanan yang masuk ke tubuh. Cerita itu mengingatkan saya pada pengalaman saat mahasiswa pernah menekuni spiritualitas, termasuk pantang makan daging.

Menjadi vegetarian bukan sekadar soal diet. Ini adalah pola hidup yang ditempuh oleh orang-orang yang mendengarkan tubuh dan hatinya. Di Indonesia, Kaka Slank menjadi salah satu contoh publik yang memilih pola makan nabati. Di tingkat global, George Harrison sejak lama dikenal sebagai musisi yang menghubungkan musiknya dengan ajaran spiritual Hare Krishna, termasuk pola makan vegetarian.

Esai ini adalah upaya merangkai pengalaman pribadi, tren lokal Bali, dan figur publik tersebut agar kita bisa melihat vegetarianisme bukan sebagai jalan sunyi yang asing, tetapi sebagai pilihan sadar yang semakin relevan.

Tradisi dan Spiritualitas

Di Bali, pelaku vegetarian sering mendasarkan pilihannya pada alasan kesehatan sekaligus spiritual. Dalam ajaran Veda, makanan dibagi menjadi tiga kategori, antara lain rajas (menimbulkan sifat aktif dan agresif), tamas (menimbulkan sifat malas dan lembam), dan sattvika (murni, menumbuhkan keseimbangan). Makanan vegetarian dikategorikan sebagai sattvika dan sangat disarankan bagi mereka yang mendalami spiritualitas.

Tak makan daging diyakini mampu meningkatkan rasa welas asih karena tidak mendukung pembunuhan terhadap hewan bahan makanan. Vegan, istilah lainnya, juga diyakini membuat aliran prana dalam tubuh menjadi lebih lancar dan membuat tubuh lebih sehat. Mahatma Gandhi (1869–1948), tokoh politik dan spiritual India, pernah mengatakan bahwa kemajuan rohani menuntut pada suatu tahap kita berhenti membunuh makhluk hidup demi kepuasan jasmani kita. Gandhi dikenal sebagai vegetaris yang ketat; ia tidak mengonsumsi telur bahkan tidak meminum susu.

Di Bali, gaya hidup tanpa makan daging biasanya terbentuk lewat pergaulan di komunitas seperti ashram dan pasraman. Di tempat-tempat ini orang mendapatkan dukungan kelompok yang membuat pilihan hidup berbeda ini terasa lebih mudah.

Namun menjadi berbeda di Bali juga memiliki tantangan. Banyak orang mempertanyakan pilihan hidup vegetarian karena berbenturan dengan adat dan budaya di mana kebanyakan orang masih mengonsumsi daging. Pola hidup vegetarian dianggap fenomena baru dan belum populer. Di masa lalu masyarakat Bali sebenarnya tidak terlalu banyak mengonsumsi daging. Mereka memakan daging hanya pada saat hari raya seperti Galungan, Kuningan, dan piodalan di pura. Kini daging sangat mudah didapat dan kebiasaan memakan daging menjadi hal yang lumrah.

Saya sendiri pernah menjalani diet tanpa daging selama empat tahun saat tinggal dan belajar di sebuah ashram di Denpasar. Berdasarkan pengalaman tersebut, vegetarian/vegan membuat tubuh lebih ringan dan pikiran menjadi lebih tenang. Rasa kasih dan kepedulian terhadap makhluk hidup semakin besar.

Susahnya menjadi vegetarian adalah saat pulang ke kampung halaman di mana keluarga besar sebagian besar masih memakan daging. Lebih repot lagi ketika ada upacara adat dan ditawari makan. Jika tidak makan takut melukai perasaan tuan rumah, tetapi jika memakan makanan yang mengandung daging terasa tidak setia dengan pilihan hidup yang dijalani bertahun-tahun.

Di situlah muncul dilema: satu sisi ingin menjadi bagian dari komunitas komunal yang menomorsatukan persatuan, tetapi di sisi lain ingin hidup lebih sehat secara spiritual sesuai sastra dan kitab suci. Menjadi berbeda di Bali memang sulit. Jangankan pola makan, kadang perbedaan pendapat saja bisa memunculkan pengucilan. Meski tidak semua orang Bali bersikap seperti itu, tekanan sosial tetap ada.

Di kota besar dengan pola pikir lebih moderat, perbedaan tersebut lebih bisa ditolerir. Jika ada keluarga atau sanak saudara yang bergabung dengan kelompok spiritual tertentu yang biasa menganjurkan pola hidup vegetarian mereka tidak terlalu mempermasalahkannya. Berbeda dengan di desa di mana budaya kebersamaan dipegang teguh, menjadi vegetarian biasanya dianggap tidak lumrah dan kurang menghormati adat-istiadat..

Tren Global dan Figur Publik

Pilihan untuk tidak makan daging bukan hanya dilakukan oleh para yogi atau orang yang tinggal di ashram. Sejumlah figur publik dunia musik juga melakukannya, menjadikannya bagian dari identitas dan pesan yang mereka bawa.

Di Indonesia, salah satu contoh yang paling dikenal adalah Kaka Slank. Vokalis band legendaris ini sejak beberapa tahun lalu memilih menjadi vegetarian. Dalam berbagai wawancara, Kaka menyebut alasan utamanya adalah kesehatan dan kepedulian terhadap hewan. Ia merasa tubuh lebih bugar, suara lebih terjaga, dan pola pikir lebih jernih ketika tidak mengonsumsi daging. Sebagai figur publik dengan penggemar lintas generasi, langkah Kaka menjadi inspirasi bagi banyak orang muda yang ingin mencoba gaya hidup serupa tanpa merasa aneh di tengah masyarakat yang masih sangat karnivora.

Di tingkat global, salah satu contoh ikonik adalah George Harrison, gitaris The Beatles. Harrison dikenal sebagai sosok yang spiritual; ia mendalami filsafat India, rajin meditasi, dan sejak akhir 1960-an bergabung dengan gerakan Hare Krishna (ISKCON). Sejak itu, ia menjadi vegetarian yang ketat bahkan cenderung vegan. Dalam wawancara dan lirik lagu-lagunya, Harrison kerap menyinggung ajaran welas asih, reinkarnasi, dan karma—konsep yang sejalan dengan gaya hidup tanpa kekerasan terhadap hewan. Ia memandang makanan nabati bukan sekadar pola diet, melainkan bagian dari praktik bhakti (pengabdian) dan cara menyucikan diri. Sikap konsisten Harrison ini memperkuat citranya sebagai “Beatle yang spiritual” dan memperkenalkan nilai-nilai Timur kepada jutaan pendengar Barat.

Kehadiran figur publik semacam ini menunjukkan bahwa vegetarianisme bisa melintasi batas budaya dan agama. Kaka dan Harrison berasal dari latar berbeda, Jakarta dan Liverpool, namun keduanya menemukan nilai yang sama: tubuh yang lebih sehat, pikiran lebih jernih, dan rasa welas asih yang lebih besar. Bagi pembaca di Bali, kisah ini memberi pesan bahwa jalan vegetarian tidak hanya milik kalangan tertentu di ashram atau komunitas spiritual, tetapi juga dapat menjadi pilihan sadar orang modern, pekerja kreatif, dan musisi papan atas.

Vegetarian Ala Bali

Di Bali, vegetarian punya konteks budaya tersendiri. Dalam tradisi Hindu Bali, makanan berkaitan dengan yadnya atau persembahan. Hewan kurban memang masih digunakan pada upacara tertentu, tetapi setelah itu dagingnya dibagikan. Di sisi lain, ajaran ahimsa (tidak menyakiti makhluk hidup) juga menjadi dasar bagi sebagian pemuka agama dan penghayat spiritual untuk memilih vegetarian.

Banyak umat memilih jalan tengah: mengurangi daging, memperbanyak sayur dan buah, atau berpantang daging pada hari-hari tertentu seperti purnama dan tilem. Menu vegetarian lokal pun mudah ditemukan: lawar nangka, jukut urab, plecing kangkung, sayur ares. Ini menunjukkan bahwa pola makan nabati bukan hal asing di Bali.

Di kota-kota seperti Denpasar, warung dan restoran vegan semakin banyak. Anak-anak muda Bali memilih vegetarian karena alasan kesehatan atau lingkungan, bukan hanya karena ajaran agama. Fenomena ini menunjukkan bahwa vegetarian ala Bali adalah gabungan antara tradisi dan gaya hidup modern.

Saya pernah merasakan sendiri manfaatnya. Tubuh lebih ringan, pikiran lebih tenang, tidur lebih nyenyak, rasa empati tumbuh lebih kuat. Tetapi saya juga pernah merasakan sulitnya, terutama di acara keluarga atau upacara adat. Pada titik itu saya belajar bahwa vegetarianisme bukan hanya soal makanan, melainkan latihan kesabaran dan komunikasi.

Melihat Kaka Slank dan George Harrison membuat saya menyadari bahwa vegetarian bukan monopoli satu agama atau budaya. Ia bisa muncul dari motivasi spiritual, lingkungan, kesehatan, atau empati. Di Bali, jalan vegetarian punya akar budaya yang dalam sekaligus terbuka bagi pembaruan.

Kaka menunjukkan bahwa seorang musisi Indonesia bisa peduli pada bumi dan tubuhnya. Harrison menunjukkan bahwa seorang Beatle bisa tetap memainkan musik sambil memegang nilai vegetarian. Banyak generasi muda kini mencoba belajar dari keduanya: dari menu lokal seperti lawar nangka hingga cerita tentang meditasi Hare Krishna, dari Slankfest hingga konser Concert for Bangladesh.

Esai ini bukan ajakan untuk menjadi vegetarian total. Ini adalah refleksi tentang pola makan nabati yang dipilih sebagian orang. Kita bisa mulai dengan langkah kecil, mendengarkan tubuh sendiri, dan mempertimbangkan dampaknya bagi lingkungan.

Vegetarian adalah perjalanan kesadaran. Kadang kita berada di tahap masih makan daging, kadang sudah vegan. Yang penting adalah mendengarkan tubuh, menjaga bumi, dan mengasah empati. Kaka Slank, George Harrison, dan tradisi Bali bisa menjadi contoh. Sisanya tergantung pada pilihan kita sendiri. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: balikesehatanSpiritualvegetarian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penghilang Rasa Sakit (Sementara) Itu Bernama Tri Hita Karana

Next Post

Jejak Sakral dan Keteguhan: Kisah Pemindahan Pura Paibon Buluh Gunggung, Desa Sibetan, dalam Menjaga Keabadian Warisan Leluhur

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Sakral dan Keteguhan: Kisah Pemindahan Pura Paibon Buluh Gunggung, Desa Sibetan, dalam Menjaga Keabadian Warisan Leluhur

Jejak Sakral dan Keteguhan: Kisah Pemindahan Pura Paibon Buluh Gunggung, Desa Sibetan, dalam Menjaga Keabadian Warisan Leluhur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co