24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penghilang Rasa Sakit (Sementara) Itu Bernama Tri Hita Karana

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
October 6, 2025
in Esai
Penghilang Rasa Sakit (Sementara) Itu Bernama Tri Hita Karana

Lelakut | Foto: tatkala.co -- Foto hanya ilustrasi

Seharian ini, linimasa instagram dipenuhi dengan berbagai berita pembangunan mulai dari desain Bandara Internasional yang akan dibangun di Bali Utara dan sudah mendapat lampu hijau untuk dikerjakan, rencana pembangunan resort mewah di sebuah desa di Bali Timur yang menuai kontroversi, pembuatan pagar batas oleh pihak GWK yang membuat akses warga menjadi tidak leluasa, dan juga sisa-sisa berita banjir besar awal September 2025 lalu. Yang menarik perhatian saya adalah seringnya klaim Tri Hita Karana disebutkan termasuk pada desain bandara baru yang ultra modern.

Dalam sebuah konferensi internasional, saya hadir sebagai pemateri pada diskusi panel bertema Tri Hita Karana. Saya lupa judul lengkapnya, tetapi momen itu saya gunakan untuk meninjau ulang konsep yang konon berakar dari filosofi Hindu Bali ini. Alih-alih terjebak pada romantisasi atau mengulang puja-puji tanpa kritik, saya berusaha menyingkap lapisan historis dan politis yang menyertainya. Dengan pendekatan analisis sejarah, Tri Hita Karana justru layak dikritisi bukan untuk melemahkannya, melainkan untuk menegaskan relevansi dan maknanya.

Pertama, konsep ini dapat dibaca sebagai bagian dari proses dekolonisasi yang mewarnai Bali pada pertengahan abad ke-20. Kedua, dekolonisasi yang diiringi pembangunan masif menuntut hadirnya narasi filosofis yang mampu menjaga agar arah pembangunan tetap berpihak pada kebutuhan masyarakat Bali. Ketiga, ketika kemudian konsep ini melebar menjadi slogan universal yang bisa dipakai untuk menjelaskan apa saja, justru di titik itulah Tri Hita Karana kehilangan kekuatan magis dan kedalaman reflektifnya.

Tulisan ini akan menelusuri Tri Hita Karana melalui ketiga perspektif tersebut, dengan tujuan mengembalikannya dari sekadar jargon yang cair ke sebuah kerangka filosofis yang kritis dan bermakna.

Tri Hita Karana sebagai Upaya Dekolonisasi Pengetahuan

Konsep Tri Hita Karana mulai diperbincangkan pada akhir 1960-an. Seorang budayawan mencatat bahwa lahirnya konsep ini dipicu oleh sebuah pertemuan tokoh-tokoh agama dan politik, sebelum akhirnya diadopsi secara resmi dalam berbagai dokumen perencanaan pemerintah.

Pendapat tersebut semakin kuat bila kita menilik literatur yang terbit sebelum dekade 1960-an. Hampir tidak ada satu pun buku yang menyebut istilah Tri Hita Karana. Sebaliknya, arsip perencanaan pembangunan, kajian, dan proposal pasca-1970 justru hampir selalu mengutipnya. Perubahan mendadak ini menunjukkan bahwa Tri Hita Karana bukan warisan yang “turun-temurun” tanpa putus, melainkan hasil konstruksi intelektual yang lahir dalam konteks sosial-politik tertentu.

Dari sudut pandang ini, Tri Hita Karana dapat ditempatkan dalam kerangka dekolonisasi pengetahuan. Dekolonisasi dimaknai sebagai upaya sistematis untuk melepaskan diri dari dogma kolonial yang sejak awal abad ke-20 membentuk cara pandang atas Bali. Presiden Sukarno menjadi salah satu aktor penting dalam proses ini, dengan menolak idiom-idiom arsitektur Barat yang dianggap merepresentasikan kolonialisme. Ia mengajukan arsitektur baru yang berakar pada filosofi lokal sekaligus mencerminkan ambisi bangsa untuk tampil sebagai negara modern. Proyek Sukarno ini bukan sekadar eksperimen estetis, tetapi sebuah pernyataan politik: bangsa ini ingin menyatukan diri yang terfragmentasi, sambil menegaskan jarak dari warisan kolonial.

Sekitar satu setengah dekade setelah Bali resmi bergabung dengan Indonesia, Presiden Soeharto mengambil jalur berbeda. Jika Sukarno mendorong modernisme yang telah ia saring agar sesuai dengan semangat nasionalisme, maka Soeharto justru menggali tradisi lokal sebagai fondasi pembangunan. Perbedaan orientasi ini menciptakan dua wajah dekolonisasi: Sukarno menekankan visi ke-Tunggal Ika-an (persatuan dalam modernitas nasional), sementara Soeharto menekankan ke-Bhineka-an (pluralitas budaya daerah sebagai modal pembangunan).

Dalam kerangka pemikiran kebhinekaan inilah Tri Hita Karana dirumuskan. Ia lahir dari usaha merangkai butir-butir adat dan budaya Bali menjadi satu kesatuan gagasan. Posisi ini penting: Tri Hita Karana tidak hadir sebagai perpanjangan tangan epistemologi Barat, tetapi juga tidak terjebak sebagai beban tradisi yang membelenggu. Justru di sini terletak kekuatannya—ia tampil sebagai konsep modern yang sekaligus berakar pada kosmologi lokal.

Bagi saya, perumus Tri Hita Karana berhasil melahirkan sebuah sintesis baru: ia bukan sekadar “penemuan kembali” tradisi, melainkan artikulasi segar yang membuka jalan bagi Bali untuk memaknai modernitas dengan pijakan sendiri. Dengan begitu, Tri Hita Karana dapat dibaca sebagai fajar dekolonisasi pengetahuan di Bali.

Akan tetapi, di kutub yang lain, ini juga seperti sebuah pengulangan atas konstruksi Bali yang dirumuskan oleh beberapa pegawai colonial tiga decade sebelumnya melalui Baliseering. Aroma repetisinya cukup kuat, karena secara tersirat ada usaha serupa untuk mempertahankan ke-Bali-an dengan cara yang sistematis dan terstruktur. Meski demikian, kembali ke apresiasi yang saya sampaikan, kita bias bertepuk tangan dan tugas generasi penerusnya untuk mengkritisi dan terus melakukan penyempurnaan.

Tri Hita Karana sebagai Landasan Pikir Pembangunan

Masa Orde Baru dapat dibaca sebagai periode liberalisasi kedua bagi Bali. Periode pertama terjadi ketika pulau ini dibuka untuk investasi internasional pada masa kolonial: perusahaan kopi milik pengusaha Belanda, biro perjalanan wisata, hingga perusahaan minyak Shell mulai masuk dan menanamkan modalnya. Aktivitas bisnis internasional itu sempat terhenti pada masa revolusi dan sepanjang kepemimpinan presiden pertama. Pada fase tersebut, orang Bali tetap menekuni pertanian dengan adat dan budaya agraris yang terus mengiringi keseharian mereka.

Sejak akhir 1960-an, pintu investasi kembali dibuka. Pemerintah pusat menetapkan Bali sebagai pusat pengembangan pariwisata Indonesia Bagian Tengah. Arus perusahaan besar masuk dengan membawa janji perbaikan ekonomi sekaligus ancaman: kerusakan alam dan budaya Bali. Ironisnya, kekhawatiran itu mula-mula justru muncul dari kalangan ekspatriat. Mereka berpendapat bahwa alam, adat, dan budaya Bali adalah aset inti bisnis pariwisata. Jika semua itu hilang, maka runtuh pula fondasi industri wisata mereka. Dalam konteks inilah Tri Hita Karana menemukan relevansi praksisnya—ia diproyeksikan sebagai pagar simbolis yang menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian identitas Bali.

Konsep ini kemudian didorong menjadi landasan bersama dalam hampir setiap dokumen perencanaan pembangunan Bali. Namun di titik ini, muncul masalah: gagasan filosofis yang abstrak memerlukan perangkat instruksional yang konkret agar dapat dioperasionalkan dalam praktik lapangan.

Dalam bidang arsitektur dan pembangunan fisik, Tri Hita Karana diadopsi sebagai instrumen untuk: (1) menjaga kesakralan pulau yang dijuluki Seribu Pura; (2) melestarikan lingkungan dan suasana alam; (3) menggerakkan perekonomian lokal melalui tukang dan undagi. Kehendak tersebut kemudian dilembagakan melalui Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2, 3, dan 4 tahun 1974. Aturannya jelas: bangunan tidak boleh lebih tinggi dari pohon kelapa; tidak boleh merusak lingkungan; dan dianjurkan untuk memakai ornamen serta ragam hias lokal.

Yang menarik, peraturan-peraturan ini lahir bukan semata dari inisiatif orang Bali, melainkan juga dari keterlibatan pemilik bisnis pariwisata dan arsitek yang berkepentingan dalam industri tersebut. Bagi mereka, menjaga ambience Bali bukan hanya idealisme budaya, melainkan strategi bisnis. Pariwisata sangat bergantung pada citra eksotika Bali—sebuah konstruksi yang dibentuk sejak era kolonial dan telah menancap kuat di imajinasi dunia. Selama citra itu bisa dipertahankan, nafas industri pariwisata akan semakin panjang.

Dengan demikian, penerapan Tri Hita Karana dalam kebijakan Orde Baru tidak berfungsi sebagai “pembatas” pembangunan. Sebaliknya, ia justru menjadi instrumen yang memperkuat liberalisasi ekonomi paruh kedua abad ke-20, sekaligus meneguhkan Bali sebagai panggung global yang eksotik namun terkontrol.

Tri Hita Karana sebagai Alat Legitimasi Tindakan Pembangunan

Dinamika perekonomian global bergerak cepat, dan wilayah-wilayah lokal yang menjadi kanal investasi dituntut untuk terus menyesuaikan diri. Bali, yang kini menggantungkan hampir seluruh fondasi ekonominya pada pariwisata, tidak terkecuali. Pasar pariwisata berubah drastis: jumlah kunjungan melonjak eksponensial, selera wisatawan meluas dari sekadar mengejar eksotika menuju hiburan modern, dan tuntutan terhadap infrastruktur semakin kompleks. Dalam arus ini, Bali seolah dipaksa untuk beradaptasi.

Di tengah gelombang pembangunan fisik dan operasional, Tri Hita Karana menemukan peran barunya: sebagai instrumen legitimasi bahwa pembangunan sudah sesuai dengan “filosofi lokal.” Legitimasi ini tidak hanya diwujudkan dalam dokumen perencanaan, tetapi juga dalam berbagai inisiatif simbolik, misalnya Tri Hita Karana Award—sebuah penghargaan bagi usaha yang dianggap telah menerapkan filosofi ini. Panel ahli menyusun kriteria, namun praktiknya, tafsir terhadap Tri Hita Karana semakin beragam. Nyaris setiap aktor—pemerintah, akademisi, pebisnis, hingga LSM—merasa berhak menafsirkan dan mengoperasionalkan konsep ini sesuai kepentingannya.

Di sinilah persoalan muncul. Sebagai konsep yang sangat general, Tri Hita Karana membuka ruang interpretasi yang luas sekaligus rawan disalahgunakan. Dalam kasus ekstrem, klaim bahwa sebuah proyek telah “menerapkan Tri Hita Karana” bisa berfungsi sebagai topeng yang menutupi ketidakadilan sosial dan ketidakseimbangan ekologis. Beberapa kasus aktual memperlihatkan hal ini: banjir yang makin sering, sengketa tanah GWK, rencana bandara di Bali Utara, hingga konflik tanah Bugbug. Bahkan suara petani yang sawahnya kehilangan pasokan air karena alih fungsi lahan untuk pariwisata, atau nelayan yang terpinggirkan akibat pembangunan marina, kerap teredam. Pertanyaannya: apakah Tri Hita Karana kini berubah menjadi kabut tebal yang menutupi dinamika kuasa di balik pembangunan? Apakah ia dipakai sebagai diplomasi halus untuk membungkam resistensi, melicinkan proses perizinan, dan menekan protes masyarakat?

Pertanyaan yang lebih mendasar segera muncul: apakah harmoni bisa diatur-atur? Siapa yang berwenang mengatur? Dan lebih jauh lagi, siapa yang berhak merumuskan kriteria harmoni itu? Daftarnya bisa terus memanjang hingga menimbulkan rasa frustrasi.

Namun, jawaban atas problem ini bukanlah dengan menyingkirkan Tri Hita Karana. Sebaliknya, kita perlu membacanya kembali secara kontekstual. Alih-alih menempatkannya sebagai “gugon tuwon” yang harus diterima begitu saja, kita bisa mengaktualisasikan Tri Hita Karana dengan kacamata kritis: melalui lensa ekologi politik yang menyoroti relasi kuasa dan sumber daya; teori spasial yang mengurai relasi ruang dan kepentingan; serta kritik pascakolonial yang mengingatkan pada sejarah panjang kontrol dan representasi Bali sejak era Baliseering.

Bagi saya, meski terlambat, masih ada waktu untuk mengembalikan Tri Hita Karana ke fungsi yang lebih kritis. Ia seharusnya tidak berhenti sebagai slogan legitimasi pembangunan, tetapi menjadi instrumen reflektif untuk menilai siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, dan bagaimana masa depan Bali seharusnya dibentuk.

Penutup

Jika kita rangkai ketiga lapisan pemaknaan di atas, tampak jelas bahwa Tri Hita Karana bukanlah konsep yang statis, melainkan terus bergerak mengikuti kebutuhan zaman. Pada mulanya, ia lahir sebagai bagian dari upaya dekolonisasi pengetahuan—sebuah ikhtiar untuk menegaskan identitas lokal dan melepaskan Bali dari bayang-bayang dominasi kolonial. Selanjutnya, ketika arus investasi global dan proyek pembangunan mulai mengalir deras pada masa Orde Baru, Tri Hita Karana dijadikan pijakan filosofis yang dianggap mampu menjaga harmoni antara pertumbuhan ekonomi, budaya, dan lingkungan. Namun, perjalanan berikutnya memperlihatkan sisi lain: konsep yang sama kemudian berubah menjadi alat legitimasi, dipakai untuk membenarkan hampir setiap tindakan pembangunan, bahkan yang justru merugikan masyarakat lokal dan lingkungan.

Perubahan posisi ini menunjukkan dua hal penting. Pertama, Tri Hita Karana memiliki daya lenting yang besar—ia bisa diadaptasi dan dipakai dalam konteks yang sangat beragam, dari dekolonisasi hingga globalisasi. Kedua, fleksibilitas itu sekaligus membuka ruang ambiguitas yang rawan dimanfaatkan sebagai instrumen kuasa. Oleh karena itu, membaca Tri Hita Karana hari ini menuntut sikap ganda: menghargainya sebagai warisan konseptual yang lahir dari konteks historis Bali, tetapi sekaligus mengkritisinya agar tidak terjebak menjadi jargon kosong atau sekadar alat diplomasi pembangunan. [T]

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliTri Hita Karana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manusia Bali Membunuh Bali?

Next Post

Vegetarian: Melihat Kaka Slank, Teringat George Harrison

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Vegetarian: Melihat Kaka Slank, Teringat George Harrison

Vegetarian: Melihat Kaka Slank, Teringat George Harrison

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co