1 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konspirasi di Tengah Gejolak: Psikologi Mencari Musuh Tak Terlihat

Isran Kamal by Isran Kamal
September 19, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

TAHUN 2025 terasa seperti sebuah babak yang penuh gejolak. Di berbagai belahan dunia, ketegangan politik dan sosial memuncak. Nepal menjadi contoh paling mencolok ketika ketidakpuasan rakyat memuncak hingga menumbangkan pemerintahan dalam hitungan minggu. Suatu peristiwa yang memicu perdebatan panjang mengenai kegagalan demokrasi di negara itu.

Jepang pun berguncang, partai yang berkuasa kehilangan mayoritasnya dalam pemilihan legislatif Juli 2025, disertai demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup dan kebijakan pajak yang dianggap membebani rakyat. Di Prancis, tekanan publik membuat perdana menteri mundur dari jabatannya, membuka babak ketidakpastian politik baru. Bahkan Indonesia tak luput dari gejolak, dengan protes sosial, penjarahan dirumah pejabat dan krisis politik yang memicu tudingan adanya aktor asing di balik layar.

Di tengah situasi yang kacau ini, satu fenomena yang menarik perhatian adalah bagaimana narasi konspirasi berkembang nyaris seiring dengan krisis itu sendiri. Setiap pergantian pemerintahan, setiap kebijakan tak populer, hingga setiap gejolak harga bahan pokok, segera diikuti oleh spekulasi tentang adanya “dalang” yang mengatur segalanya.

Sosok seperti George Soros kembali menjadi kambing hitam klasik, dituduh mendanai gerakan protes di berbagai negara. Di media sosial, wacana tentang “campur tangan asing”, “elit global”, bahkan “agenda rahasia” menjadi viral, mengisi kekosongan penjelasan yang sering kali tidak dituntaskan oleh pemerintah maupun media arus utama.

Fenomena ini bukan hanya menarik dari sisi politik, tetapi juga dari sisi psikologi. Mengapa di tengah ketidakpastian, narasi konspirasi justru terasa begitu memikat? Apa yang mendorong masyarakat, baik individu maupun kelompok. untuk menerima penjelasan yang sering kali minim bukti?

Mengapa Konspirasi Menarik

Secara psikologis, teori konspirasi memberi sesuatu yang sangat berharga bagi manusia, yakni munculnya rasa kepastian. Ketika dunia tampak kacau, otak kita bekerja keras mencari pola. Konspirasi menawarkan narasi sederhana bahwa ada penyebab tunggal, ada aktor jahat yang bisa disalahkan, ada penjelasan yang membuat kekacauan tampak “masuk akal”. Dalam psikologi kognitif, fenomena ini dikenal sebagai pattern-seeking behavior, suatu dorongan bawaan untuk menemukan keteraturan.

Selain itu, konspirasi juga memenuhi kebutuhan akan kontrol. Rasa kehilangan kendali atas keadaan hidup, misalnya karena kenaikan harga atau keputusan politik yang tak terduga menyebabkan ketidaknyamanan psikologis. Dengan meyakini adanya aktor tertentu yang mengatur semuanya, paradoksnya, kita merasa situasi itu “dapat dipahami” meski tetap tidak adil. Lebih jauh, teori konspirasi juga bisa memperkuat identitas kelompok. Masyarakat yang merasa terpinggirkan bisa menemukan rasa kebersamaan dengan percaya bahwa mereka “sama-sama korban” dari rencana besar pihak luar.

Di Indonesia, krisis politik baru-baru ini sempat dikaitkan dengan nama George Soros. Narasi ini menyebar cepat di platform media sosial, disertai potongan gambar dan kutipan yang seringkali diambil di luar konteks. Di Nepal, jatuhnya pemerintahan memunculkan tuduhan bahwa negara tetangga, India, ikut campur demi kepentingan geopolitik, meski bukti konkret sulit ditemukan. Di Prancis, rumor berkembang bahwa pengunduran diri perdana menteri hanyalah bagian dari “skema besar” elit Uni Eropa untuk menggiring kebijakan tertentu.

Semua contoh ini memperlihatkan pola yang sama, di mana krisis besar menciptakan ruang kosong yang segera diisi dengan narasi alternatif. Dan di era digital, narasi ini menemukan saluran penyebaran yang cepat dan masif. Algoritma media sosial yang memprioritaskan keterlibatan emosional membuat berita sensasional termasuk teori konspirasi lebih mudah viral dibanding klarifikasi resmi yang kering dan faktual.

Dampak Psikologis dan  Sosial

Narasi konspirasi memang bisa memberikan rasa nyaman sesaat, tetapi efek jangka panjangnya cukup serius. Secara psikologis, terlalu lama hidup dalam kerangka berpikir konspiratif dapat meningkatkan trait anxiety karena dunia terasa penuh ancaman tersembunyi. Individu menjadi waspada berlebihan, mudah curiga, dan sulit mempercayai orang lain, bahkan di lingkaran terdekat. Dalam psikologi klinis, pola ini dapat memperburuk kondisi seperti gangguan kecemasan umum (generalized anxiety disorder) atau paranoia ringan.

Selain itu, teori konspirasi sering memperkuat polarisasi sosial. Orang yang percaya suatu narasi cenderung mencari informasi yang mengonfirmasi keyakinannya (confirmation bias), sementara menolak data yang bertentangan. Akibatnya, terciptalah echo chamber yang memperdalam jurang antara “kami” dan “mereka”. Di media sosial, fenomena ini diperkuat oleh algoritma yang mendorong konten serupa sehingga seseorang semakin terkurung dalam gelembung pandangan tertentu. Bagi masyarakat luas, ini berarti semakin sulit terbangun ruang dialog yang sehat.

Dampaknya meluas hingga ranah sosial-politik. Ketika narasi konspirasi mendominasi, kepercayaan terhadap institusi publik melemah. Pemilu, media, bahkan sains bisa dianggap “sudah diatur” atau “dipalsukan”. Warga menjadi skeptis terhadap kebijakan publik, termasuk yang berbasis bukti. Misalnya, upaya vaksinasi atau kebijakan penghematan energi bisa ditolak karena dianggap bagian dari agenda tersembunyi. Dalam situasi krisis, hal ini sangat berbahaya dan menyebabkan solidaritas sosial terganggu, serta menyebabkan masyarakat tidak mampu merespons secara rasional.

Lebih jauh, teori konspirasi dapat memicu perilaku ekstrem. Individu atau kelompok bisa merasa terdorong untuk “mengambil tindakan” demi melawan musuh yang mereka bayangkan, yang kadang berujung pada kekerasan atau aksi vandalisme. Beberapa kasus penyerangan terhadap fasilitas publik atau pejabat negara di berbagai belahan dunia terjadi karena pelaku meyakini bahwa mereka sedang “menyelamatkan bangsa”. Dalam jangka panjang, negara bisa terjebak dalam siklus ketidakpercayaan, di mana setiap kebijakan selalu disambut kecurigaan, sehingga legitimasi pemerintah terus terkikis.

Dari perspektif kesehatan mental, masyarakat yang terus-menerus diselimuti ketidakpercayaan cenderung mengalami collective stress yang menggerogoti rasa aman dan kohesi sosial. Ketika rasa aman hilang, orang lebih rentan terhadap populisme, ujaran kebencian, dan simplifikasi masalah. Ini menciptakan lingkaran setan dimana semakin banyak ketidakpercayaan, semakin subur teori konspirasi berikutnya.

Kesadaran akan dampak psikologis ini penting agar kita tidak terperangkap dalam lingkaran kecurigaan yang tak berkesudahan. Alih-alih menelan mentah-mentah setiap klaim, kita bisa melatih epistemic humility. Kerendahan hati dalam mengakui bahwa kita mungkin tidak memiliki seluruh informasi. Ini bukan berarti kita harus menutup mata terhadap kemungkinan adanya konspirasi nyata, melainkan belajar menyeimbangkan rasa ingin tahu dengan standar bukti yang wajar.

Di tingkat pribadi, menjaga kesehatan mental di era banjir informasi berarti mengatur pola konsumsi media, memverifikasi sumber, tidak terjebak doomscrolling, dan membatasi paparan informasi yang berlebihan. Di tingkat sosial, pendidikan literasi digital dan berpikir kritis menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah dimanipulasi.

Kita perlu ingat bahwa tidak semua yang terjadi di dunia adalah hasil rekayasa segelintir orang. Sebagian besar krisis adalah hasil kombinasi faktor kompleks seperti kebijakan yang buruk, dinamika ekonomi, bencana alam, atau kesalahan manusia biasa. Menyederhanakan semua itu menjadi “agenda tersembunyi” mungkin memuaskan secara emosional, tetapi tidak membantu menemukan solusi nyata.

Akhirnya, konspirasi adalah cermin dari ketakutan kolektif kita. Dengan memahami mekanisme psikologis di baliknya, kita bisa merespons dengan lebih tenang, kritis, dan konstruktif bukan hanya menjadi penonton atau korban dari narasi yang tidak jelas. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Jaswanto

Tags: Psikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Empat “Avant Garde”

Next Post

Menata Waktu, Menata Masa Depan

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
0
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

Read moreDetails

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

by Sugi Lanus
April 30, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

Read moreDetails

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
0
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

Read moreDetails

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
0
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

Read moreDetails

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

by Angga Wijaya
April 28, 2026
0
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

Read moreDetails

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

by Asep Kurnia
April 27, 2026
0
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

Read moreDetails

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
0
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

Read moreDetails

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

by Isran Kamal
April 27, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

Read moreDetails

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

by Sugi Lanus
April 27, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

Read moreDetails

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Menata Waktu, Menata Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co