BULAN Ramadhan seringkali kurang termaknai. Tak jarang keberadaannya sekadar rutinitas kering. Padahal, bulan Ramadhan keberadaannya bisa menjadi “kawah” pendidikan bagi umat guna membentuk manusia tangguh. Manusis-manusia pejuang dengan tugas-tugas berat dari Al-Khaliq. Berkenaan dengan masalah pendidikan inilah penulis menyajikan dengan bahasa yang renyah, namun sarat hikmah.
Ada tujuh proses sangat penting dari Ramdahan dalam rangka membangun umat, tetapi dalam tulisan ini penulis hanya mengambil dua proses, yaitu proses tarbiyah (pendidikan) proses Ramadhan mendidik ketakwaan dalam hati kaum muslimin.Ini merupakan tema yang sangat penting untuk dikaji. Ramadhan mendidik orang-orang mukmin agar mengendalikan sifat terburu nafsu serta memiliki kesanggupan untuk menahan marah.
Ini termasuk masalah terbesar dalam rangka membangun umat Islam secara benar. Sebab, pribadi yang tergesa-gesa dan terburu nafsu tidaklah pantas membangun umat. Pertanyaan kita, apa peran Ramadhan dalam hal ini? Imam Al-Bhukari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih mereka, dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah SWT berfirman:
“Setiap amal anak Adam (manusia) adalah untuknya kecuali puasa. Karena, sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalan perisai. Maka, apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, bersuara tidak pantas, dan tidak mau tahu. Lantas jika ada seorang yang menghinanya atau memeranginya (mengajak berkelahi), maka hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesunggugnya aku sedang berpuasa “.
Jadi; puasa dapat mendidik kita agar mengendalikan sifat terburu nafsu, tidak memperturutkan lidah, menahan marah, serta memaafkan orang lain. Semua ini merupakan sifat dasar umat Islam, terlebih-lebih para penguasa, apa pun kuasanya. Kita contohkan, dalam berbagai hal misalnya, seorang pensehat hukum (advokat) mengutip kata-kata populer seorang lawyer. ” Hanya pengacara dan pelukis yang bisa mengubah hitam menjadi putih”. Bagi sebagian orang digambarkan begitu kuatnya lawyer, dia bisa mengembalikan putih menjadi hitam atau hitam menjadi putih.
Jadi, hanya seakan lawyerlah yang bisa mengubah salah menjadi benar dan benar menjadi salah. “seorang lawyer bisa mendapatkan lebih banyak dibandingkan ratusan orang yang menodong orang dengan senapan”. Kutipan ini diambil dari buku “The Godfather” karya Mario Puzo ( 197 6). Hal ini menggambarkan begitu powerful peran seorang lawyer. Selain itu, ada kutipan “Lawyer yang malas membaca buku, tidak mau menambah ilmunya, tidak mau memperkaya · wawasanya ibart tukang tanpa perkakas”. Artinya, salah satu poin penting harus dimiliki oleh seorang lawyer, harus berperilaku baik dan jujur.
Islam adalah agama yang sangat luhur. Islam melatih kita untuk berinteraksi dengan baik terhadap orang lain, sampai-sampai dalam kondisi permusuhan dan kebencian, Maka inilah tarbiyah dan takwa. “Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya AllahMaha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (Qs. Al-Maidah :8).
***
Sekarang, marilah kita bayangkan suatu umat atau bangsa yang dinaungi ketenangan dan tidak terburu nafsu, pengendalian lidah, dan mampu menahan kemarahan. Semua ini merupakan hasil dari tarbiyah Ramadhan. Proses ini merupakan persoalan yang sangat penting. Sebab, takwa adalah inti puasa. Takwa adalah tujuan utamanya. Allah SWT berfirman: ” Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. ” (Qs; Al• Baqarah: 183).
Takwa adalah ketika kita takut terhadap murka Allah SWT, baik dalam keadaan tersembunyi maupun terangan-terangan. Ketika seorang dosen pulang dari mengajar dalam keadaan lelah dan letih, .lalu mendengat adzan Ashar, lantas bergegas untuk shalat di masjid karena ingin mendapatkan pahala kebaikan yang berlipat ganda, maka itulah takwa.
Ketika ada orang yang berbuat bodoh terhadap Anda, atau mencela Anda, bahkan mengajak berkelahi Anda, baik ketika di tempat kerja, atau di jalan, lantas Anda menghadapinya dengan santun, menyikapi perbuatan buruknya dengan memberikan maaf seraya mengatakan, “Saya sedang berpuasa”, maka inilah takwa.
Ketika Anda benar-benar memiliki keinginan untuk mengetahui pandangan agama dalam masalah tertentu, lantas Anda mengikuti firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW tanpa membantah dan rasa ragu, maka inilah takwa. Ketika Anda seorang penyidik kepolisian memeriksa seorang teradu atau terlapor dalam kasus pidana, dan terlapor mencoba memberi sesuatu pada Anda, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat Anda, sedangkan Anda sedang berpuasa, Anda tentu tidak berani menerima sesuatu karena takut kepada Allah SWT. Inilah takwa.
Bayangkanlah, apa yang terjadi seandainya umat ini menjadi umat yang bertakwa? Demi Allah, individu dan masyarakat pasti akan selamat! “Dan Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, ” (Qs Ath-Thalaq :2-3). Ini bukan hanya ditujukan untuk elemen tetentu saja (individu-individu), tetapi juga bagi umat secara keseluruhan.
Allah SWT memberikan solusi untuk umat dari segala kegundahan, problematika, dan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Allah SWT memberikan rizki kepada umat ini dari arah yang tidak ia sangka-sangka, Krisis adab dan moral bangsa akan segera teratasi. Melalui tangan manusia, bisa dicapai banyak kebaikan. Allah SWT menganugerahkan tangan tersebut kepada seluruh penduduk NKRI. Allah SWT berfirman: “Dan jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. “(Qs: Ali Imran: 120)
Bayangkalah suatu umat yang selalu disertai Allah SWT. Siapa yang bisa memberi kemudharatan kepada umat tersebut? Tidak ada seorang pun! Takwa wahai para pembaca yang budiman, merupakan buah dari Ramadhan!
Secara umum, bisa dikatakan bahwa Ramadhan merupakan kesempatan yang begitu nyata. Kesempatan bagi umat untuk membangun dirinya kembali, kesempatan bagi orang-orang saleh untuk menambah kedekatan dengan Allah SWT. Kesempatan bagi orang-orang bermaksiat untuk kembali dan bertaubat kepada Rabb-nya.
Kesempatan untuk menghindar dari musibah. Kesempatan untuk meraih kemenangan atas musuh. Juga, kesempatan untuk mencapai kepemimpinan dan berjaya. Ramadhan adalah ajang penyaringan barisan muslimin. Ramadhan adalah ajang · pengistimewaan bagi kaum muslimin serta merasakan kemulian dengan jati diri relijius.
Dan, Ramadhan adalah sarana pendidikan; tarbiyah! ” Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada; iringilah perbuatan buruk dengan kebaikan, nicaya kebaikan akan mengahapus keburukan itu; dan bergaullah antarsesama manusia dengan akhlak/adab yang baik (HR:_ At-Tirmidzi). Wallahu a ‘lam bishawab. [T]
Penulis: Suradi Al Karim
Editor:Adnyana Ole