24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Awas Zombie Medsos!

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 21, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu lalu ramai betul film tentang zombie macam Resident Evil, World War Z, dari Korea juga ada Train to Busan, sampai Army of The Dead. Itu belum film zombie lainnya yang bermacam-macam; yang jumlahnya melimpah.

 Herannya, senang juga saya menontonnya. Pada suatu titik saya merenung dan membatin, jangan-jangan secara tidak sadar saya juga melihatnya di dunia nyata.  Sekawanan organisme manusia yang bergerak tanpa kesadaran, menulari dan mematikan bagi mereka yang waras.

Jadi begini para pembaca yang budiman, kita pasti pernah merasa tiba-tiba terhenyak, ternyata sudah menghabiskan berjam-jam hanya untuk scrolling alias menggulir media sosial tanpa sadar. Atau pernah melihat betapa ramai para netizen saling serang di kolom komentar hanya karena perbedaan pendapat yang sepele saja? Atau pernah merasa sulit lepas dari layar meskipun kepala sudah terasa berat dan penat? Hati-hati saudara, bisa jadi, kita semua sedang terjangkit wabah yang saya pikir, bolehlah saya sebut sebagai wabah zombie digital. Zombie Media Sosial.

Media Sosial: Tempat Berkembangnya “Zombie” Digital

Coba perhatikan kebiasaan masyarakat kita saat ini ketika bermain media sosial. Banyak dari kita mengunggah apa saja tanpa berpikir panjang. Bahkan seringkali kita juga mengkonsumsi informasi secara brutal tanpa mengecek kebenarannya, dan saling memangsa dalam debat panas yang sering kali tak ada manfaatnya dan akhirnya tidak ada juntrungnya pula.

Di sini secara tidak sadar, kita telah berubah menjadi zombie digital. Cirinya adalah tak berpikir, mudah marah, dan menyebarkan konten beracun bahkan mematikan. Jean Twenge, seorang psikolog dari San Diego State University, dalam bukunya iGen (2017) mengungkapkan bahwa media sosial telah mengubah cara kita berpikir dan bertindak. Sementara itu, Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (2010) menegaskan bahwa internet, terutama media sosial, membuat kita kehilangan fokus dan berpikir dangkal.

Karakter zombie digital ini semakin nyata. Mereka adalah indivi du yang terus menggulir layar tanpa tujuan jelas, tenggelam dalam budaya saling memangsa seperti cancel culture dan cyber bullying. Mereka tidak lagi berpikir jernih, hanya bereaksi berdasarkan dorongan emosi sesaat, layaknya zombie yang hanya mengikuti naluri tanpa kesadaran. Mereka juga gemar pamer dan flexing demi validasi sosial, tidak lagi peduli apakah yang ditampilkan itu nyata atau sekadar ilusi, demi engagement. Lebih parah lagi, mereka kecanduan media sosial yang menyebabkan kecemasan sosial jika tidak online dalam beberapa jam saja.

Lebih jauh lagi, bagi mereka yang sudah terjangkit akan sulit berpikir kritis. Jika sebuah informasi datang dalam format yang menarik atau sesuai dengan bias mereka, tanpa ragu mereka langsung menyebarkannya tanpa verifikasi. Mereka bergerak dalam kawanan, mengikuti arus tren tanpa bertanya apakah hal tersebut benar, apakah ini baik, atau apakah penting?

Kenapa Ini Bisa Menular?

Dalam Surveillance Capitalism, Shoshana Zuboff (2019) menjelaskan bahwa media sosial sebenarnya dirancang untuk mengontrol perilaku kita. Algoritma dibuat agar kita semakin betah berlama-lama, semakin agresif dalam berinteraksi, dan semakin ketergantungan.

Lalu, bagaimana Efeknya? Polarisasi makin tajam, kebencian makin meluas, dan kesadaran kita semakin terkikis. Ketika satu orang mulai bertindak seperti zombie digital macam berkomentar tanpa berpikir, menyebarkan hoaks, atau mengikuti tren bodoh dan remeh-temeh, maka orang lain pun cenderung ikut saja. Fenomena ini disebut sebagai efek sosial, di mana perilaku destruktif di media sosial bisa menyebar seperti virus. Seperti zombie yang menggigit korbannya dan mengubahnya menjadi zombie lain, kebiasaan buruk di dunia digital juga menular dengan cepat.

Sebelum kita sadar, kita sudah terjebak dalam lingkaran setan digital yang membuat kita semakin kehilangan kendali atas diri sendiri. Di sisi lain, kecanduan media sosial juga diperburuk dengan efek FOMO (Fear of Missing Out). Kita takut ketinggalan informasi, takut tidak ikut tren, takut tidak dianggap eksis. Akibatnya, kita terus menggulir layar, terus bereaksi tanpa berpikir, terus larut dalam dunia digital yang tak lagi sehat.

Hindari Terjebak di Dunia Zombie Digital

Langkah pertama saya kira adalah dengan menyadari kebiasaan digital kita. Sebelum memposting atau membagikan sesuatu, renungkan atau tanyakan dulu, apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini tidak menyakiti orang lain? Jangan hanya menjadi robot yang otomatis bereaksi tanpa berefleksi. Kurangi paparan konten beracun dengan membatasi waktu bermain media sosial dan berhenti mengikuti akun yang hanya memicu emosi negatif. Jika sebuah akun hanya membuat emosi, jengkel, panas hati, marah, iri, atau cemas, mengapa kita masih harus mengikutinya?

Kita tentu juga bisa membangun ruang digital yang lebih sehat dengan menciptakan kebiasaan berinteraksi yang lebih bermakna, bukan sekadar ikut tren tanpa arah. Gunakan media sosial dengan tujuan jelas. Alih-alih membuang waktu tanpa tujuan pasti, manfaatkan platform ini untuk belajar, mengembangkan diri, mencari inspirasi, atau membangun koneksi yang positif. Jangan biarkan algoritma mengambil alih hidup kita. Sebuah studi dari University of Pennsylvania menunjukkan bahwa membatasi penggunaan media sosial hanya 30 menit per hari dapat mengurangi kecemasan dan depresi secara signifikan. Nah, ada harapan bukan?

Salah satu cara lain untuk keluar dari jeratan zombie digital adalah dengan menerapkan detoks media sosial. Coba sekali tempo tantang diri untuk tidak membuka media sosial selama sehari penuh. Kemudian Anda rasakan bagaimana tubuh dan pikiran bereaksi. Jika ada rasa gelisah atau khawatir ketinggalan info, itu tanda bahwa kita sudah sangat bergantung, sudah kecanduan. Dengan rutin melakukan detoks, kita bisa mulai kembali mengendalikan cara kita menggunakan media sosial, bukan malah sebaliknya.

Selain itu, biasakan berpikir kritis sebelum bereaksi. Jika melihat berita viral, cek dulu sumbernya. Jika melihat tren yang sedang ramai, pikirkan dulu manfaatnya. Jangan langsung tergerak hanya karena dorongan emosi atau tekanan sosial. Kita bukan zombie yang mengikuti arus kesana kemari tanpa kesadaran, bukan?

Jangan Sampai Kesadaran Kita Dimakan Hidup-Hidup

Sekali lagi mari kita sadari, bahwa media sosial seharusnya menjadi alat untuk memperluas wawasan, bukan jebakan yang mengubah kita menjadi zombie. Jika kita terus-menerus dikendalikan oleh algoritma dan emosi sesaat, maka sejatinya kita telah kehilangan esensi sebagai manusia sehat. Saatnya kita semua bangun dan kembali mengendalikan diri. Jangan sampai kita benar-benar berubah menjadi zombie digital. Dimulai dengan sadar akan kebiasaan kita sendiri, lalu pelan-pelan kita perbaiki.

Dunia digital masih bisa menjadi tempat yang sehat, jika kita bisa menggunakannya dengan bijak. Nah, para pembaca yang budiman semua di sini, saya yakin tentu masih punya kesadaran. Atau jangan-jangan, sudah berubah? Salam sehat digital. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi
“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital
Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025
Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma
Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda
Tags: digitalmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Ibu-ibu Pakis Bali “Mesatua” di Bulan Bahasa Bali: Ada yang Galak, Ada yang Monyer

Next Post

Bendesa Adat di Bali Adu Kecakapan Memberi  “Sambrama Wacana”

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Bendesa Adat di Bali Adu Kecakapan Memberi  “Sambrama Wacana”

Bendesa Adat di Bali Adu Kecakapan Memberi  “Sambrama Wacana”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co