6 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertalian antara Pulau-Pulau Kecil di Madura dengan Kota Singaraja

Jaswanto by Jaswanto
January 23, 2025
in Khas
Pertalian antara Pulau-Pulau Kecil di Madura dengan Kota Singaraja

Pelabuhan Sapeken | Foto: Dok. Febri

INTERAKSI ini hanya cerita dari lisan ke lisan. Meski sudah terjadi bertahun-tahun, catatan tentangnya secara tertulis tak lebih banyak dari jumlah jari tangan. Karena itulah tak banyak orang mengetahui hubungan seperti apa yang terjalin antara pulau-pulau kecil yang mengambang di Selat Madura dengan Kota Singaraja di Bali Utara.

Sekira tiga tahun yang lalu, di pinggir pantai di Pelabuhan Sangsit, Singaraja, saya mewawancarai tiga mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali, yang masing-masing lahir dan besar di Pulau Kangean, Pulau Sapeken, dan Pulau Sepanjang, pulau-pulau kecil di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur—pulau-pulau dengan daratan sempit dan dikelilingi lautan luas.

Adalah Anni Mujahidah dari Pulau Sapeken, Moh. Febryandi dari Pulau Kangean, dan Ainur Azhar dari Pulau Sepanjang. Saat itu, mereka bertiga masih tercatat sebagai mahasiswa di Undiksha, kini sudah lulus, menjadi sarjana, dan kembali ke pangkuan tanah pulaunya.

Sebutlah Anni, Febry, dan Ainur, mereka seumuran, sekarang 26 tahunan, yang bercerita kepada saya betapa penting posisi Kota Singaraja terjadap orang-orang yang tinggal di pulau-pulau kecil yang mereka huni, dan betapa sulit perjuangan mereka saat menyambanginya. Benar. Meski secara administratif Pulau Kangean, Sapeken, dan Sepanjang masuk ke dalam wilayah Sumenep, tapi Singaraja tetaplah “tanah harapan” yang paling dekat untuk dijangkau—meskipun tetap saja jaraknya tak kurang dari 10 jam.

“Kalau ke Sumenep atau ke Banyuwangi lebih jauh lagi,” terang Ainur di tengah orang-orang sibuk menaikkan kardus-kardus sembako ke lambung perahu nelayan di dermaga rompal Pelabuhan Sangsit. Sembako-sembako—atau sebut saja beras, bumbu dapur, telur, mie instan, gula, kopi, rokok, dll—ini akan diangkut ke Pulau Sapeken dan sekitarnya. Ke Singaraja, mereka tak hanya menjual hasil laut, pula kulakan persediaan pangan. “Karena itulah Singaraja menjadi kota penting bagi kami,” sambung pemuda yang kini menggeluti dunia fotografi di Sepanjang itu.

Ainur saat di atas geladak perahu nelayan menuju dari Pelabuhan Sapeken menuju Sangsit, Singaraja | Foto: Dok. Febri

Sekadar informasi, Madura memiliki 127 pulau, satu pulau berada di Kabupaten Sampang, yang dikenal dengan nama Pulau Mandangin. Tapi masyarakat lebih sering menyebutnya sebagai Pulau Kambing. Sedangkan seratus dua puluh enam pulau lainnya berada di Kabupaten Sumenep. Di antara 126 pulau tersebut, Kangean yang paling besar wilayahnya. Ada tiga kecamatan yang masuk kawasannya.

Namun, Sapekan merupakan pulau dengan penduduk paling padat. Pulau ini berbatasan langsung dengan laut Jawa di sebelah barat, laut Sulawesi di sebelah timur, laut Kalimantan di sebelah utara, dan laut Bali di sebelah selatan. Daerah Sapeken terdiri dari 53 pulau yang masuk dalam wilayah administrasinya. Ada 21 pulau yang sudah berpenghuni dan 32 pulau yang masih belantara. Di pulau inilah Anni lahir dan dibesarkan.

Di Sapeken terdapat pelabuhan yang ramai. Febry dan orang-orang Kangean pada umumnya, pun Ainur dan orang-orang di Pulau Sepanjang yang ingin melawat ke Singaraja biasanya lewat pelabuhan ini. Kata Febry, dari Pulau Kangean ke Pelabuhan Sapeken membutuhkan empat jam perjalanan dengan perahu nelayan. Lalu dari Pelabuhan Sapeken ke Kota Singaraja, jika cuaca sedang bagus, kurang lebih 10 jam perjalanan. “Kalau ombak sedang besar bisa jauh lebih lama di tengah laut, Bang,” ujar Febri kepada saya. “Bisa 16 jam,” Ainur menimpali.

Tentu saja Pelabuhan Sapeken bukan satu-satunya jalan menuju Singaraja. Tapi port kecil itulah satu-satunya yang paling dekat dengan kota ibunda Soekarno tersebut. Pelabuhan Sapeken dengan demaga-dermaganya yang kecil tapi ramai itu semacam jalur sutra yang menghubungan pulau-pulau kecil di Madura dengan Kota Singaraja yang mungkin sudah terjadi sejak berabad-abad silam—walaupun barangkali seorang penulis bernama A.K. Nielsen luput mencatatnya.

(Nielsen menulis bahwa antara abad 17-18 aktivitas perdagangan antara Bali dengan Batavia berkisar pada masalah perdagangan budak. Beberapa buah kapal dari Bali dan Lombok yang berlayar menuju Batavia berisi antara lain: budak laki-laki dan wanita, beras, gula, asam, minyak kelapa, babi, pinang, hewan dan bahan makanan untuk anak buah kapal, malam, kayu, garam, dan itik.)

Pada 1930, berdasarkan catatan penduduk di masa penjajahan Belanda, ada 1.036 orang Madura yang tinggal di wilayah Buleleng. Beberapa dari jumlah tersebut sangat memungkinkan berasal dari pulau-pulau kecil di Madura—seperti Kangean, Sepanjang, Sapeken, dll. Sejak ditetapkannya Singaraja sebagai ibu kota Keresidenan Bali dan Lombok pada tahun 1882 oleh Pemerintah Kolonial Belanda, interaksi sosial antarkomunitas suku-bangsa semakin meningkat.

Bagi anak-anak kepulauan Kangean, pertautan antara pulau-pulau kecil di Madura dengan Bali Utara  menjadikan Singaraja tampak lebih penting daripada Sumenep itu sendiri. Bahkan, kata Singaraja lebih banyak disebut di sana daripada Sumenep atau Surabaya.

Dan kini, hubungan antara pulau-pulau kecil di Madura dengan Singaraja tak sebatas transaksi dagang, lebih dari itu juga menyangkut soal pendidikan, kesehatan, dan arus informasi. Tentu saja awalnya urusan jual-beli adalah yang utama. Tapi belakangan Singaraja memberi sesuatu yang lain yang itu barangkali sulit diwujudkan oleh Sumenep atau Surabaya. Pendidikan dan fasilitas kesehatan, misalnya.

Pelabuhan Sapeken | Foto: Dok. Febri

Universitas Pendidikan Ganesha adalah mimpi setiap remaja di pulau-pulau tersebut. Seusai tamat SMA, mereka meyerbu kampus yang teronggok di tengah Kota Singaraja itu. Ini adalah cerita haru yang lain. Demi pendidikan, mereka rela, katakanlah, mempertaruhkan nyawa—walaupun belakangan kondisinya tampak lebih baik. (Banyak mahasiswa dari kepulauan Kangean kini memilih lewat Pelabuhan Celukan Bawang dengan kapal daripada menuju Sangsit dengan  perahu nelayan.)

Di zaman Anni, Febry, dan Ainur masih menjadi mahasiswa di Undiksha, kisah-kisah perjalanan mereka yang menegangkan, membelah ombak di malam hari, sering saya dengar. Dari Pelabuhan Sapeken, alih-alih menumpangi kapal-kapal ferry macam di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk atau Celukan Bawang, mereka menaiki perahu nelayan—mereka menyebutnya kapal loding—yang ukurannya kurang lebih 2 x 15 meter menuju Sangsit, Singaraja. Sebenarnya, selain sangat berisiko, perjalanan mereka juga ilegal. Tapi apa boleh buat, itu jalur tercepat meski bukan yang paling aman.

“Jadi, selama perjalan dari Sapeken ke Singaraja itu, kami berkumpul bersama ikan, bergaul bersama ikan, berbau ikan,” kata Anni sembari tertawa kecil. “Jaraknya memang dekat, tapi kalau ombaknya keras, itu menakutkan.  Jadi ada suka dukanyalah,” sambung gadis Muhammadiyah itu.

Anak-anak pulau macam Anni, Febry, Ainur, dan mereka yang menempuh pendidikan di Singaraja, rela mempertaruhkan nyawa demi memenangkan nasib; memenangkan masa depan gemilang yang ditawarkan lembaga pendidikan formal. Walaupun barangkali mereka juga paham bahwa hidup siapa yang tahu. Siapa yang bisa menjamin masa depan seseorang? Tak sedikit orang yang berpendidikan gagal meraih masa depan gemilang. Luntang-lantung mencari pekerjaan. Menambah daftar angka pengangguran.

Dan begitulah. Hidup seperti drama dengan premis-premis: penuh tema, gagasan sentral, tujuan. Yang menakutkan, ibarat lakon Shakespear, Macbeth, dengan premis: “Ambisi yang keterlaluan membawa kepada kehancurannya sendiri”. Riwayat hidup mereka yang dari kepulauan Kangean, bisa dirumuskan premisnya sebagai berikut: “Cita-cita yang luhur membawa kepada maut, tapi juga harapan”.

Tak hanya soal pendidikan, soal kesehatan, misalnya, orang-orang di kepulauan Kangean juga lebih banyak “bergantung” kepada Kota Singaraja alih-alih Sumenep. Banyak orang kurang sehat dilarikan ke RSUD Buleleng atau rumah sakit sekitarnya. Meski banyak yang pulang dengan sehat, tapi tak sedikit pula yang kembali tanpa nyawa. “Itu karena jarak yang jauh,” Ainur menegaskan.

Empat tahun lalu Ainur bercerita tentang seorang ibu hamil yang meninggal karena pendarahan. Kisahnya: ada seorang ibu dari kepulauan Kangean yang hendak melahirkan, tapi karena mengalami pendarahan hebat, pihak puskesmas setempat tak sanggup menangani. Akhirnya harus dirujuk ke RS Parama Sidhi di Singaraja. Sedangkan perjalanan dari kepulauan Kangean ke Singaraja tak sebentar. 10 jam naik perahu nelayan.

“Nyawa ibu dan anaknya tak selamat setelah sampai di Singaraja, Bang. Ibu itu mengalami pendarahan yang hebat. Dalam keadaan darurat, mereka masih harus melawan maut dengan terombang-ambing di lautan selama 10 jam,” Ainur bercerita.

Pada tahun 2019, ayah dari seorang mahasiswa sosiologi Undiksha yang berasal dari kepulauan Kangean mengalami nasib yang sama. Sebelum dia wisuda ayahnya sakit dan harus dirawat di Singaraja. Malam keluarganya membawa bapaknya ke RSUD Buleleng. Esok paginya duka itu datang. Si ayah meninggal dunia karena telat ditangani. Jenazah tersebut harus diangkut kembali dengan perahu nelayan selama 10 jam dari Singaraja ke Pelabuhan Sapeken.

Mungkin Charlie Chaplin benar. Ia mengatakan hidup itu tragedi dari jarak dekat, menjadi komedi dari jarak jauh. Aktor pentomim ini paham benar jarak acap mendistorsi realitas. Kita bisa keliru memahami tragedi menjadi komedi karena tafsir akibat ruang yang memisahkan. Jarak menentukan bagaimana cara kita melihat kenyataan.

Memang, seperti kata Anni di atas, hubungan antara Singaraja dengan kepulauan Kangean memang tak selamanya menyenangkan. Orang-orang yang tinggal di pulau-pulau kecil di Madura itu seolah tahu betul kredo tua dari sepenggal sajak penyair Jerman Friedrich Schiller (1723-96) yang pernah dikutip Sjahrir saat menulis dua pucuk surat dari penjara Cipinang dan dari tempat pembuangan di Boven Digul, “hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan.”

Benar. Hidup memang harus dipertaruhkan. Berani hidup harus berani bertaruh. Layaknya meja judi, tak jelas menang-kalahnya; beruntung-ruginya; berhasil-gagalnya. Hanya sekelas Dewa Judi—seperti film-film Hongkong-Mandarin—yang mampu menebak siapa yang akan menang atau siapa yang hanya akan menjadi pecundang.

Dan kemerdekaan Indonesia 1945 tampaknya bukanlah sepenuhnya milik mereka yang tinggal di pulau-pulau kecil di Madura. “Kado” kemerdekaan itu tampak seperti kado “natal” yang hanya dibagi-bagikan kepada “anak-anak kota” belaka. Bukan kado (hadiah) yang dibagikan kepada seluruh rakyat Indonesia; kepada kaum tertindas (kelas bawah), sebagai kado “pembebasan” sebagaimana pernah diucapkan Muhammad ketika membebaskan Mekkah dulu: Antumuth Thulaq—kalian bebas.

Jargon “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” tampaknya hanya “utopia”, hanya diidamkan, di kepulauan Kangean. Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir, Mata menulis: “dalam Seeing like a State, Scott menunjukkan Negara melihat dari atas dan merancang hidup di bumi yang tak bisa sepenuhnya dikuasai. Mata yang di langit itu tak buta, memang. Tapi ia tak selalu bisa meramal yang di atas tanah.”[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Sapeken, Perjalanan adalah Guru; Mengasupi Segala Pengetahuan Dari Sebuah Perkenalan
Mereka Tak Dilihat || Untuk Teman-teman Kepulauan Kangean
Kabar Sedih Pulau Kecil: Ibu Hamil Mau Lahiran, Berperahu 10 Jam ke Bali, Akhirnya…
Demi Ilmu, 12 Jam Bersama Laut, Dari Pulau Kecil di Madura ke Undiksha di Bali
Tags: Madurapelabuhan lautPulau SapekenSingarajaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kapankah Saya Akan Sembuh?

Next Post

Legong Kreasi “Umarani Kidul” karya Devia Pratiwi dan Dilema Tentang Magis-Mistik | Dari Gelar Karya Seni Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails
Next Post
Legong Kreasi “Umarani Kidul” karya Devia Pratiwi dan Dilema Tentang Magis-Mistik | Dari Gelar Karya Seni Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali

Legong Kreasi “Umarani Kidul” karya Devia Pratiwi dan Dilema Tentang Magis-Mistik | Dari Gelar Karya Seni Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika
Bahasa

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen? Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu...

by I Made Sudiana
May 5, 2026
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri
Esai

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

by Nur Kamilia
May 5, 2026
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur
Budaya

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

DESA Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let (pusat permukiman Desa Adat...

by Nyoman Budarsana
May 4, 2026
Aoroville: Kota Eksperimental
Esai

Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh
Persona

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas
Panggung

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant
Gaya

Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant

TIDAK semua pemain menikmati perjalanan yang sama dalam game. Ada yang menghargai setiap tahap perkembangan, ada juga yang lebih fokus...

by tatkala
May 4, 2026
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan
Ulas Rupa

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

by Made Chandra
May 4, 2026
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial
Esai

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

by Angga Wijaya
May 4, 2026
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari
Cerpen

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

by Kadek Windari
May 4, 2026
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo
Puisi

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

by Kim Young Soo
May 3, 2026
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja
Khas

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

by Gading Ganesha
May 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co