25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 3]: Tanggapan pada Kawan yang Kocak

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
December 29, 2024
in Esai
Kelecung ”Eco Village” Tabanan: Menjawab Keresahan Gempuran Investor

Ahmad Sihabudin

SALAH satu aspek kebudayaan khas yang dimiliki masyarakat Betawi ialah apa yang dikenal dengan ngeceng. Dari sudut tata bahasa ngeceng adalah sejenis kata kerja. Apabila kata kerja itu dilakukan berbalas-balasan bentuknya menjadi ceng-cengan. Umumnya menggunakan kata – kata bernada lucu, paling tidak menurut ukuran mereka yang terlibat dalam kegiatannya baik langsung maupun tidak langsung.

Satu hal yang menjadi ciri khas kegiatan ceng-cengan dalam penggunaan kata-kata, yang umumnya bernada lucu itu terlihat pada saat kegiatan berlangsung yang selalu diliputi oleh suasana meriah penuh dengan gelak tawa. Begitu memasyarakatnya istilah ngeceng dalam masyarakat Betawi, khususnya di kalangan anak muda, namun sampai sejauh itu belum tentu dikenal oleh masyarakat lain.

Pada bagian ketiga lanjutan tulisan Ngeceng, Tardisi Lisan Humor Betawi, penulis akan mendeskripsikan ”Tanggapan pada Kawan yang Kocak ”.

Kawan Kocak itu ”Pinter” Gaul

Upaya membuat orang lain tertawa bukan hal yang mudah. Paling tidak, hanya yang punya bakat kuat saja dapat melakukannya. Perkataan seseorang bisa terkesan lucu, tidak tergantung pada statusnya. Cendikiawan, tokoh politik, pemuka agama, pejabat pemerintah atau pun pengusaha dalam situasi tertentu bisa membuat orang lain tertawa.

Suatu hal yang positif dari sifat humor atau kata-kata yang bernada lucu, oleh kebanyakan peserta dianggap lebih menyenangkan daripada yang mendatar tanpa variasi. Suasana santai yang diselingi humor kalau ditinjau dari sudut efektifitas komunikasi boleh jadi lebih mengena.

Dengan suasana yang tidak membosankan akan memberi kemungkinan audiens bisa mencerna setiap pesan yang disampaikan komunikator.Yang jelas,`dalam suasana komunikasi audiens akan selalu penuh perhatian dan tidak mengantuk.

Anak Betawi menyenangi humor bukan sekedar di permukaan saja. Mereka yang tergolong kurang mahir dalam ceng-cengan ingin seperti teman yang banyak memiliki sifat kocak. Hal tersebut acapkali dijumpai pada saat berlangsungnya ceng-cengan selalu berusaha sebisa mungkin. Wajar apabila kata-kata yang diucapkan serba dangkal dan terkesan dipaksakan.

Semua itu karena dorongan atau motivasi di bidang pergaulan. Sebab, orang yang memiliki pembawaan kocak biasanya supel dalam pergaulan, berbagai kalangan dengan mudah bisa dijadikan sahabat, pada gilirannya mereka mempunyai banyak teman. Sebuah kondisi pergaulan yang umumnya didambakan oleh kalangan anak muda.

Humor, selain menciptakan suasana menghibur, boleh jadi berguna pula sebagai alat terapi menumbuhkan sifat bijaksana. “Untuk menjadi bijaksana orang perlu tertawa” (Djoko Darmono, Tinjauan Buku Humor Sufi II, Kompas minggu 28 November 1987, hal XII). Unsur humor yang begitu dominan di keseharian dalam pergaulan masyarakat Betawi  berperan sebagai pendukung saja.

Kawan Kocak itu Menghibur Juga Membimbing

Ada sesuatu yang hilang bila dalam suatu kumpulan nongkrong, kawan yang dianggap kocak itu belum hadir, seperti sayur kurang garam, hambar rasanya. Jadi sepi seperti kuburan, kawan yang kocak itu buat mereka jadi seperti jantungnya orang berkumpul. Karena tak sedikit juga memberikan nasihat dalam kata-kata kocaknya. Meskipun tidak banyak diungkapkan dalam kegiatan ngeceng, sesekali yang sifatnya filosofis dalam ngeceng muncul juga.

Untuk hal yang bersifat filosofis pun seperti nasihat, petuah, serta sindiran yang hingga sekarang masih ada namun sudah agak jarang diucapkan oleh kalangan anak muda  yang disebut dengan ungkapan.  Salah satu contoh ungkapan: “sekering-keringnye jahe ada pedesnye”, artinya; bagaimana keringnya jahe, rasa pedasnya masih ada.

Maksud ungkapan itu untuk menasihati, menyindir dan mengingatkan seseorang yang mempunyai sikap masa bodoh terhadap keluarganya yang kebetulan menderita kesusahan. Begitu pula sebaliknya mereka yang mengalami kesulitan, malu dan tidak mau minta pertolongan kepada saudara yang kebetulan berada.

Kedua sikap tersebut tidak diharapkan oleh masyarakat Betawi. Buruk atau baik, senang maupun susah, persaudaraan harus tetap terjalin. Contoh ungkapan yang dikutip dari buku “Ungkapan Tradisionil Sebagai Sumber Informasi Kebudayaan Daerah Khusus Ibukota”, telah memberikan kesan tentang pergaulan dalam masyarakat Betawi.

Bagaimana sebaiknya menempatkan diri dalam lingkungan keluarga demi mewujudkan keseimbangan pribadi maupun lingkungan di mana setiap pribadi hidup di dalamnya.

Ungkapan yang menasihatkan untuk tidak memutus tali persaudaraan dalam kondisi yang bagaimana pun, intinya bertolak dari ketulusan hati masing-masing. Melalui ungkapan itu pula orang Betawi  diajarkan supaya jangan terlalu cepat memvonis kepada saudara yang kebetulan berada dengan tuduhan “lupa daratan”, tidak mau tahu kepada saudara yang kekurangan.

Dalam kasus keluarga yang acapkali terjadi justru saudara yang berada dijadikan “kambing hitam” melupakan saudara yang kurang mampu. Hendaknya dapat dimaklumi orang kaya permasalahan hidup yang dihadapinya begitu kompleks, mungkin karena kesibukan membuatnya tidak sempat mengetahui secara persis keadaan segenap saudaranya, terutama yang telah hidup menyebar.

Apabila menghadapi kenyataan itu masyarakat Betawi diajarkan memiliki hati yang lapang dan selalu berterus terang. Tidak mengecilkan hubungan keluarga hanya dikarenakan mereka kurang mendapatkan perhatian.

Terhadap yang merasa kekurangan dalam ekonomi jangan merasa gengsi sehingga malu meminta bantuan saudara yang kebetulan ekonominya mapan. Lagi pula saudara yang mampu pada batas-batas tertentu akan lebih senang kepada saudara yang berterus terang daripada menyembunyikan kesulitannya. Apabila terjadi pengecualian itu pun kebanyakan disebabkan oleh ekonomi yang kurang mampu, belum apa-apa sudah mengambil kesimpulan negatif kepada saudaranya itu.

Pengaruh Modernisasi pada Pola Pergaulan (ceng-cengan)

Terdapat gejala kini sedang terjadi erosi nilai kebudayaan tradisional karena pengaruh modernisasi. Masyarakat Betawi yang merupakan masyarakat perkotaan dalam mempertimbangkan sesuatu cenderung mengkaitkannya dengan relevansi kebutuhan hidup secara materi dan kepuasaan moril.

Pertumbuhan kota Jakarta yang dulunya Betawi, tidak pelak lagi merupakan akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan ekonomi. Pembangunan sarana kota di mana-mana secara fisik membutuhkan dukungan lahan, pada sisi lain harga tanah menjadi semakin meningkat. Faktor iming-iming harga tanah itu membuat pemilik tanah yang relatif luas menjadi tergiur untuk mengoperkan (menjual tanahnya).

Konsenkuensinya, masyarakat Betawi yang tadinya tinggal di kampung-kampung tengah kota pindah jauh ke pinggiran, bahkan tidak jarang pula yang hijrah ke wilayah Jawa Barat. Atau kalaupun masih menetap tinggal di rumah yang pekarangannya sempit tanpa tempat untuk ngeloneng (duduk santai mencari angin di beranda rumah), dan sarana berkumpul anak-anak muda bersenda-gurau sambil ceng-cengan.

Perpindahan penduduk yang tidak berpola itu, masing – masing memilih tempat tinggal baru, mengurangi kesinambungan nilai kesenian serta kebiasaan pergaulan yang dibawa. Apalagi di tempat asal yang ditinggalkan, praktis pekarangan yang relatif luas sudah berubah fungsi menjadi bangunan pasar, super market dan gedung – gedung bertingkat.

Anak–anak yang semula dapat dengan leluasa bermain bola gebok, petak gocek, gala asin, petok kadal, main dampu dan lain sebagainya sudah jarang dapat dilakukan lagi. Beberapa jenis permainan masih dapat dilakukan, tetapi tampak kurang wajar karena menggunakan ruas jalan umum.

Inilah salah satu penyebab merosotnya nilai kebudayaan tradisional. Utamanya yang terjadi pada masyarakat Betawi. Apakah kemerosotan nilai estetika terjadi pula terhadap tradisi ceng-cengan sebagai pelengkap tata pergaulan? Sampai berapa jauh masih dapat mempertahankan eksistensinya?

Kehadiran ceng-cengan kini sedang diuji. Seperti halnya bentuk kebudayaan tradisional lain, ceng-cengan hanya dapat lekat dengan masyarakatnya apabila secara praktis masih didukung secara antusias serta dapat memberi manfaat, maka ceng-cengan bisa jadi tetap eksis ditengah pergaulan global ini.

  • Tulisan ini bersambung bagian 4, “Fungsi Ceng-cengan dalam Pergaulan”.

BACA artikel sebelumnya:

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 1]: Bentuk dan Struktur
”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 2]: Hubungan Kocak, Humor dan ”Ngeceng”

BACA artikel selanjutnya:

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 4-Habis]: Fungsi Ceng-cengan dalam Pergaulan
Tags: BahasaBahasa BetawiBetawiJakartakesenian betawi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Karya Ngenteg Linggih Pura Geger Dalem Pemutih     

Next Post

Indonesian Hypnosis Centre Kukuhkan Tokoh-Tokoh Ternama Menjadi Instruktur Hipnosis

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails
Next Post
Indonesian Hypnosis Centre Kukuhkan Tokoh-Tokoh Ternama Menjadi Instruktur Hipnosis

Indonesian Hypnosis Centre Kukuhkan Tokoh-Tokoh Ternama Menjadi Instruktur Hipnosis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co