25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 3]: Tanggapan pada Kawan yang Kocak

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
December 29, 2024
in Esai
Kelecung ”Eco Village” Tabanan: Menjawab Keresahan Gempuran Investor

Ahmad Sihabudin

SALAH satu aspek kebudayaan khas yang dimiliki masyarakat Betawi ialah apa yang dikenal dengan ngeceng. Dari sudut tata bahasa ngeceng adalah sejenis kata kerja. Apabila kata kerja itu dilakukan berbalas-balasan bentuknya menjadi ceng-cengan. Umumnya menggunakan kata – kata bernada lucu, paling tidak menurut ukuran mereka yang terlibat dalam kegiatannya baik langsung maupun tidak langsung.

Satu hal yang menjadi ciri khas kegiatan ceng-cengan dalam penggunaan kata-kata, yang umumnya bernada lucu itu terlihat pada saat kegiatan berlangsung yang selalu diliputi oleh suasana meriah penuh dengan gelak tawa. Begitu memasyarakatnya istilah ngeceng dalam masyarakat Betawi, khususnya di kalangan anak muda, namun sampai sejauh itu belum tentu dikenal oleh masyarakat lain.

Pada bagian ketiga lanjutan tulisan Ngeceng, Tardisi Lisan Humor Betawi, penulis akan mendeskripsikan ”Tanggapan pada Kawan yang Kocak ”.

Kawan Kocak itu ”Pinter” Gaul

Upaya membuat orang lain tertawa bukan hal yang mudah. Paling tidak, hanya yang punya bakat kuat saja dapat melakukannya. Perkataan seseorang bisa terkesan lucu, tidak tergantung pada statusnya. Cendikiawan, tokoh politik, pemuka agama, pejabat pemerintah atau pun pengusaha dalam situasi tertentu bisa membuat orang lain tertawa.

Suatu hal yang positif dari sifat humor atau kata-kata yang bernada lucu, oleh kebanyakan peserta dianggap lebih menyenangkan daripada yang mendatar tanpa variasi. Suasana santai yang diselingi humor kalau ditinjau dari sudut efektifitas komunikasi boleh jadi lebih mengena.

Dengan suasana yang tidak membosankan akan memberi kemungkinan audiens bisa mencerna setiap pesan yang disampaikan komunikator.Yang jelas,`dalam suasana komunikasi audiens akan selalu penuh perhatian dan tidak mengantuk.

Anak Betawi menyenangi humor bukan sekedar di permukaan saja. Mereka yang tergolong kurang mahir dalam ceng-cengan ingin seperti teman yang banyak memiliki sifat kocak. Hal tersebut acapkali dijumpai pada saat berlangsungnya ceng-cengan selalu berusaha sebisa mungkin. Wajar apabila kata-kata yang diucapkan serba dangkal dan terkesan dipaksakan.

Semua itu karena dorongan atau motivasi di bidang pergaulan. Sebab, orang yang memiliki pembawaan kocak biasanya supel dalam pergaulan, berbagai kalangan dengan mudah bisa dijadikan sahabat, pada gilirannya mereka mempunyai banyak teman. Sebuah kondisi pergaulan yang umumnya didambakan oleh kalangan anak muda.

Humor, selain menciptakan suasana menghibur, boleh jadi berguna pula sebagai alat terapi menumbuhkan sifat bijaksana. “Untuk menjadi bijaksana orang perlu tertawa” (Djoko Darmono, Tinjauan Buku Humor Sufi II, Kompas minggu 28 November 1987, hal XII). Unsur humor yang begitu dominan di keseharian dalam pergaulan masyarakat Betawi  berperan sebagai pendukung saja.

Kawan Kocak itu Menghibur Juga Membimbing

Ada sesuatu yang hilang bila dalam suatu kumpulan nongkrong, kawan yang dianggap kocak itu belum hadir, seperti sayur kurang garam, hambar rasanya. Jadi sepi seperti kuburan, kawan yang kocak itu buat mereka jadi seperti jantungnya orang berkumpul. Karena tak sedikit juga memberikan nasihat dalam kata-kata kocaknya. Meskipun tidak banyak diungkapkan dalam kegiatan ngeceng, sesekali yang sifatnya filosofis dalam ngeceng muncul juga.

Untuk hal yang bersifat filosofis pun seperti nasihat, petuah, serta sindiran yang hingga sekarang masih ada namun sudah agak jarang diucapkan oleh kalangan anak muda  yang disebut dengan ungkapan.  Salah satu contoh ungkapan: “sekering-keringnye jahe ada pedesnye”, artinya; bagaimana keringnya jahe, rasa pedasnya masih ada.

Maksud ungkapan itu untuk menasihati, menyindir dan mengingatkan seseorang yang mempunyai sikap masa bodoh terhadap keluarganya yang kebetulan menderita kesusahan. Begitu pula sebaliknya mereka yang mengalami kesulitan, malu dan tidak mau minta pertolongan kepada saudara yang kebetulan berada.

Kedua sikap tersebut tidak diharapkan oleh masyarakat Betawi. Buruk atau baik, senang maupun susah, persaudaraan harus tetap terjalin. Contoh ungkapan yang dikutip dari buku “Ungkapan Tradisionil Sebagai Sumber Informasi Kebudayaan Daerah Khusus Ibukota”, telah memberikan kesan tentang pergaulan dalam masyarakat Betawi.

Bagaimana sebaiknya menempatkan diri dalam lingkungan keluarga demi mewujudkan keseimbangan pribadi maupun lingkungan di mana setiap pribadi hidup di dalamnya.

Ungkapan yang menasihatkan untuk tidak memutus tali persaudaraan dalam kondisi yang bagaimana pun, intinya bertolak dari ketulusan hati masing-masing. Melalui ungkapan itu pula orang Betawi  diajarkan supaya jangan terlalu cepat memvonis kepada saudara yang kebetulan berada dengan tuduhan “lupa daratan”, tidak mau tahu kepada saudara yang kekurangan.

Dalam kasus keluarga yang acapkali terjadi justru saudara yang berada dijadikan “kambing hitam” melupakan saudara yang kurang mampu. Hendaknya dapat dimaklumi orang kaya permasalahan hidup yang dihadapinya begitu kompleks, mungkin karena kesibukan membuatnya tidak sempat mengetahui secara persis keadaan segenap saudaranya, terutama yang telah hidup menyebar.

Apabila menghadapi kenyataan itu masyarakat Betawi diajarkan memiliki hati yang lapang dan selalu berterus terang. Tidak mengecilkan hubungan keluarga hanya dikarenakan mereka kurang mendapatkan perhatian.

Terhadap yang merasa kekurangan dalam ekonomi jangan merasa gengsi sehingga malu meminta bantuan saudara yang kebetulan ekonominya mapan. Lagi pula saudara yang mampu pada batas-batas tertentu akan lebih senang kepada saudara yang berterus terang daripada menyembunyikan kesulitannya. Apabila terjadi pengecualian itu pun kebanyakan disebabkan oleh ekonomi yang kurang mampu, belum apa-apa sudah mengambil kesimpulan negatif kepada saudaranya itu.

Pengaruh Modernisasi pada Pola Pergaulan (ceng-cengan)

Terdapat gejala kini sedang terjadi erosi nilai kebudayaan tradisional karena pengaruh modernisasi. Masyarakat Betawi yang merupakan masyarakat perkotaan dalam mempertimbangkan sesuatu cenderung mengkaitkannya dengan relevansi kebutuhan hidup secara materi dan kepuasaan moril.

Pertumbuhan kota Jakarta yang dulunya Betawi, tidak pelak lagi merupakan akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan ekonomi. Pembangunan sarana kota di mana-mana secara fisik membutuhkan dukungan lahan, pada sisi lain harga tanah menjadi semakin meningkat. Faktor iming-iming harga tanah itu membuat pemilik tanah yang relatif luas menjadi tergiur untuk mengoperkan (menjual tanahnya).

Konsenkuensinya, masyarakat Betawi yang tadinya tinggal di kampung-kampung tengah kota pindah jauh ke pinggiran, bahkan tidak jarang pula yang hijrah ke wilayah Jawa Barat. Atau kalaupun masih menetap tinggal di rumah yang pekarangannya sempit tanpa tempat untuk ngeloneng (duduk santai mencari angin di beranda rumah), dan sarana berkumpul anak-anak muda bersenda-gurau sambil ceng-cengan.

Perpindahan penduduk yang tidak berpola itu, masing – masing memilih tempat tinggal baru, mengurangi kesinambungan nilai kesenian serta kebiasaan pergaulan yang dibawa. Apalagi di tempat asal yang ditinggalkan, praktis pekarangan yang relatif luas sudah berubah fungsi menjadi bangunan pasar, super market dan gedung – gedung bertingkat.

Anak–anak yang semula dapat dengan leluasa bermain bola gebok, petak gocek, gala asin, petok kadal, main dampu dan lain sebagainya sudah jarang dapat dilakukan lagi. Beberapa jenis permainan masih dapat dilakukan, tetapi tampak kurang wajar karena menggunakan ruas jalan umum.

Inilah salah satu penyebab merosotnya nilai kebudayaan tradisional. Utamanya yang terjadi pada masyarakat Betawi. Apakah kemerosotan nilai estetika terjadi pula terhadap tradisi ceng-cengan sebagai pelengkap tata pergaulan? Sampai berapa jauh masih dapat mempertahankan eksistensinya?

Kehadiran ceng-cengan kini sedang diuji. Seperti halnya bentuk kebudayaan tradisional lain, ceng-cengan hanya dapat lekat dengan masyarakatnya apabila secara praktis masih didukung secara antusias serta dapat memberi manfaat, maka ceng-cengan bisa jadi tetap eksis ditengah pergaulan global ini.

  • Tulisan ini bersambung bagian 4, “Fungsi Ceng-cengan dalam Pergaulan”.

BACA artikel sebelumnya:

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 1]: Bentuk dan Struktur
”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 2]: Hubungan Kocak, Humor dan ”Ngeceng”

BACA artikel selanjutnya:

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 4-Habis]: Fungsi Ceng-cengan dalam Pergaulan
Tags: BahasaBahasa BetawiBetawiJakartakesenian betawi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Karya Ngenteg Linggih Pura Geger Dalem Pemutih     

Next Post

Indonesian Hypnosis Centre Kukuhkan Tokoh-Tokoh Ternama Menjadi Instruktur Hipnosis

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Indonesian Hypnosis Centre Kukuhkan Tokoh-Tokoh Ternama Menjadi Instruktur Hipnosis

Indonesian Hypnosis Centre Kukuhkan Tokoh-Tokoh Ternama Menjadi Instruktur Hipnosis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co