7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Soesilo Toer, 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer, dan Cerita Tak Biasa  di UWRF 2024

Rusdy Ulu by Rusdy Ulu
October 31, 2024
in Persona
Soesilo Toer, 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer, dan Cerita Tak Biasa  di UWRF 2024

Soesilo Toer | Foto tatkala.co/Rusdy

SIANG itu terdengar perbincangan yang mengejutkan. “Pram itu masa kecilnya adalah bo’…dohhh, stupid boy,” ucap seseorang dengan penuh penekanan. Sumber suara tidak jauh dari tempat saya berdiri di areal Taman Baca, pusat penyelenggaraan Ubud Wiriters and Readers Festival (UWRF) 2024.

Awalnya saya hanya berniat untuk istirahat di Taman Baca, sebuah area di depan Alang-Alang Stage yang memiliki atap raksasa—cukup sebagai tempat berteduh bagi penulis, pembicara, peserta atau siapapun yang merasa butuh berhenti sejenak dari padatnya program festival.

Suhu cuaca panas sekali, posisi matahari benar-benar sejajar dengan bumi, sekitar jam 12 siang. Tapi, di hadapan saya—di Alang-Alang Stage—orang-orang sedang asik mengikuti sebuah sesi diskusi.

Tunggu dulu, ini saya harus kembali membuka buku program. Saya tidak tahu sesi siapa yang sedang berlangsung di stage besar itu. Ada lebih dari 200 program di UWRF 2024, terlalu berlebihan jika harus dihapal semua.

Suara orang tua yang sedang berbicara di depan sana terdengar familiar di telinga. Sepertinya pernah mendengar, barangkali dari youtube. Saat memutuskan untuk mendekat dan bergabung di sesi itu, saya akhirnya ngeh. Ternyata yang berbicara di depan itu ialah Soesilo Toer, adik kandung Pramoedya Ananta Toer. Pantas saja ia sangat otoritatif menyebut-nyebut nama ‘Pram’.

Banyak orang yang mulai mengenal Soesilo Toer saat media dan TV mulai menyorot statusnya sebagai doktor yang bekerja sebagai pemulung.

Dari kiri ke kanan: Iyas Lawrence, Arif Kurniawan, Soesilo Toer, Fitra Ariesta, Abi Ardianda | Foto: tatkala.co/Rusdy

Pria lanjut usia itu dihadirkan langsung dari Blora, Jawa Tengah, untuk sebuah sesi yang berjudul Marking 100 Years of Pramoedya: Celebrating the Legacy of a Literary Giant, di Alang-Alang Stage, Taman Baca, Ubud, pada 27 Oktober 2024.

Itu sebuah program diskusi untuk memperingati 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer, salah satu penulis terbesar Indonesia yang dikenal akan kontribusinya dalam sastra dan karya-karyanya yang kritis tentang kemanusiaan, sejarah, dan keadilan sosial.

Soesilo Toer yang lahir 17 Februari 1937, seperti orang lanjut usia lain, rambutnya nyaris tidak ada yang berwarna hitam lagi. Ia begitu santai dengan kaos hitamnya, di depan para peserta wajahnya berseri-seri saat menceritakan kisah kakaknya.

Ia berangkat dari perspektif pribadi dan mendalam tentang perjalanan dan kehidupan Pramoedya. Bercerita tentang kenangan dan kisah-kisah yang tidak hanya menggambarkan Pram sebagai penulis besar, tetapi juga sebagai saudara dan sosok yang tangguh menghadapi berbagai tantangan hidup, sebagaimana yang juga ia tuliskan dalam buku-bukunya seperti Pram dari Dalam, Pram dalam Buku, Pram dalam Tungku.  

Selain dikenal karena kontroversinya menjadi pemulung, Soesilo sendiri adalah seorang penulis. Ia mulai menulis cerpen dan novel saat berusia 13 tahun, dan beberapa karyanya seperti Dunia Samin dan Komponis Kecil telah beredar luas. Soesilo adalah satu dari banyak tahanan politik Orde Baru (Orba) yang dipenjara tanpa pengadilan. Setelah akhirnya dilepaskan pada tahun 1978, ia hidup berpindah-pindah dari Jakarta, Bekasi, hingga akhirnya kembali ke kota kelahirannya, Blora. Di sana, Soesilo yang kini berusia 87 tahun mengelola Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba) sambil mencari penghidupan untuk keluarganya dengan menjual hasil panen dan memulung.

Panel diskusi “100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer” siang itu dimoderatori oleh Iyas Lawrence, seorang penyiar muda ternama dan pendiri Makna Talks. Diskusi ini mendalami pengaruh karya-karya Pram, mulai dari Tetralogi Buru hingga karya-karya lainnya, juga kehidupan pribadi sang penulis.

Dalam panel ini hadir pula Abi Ardianda, penulis dengan novel debut berjudul Kelab dalam Swalayan yang dinobatkan sebagai satu dari lima bacaan terbaik karya penulis Indonesia versi The Jakarta Post tahun 2021, dan Arif Kurniawan, penulis yang terpilih sebagai salah satu dari 10 Emerging Writers UWRF 2024.

Keduanya menyampaikan perspektif dan pengalamannya selaku penulis muda. “Karya-karya Pram itu masih banyak dibaca dan akan terus memengaruhi generasi muda dalam berkarya. Dan selama masih ada ketidakadilan maka karya-karyanya akan selalu relevan,” ujar Arif yang duduk di sebelah Soesilo Toer dengan baju putih.

Arif Kurniawan dan Soesilo Toer | Foto: tatkala.co/Rusdy

Arif Kurniawan sempat bertemu dengan saya di Indus Restaurant sehari sebelum sesi soal Pram ini. Ia barangkali salah satu emerging writers yang paling muda, umurnya 23 tahun. Ia sangat bersemangat ketika dapat kesempatan satu panggung dengan Soesilo Toer. Terlebih di UWRF 2024 ia bisa bertemu para penulis hebat yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. 

Marking 100 Years of Pramoedya: Celebrating the Legacy of a Literary Giant atau peringatan 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer ini merupakan salah satu bentuk penghormatan dan perayaan UWRF terhadap sosok Pram. Sebelumnya, UWRF juga pernah memberikan persembahan khusus pada tahun 2012. Kini, 100 tahun kelahirannya yang akan jatuh pada 6 Februari mendatang menjadi momen yang tepat untuk kembali merayakan dan menelusuri jejak kepenulisan Pram.

“Pram sempat tidak disukai oleh orang tuanya karena bodoh,” terang Soesilo Toer saat bercerita tentang masa kecil Pram. Pram dianggap bodoh karena baru di umur 15 tahun ia tamat sekolah dasar.

Pram pernah disuruh kembali ke sekolah oleh bapaknya, padahal Pram sudah tamat. Sampai di sekolah ia diusir oleh gurunya karena sudah tamat. Pram pun pulang dengan keadaan menangis sejadi-jadinya. Pram merasa kecewa terhadap guru dan orang tuanya.

Saat di perjalanan pulang sambil menangis itu, Pram sengaja lewat kuburan. Di momen itu, saking kecewa dan merasa hancur karena tidak bisa ke sekolah lagi, Pram menabrakkan dirinya ke pohon kamboja sampai bibirnya pecah.

“Di dalam buku-buku yang saya buat tentang Pram, itu ada gambar Pram yang bibirnya pecah,” ungkap Soesilo Toer.

Sampai pada satu momen Pram seolah mendapatkan ilham kepenulisan ketika ia mulai mengenal rokok dan kopi, menurut adiknya itu.

“Jadi Pram itu menjadi pengarang terkenal gegara didorong oleh rokok dan kopi,” lanjut Soesilo Toer. Mendengar itu, penonton yang hadir langsung tertawa, ditambah saat Soesilo melanjutkan dengan berkata, “Murah sekali kan, kopi sama rokok berapa sih!”

Ditambah dengan wajah yang terus meyakinkan pembicara lainnya, Soesilo Toer tampak begitu serius bercerita di hadapan peserta diskusi—yang bukan hanya dari Indonesia. Adik Pram itu terkadang melontarkan celetukan “ngerti!” setiap ia selesai bercerita, seolah ceritanya terlalu lampau untuk dipahami generasi sekarang.

Sosok penerjemah yang duduk di sampingnya sering dilontari celetukan “ngerti” itu. Barangkali ia merasa istilah yang disebut-sebut saat ia bicara masuk katagori terlalu tua seperti umurnya, sehingga ia terus memastikan orang mengerti apa yang dia ucapkan. Termasuk untuk Fitra Ariesta Wismaningrum, penerjemah yang setia mendengarkan kata demi kata yang diucapkan Soesilo Toer.

Fitra Ariesta tampaknya harus mempersiapkan pendengaran ekstra, ia menyingkap rambut di telinganya seraya mengerutkan kening dengan sedikit tersenyum—saya tembak itu mode fokusnya.

Sering kali Soesilo Toer menyebut satu atau dua istilah asing, kadang dari Bahasa Jerman, Bahasa Belanda, dan bahasa-bahasa yang memang ia kuasasi. Sehingga Fitra Ariesta harus mecatat istilah itu dan menerka maksud yang sebenarnya.

Sesi diskusi dan cerita ang seru dalam UWRF 2024 | tatkala.co/Rusdy

Saya hampir terbahak-bahak ketika momen Soesilo Toer mengucapkan “pantat” dan itu membuat Fitra Ariesta kebingungan harus mengatakan yang sejujurnya atau tidak. Tampaknya ia anak yang sopan dalam berbahasa. Sampai akhirnya Iyas Lawrence menegaskan ulang istilah itu dengan lantang dalam Bahasa Inggris di hadapan seluruh peserta diskusi.

Momen itu terjadi saat Soesilo Toer bercerita soal masa-masa Pram di penjara. Waktu Pram harus menyembunyikan pensil dan kertas yang dipakainya untuk menulis di dalam tahanan.

“Suatu kali ada swiping, Pram ketinggalan pensilnya di atas tempat tidur. Sebelum swiping itu dimulai, ketika Pram melihat pensil itu langsung mengambil dan digenggamnya. Terus dia pura-pura sakit, lalu jongkok di lantai. Dan ditanya oleh petugas ‘kenapa kamu?’ ‘sakit perut’ kata Pram. ‘Kalau sakit perut ayo sana ke WC’ sambil menendang Pram. Di WC, pensil yang dipegang dimasukkan ke anusnya, ya pantat, supaya nggak ketahuan,” cerita Soesilo.

Sontak Fitra Ariesta di sampingnya langsung melongo sambil menganggukkan kepala dengan kening yang mengerut.

Kemudian adik Pram itu melanjutkan cerita soal Pram setelah dari penjara. “Bukunya kemudian mendapat juara lomba membikin naskah. “Perburuan, jika pernah dengar!” katanya.

Itulah hadiah pertama Pram sewaktu bebas dari penjara, kata Soesilo Toer. Ungkapan itu langsung diberi tepuk tangan lagi oleh penonton.

“Dengan itu dia dapat hadiah 1000 golden. Dengan duit itu dia kawin. Kawin dan dapat kerja serta honor di Balai Pustaka. Kawin sama orang Betawi, terus nengok bapaknya yang sekarat di Blora. Pram datang ke Blora, dua sampai tiga hari kemudian bapaknya meninggal. Itu hadiah kawin buat istrinya adalah menyaksikan mertuanya yang sekarat,” lanjutanya.

Ia juga mengungkap Pram sempat tidak mengenalinya sewaktu baru keluar dari penjara. Ia hampir mau langsung pergi begitu saja saat itu, sampai istri Pram memanggilnya dan memberitahu kakaknya itu. Barulah Pram memeluknya dengan dengan penuh rasa rindu.

Hubungan Soesilo dengan Pram sejak dulu tidak pernah mengalami masalah yang serius. Ia bahkan sering memberikan lelucon terhadap kehidupan mereka berdua. “Jika Pram nikah dua kali, dia kalah sama saya yang nikah tiga kali,” katanya.

Ungkapan itu membuat seorang bule yang lewat di depan saya berkata, “He is very funny.”

Sebelum panel diskusi itu berakhir Soesilo Toer sempat ditanya mengenai tanggapan dirinya terhadap orang-orang yang sering menyinggung statusnya yang doktor tetapi hidup dengan cara memulung. Baginya itu bukan soal.

“No problem, saya tidak hidup bukan dari mereka,” tegasnya.

Ucapan itu langsung disambut tepuk tangan meriah dari peserta diskusi. Soesilo menganggap hidup adalah ‘dagelan’ yang bisa diartikan sebagai lelucon. [T]

Reporter/Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Adnyana Ole

Haru Menguar dengan Tetes atau Tanpa Tetes Air Mata : Dari Pemutaran Film Eksil di UWRF 2024
Bertemu Dee Lestari di UWRF 2024, Bertemu “Tanpa Rencana”, Sebuah Karya yang Jujur
Spirit Membenci Ketertindasan | Dari Diskusi Buku “Representasi Ideologi Sastra Lekra” Karya I Wayan Artika
Tags: apresiasi sastraBumi ManusiaPramudya Ananta ToerSoesilo ToerUWRF 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Canang Sari : Budaya Positif Dari Toska     

Next Post

Padupadan Pariwisata dan Pertanian di SMKN 1 Petang: Membangun Masa Depan Berkelanjutan

Rusdy Ulu

Rusdy Ulu

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails

Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

by I Nyoman Darma Putra
February 26, 2026
0
Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Di tengah inisiatif repatriasi artefak atau warisan budaya Indonesia dari Belanda, ada usaha personal seorang peneliti Bali yang tinggal di...

Read moreDetails

Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

by Angga Wijaya
February 22, 2026
0
Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

SAYA datang lebih dulu, seperti kebiasaan lama yang sulit hilang sejak menjadi wartawan. Duduk sendirian memberi waktu untuk mengamati orang-orang,...

Read moreDetails

Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

DI sebuah pementasan karya guru dan siswa SMAN 1 Kuta Selatan, Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati, pada Sabtu...

Read moreDetails

Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

by Dede Putra Wiguna
January 10, 2026
0
Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

TAHUN 2026 baru berjalan beberapa hari ketika Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mencatat peristiwa penting dalam sejarah akademiknya. Rabu,...

Read moreDetails

Konsisten Merawat Lingkungan, Nyoman Wirayuni Berhasil Raih Penghargaan Gender Champion dari Pemkot Denpasar

by Dede Putra Wiguna
December 29, 2025
0
Konsisten Merawat Lingkungan, Nyoman Wirayuni Berhasil Raih Penghargaan Gender Champion dari Pemkot Denpasar

BERTEPATAN dengan Peringatan Hari Ibu Tahun 2025, Senin, 22 Desember 2025, di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Nyoman Wirayuni, SH.,...

Read moreDetails
Next Post
Padupadan Pariwisata dan Pertanian di SMKN 1 Petang: Membangun Masa Depan Berkelanjutan

Padupadan Pariwisata dan Pertanian di SMKN 1 Petang: Membangun Masa Depan Berkelanjutan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co