23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rempah-Rempah dalam Perdagangan dan Kebudayaan Bali Utara

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 4, 2024
in Esai
Rempah-Rempah dalam Perdagangan dan Kebudayaan Bali Utara
  • Artikel ini adalah hasil dari seminar “Khazanah Rempah dalam Lontar”, program khusus Singaraja Literary Festival 2024, yang didukung Direktorat PPK (Pengembangan & Pemanfaatan Kebudayaan), Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, 23-25 Agustus 2024.

SEJAK zaman dahulu, perairan, khususnya pantai, telah menjadi jalur perdagangan penting yang menghubungkan berbagai wilayah, baik dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu komoditas utama yang diperdagangkan melalui jalur laut ini adalah rempah-rempah, yang menjadi daya tarik utama bagi pedagang dari berbagai belahan dunia. Di Bali Utara, khususnya di Kabupaten Buleleng, jalur perdagangan ini telah memainkan peran penting dalam sejarah kawasan tersebut.

Pantai Bali Utara, dengan pelabuhan-pelabuhannya yang strategis, menjadi saksi bisu aktivitas perdagangan yang berlangsung selama berabad-abad. Beberapa pelabuhan seperti Pelabuhan Julah, Pantai Sembiran, dan Pacung dikenal sebagai tempat penting dalam transaksi jual beli dan bongkar muat barang pada masa lalu. Banyak benda peninggalan sejarah yang ditemukan di dasar perairan ini, yang diduga berasal dari aktivitas perdagangan pada masa lampau. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa Bali Utara memiliki peran yang sangat strategis dalam jaringan perdagangan internasional, terutama dalam perdagangan rempah-rempah.

Dalam literatur kuno, seperti buku Suma Oriental yang ditulis oleh Tome Pires, Bali disebut sebagai salah satu pusat perdagangan yang penting dalam jaringan perdagangan Asia daratan dan India pada awal abad Masehi. Rempah-rempah seperti cengkih, kayu manis, dan kayu cendana dari Indonesia Timur telah dikenal dalam literatur India seperti Ramayana dan Jataka, serta oleh penulis Romawi dan Yunani. Perdagangan rempah-rempah ini tidak hanya berkontribusi pada perekonomian, tetapi juga pada perkembangan budaya dan peradaban di Bali dan Indonesia secara keseluruhan.

Banyak gerabah India dengan corak rolet ditemukan di situs-situs seperti Sembiran, Julah, dan Pacung. Selain itu, lempengan daun emas penutup mata juga ditemukan di situs Gilimanuk. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa Bali Utara memiliki hubungan perdagangan yang erat dengan India dan Cina, bahkan hingga daerah Mediterania dan Mesir.

Di situs Sembiran, misalnya, ditemukan gerabah dari Dinasti Han, sementara di situs Pangkungparuk ditemukan dua keping cermin perunggu. Ini menunjukkan bahwa Bali Utara tidak hanya menjadi jalur perdagangan, tetapi juga tempat pertukaran budaya dan teknologi.

Rempah-rempah memiliki peran yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam praktik budaya dan spiritual. Dalam naskah kuno seperti lontar Rukmini Tattwa serta Indrani Sastra.

Dalam Indrani Sastra, rempah-rempah disebutkan sebagai bahan utama dalam perawatan tubuh, terutama untuk perawatan rambut. Sementara dalam lontar Rukmini Tattwa rempah-rempah digunakan dalam perawatan di bidang seksualitas baik pria maupun wanita.

Saat ini salah satu jenis rempah yang masih digunakan sebagai perawatan rambut adalah kemiri. Dalam sejarah pertanian di Bali, Buleleng dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kemiri terbesar, bersama dengan Gianyar dan Karangasem.

Kemiri bukan hanya sekadar rempah yang menambah cita rasa masakan, tetapi juga memiliki peran penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali, baik dari segi kuliner, kesehatan, kecantikan, hingga spiritualitas.

Dengan tekstur berminyak dan rasa lembutnya, kemiri telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masakan tradisional Bali, khususnya dalam Base Genep, campuran bumbu lengkap yang menjadi dasar dari hampir semua hidangan tradisional Bali.

Dalam dunia kesehatan dan kecantikan, minyak kemiri telah lama dikenal sebagai bahan alami yang kaya manfaat, terutama dalam perawatan rambut. Kandungan nutrisi yang tinggi dalam minyak kemiri membuatnya mampu menghitamkan dan menyuburkan rambut, sehingga rambut tampak lebih tebal dan berkilau.

Penggunaan minyak kemiri ini telah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun masyarakat Bali, baik oleh perempuan maupun laki-laki. Tradisi ini menunjukkan betapa pentingnya kemiri dalam menjaga penampilan dan kesehatan tubuh, sejalan dengan nilai-nilai budaya Bali yang menghargai keindahan alamiah.

Selain itu, kemiri juga memiliki peran penting dalam dunia literasi tradisional Bali. Dalam proses penulisan di atas daun lontar, kemiri digunakan sebagai penghitam tulisan. Kemiri yang dibakar mampu menghasilkan warna yang pekat, sehingga tulisan di atas lontar menjadi lebih jelas dan tahan lama.

Tulisan lontar yang diolesi kemiri bakar ini bisa bertahan hingga ratusan tahun, menjadi saksi bisu dari perjalanan sejarah dan kebudayaan Bali. Penggunaan kemiri dalam literasi tradisional ini memperkuat posisinya sebagai simbol keberlanjutan tradisi dan warisan budaya.

Kemiri juga memiliki nilai sakral dalam kebudayaan Bali, terbukti dari berbagai prasasti kuno yang menyebutkan kemiri sebagai salah satu pohon keramat. Salah satu prasasti yang mengungkapkan hal ini adalah Prasasti Baturan, yang berangka tahun 941 Saka.

Pohon kemiri dianggap sebagai pohon yang memiliki roh pelindung yang harus dihormati. Penebangan pohon ini tanpa izin dianggap sebagai pelanggaran besar yang bisa berakibat pada hukuman berat. Larangan ini bukan hanya soal menjaga kelestarian alam, tetapi juga mencerminkan keyakinan spiritual masyarakat Bali pada masa itu. Kemiri dianggap memiliki kekuatan mistis yang dapat melindungi desa dan penduduknya dari bencana.

Selain dalam konteks spiritual, kemiri juga memiliki peran penting dalam dunia perdagangan rempah-rempah di masa lampau. Jalur perdagangan rempah di pantai utara Bali menjadi jalur yang sering dilewati para pedagang dari berbagai wilayah, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa pelabuhan di pantai utara Bali, seperti pelabuhan Julah, menjadi saksi aktivitas jual-beli dan bongkar muat barang pada masa lampau. Temuan gerabah dari India dan Cina di situs Sembiran, Julah, dan Pacung menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara Bali dengan India dan Cina melalui jalur perdagangan rempah-rempah.

Rempah-rempah, termasuk kemiri, tidak hanya memiliki nilai ekonomis, tetapi juga simbolik. Dalam catatan-catatan kuno di Jazirah Arab, Romawi, Yunani, India, Mesopotamia, Tiongkok hingga Mesir, rempah-rempah diyakini sebagai obat penyembuh dan digunakan dalam praktek seksualitas serta memiliki sisi mistik. Rempah-rempah dianggap sebagai buah dari surga yang memiliki keajaiban dan energi yang tidak terbayangkan.

Dalam buku “Sejarah Rempah: Dari Erotisme Sampai Imperialisme” karya Jack Turner, rempah-rempah disebutkan sebagai bahan alami yang digunakan untuk meningkatkan gairah, vitalitas, dan menarik perhatian lawan jenis. Pada zaman dahulu, rempah-rempah bahkan setara dengan emas karena khasiatnya yang luar biasa.

Selain itu, rempah-rempah juga digunakan dalam praktik tradisional seperti ratus vagina, yang dilakukan untuk merawat area intim wanita. Ratus vagina adalah perawatan tradisional yang dilakukan dengan pengasapan organ intim menggunakan campuran rempah-rempah seperti kunyit, daun sirih, buah pinang, dan cendana. Perawatan ini dipercaya dapat membersihkan, mengharumkan, dan menjaga kesehatan area intim wanita, sekaligus meningkatkan kepuasan seksual bagi pasangan yang sudah menikah. Penggunaan rempah-rempah dalam praktik ini menunjukkan bahwa rempah-rempah tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki nilai budaya dan spiritual yang tinggi.

Jack Turner menyoroti bahwa rempah-rempah memiliki sisi lain selain sebagai obat penyembuh. Rempah-rempah juga digunakan sebagai bahan alami dalam praktik seksualitas dan dianggap memiliki sisi mistik yang kuat, sehingga dijuluki sebagai “buah dari surga.” Khasiat rempah-rempah dalam meningkatkan gairah, vitalitas, dan merawat area vital perempuan dan laki-laki membuatnya sangat dihargai dan setara dengan emas pada masa lalu.[T]

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Tentang Petani Cengkeh, Berkah dan Masalah,  serta Surga dan Neraka
Sumbangsih Rempah-Rempah dalam Mengaya Metafora Bahasa Bali
Rempah Paling Queer: Sebuah Pertanyaan yang Masih Menggantung
Menebak Aroma Sihir Janda Jirah
Tags: jalur rempahrempahseri rempahSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Petani Cengkeh, Berkah dan Masalah,  serta Surga dan Neraka

Next Post

Ritus Tari Seblang Bakungan dan Imaji Kontemporer Masyarakat Pedesaan di Masa Lalu

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Ritus Tari Seblang Bakungan dan Imaji Kontemporer Masyarakat Pedesaan di Masa Lalu

Ritus Tari Seblang Bakungan dan Imaji Kontemporer Masyarakat Pedesaan di Masa Lalu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co