24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manfaat Filsafat di Zaman Milenial

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
August 29, 2024
in Esai
Manfaat Filsafat di Zaman Milenial

Henry Manampiring saat menjadi narasumber dalam panel diskusi "Filsafat, Sains, dan Sastra" bersama Dee Lestari dan Henry Manampiring | Foto: SLF/Gus Prim

—Terkhusus buat Gen Z

ADA perasaan mengganjal selepas mengikuti diskusi bersama dua penulis nasional, Dewi Lestari dan Henry Manampiring yang dilaksanakan di Museum Buleleng pagi hingga siang akhir pekan kemarin, Sabtu, 24 Agustus 2024. Antusias peserta mengajukan pertanyaan membuat waktu dua jam tak terasa, bahkan terik matahari Kota Singaraja yang terkenal menyengat tak surutkan niat peserta untuk mengikuti diskusi ini sampai akhir. Panel diskusi tersebut bertajuk “Filsafat, Sains, dan Sastra”, salah satu mata acara dalam Singaraja Literary Festival 2024.

Saya dapat kesempatan pertama untuk mengajukan pertanyaan, dan saya pilih menyampaikan kesan saya pada karya Dee. Untuk menghormati peserta lain yang juga antusias bertanya, pertanyaan untuk Henry Manampiring yang sudah saya siapkan beberapa hari sebelumnya terpaksa tak jadi saya ajukan saat itu. Biar tak mubazir, pertanyaan itu akan saya tuliskan hari ini dengan dua harapan. Pertama, media yang saya kirimi memuatnya. Yang kedua, Henry Manampiring, sebagai pihak yang dituju sempat membaca tulisan ini.

Penulis (baju putih) duduk di antara peserta panel diskusi “Filsafat, Sains, dan Sastra” bersama Dee Lestari dan Henry Manampiring | Foto: SLF/Gus Prim

Pertanyaannya sangat singkat, “Apakah masih berguna kita membaca filsafat hari ini?”

Saya berkaca pada dua hal yang menggelitik. Saya sempat membaca sebuah meme, entah benar atau cuma rekaan, dialog seorang wanita muda dengan kenalannya seorang mahasiswa. Segalanya terlihat sempurna, sampai saat ditanya jurusan/fakultas si pria.

Saat yang bersangkutan menjawab kuliah filsafat, langsung ditanggapi dengan tragis. “Sepertinya kita tak boleh berhubungan lagi. Kata ibu saya, pria yang belajar filsafat nanti gampang menjadi gila,” begitu kata si wanita.

Betapa menyedihkan kenyataan ini. Situasi berikutnya saya ingat terjadi polemik hangat terkait peran filsafat dibanding sains dalam menyelesaikan persoalan dunia (ini sudah saya bahas dalam tulisan terdahulu). Goenawan Mohamad (GM) di pihak filsafat sudah langsung angkat tangan, dengan ungkapannya tentang filsafat. “Filsafat itu ibarat burung pungguk Minerva, yang baru keluar kandang di senja hari, saat burung lainnya sudah pulang ke rumah”.

Tak perlu rasanya saya jelaskan pesimisme beliau akan guna filsafat dalam kehidupan kita bermasyarakat. Akhirnya pertanyaan itu mendapatkan pembenarannya kembali, untuk apa kita bersusah-susah membaca buku filsafat, saat banyak buku pilihan lain yang tersedia, saat tak banyak lagi orang yang berniat membaca buku. Betapa tragisnya pilihan kita tetap ber-filsafat.

Sesungguhnya bung Henry Manmpiring telah menjelaskannya panjang lebar, dengan indah dan telihat sangat masuk akal dalam tulisannya sebelum acara diskusi ini berlangsung dan dimuat di media kesayangan kita (Filsafat, Jalan Ninja Ide Hebat).

Singkatnya dari tulisan itu, filsafat menurut beliau akan memperkaya sudut pandang kita dalam kegitan menulis. Membuat tulisan kita akan lebih dalam, komperehensif, dan menimbulkan sudut pandang baru bagi pembacanya, clear.

Henry Manampiring saat menjadi narasumber dalam panel diskusi “Filsafat, Sains, dan Sastra” bersama Dee Lestari dan Henry Manampiring | Foto: SLF/Gus Prim

Membaca filsafat akan sangat berguna untuk para penulis atau mereka yang tertarik pada dunia tulis menulis. Pertanyaan besarnya, apa manfaat filsafat bagi kita yang bukan penulis, apa manfaat filsafat bagi masyarakat secara luas.

Rasanya waktu dua jam tak akan cukup untuk menjawab pertanyaan ini secara memuaskan.

***

Saya akan coba membedahnya berdasarkan pemahaman pribadi saya, manfaat filsafat pada dua bidang yang saya tekuni dan cukup membuat saya antusias. Manfaat ilmu filsafat pada remaja, generasi penerus kita, dan manfaat filsafat untuk gangguan mental individu atau masyarakat.

Remaja, generasi muda semestinya tersentuh filsafat dalam skala sederhana untuk kehidupan mereka yang lebih berarti nantinya. Lalu ini tanggung jawab siapa? Begitu pertanyaan selanjutnya.

Saya pernah baca seorang GM yang menyukai sastra, filsafat, pada masa mudanya, memilih kuliah psikologi karena dia menganggap di sana dia akan menemukan semua yang menjadi kegemarannya itu. Meskipun beliau tak sampai tamat di sana, saya sepakat yang paling mendekati urusan ini adalah ilmu psikologi, para psikolog.

Beberapa minggu yang lalu saya menghadiri acara promosi doktoral seorang sahabat psikiater, selintas saya dengar presentasi beliau tentang peningkatan kapasitas guru BK untuk menangani masalah mental ringan anak-anak kita di sekolah.

Saya mengambil kesimpulan ringan, guru BK yang sedikit tahu tentang teori Eksistensialisme (ucapan Bung Henry waktu diskusi) akan lebih mampu mengarahkan anak didik kita, tentang siapa diri mereka, apa tujuan hidup mereka nantinya. Saya berkeyakinan mereka yang lebih awal mengetahui tujuan hidupnya akan lebih berbahagia nantinya, terlepas dari kesuksesan yang mereka raih.

Kalau dari awal mereka lebih mengenali dirinya, mengetahui tujuan hidupnya dan ini mencakup lebih banyak remaja kita hari ini, generasi emas 2045 tak akan berubah menjadi generasi cemas 2045.

Hal lain yang saya tangkap dari diskusi kemarin. Filsafat tak seribet itu, apapun yang bisa membuatmu lebih bijaksana, yang membuatmu punya sudut pandang yang luas itulah filsafat. 

Sebuah contoh sederhana, yang mudah-mudahan tak menyinggung siapapun, bisa saya tuliskan seperti ini. Pembangunan yang massif, jaminan kesehatan seluruh rakyat, subsidi bahan bakar yang dibiayai dari utang mestinya bisa kita awasi bersama.

Sikap-sikap mula keto, cerminan pikiran sempit dan pendek musti kita buang jauh-jauh. Karena politik maka pantas kotor, mana ada politik bersih. Sikap membandingkan yang asal, semua negara di dunia berutang, kenapa kita tidak.

Dee Lestari saat menjadi narasumber dalam panel diskusi “Filsafat, Sains, dan Sastra” bersama Dee Lestari dan Henry Manampiring | Foto: SLF/Gus Prim

Kalau hal-hal seperti itu bisa dikurangi apalagi dihilangkan oleh generasi Z hari ini, saya merasa kita bisa cukup optimis, tahun 2045 bukan lagi emas, mungkin bisa jadi generasi berlian.

Manfaat filsafat berikutnya yang mungkin lebih bisa kita rasakan nanti adalah terkait kesehatan mental individu atau masyarakat. Mengapa saya menulisnya begini, karena saya sempat membaca feature Bung Henry di majalah Tempo alasan pertama beliau menyukai filsafat karena beliau sempat mengalami depresi.

Masalah kesehatan mental ini perlu menjadi perhatian kita bersama. Koran nasional KOMPAS membuat tulisan bersambung sampai 19 edisi yang sangat komperehensif tentang kesehatan mental.

Seandainya Bung Henry Manampiring bisa membuat tulisan yang bagus tentang peran filsafat bagi kesehatan mental individu/masyarakat. Itu akan menjadi tulisan ke 20 yang akan membuat tulisan investigasi Kompas Itu menjadi paripurna.

Sebuah harapan kecil dari seorang pembaca Kompas dan penikmat tulisan Bung Henry Manampiring, semoga..[T]

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Menelusuri Jejak Pembahasan Pertanian dalam Sastra Dulu dan Kini
Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film
Merayakan Lontar, Sastra, dan Kebudayaan di Singaraja Literary Festival 2024
Tags: filsafatsainssastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jika Sawah Sudah Tak Ada, di Mana Manusia akan Menanam?

Next Post

Free Kids Corner: Ruang Ramah Anak untuk Belajar dan Bermain di SLF 2024

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Free Kids Corner: Ruang Ramah Anak untuk Belajar dan Bermain di SLF 2024

Free Kids Corner: Ruang Ramah Anak untuk Belajar dan Bermain di SLF 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co