23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manfaat Filsafat di Zaman Milenial

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
August 29, 2024
in Esai
Manfaat Filsafat di Zaman Milenial

Henry Manampiring saat menjadi narasumber dalam panel diskusi "Filsafat, Sains, dan Sastra" bersama Dee Lestari dan Henry Manampiring | Foto: SLF/Gus Prim

—Terkhusus buat Gen Z

ADA perasaan mengganjal selepas mengikuti diskusi bersama dua penulis nasional, Dewi Lestari dan Henry Manampiring yang dilaksanakan di Museum Buleleng pagi hingga siang akhir pekan kemarin, Sabtu, 24 Agustus 2024. Antusias peserta mengajukan pertanyaan membuat waktu dua jam tak terasa, bahkan terik matahari Kota Singaraja yang terkenal menyengat tak surutkan niat peserta untuk mengikuti diskusi ini sampai akhir. Panel diskusi tersebut bertajuk “Filsafat, Sains, dan Sastra”, salah satu mata acara dalam Singaraja Literary Festival 2024.

Saya dapat kesempatan pertama untuk mengajukan pertanyaan, dan saya pilih menyampaikan kesan saya pada karya Dee. Untuk menghormati peserta lain yang juga antusias bertanya, pertanyaan untuk Henry Manampiring yang sudah saya siapkan beberapa hari sebelumnya terpaksa tak jadi saya ajukan saat itu. Biar tak mubazir, pertanyaan itu akan saya tuliskan hari ini dengan dua harapan. Pertama, media yang saya kirimi memuatnya. Yang kedua, Henry Manampiring, sebagai pihak yang dituju sempat membaca tulisan ini.

Penulis (baju putih) duduk di antara peserta panel diskusi “Filsafat, Sains, dan Sastra” bersama Dee Lestari dan Henry Manampiring | Foto: SLF/Gus Prim

Pertanyaannya sangat singkat, “Apakah masih berguna kita membaca filsafat hari ini?”

Saya berkaca pada dua hal yang menggelitik. Saya sempat membaca sebuah meme, entah benar atau cuma rekaan, dialog seorang wanita muda dengan kenalannya seorang mahasiswa. Segalanya terlihat sempurna, sampai saat ditanya jurusan/fakultas si pria.

Saat yang bersangkutan menjawab kuliah filsafat, langsung ditanggapi dengan tragis. “Sepertinya kita tak boleh berhubungan lagi. Kata ibu saya, pria yang belajar filsafat nanti gampang menjadi gila,” begitu kata si wanita.

Betapa menyedihkan kenyataan ini. Situasi berikutnya saya ingat terjadi polemik hangat terkait peran filsafat dibanding sains dalam menyelesaikan persoalan dunia (ini sudah saya bahas dalam tulisan terdahulu). Goenawan Mohamad (GM) di pihak filsafat sudah langsung angkat tangan, dengan ungkapannya tentang filsafat. “Filsafat itu ibarat burung pungguk Minerva, yang baru keluar kandang di senja hari, saat burung lainnya sudah pulang ke rumah”.

Tak perlu rasanya saya jelaskan pesimisme beliau akan guna filsafat dalam kehidupan kita bermasyarakat. Akhirnya pertanyaan itu mendapatkan pembenarannya kembali, untuk apa kita bersusah-susah membaca buku filsafat, saat banyak buku pilihan lain yang tersedia, saat tak banyak lagi orang yang berniat membaca buku. Betapa tragisnya pilihan kita tetap ber-filsafat.

Sesungguhnya bung Henry Manmpiring telah menjelaskannya panjang lebar, dengan indah dan telihat sangat masuk akal dalam tulisannya sebelum acara diskusi ini berlangsung dan dimuat di media kesayangan kita (Filsafat, Jalan Ninja Ide Hebat).

Singkatnya dari tulisan itu, filsafat menurut beliau akan memperkaya sudut pandang kita dalam kegitan menulis. Membuat tulisan kita akan lebih dalam, komperehensif, dan menimbulkan sudut pandang baru bagi pembacanya, clear.

Henry Manampiring saat menjadi narasumber dalam panel diskusi “Filsafat, Sains, dan Sastra” bersama Dee Lestari dan Henry Manampiring | Foto: SLF/Gus Prim

Membaca filsafat akan sangat berguna untuk para penulis atau mereka yang tertarik pada dunia tulis menulis. Pertanyaan besarnya, apa manfaat filsafat bagi kita yang bukan penulis, apa manfaat filsafat bagi masyarakat secara luas.

Rasanya waktu dua jam tak akan cukup untuk menjawab pertanyaan ini secara memuaskan.

***

Saya akan coba membedahnya berdasarkan pemahaman pribadi saya, manfaat filsafat pada dua bidang yang saya tekuni dan cukup membuat saya antusias. Manfaat ilmu filsafat pada remaja, generasi penerus kita, dan manfaat filsafat untuk gangguan mental individu atau masyarakat.

Remaja, generasi muda semestinya tersentuh filsafat dalam skala sederhana untuk kehidupan mereka yang lebih berarti nantinya. Lalu ini tanggung jawab siapa? Begitu pertanyaan selanjutnya.

Saya pernah baca seorang GM yang menyukai sastra, filsafat, pada masa mudanya, memilih kuliah psikologi karena dia menganggap di sana dia akan menemukan semua yang menjadi kegemarannya itu. Meskipun beliau tak sampai tamat di sana, saya sepakat yang paling mendekati urusan ini adalah ilmu psikologi, para psikolog.

Beberapa minggu yang lalu saya menghadiri acara promosi doktoral seorang sahabat psikiater, selintas saya dengar presentasi beliau tentang peningkatan kapasitas guru BK untuk menangani masalah mental ringan anak-anak kita di sekolah.

Saya mengambil kesimpulan ringan, guru BK yang sedikit tahu tentang teori Eksistensialisme (ucapan Bung Henry waktu diskusi) akan lebih mampu mengarahkan anak didik kita, tentang siapa diri mereka, apa tujuan hidup mereka nantinya. Saya berkeyakinan mereka yang lebih awal mengetahui tujuan hidupnya akan lebih berbahagia nantinya, terlepas dari kesuksesan yang mereka raih.

Kalau dari awal mereka lebih mengenali dirinya, mengetahui tujuan hidupnya dan ini mencakup lebih banyak remaja kita hari ini, generasi emas 2045 tak akan berubah menjadi generasi cemas 2045.

Hal lain yang saya tangkap dari diskusi kemarin. Filsafat tak seribet itu, apapun yang bisa membuatmu lebih bijaksana, yang membuatmu punya sudut pandang yang luas itulah filsafat. 

Sebuah contoh sederhana, yang mudah-mudahan tak menyinggung siapapun, bisa saya tuliskan seperti ini. Pembangunan yang massif, jaminan kesehatan seluruh rakyat, subsidi bahan bakar yang dibiayai dari utang mestinya bisa kita awasi bersama.

Sikap-sikap mula keto, cerminan pikiran sempit dan pendek musti kita buang jauh-jauh. Karena politik maka pantas kotor, mana ada politik bersih. Sikap membandingkan yang asal, semua negara di dunia berutang, kenapa kita tidak.

Dee Lestari saat menjadi narasumber dalam panel diskusi “Filsafat, Sains, dan Sastra” bersama Dee Lestari dan Henry Manampiring | Foto: SLF/Gus Prim

Kalau hal-hal seperti itu bisa dikurangi apalagi dihilangkan oleh generasi Z hari ini, saya merasa kita bisa cukup optimis, tahun 2045 bukan lagi emas, mungkin bisa jadi generasi berlian.

Manfaat filsafat berikutnya yang mungkin lebih bisa kita rasakan nanti adalah terkait kesehatan mental individu atau masyarakat. Mengapa saya menulisnya begini, karena saya sempat membaca feature Bung Henry di majalah Tempo alasan pertama beliau menyukai filsafat karena beliau sempat mengalami depresi.

Masalah kesehatan mental ini perlu menjadi perhatian kita bersama. Koran nasional KOMPAS membuat tulisan bersambung sampai 19 edisi yang sangat komperehensif tentang kesehatan mental.

Seandainya Bung Henry Manampiring bisa membuat tulisan yang bagus tentang peran filsafat bagi kesehatan mental individu/masyarakat. Itu akan menjadi tulisan ke 20 yang akan membuat tulisan investigasi Kompas Itu menjadi paripurna.

Sebuah harapan kecil dari seorang pembaca Kompas dan penikmat tulisan Bung Henry Manampiring, semoga..[T]

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Menelusuri Jejak Pembahasan Pertanian dalam Sastra Dulu dan Kini
Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film
Merayakan Lontar, Sastra, dan Kebudayaan di Singaraja Literary Festival 2024
Tags: filsafatsainssastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jika Sawah Sudah Tak Ada, di Mana Manusia akan Menanam?

Next Post

Free Kids Corner: Ruang Ramah Anak untuk Belajar dan Bermain di SLF 2024

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Free Kids Corner: Ruang Ramah Anak untuk Belajar dan Bermain di SLF 2024

Free Kids Corner: Ruang Ramah Anak untuk Belajar dan Bermain di SLF 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co