30 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rason Wardjojo, Gitaris Cilik, dan Bagaimana Ia Mengenal Jazz

Jaswanto by Jaswanto
August 6, 2024
in Persona
Rason Wardjojo, Gitaris Cilik, dan Bagaimana Ia Mengenal Jazz

Rason sedang serius memainkan gitarnya di Panggung Padi UVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

DI salah satu panggung Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2024, dengan kepercayaan diri seorang bintang, anak kecil itu duduk dengan tenang sambil memangku gitar kesayangannya. Sementara tiga pemuda yang berumur jauh lebih tua darinya, bersiap mengiringi dan melengkapi repertoarnya. Ketiga pemuda yang dimaksud masing-masing bertugas memainkan drum, piano, dan kontrabass.

Melihat gayanya duduk, kilat matanya, dan caranya menyapa pengunjung, meski umurnya masih 12 tahun, tentu dia bukan seorang amatir. Apalagi menyaksikan betapa luwes jari-jari kecilnya saat memetik gitar—memainkan melodi-melodi jazz yang menenangkan, kalau bukan melenakan.

Pada saat senja yang keemasan jatuh tepat di Panggung Padi UVJF 2024, anak kecil yang manis dan berbakat itu sedang memainkan repertoar Nica’s Dream—kalau tidak salah, komposisi ini digarap oleh Horace Silver pada tahun 1954. Tapi yang lebih mengejutkan, setelah memainkan Moanin, di depan puluhan pasang mata, dia membawakan Rain of Love, komposisi yang ia ciptakan sendiri.

Rason di Panggung Padi UVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Son

Komposisi Rain of Love mengalun lembut, tenang, dan… barangkali terdengar romantis? Tapi yang jelas, dengan suasana sore yang hangat, repertoar itu cukup menenangkan. Ada semacam perasaan damai saat jari-jari kecil itu memetik senar-senar gitarnya.

Pengunjung bergeming. Menyunggingkan bibir sambil menggerakkan kepala ke kanan-ke kiri dengan lembut. Seorang perempuan berambut pirang bahkan menyandarkan kepalanya ke pundak kekasihnya. Mereka bedua saling pandang.

Sore itu, anak kecil di panggung UVJF itu membawakan tujuh komposisi musik: Nica’s Dream, Moanin, Rain of Love (single), sebagaimana telah disinggung di atas, Blue Monk, Our Spanish Love Songs, Four, dan Solar.    

Benar. Di atas adalah sedikit gambaran penampilan Rason Wardjojo, gitaris cilik yang berbakat, di panggung Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024. Pada saat itu ia menjadi pusat perhatian dan decak-kagum—dan dia memang layak mendapatkannya.

Penampilannya yang menawan telah membuat penonton terkesan dan terkesima, sehingga memacak kenangan yang tak terlupakan bagi mereka yang melihat dan mendengarkannya. Sore itu, Rason panen apresiasi. Ia membuat wajah ayah dan ibunya berseri-seri. Pula mereka yang sedang dimabuk asmara.

Rason sedang serius memainkan gitarnya di Panggung Padi UVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Rason masih kecil. Baru duduk di bangku kelas enam Sekolah Dasar. Tapi ia memainkan melodi semudah membentuk plastisin menjadi rupa-rupa. Menurut Rusli Wardjojo, ayah Rason, bak anak ajaib, gitaris cilik kelahiran Jakarta, 29 Maret 2012 ini mulai memainkan gitar sejak umur 3 tahun.

“Saat dikasih ukulele, dia bisa memainkan melodi. Saat itu juga dia mulai menonton YouTube dan belajar melodi lagu anak kecil,” terang Rusli kepada tatkala.co di belakang panggung seusai Rason pentas, Jumat (2/8/2024) sore.

Setelah bisa memainkan melodi lagu anak-anak, karena Rusli senang memutar dan mendengarkan lagu-lagu rock, oldies, blues, dan jazz di rumah, sekali lagi bak anak ajaib, dengan cepat Rason mempelajari melodinya. Sebagai ayah, ia pun tak percaya dengan bakat anaknya sendiri.

“Kemampuan musik Rason berkembang dari lagu anak-anak ke genre seperti oldies, blues, rock, dan jazz,” terang Rusli. Namun, perjalanan musik Rason yang lebih serius, katakanlah begitu, baru dimulai pada usia 8 tahun.

Di umurnya saat itu, sebelum Pandemi Covid-19, sebagai orang tua, Rusli merasa memiliki kewajiban untuk mendukung—dalam hal apa pun—bakat yang anaknya miliki. Rusli mulai mengenalkan teori musik kepada Rason.

Sejak saat itu Rason memamah teori-teori musik klasik dan mulai memupuk keberanian pentas di muka umum—walaupun banyak anak seumurannya yang memilih diam di kamarnya yang nyaman dengan akses internet pula gawai yang menyala nyaris sepanjang hari. Rason seperti tak mau menjadi anak kebanyakan.

Keberanian Rason tampil di panggung mendapat banyak apresiasi—pula puja-puji. Di Jakarta, sekali lagi sebelum pandemi, banyak orang dan komunitas yang mengajaknya pentas dan kolaborasi. Tetapi pada saat Covid-19 meluluhlantakkan tatanan, saat segala aktivitas dibatasi dan diawasi, Rason sempat berhenti manggung.

Rason sedang serius memainkan gitarnya di Panggung Padi UVJF 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Setelah pandemi kami lebih banyak main-main ke Bali. Di Bali, ternyata Rason banyak diajak main sana-main sini. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke Bali. Di sini dia belajar teori tentang jazz—karena di sini banyak komunitas jazz. Saat ini dia juga lebih banyak mendalami musik jazz,” kata Rusli.

Sejak setahun yang lalu, Rason dan keluarganya pindah dari Jakarta ke Bali. Rusli mengatakan karena di Bali, tidak hanya jazz, tapi juga musik lainnya, lebih mudah diakses daripada di Jakarta. Ekosistem musik, khususnya jazz, sebagaimana pernah dikatakan Yuri Mahatma, Co-founder UVJF dalam sebuah wawancara, jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia, ekosistem di Bali cukup bagus.

Dan jadilah Rason cilik masuk dalam pergaulan jazz. Mungkin ia juga sudah mendapat nama panggilannya sendiri—sebuah panggilan khusus. Ya, bagi para seniman jazz, bukankah diberi nama panggilan pada dasarnya adalah sebuah ritus peralihan?

Louis Armstrong dipanggil “Satchmo”, kependekan dari “Satchelmouth” yang disertai dengan berbagai kisah dan kemungkinan asal usul. Dizzy Gillespie dijuluki demikian karena kejenakaannya yang tidak menentu di atas panggung. Dan Frank Sinatra dipanggil “Ketua Dewan” selama masa jabatannya sebagai Presiden Reprise Records dan memperoleh nama “Ol’ Blue Eyes” karena, yah, matanya yang biru.

Dalam dunia jazz, Rason sangat mengidolakan sosok Pat Metheny, seorang pemain gitar jazz asal Amerika Serikat, peraih 3 album Gold dan 17 Grammy Award. Pantas saja Rason menyukainya. Pat memang musisi yang serba bisa, kemampuannya bermain dalam banyak lintas-genre terlihat dari pengalaman bermainnya dengan berbagai musisi terkenal. Sebuah pencapaian yang sulit ditandingi.

Namun, Rusli tak pernah memaksa Rason—atau melibatkan diri—dalam memilih kecenderungan atau ketertarikan kepada jenis musik tertentu. Dalam hal ini, Rusli mengaku, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Rason sendiri. “Itu tidak bisa dipaksakan, si,” dia berkata sambil tertawa. “Dia pengen main apa ya silakan,” lanjutnya sembari memperbaiki letak kacamatanya.

Rason tertawa pada saat diwawancarai | Foto: tatkala.co/Son

Pada Oktober 2023, Rason merilis single debutnya dengan tajuk “Rain of Love”. Ini menunjukkan pertumbuhan artistiknya yang begitu cepat dan bukti kecintaannya pada musik. “Dadakan aja. Lagi hujan tiba-tiba ketemu melodinya, lalu direkam. Improvisasi,” kata Rason malu-malu.

Di atas panggung UVJF 2024, meski terlihat percaya diri, ternyata Rason tetap memiliki rasa gerogi—walaupun sedikit, katanya. Dan ini membuat orang-orang di sekitarnya tertawa dan tak percaya. Sebab, penampilan anak kecil pecinta musik rock, blues, dan jazz ini, seperti tanpa cacat—kalau bukan sempurna. “Saya mau coba membuat komposisi baru. Tapi belum tahu kapan,” ucap Rason, polos.

Setahun yang lalu, Rason diundang berbincang di kanan YouTube Dewa Budjana—gitaris yang kondang itu. Dengan Budjana ia mengaku, sebelum memainkan gitar elektrik, lebih dulu Rason memetik gitar akustik. Tak hanya berbincang, bersama Dewa Budjana, Rason menunjukkan kepiawaiannya dalam memainkan melodi-melodi blues dan klasik. Dalam blues, nama-nama seperti Gary Moore, Eric Clapton, Jimi Hendrix, adalah idolanya.

“Kalau lagi mood, bisa belajar gitar selama tiga jam,” kata Rason kepada Dewa Budjana. Selain main gitar, Rason juga bisa memainkan bass, piano, dan kontrabas.

Rason termasuk anak yang ceria dalam takaran tertentu. Ia mudah akrab dengan orang baru. Pula selalu menunjukkan rasa ingin tahu yang besar yang terlihat dari sorot matanya. Setelah tampil di hari pertama festival, Rason tak lekas pulang. Ia duduk anteng di antara banyak orang dan menikmati penampilan musisi jazz yang lain.  Itu barangkali beberapa tanda “kebintangannya”.[T]

BACA artikel lain tentang UBUD VILLAGE JAZZ FESTIVAL

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Merayakan Jazz, Mencipta Kenangan, dan Mendengar Rasa dalam Bahasa Suara
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, Panggung Kebebasan Itu Telah Dibuka
Kendang Sunda dalam Flamenco dan Jazz: Indonesia dan Spanyol dalam Repertoar Adien Fazmail Quinteto di UVJF 2024
Tags: Sthala UbudUbud Village Jazz FestivalUVJF 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kendang Sunda dalam Flamenco dan Jazz: Indonesia dan Spanyol dalam Repertoar Adien Fazmail Quinteto di UVJF 2024

Next Post

Seni Instalasi Karya Polenk Rediasa Dibuat Dari Tulang Tengkorak “Sapi Duwe” di Desa Tambakan-Buleleng

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails

Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

by I Nyoman Darma Putra
February 26, 2026
0
Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Di tengah inisiatif repatriasi artefak atau warisan budaya Indonesia dari Belanda, ada usaha personal seorang peneliti Bali yang tinggal di...

Read moreDetails
Next Post
Seni Instalasi Karya Polenk Rediasa Dibuat Dari Tulang Tengkorak “Sapi Duwe” di Desa Tambakan-Buleleng

Seni Instalasi Karya Polenk Rediasa Dibuat Dari Tulang Tengkorak “Sapi Duwe” di Desa Tambakan-Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan
Esai

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi
Esai

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

by Angga Wijaya
April 28, 2026
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
Esai

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

by Asep Kurnia
April 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co