23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fyodor Dostoyevsky: Prolegomena tentang Penderitaan, Kegilaan, dan Kekonyolan

Made Ferry Kurniawan by Made Ferry Kurniawan
October 11, 2023
in Esai
Fyodor Dostoyevsky: Prolegomena tentang Penderitaan, Kegilaan, dan Kekonyolan

Fyodor Dostoyevsky

MEMPELAJARI Fyodor Dostoyevsky, seorang novelis terkenal asal Rusia, memerlukan ketekunan mendalam. Hal ini dikarenakan gaya berbahasa dan diksi yang digunakan dalam untaian narasinya bersifat satire, aforistik, anakronistik—bahkan “berbenturan” antara wacana satu dengan wacana lainnya.

Selingkung yang dihadirkan Dostoyevsky—dengan tendensi rumit—tidak lepas dari realitas hidup yang ia alami. Mulai dari pergumulan dengan sang ayah sampai rekaman memori tentang keadaan menyedihkan Rusia di masa lalu.

Fyodor Dostoyevsky memiliki nama lengkap Fyodor Mikhailovich Dostoyevsky. Ia lahir di Moskow, pada 30 Oktober 1821. Ayahnya berprofesi sebagai dokter tentara, sementara ibunya berasal dari keluarga pengusaha kaya.

Sejak usia remaja, Dostoyevsky mengalami kegelisahan karena melihat tabiat buruk sang ayah. Sebagai seorang dokter tentara, ayah Dostoyevsky menunjukkan sifat paradoks. Ia suka mabuk, bahkan suka bermain perempuan.

Sampai pada momen akhir, ayahnya meninggal karena dibunuh oleh para pekerja perkebunannya sendiri. Peristiwa itu “menubuh” dalam kedirian Dostoyevsky, sampai pengalaman tidak menyenangkan itu, terbawa dan mengilhami setiap tulisan-tulisannya.

Dalam rangka melakukan sublimasi atas memori buruk tersebut, ia mencari “pelampiasan” di luar rumah.

Pengalihan emosi itu dimulai dengan melihat penderitaan masyarakat Rusia yang mengalami kemiskinan, buta huruf, dan beragam penderitaan—dia tergerak untuk mengubah keadaan. Langkah pertama yang dilakukan ialah bergabung dengan Petrashevsky, sebuah kelompok revolusioner berhaluan kiri dan berkiblat pada pemikiran Charles Fourier.

Antitesa Chernyshevsky

Untuk memahami jalinan berpikir dan “simpul” paradigma Fyodor Dostoyevsky, ada beberapa karya yang harus dibaca. Beruntung, setelah kematiannya, karya-karya Dostoyevsky banyak diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Sehingga, saya yang hanya bisa berbahasa Inggris dan tidak bisa berbahasa Rusia, bisa menikmati setiap diksi penyair Rusia itu.

Beberapa karyanya antara lain: Insulted and Injured (1860), House of the Dead (1860), Notes from Underground (1864), The Brothers Karamazov (1878-1880), Crime and Punishment (1866), The Gambler (1866) dan The Idiot (1886-1869).

Karya-karya di atas cukup sulit untuk diakses, baik melalui libgen.rs atau beberapa kanal online lainnya. Dari ketujuh novel itu, hanya bisa diakses melalui toko buku berbahasa Inggris: Periplus.

Ciri khas Dostoyevsky yang ditampilkan melalui gaya bahasanya, memiliki kecendurangan untuk melihat dunia dengan kegelisahan. Sehingga, ia dapat dikatakan sebagai pemikir Rusia yang “hidup” di era modern. Fyodor Dostoyevsky menjadi antitesa dari Chernyshevsky (1828-1889).

Chernyshevsky melalui karyanya berjudul What Is Be Done? (1863) membangun argumentasi serta melakukan glorifikasi rasionalitas Eropa Barat, juga mentotalisasi mengenai karakter perfectibility manusia modern. Manusia modern yang berakal dan memaksimalisasi rasionalitasnya, dianggap sebagai “manusia ugahari dan ajeg”.

Untuk menggugat Chernyshevsky, Dostoyevsky menulis karya lain berjudul ‘The Dream of a Ridiculous Man, isinya berkaitan tentang falsifikasi, atau cara berpikir alternatif untuk menegasi glorifikasi rasioalitas.

Ia (Dostoyevsky) menawarkan cara berpikir untuk kembali pada knowledge tradition of Russia—tradisi berpikir yang mengarah pada anggapan bahwa rasionalitas tidak selalu menjadi jalan keluar atas suatu masalah, tetapi masalah dan penderitaan harus diafirmasi, karena melalui itu setiap manusia menjadi entitas reflektif.

Memaknai Penderitaan, Kegilaan, dan Kekonyolan

Fyodor Dostoyevsky melalui selingkung knowledge tradition of Russia, menekankan tentang arti penting penderitaan dan kegilaan. Baginya, penderitaan atau kegilaan bukanlah entitas yang harus dihindari. Entitas itu hadir, melekat dan inheren dalam realitas sosial manusia. Bahkan, term tentang suffering memiliki esensi edukatif.

Dostoyevsky menekankan bahwa untuk membangun “manusia yang ajeg”, bukan diawali dari sisi rasionalitasnya (kritik atas egoisme rasionalis Chernyshevsky), tetapi dari dimensi resiliensi. Bagaimana setiap individu mampu memaknai, menginterpretasi, dan menginternalisasikan kesulitan hidup.

Kemampuan berpikir atau akal sehat tidak selalu membuat manusia bahagia, justru rasionalitas menyebabkan penderitaan/keputusasaan. Daya tahan banting serta pembiasaan akan penderitaan atau kegilaan lebih bermakna—karena menciptakan kesadaran reflektif atas sesuatu yang terletak di jantung penderitaan.

Dengan menderita, kita mendekatkan diri pada realitas utuh, kompleksitas dan hakikat memanusiakan diri. Memahami derita atau kondisi gila menjadi jalan purgatorio dalam merekonfigurasi makna kemanusiaan diri, karena kondisi tidak menyenangkan memberikan pembelajaran seumur hidup, tidak peduli seberapa banyak hinaan, kesepiaan atau keterlemparan pada titik terendah.

Jalan purgatorio tidak diajarkan oleh egosime rasionalis, terutama pada era neoliberalisme. Hal ini disebabkan karena egoisme rasionalis mengajarkan manusia untuk bahagia dan “mencicipi” sedikit penderitaan. Menyecap derita dilakukan agar seolah-olah mereka merasa benar-benar hidup. Bagi Dostoyevsky ini adalah kekonyolan.

Penderitaan dan kegilaan adalah realitas enigmatik. Tetapi, kenyataan itu “menampar” manusia bahwa kehidupan yang sedang dijalani adalah perjalanan fana (tidak abadi) (Ivanists, 2008). “Tamparan” tersebut membawa manusia pada dimensi pencarian. Pencarian akan makna inilah membuat mereka menjadi mengetahui—mengetahui tentang naluri serta cara memelihara diri. Sekalipun enigma dari hasil perenungan tentang penderitaan atau kegilaan dapat merusak hidup dan ekspektasi.

Namun, kemampuan berpikir reflektif tersebut mengantarkan individu pada beragam probabilitas, kemungkinan baru tentang keberadaan dirinya dengan dunia sekitar. Manusia yang reflektif akan terus mengalami ketidaknyamanan, terombang-ambing, ketidakpastian serta sepenuhnya tidak akan pernah puas.

Definisi tentang “manusia ajeg” tidak lagi mengandalkan kemampuan bernalar, tetapi terus-menerus mencari makna dalam hidup, sekaligus memertimbangkan different voice intuisinya (Roberts, 2005).

Dostoyevsky menyadari bahwa kesadaran mendalam tidak hadir melalui kebahagiaan. Kesadaran itu hadir dari penderitaan dan tersandungnya manusia ketika mereka belajar untuk hidup. Kita harus sadar diri dalam keputusasaan, sadar akan kekurangan juga dengan kegagalan.

Dari hal di atas bisa dipahami tentang linieritas berpikir Dostoyevsky bahwa manusia pada dasarnya adalah entitas yang kesepian, mereka tidak mampu melarikan diri dari fakta bahwa antara individu dan kebenaran selalu berdiri di tengah masyarakat, sehingga terjadi relasi dialektis dalam kehidupan.

Dengan menderita, setiap individu mengalami kemunduran, demi mendapatkan kemendalaman hidup yang melangkah maju. Penderitaan mengandung arti proses formasi (bildung), membutuhkan interpretasi ulang dengan perspektif yang mencerahkan.

Selain itu, mengalami ketersiksaan menjadikan kita menerima liminalitas diri dalam memahami sesuatu yang unexplainable (Herbillon, 2020; Jones, 1971). Karena dengan merasakan ketidaknyamanan atau kegilaan, manusia mampu mencapai kemendalaman dan membentuk jenis “pertobatan baru”—memanipulasi emosi negatif ke dalam penerimaan, mendegradasi hasrat impulsif sekaligus persisten dalam mendeterminasi diri dengan keterpasrahan (Dostoevsky, 1958; Mitchell, 1975). Di sinilah untaian kebermaknaan penderitaan menurut Dostoyevsky.[T]

  • Daftar Pustaka
  • Dostoevsky, F. (1958). Fyodor Dostoevsky: Notes From Underground. American Behavioral Scientist, 1(6), 41–42. https://doi.org/10.1177/000276425800100614
  • Herbillon, M. (2020). Rewriting Dostoevsky: J. M. Coetzee’s The Master of Petersburg and The Perverted Truths of Biographical Fiction. Journal of Commonwealth Literature, 55(3), 391–405. https://doi.org/10.1177/0021989418823829
  • Ivanists, L. (2008). Dostoevsky and The Russian People (I (ed.)). Cambridge University Press.
  • Jones, M. (1971). Dostoevsky’ s Notebooks. Journal of European Studies, 2(3), 277–284. https://doi.org/10.1177/004724417200200305
  • Mitchell, J. (1975). Dostoevsky’s Image of Christ. The Expository Times, 86(7), 210–214. https://doi.org/10.1177/001452467508600710
  • Roberts, P. (2005). Freire and Dostoevsky: Uncertainty, Dialogue and Transformation. Journal of Transformative Education, 3(2), 126–139. https://doi.org/10.1177/1541344604273424
Sisi Lain D.N. Aidit: Tokoh PKI dan Aktivis Literasi
Jon Fosse, Nobel Sastra, dan Karya Minimalismenya
Pemikiran Soedjatmoko tentang Pendidikan Abad ke-21 dan Masa yang akan Datang
Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein
Aristokrasi Übermensch: Nietzsche Vs Politik Haus Kekuasaan
Filsafat Pendidikan Emansipatif Jacques Ranciére
Tags: filsafatRusiasastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sisi Lain D.N. Aidit: Tokoh PKI dan Aktivis Literasi

Next Post

Belajar dari Seorang Sopir: Jalanan Adalah Sekolah Terbaik

Made Ferry Kurniawan

Made Ferry Kurniawan

Mahasiswa S2 Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Belajar dari Seorang Sopir: Jalanan Adalah Sekolah Terbaik

Belajar dari Seorang Sopir: Jalanan Adalah Sekolah Terbaik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co