25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Ketut Suwela, Atlet Atletik 80-an, Berlari Sampai Thailand

Jaswanto by Jaswanto
September 13, 2023
in Persona
I Ketut Suwela, Atlet Atletik 80-an, Berlari Sampai Thailand

I Ketut Suwela | Foto: Dok. Suwela

“Saya latihan di pantai. Medan berpasir sangat cocok untuk membentuk otot kaki.”

DI BULAN INI, Singaraja sedang panas-panasnya. Rata-rata suhunya mencapai 30 derajat Celcius, nyaris setiap hari. Panas yang dimaksud benar-benar panas yang terasa sampai membakar kulit. Dan di tengah suhu yang panas itu, seorang mantan atlet atletik tahun 80an sedang mengenang masa-masa emasnya dulu.

Di kantor pajak tempatnya bekerja sekarang, lelaki kelahiran Bebetin, 4 Juli 1966 itu duduk dengan tenang di kursi tunggu di teras kantor, nyaris tanpa berkedip. Ia seolah sedang menerawang kembali ingatan masa lampau yang jauh—yang mungkin sudah jarang dikunjunginya.

Sesaat setelah terdiam, akhirnya orang tua itu membuka mulut juga. Seorang yang baru saja datang menyapanya dan dia membalasnya dengan pertanyaan, “Mau ngurus pajak?” Orang itu mengangguk dan tersenyum. Sepertinya mereka saling mengenal. Sementara itu, penjaga keamanan kantor juga sempat menyapanya sebelum tubuhnya benar-benar ditelan pintu kantor.

I Ketut Suwela, namanya, seorang mantan atlet atletik yang sejak kecil sudah memiliki kemampun berlari sangat cepat.

“Saya lahir di Desa Bebetin, lalu merantau ke Singaraja, ikut orang tua. Di Bebetin saya sempat putus sekolah. Tapi saat tinggal di Singaraja, saya sekolah lagi,” ujarnya, mengawali cerita, kepada tatkala.co, Senin (11/9/2023) siang.

Di desa tempat kelahirannya, Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, lelaki paruh baya itu mengaku putus sekolah saat masih kelas satu SD. Dan dia kembali sekolah setelah seorang polisi bernama Ketut Katon menyuruhnya. “Akhirnya saya masuk di SDN 4 Kampung Baru sana,” terangnya.

Dulu, bapak dua anak yang akrab dipanggil Suwela ini mengaku hidupnya serba kekurangan. Di Singaraja, bersama kedua orang tua dan kakanya ia tinggal di kos-kosan yang sempit. “Satu kamar berempat,” katanya. Hidup di Kampung Tinggi membuatnya merasa seperti gelandangan kecil ibu kota dalam film-film.

Tapi, nasib orang siapa yang tahu, berkat bakatnya yang luar biasa, pelan-pelan ia bisa mengerek nasibnya dan keluarganya. Benarlah pesan dalam kitab suci, “Sesungguhnya Tuhan tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

I Ketut Suwela (nomor tiga dari kiri) saat menerima penghargaan dari KONI Bueleleng 2023 / Foto: Dok. Suwela

Ya, bakat itu mulai tampak sejak ia duduk di bangku kelas 6 SD. Di usianya yang masih kanak itu, Suwela memulai mengasah bakatnya untuk menjadi seorang atlet atletik. “Saya tidak menyangka bisa menjadi atlet. Pasalnya, hidup kami serba kekurangan dari segi ekonomi,” kenangnya.

Ia mengaku bakatnya tumbuh secara alami. Tanpa latihan khusus, apalagi asupan gizi yang cukup, tentu tidak. Bayangkan, Suwela lahir pada zaman goro-goro, saat orang-orang PKI—atau yang dituduh PKI—dengan membabi buta diadili—untuk tidak mengatakan dibantai—tanpa kesempatan membela diri. Zaman itu Indonesia masih kisruh.

Pada pertengahan 1960an, kondisi politik dan ekonomi di Indonesia berada di dalam bencana. Harga sebutir telur ayam, misalnya, naik 2 kali lipat, yang semula Rp400 menjadi Rp800. Padahal, telur merupakan salah satu asupan wajib bagi seorang atlet. “Telur saja tidak terbeli, apalagi susu,” kata Suwela. Artinya, di zaman itu, sebagai seorang atlet, ia benar-benar hanya mengandalkan bakat dan tekad saja. Bodo amat dengan urusan gizi, dll.

“Setelah saya beberapa kali juara lari 100 meter, saat kelas 6 SD itu, baru saya dilirik seorang pelatih, Pak Suparna, namanya,” ungkapnya. Sejak saat itulah, Suwela mulai serius berlatih dengan menggunakan teknik, tak lagi mengandalkan kecepatan saja.

Selepas tamat SD, Suwela melanjutkan sekolah di SMPN 3 Singaraja. Sekadar informasi, di sekolah yang terletak di Jl. Pulau Kalimantan, Kampung Baru, Singaraja, itu, memang banyak melahirkan atlet di berbagai cabang olahraga, termasuk atlet tinju bernama Gede Rimbawa dan istrinya yang seorang atlet renang. (Tentang sosok Gede Rimbawa bisa dibaca DI SINI.)

“Saya latihan di pantai. Medan berpasir sangat cocok untuk membentuk otot kaki,” ujar Suwela.

Karier Suwela sebagai atlet atletik mulai dilirik setelah beberapa kali menjuarai kejuaraan Pekan Olahraga Seni dan Pelajar (Porsenijar) dan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) di Bali. Ia langganan juara lari 100 dan 200 meter. Atas prestasinya yang gemilang di daerah, pada 1981 ia terpilih sebagai atlet lari yang mewakili Provinsi Bali di PON X yang diselenggarakan di Jakarta. Pada saat itu, Bali berada di peringkat 9 setelah meraih 8 medali emas, 14 perunggu, dan 13 perak, total keseluruhan 35 medali.

Nasib baik seolah sedang berpihak kepadanya. Pada tahun 1984, setelah mengikuti pemusatan latihan nasional (Pelatnas) di Jakarta selama 3 bulan, bersama 3 atlet lainnya ia terbang ke Phuket, Thailand, untuk mewakili negara di kejuaraan atletik tingkat pelajar ASEAN. Waktu itu ia masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Suwela bersama kawan-kawannya berhasil meraih juara tiga untuk cabor lari estafet 4 kali 100. “Lawan terberat saat itu atlet dari Malaysia dan Thailand. Tapi saya bangga bisa bertanding di sana,” katanya.

Tak sampai di situ, pada PON XI tahun 1985 yang juga diselenggarakan di Jakarta, Suwela kembali mewakili Bali—walaupun saat itu ia pulang tanpa medali. Setahun setelah pulang dari Jakarta, pada 1986, seolah menebus kegagalannya di PON, Suwela mendapat medali perak dalam Kejuaraan Atletik Terbuka Sirkuit Jawa-Bali. Dan untuk kejuaraan lari di Bali, Suwela mengaku tak pernah kalah.

“Sampai hari ini, untuk di Bali, rekor kecepatan saya di lari 100 meter belum terpecahkan,” ungkapnya dengan mata yang berbinar-binar.

Atas prestasinya tersebut, setahun setelah Reformasi 1998, Suwela diangkat menjadi PNS dan ditempatkan di beberapa sekolah di Bali, di antaranya di Canggu, Sumberkelampok, dan Lemukih . “Karena saya memang lulusan SGO,” terangnya.

Dan pada momen peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2023, KONI Buleleng memberikan penghargaan kepadanya, Jumat (8/9/2023). Penghargaan tersebut diberikan atas prestasi di dunia atletik pada masa itu.

Kondisi Atletik Buleleng

Saat ditanya mengenai kondisi atletik Buleleng saat ini, Suwela terdiam sejenak sebelum menjawabnya. Ia mengakui, dari segi infrastruktur pendukung kondisinya lebih baik daripada zamannya. Dan menurutnya sudah banyak atlet yang mampu memenuhi gizi secara mandiri. Hanya saja, porsi latihannya belum kontinu, terus-menerus, tidak seperti karate, kempo, atau cabor lainnya yang memiliki jadwal latihan tetap.

Padahal, baginya, Buleleng memiliki banyak bibit atlet yang bisa dibina secara serius. Hal itu terbukti pada ajang Pekan Olahraga dan Seni Pelajar (Porsenijar) Provinsi Bali 2023, cabor atletik Buleleng sukses menjadi penyumbang medali emas terbanyak.

“Jadi, PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) harus segera memikirkan hal ini. Supaya atlet tidak hanya latihan saat mau mengikuti kejuaraan saja. Sedangkan pelatih juga harus diambil yang profesional dan sesuai bidangnya. Kalau atlet lari jarak pendek ya dilatih sama orang yang profesional di bidang tersebut. Begitu juga dengan lari jarak jauh, estafet, lompat tinggi, atau lombat jauh,” jelas Suwela.

Menurut Suwela, atletik itu termasuk olahraga yang murah. Seorang atlet hanya butuh sepatu dan kemauan saja. Namun, untuk urusan kemauan dan kerja keras ini yang kadang menjadi masalah. Suwela sadar betul bahwa kondisi atlet di zamannya dengan hari ini sudah jauh berbeda.

Atlet di zamannya berani berlatih berdarah-darah untuk menjadi juara. Maksudnya, dulu, selain berlatih bersama pelatih, atlet biasa berlatih sendiri. Tapi sekarang, kata Suwela, tak banyak atlet yang punya inisiatif melatih dirinya sendiri.

“Anak-anak sekarang terlihat lebih manja daripada zaman kami dulu. Pelatih sekarang tidak berani keras melatih atlet, tidak seperti dulu. Dan saya akui, anak zaman sekarang godaannya memang lebih banyak daripada zaman saya,” ujarnya, semacam ada kekecewaan sekaligus penyesalan.

Kehadiran orang-orang seperti I Ketut Suwela dapat dibaca sebagai pertanda penting ketika kita membicarakan atletik di Indonesia secara keseluruhan. Kegigihan dan semangatnya dalam berlatih di tengah segala keterbatasan adalah tawaran alternatif untuk mempertahankan eksistensi daerah maupun negara di bidang atletik.[T]

Baca juga artikel terkait TOKOH atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Tags: atletikKONI Bulelengolahraga atletiktokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Besaran Pajak Turunan Waris Dari Orang Tua Sebaiknya Dinolkan | Dari Sidang Tiga Ranperda DPRD Buleleng

Next Post

Memberi Ruang Pada Gerak Slow-Tourism di Bali Utara

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails

Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

by I Nyoman Darma Putra
February 26, 2026
0
Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Di tengah inisiatif repatriasi artefak atau warisan budaya Indonesia dari Belanda, ada usaha personal seorang peneliti Bali yang tinggal di...

Read moreDetails

Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

by Angga Wijaya
February 22, 2026
0
Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

SAYA datang lebih dulu, seperti kebiasaan lama yang sulit hilang sejak menjadi wartawan. Duduk sendirian memberi waktu untuk mengamati orang-orang,...

Read moreDetails
Next Post
Memberi Ruang Pada Gerak Slow-Tourism di Bali Utara

Memberi Ruang Pada Gerak Slow-Tourism di Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co