9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keresahan, Regenerasi dan Ruang | Catatan “Rock Tour” Pertama di Danke Café Singaraja

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
September 7, 2022
in Ulas Musik
Keresahan, Regenerasi dan Ruang | Catatan “Rock Tour” Pertama di Danke Café Singaraja

Rock Tour di Danke Cafe Singaraja | Foto-foto Nocash

Pada tanggal 25 Agustus lalu, ada konser music bertajuk “Rock Tour” yang diinisiasi oleh tiga band bergendre rock asal kota Singaraja. Ketiga band tersebut di antaranya; AA Rock N Roll, No Cash dan The Pandors. Mereka menginisiasi acara konser musik ini dalam rangka menjadi pembukaan pada agenda tour mereka ke beberapa titik lokasi yang sudah mereka sepakati.

Pada agenda pertama mereka, Singaraja sebagai kota mereka tumbuh menjadi pijakan mereka untuk memulai perjalanan tour mereka ini. Titik tour mereka pertama diselenggarakan di Danke Café, Singaraja. Saya kebetulan datang menyaksikan langsung pertunjukan musik ini. Kebetulan waktu itu juga ada band Karmilah yang ikut meramaikan acara tersebut sebagai band pembuka.

Pada malam diselenggarakan acara musik tersebut, Danke Café tidak terlihat seperti biasanya. Saya merasa tertarik datang karena penasaran, bagaimana tempat yang di bayangan saya sebagai tempat untuk menikmati kopi dengan santai kini diubah menjadi panggung dadakan dengan hentakan musik bergendre rock.

Memang ini bukan pertama kalinya Danke menjadi sebuah ruang alternatife untuk dijadikan menjadi venue penyelenggaraan pertunjukan musik. Hanya saja pada sebelum-sebelumnya pertunjukan musik yang diadakan tidak sekeras yang disajikan oleh band-band yang tergabung dalam “Rock Tour” ini.

Saya juga tidak menyangka bahwa ruang sekecil itu bisa didekontruksi menjadi panggung yang lumayan menarik untuk dilihat. Danke di pikiran saya saat itu bisa menjadi ruang terbuka yang bisa dieksplorasi untuk menjadi salah satu venue yang apik untuk diperhitungkan di Singaraja. Karena dari obrolan-obrolan yang saya tangkap ketika berbicara dengan salah satu penyelenggara “Rock Tour”, memang sangat susah mencari ruang alternatife yang bisa dijadikan sebagai panggung dadakan dengan cuma-cuma.

Tidak banyak coffe shop atau ruang terbuka fasilitas kota yang mau mengizinkan dan menerima tempatnya dijadikan menjadi ruang pertunjukan musik. Akhirnya lintas jaringan pertemanan yang mungkin bisa menjadi tanda peminta pertama untuk sekiranya si punya tempat bisa mengizinkan tempatnya dijadikan panggung.

Ini juga mungkin adalah salah satu masalah yang sering seliweran di telinga saya ketika bertemu dengan teman-teman pegiat musik di Singaraja. Tapi selalu saja ada celah kecil yang bisa dimanfaatkan menjadi kesempatan unjuk gigi untuk menampilkan karya dan skill mereka dalam bidang musik. Ditambah juga ada banyak komunitas yang sering berkutat pada pergerakan wacana sekitar perkembangan musik khususnya Singarja. Itu juga menjadi salah satu organisasi yang sering menolong dan membuatkan panggung untuk para band dan musisi.

Wacana Menarik

Terlepas dari masalah kurangnya ruang yang bisa dijadikan panggung, “Rock Tour” juga punya wacana yang menarik untuk disimak atau mungkin bisa menjadi pembuka ruang diskusi untuk membicarakan seputar ekosistem musik khususnya Singaraja.

Terlaksananya “Rock Tour” tentu saja tidak hadir sebagai hal yang tiba-tiba, punya ide langsung jalan. Tidak, mereka juga punya keresahan tersendiri terutama dalam perkembangan sub genre rock yang berkembang dalam lingkup Singaraja.

Sub genre rock yang semestinya dekat dengan telinga pecinta musik seharusnya banyak yang menggeluti dan menciptakan karya dalam ranah genre ini. Tapi pada kenyataannya di kota mereka tinggal, itu tidak terjadi sebaik itu. Regenerasi dirasa tidak berjalan dengan baik, ada ketimpangan  umur yang begitu jauh di antara sesama pegiat musik bergenre rock tersebut.

Misal seperti ketiga band yang menginisiasi “Rock Tour” ini, satu band dengan band lainnya itu memiliki angkatan yang jauh berbeda jika diukur lewat angka umur. Hampir tiap band memiliki selang lima tahun lompatan jarak di antaranya. Itu bisa menjadi gambaran bagaimana genre rock di kota Singaraja tidak begitu banyak pegiatnya, padahal banyak sekali yang antusias mendengarkan genre rock ini.

Akhirnya lewat keresahan itu mereka membuat “Rock Tour” ini yang rencananya akan menyambangi beberapa titik lintas kecamatan pada lingkup kabupaten Buleleng saja. Di antaranya daerah yang bakal mereka singgahi ada lima titik, yaitu; Kota Singaraja, Desa Les di Buleleng timur, Kecamatan Seririt, Desa Pancasari dan titik terakhir kembali di Kota Singaraja.

Pemilihan untuk mengambil tour dalam lingkup kabupaten juga menjadi hal yang unik bagi saya. Karena biasanya yang saya jumpai tiap kali sebuah band menyelenggrakan tour selalu mengambil ranah minimal lintas kabupaten atau skala provinsi, atau bahkan bisa antar pulau. Pemilihan mengambil titik hanya antar kecamatan seperti yang dilakukan “Rock Tour” juga bukan semata-mata dilakukan tanpa pembacaan.

Mereka banyak menimbangkan hal-hal yang lain seperti waktu, tempat, materi dan tenaga. Karena agenda ini dilakukan secara mandiri jadi mereka memilih yang sekiranya bisa dilakukan secara maksimal dalam keterbatasan yang mereka punya. Pun sebenarnya tujuan mereka adalah ingin mempopulerkan atau memperkenalkan musik rock khususnya di Buleleng.

Maka mereka tidak ingin terburu-buru dalam mengambil Langkah untuk tour terlalu jauh, karena mereka juga berpikir bahwa belum selesai melakukan pembacaan di rumah mereka sendiri. Apalagi ketika melakukan tour terlalu jauh, tentu akan banyak orang yang akan dilibatkan termasuk komunitas di daerah tertentu. Hal seperti itu pasti memerlukan jaringan koneksi lintas komunitas untuk membantu. Mungkin juga faktor itu yang masih sedang mereka bangun untuk memperluas lagi jangkauan sayap mereka.

Kesadaran itulah yang saya tangkap dan berusaha saya sampaikan di catatan ini untuk membantu mereka, syukur-syukur misalnya catatan ini bisa menjadi arsip perjalan agenda tour mereka. Atau mungkin tenggelam begitu saja seperti yang sudah-sudah.

Banyak hal yang kemudian hadir menjadi pembicaraan saya bersama teman-teman penyelenggara “Rock Tour” ini. Begitu banyak keresahan yang mereka sampaikan dan kebetulan saya juga merasakannya karena mungkin ada kesamaan yang sama kita lakukan dalam membangun ekosistem industri kreatif. Mesikipun saya bukan siapa-siapa di kota Singaraja, sepertinya pengalaman saya ketika merantau dan bergabung di komunitas-komunitas ketika masih di Denpasar bisa menjadi referensi saya untuk nyambung ketika mengobrol dengan beberapa dari mereka.

BACA JUGA:

  • REIM Space dan Upaya-upaya Membangun Ekosistem Bermusik di Kota Singaraja | Ekosistem Seperti Apa?
  • Romantisme Musik Underground Singaraja | Jejak Langkah yang Memudar dalam Skena

Begitu banyak hal yang kompleks dan menjadi PR bersama untuk membentuk ekosistem ruang kreatif yang mapan di Singaraja. Karena banyak hal utama yang dibutuhkan oleh pegiat musik di Singaraja tetapi masih susah untuk memfasilitasi hal kekurangan tersebut, sesederhana ruang panggung atau hal lainnya yang berkaitan dengan keberlangsungan kebutuhan pemanggungan.

Tour ini juga mereka harapkan menjadi salah satu sumbu bakar untuk beberapa anak muda yang senang bermusik untuk ikut meramaikan genre rock di kota Singaraja. Agar nantinya diharapkan makin banyak varian alternatife untuk didengarkan, sekaligus bisa menjadi penyemangat teman band yang lainnya untuk berlomba dalam menciptakan karya dan bertukar wacana. Tour ini pula dimaksudkan sebagai penyampai keresahan mereka untuk menciptakan panggung sendiri, karena sering kali tidak mendapat bagian panggung di rumah mereka sendiri.

Karena tour ini mereka lakukan benar-benar secara mandiri, dari konsep acara dan konsep panggung. Meskipun mereka juga dibantu oleh REIM Space sebagai organize acara dan teknis persipan. Hal itu yang kemudian membuat mereka lebih menekankan pada nilai demokrasi tiap band. Termasuk dari kesepakatan pemilihan tanggal, kesepakatan pemilihan urutan band yang main terlebih dahulu. Mereka seberusaha mungkin ingin mengaburkan istilah senioritas dalam agenda mereka ini.

Demokrasi menjadi pondasi mereka untuk sama-sama belajar bagaimana menyikapi keterbatasan yang mereka punya. Apalagi adanya keterjarakan umur yang begitu jauh, itu adalah faktor yang kadang bisa menjadi hal yang sangat rentan menjadi keributan. Tapi pada penyelenggaraan pertama kemarin hal itu tidak terjadi, bahkan mereka sangat menikmati berjalannya acara tersebut. Jadi suasana pertunjukan yang mereka sajikan tidak terlihat mati dan membosankan.

Pengalaman saya menonton pertunjukan musik juga akhirnya menjadi berbeda, dibanding ketika saya menonton pertunjukan musik yang hanya menyaksikan saja pertunjukan berlangsung begitu saja hingga selesai lalu setelah itu pulang tanpa membawa hal baru.

Pada “Rock Tour” pertama kemarin saya banyak ngobrol dengan teman-teman dari penyelenggara, meskipun tidak memulu membicarakan soal ekosistem musik saja sesekali diselingi dengan bercandaan atau gossip-gosip seputar dunia permusikan.

Maka keberhasilan acara tersebut tentu tidak luput dari orang belakang panggung yang membantu mereka, orang yang sudah memberikan sponsor ke mereka tentu juga orang yang sudah mengizinkan tempatnya untuk dijadikan sebagai ruang panggung. Tentu saja juga teman-teman yang datang dan mengapresiasi mereka dengan banyak cara.

Saya rasa apa yang mereka lakukan patut untuk dilihat dan diikuti, bagaimana keresahan di antara mereka kini berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan soal intensitas semangat mereka. Bagaimana mereka bisa membangun sedikit demi sedikit keinginan mereka untuk menyemarakan sub genre yang mereka mainkan.

Tentu itu tidak bisa mereka lakukan sendiri begitu saja, perlu banyak campur tangan dari teman-teman di luar meskipun itu bukan dari pegiat musik sekalipun. Siapa bilang ngeband hanya berbicara soal nada, lirik lagu dan alat musik saja? Ada banyak lapisan-lapisan yang mesti disadari keberadaannya lalu diisi kekosongannya. Lalu, menjadi apakah kita hari ini dan esok pada pusaran ini? Salam. [T]

BACA JUGA:

  • Mendengar “Haunted Psycho Notes” dari Kanekuro | Dari Kesehatan Mental ke Kesehatan yang Lain
  • Tirtour Yatour Edisi Bangli | Bukan Hanya Sekadar Gigs Gradag-Grudug

Tags: musikRock Tour SingarajaSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sepatu Baru MC dan Pilot Naik Panggung | Catatan Belakang Layar Teater Legenda Rasa

Next Post

Ternyata Stres Berguna Juga

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Ternyata Stres Berguna Juga

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co