5 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

A.A.N. Anggara Surya by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
in Ulasan
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Salah satu peserta dalam Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya di Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Bung Karno, Sukasada, Buleleng. Terus terang, saya menonton karena teman saya berpartisipasi dalam lomba itu.

Awalnya, saya mengira keadaan Taman Bung Karno akan menjadi sangat ramai, penuh motor dan mobil sehingga saya khawatir bakal sulit mendapat tempat parkir. Maklum, jika tidak salah, ini kali pertama garapan musik dilombakan lalu dipertontonkan kembali di khalayak ramai sejak pandemi dua tahun.

 Berkaca dari lomba teater tingkat SMP dan Fragmen Tari tingkat SMA yang sebelumnya sudah lebih dulu diadakan, saya selalu dapat tempat parkir yang cukup jauh (terutama lomba teater tingkat SMP). Tak jarang saya harus menghabiskan 10 sampai 15 menit dari mulai mencari tempat parkir sampai akhirnya sampai panggung.

Namun, di luar dugaan, penonton untuk lomba musik ini jauh lebih sepi dari lomba yang digelar untuk siswa SMP dan SMA sebelumnya. Parkir di arela yang biasa saya parkir, masih tampak lengang padahal saya datang sekitar 30 menit lebih lambat. Tapi tak apalah, saya jadi mudah mendapat tempat parkir dan cepat sampai panggung.

Tak sampai 5 menit, saya sudah di depan panggung. Kursi penonton sudah banyak terisi namun banyak juga yang belum terisi. Terlihat kursi undangan juga masih banyak kosong. Mungkin sedang ke stand UMKM karena selain ada lomba, juga ada pameran dari UMKM Buleleng yang terletak di belakang panggung,

Sayangnya saya tak menyempatkan diri ke stand-stand tersebut jadi tak memiliki info soal apa saja yang dijajakan disana. Sekitar 15 menit kemudian, suara MC sudah terdengar menyapa penonton. Sesuai dengan apa yang saya rasakan sebelumnya, MC sempat berkata “Nanti semakin malam pasti semakin ramai”

Sepuluh peserta yang tampil merupakan finalis setelah mereka melewati babak penyisihan. Jumlah peserta awalnya, menurut informasi, lebih dari 30 peserta. Dewan juri memilih 10 finalis yang berhak tampil di atas panggung untuk kemudian dipilih juara satu, dua dan tiga.

Sepuluh peserta itu adalah Chemistry, Hikari, Kedung2 Aw, Rika Pramana, Purbangkara Ethnic, The Error Project, Asha Band, Decisive, Margarani, dan Chandra Gurnitha.

Wakil Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka lomba cipta lagu cagar budaya itu sekitar pukul 18.30 wita. Saat memberi sambutan. Wabup Sutjidra mengatakan, kasus Covid-19 di Buleleng yang sudah semakin melandai sehingga kegiatan seperti sekarang ini sudah mulai bisa dilaksanakan.

“Dengan adanya lomba cipta lagu cagar budaya ini diharapkan mampu untuk melestarikan warisan seni dan kebudayaan khususnya di Buleleng,” kata Wabup Sutjidra.

Sebelum lomba dimulai, tentu para dewan juri diperkenalkan lebih dulu. Para dewan juri tersebut adalah Sugi Antara, Gde Kurniawan dan Adnyana Ole. Menurut biodata yang dibacakan MC, secara umum saya simpulkan dewan juri diambil dua dari kalangan pemusik dan satu dari kalangan seniman. Wajar saja, selain soal musik, tentu lirik juga adalah kriteria penting karena terdapat kata ‘cipta’ di sana.

Lomba dimulai, dan jujur, mungkin karena belum terbiasa, suara bass (dari drum barangkali?) terasa agak mengganggu. Dari tempat duduk saya yang bisa dibilang paling belakang, suara bass tersebut masih terasa kencang. Untungnya suara tersebut tidak sampai menutupi suara musik lain. Namun saya agak kesulitan menangkap beberapa kata dari lirik yang diucapkan oleh penyanyi.

Bahkan tak jarang saya hanya bisa menerka-nerka kata apa yang keluar karena tertutup suara musik. Disini saya simpulkan, barangkali kekuatan musikalitas adalah apa yang sangat ingin ditonjolkan. Terlebih lagi peserta tersebut memakai gong juga sebagai instrumen. Berlanjut ke peserta selanjutnya, juga senada dan setipe namun saya mendengar vokal lebih jelas dan selain itu, peserta ini memakai dua penyanyi.

Dari peserta nomor urut satu,  hingga penampil nomor lima, tampaknya peserta terlalu fokus utama masih pada vokal dan musikalitas. Dari pengamatan saya tanpa bermaksud merasa lebih tahu, lirik sepertinya ada setelah nada. Atau lirik bisa berubah sesuai nada.

Peserta seperti sangat terikat oleh kata yang diminta diisi oleh panitia (“Kenali, jaga dan lestarikan cagar budaya untuk Buleleng) sehingga lirik hanya terasa memberi ajakan untuk mengenali, menjaga lalu melestarikan cagar budaya untuk Buleleng.

Sebuah pertanyaan lalu muncul. Jadi, cagar budaya mana yang harus saya kenali, jaga lalu lestarikan untuk Buleleng?

Selain itu, melihat lomba ini meminta menampilkan dua lagu, saya rasa ini adalah kesempatan bagus untuk menunjukkan karya pribadi. Jadi ada baiknya jika lagu kedua juga adalah karya pribadi dan tentu tidak jauh-jauh dari tema yang diberikan panitia.

Di tengah peralihan peserta, sambil bercanda MC juga menyinggung sedikit soal durasi penampilan. Kurang lebih MC berkata “Prosesnya lama, waktu penampilan juga lumayan, masa tampilnya singkat?” Masuk akal juga.

Pada peserta nomor 6, yakni Kedung_kedung Aw, barulah terasa ada perbedaan. Maksud perbedaan di sini adalah fokus garapan. Sangat terasa kekuatan lirik yang diutamakan. “Jika ingin melihat pura datanglah ke sini, jika ingin tempat foto yang bagus datanglah ke sini, jika ingin ini datang ke sini, jika ingin itu datang kesitu”. Semacam itu pesan dari liriknya yang diujarkan dalam bahasa Bali.  

Itu gambaran umum lirik mereka. Jika disandingkan, musikalitas peserta ini tentu tidak sebaik peserta-peserta lain yang terasa megah. Peserta nomor 6 ini sangat fokus pada penyampaian pesan. Saya berani berkata peserta ini yang paling informatif soal cagar budaya. Sehingga saya sebagai penonton tahu cagar budaya apa yang ada di Buleleng.

Langsung ke peserta nomor 8, yakni Hikari. Mendengar liriknya, tampaknya peserta ini fokus pada ‘kenali’. Artinya, lirik yang mereka buat memang untuk mengenalkan cagar budaya, bukan sekadar mengajak untuk kenal, jaga, dan lestarikan.

‘Jadi cagar budaya itu adalah ini lho, definisinya ini, gunanya ini’. Semacam itu kesan yang disampaikan dalam lirik Hikari.

Memang lirik yang disampaikan masih terasa umum, tapi jika kita tahu apa definisi dan guna cagar budaya, tentu kita bisa mencari sendiri tempat atau lokasi cagar budaya yang ada di Buleleng bukan? Selain itu peserta ini juga menampilkan lagu kedua soal Buyan. Sehingga relasi lagu pertama dan kedua masih ada. Terasa juga musikalitas tidak ditinggalkan. Masih bisa disandingkan dengan peserta lain. Dengan dua gitar, tiga penyanyi dan sedikit musik EDM, masih terasa ada kemegahan.

Yang menarik dari kesepuluh peserta ini adalah keberagaman. Juri tampaknya sengaja memberi pertimbangan pada keberagaman jenis musik saat menentukan sepuluh finalis. Dari sepuluh peserta itu kita bisa dengarkan jenis musik fusion, reggae, ska, rock, pop Indonesia atau pop Bali, dan musik kolaboratif yang terkesan megah. Beberapa beberapa peserta mengguakan lirik dengan bahasa Bali, termasuk kelompok Kedung-Kedung Aw.

Dari lomba ini kita bisa melihat betapa Buleleng sesungguhnya sangat kaya dengan berbagai jenis musik. Dan secara kualitas, beragamnya jenis musik itu juga tak kalah dengan musik sejenis yang berkembang di Indonesia.

Margarani misalnya, sebagai peserta terakhir dalam lomba itu tampil sangat memukau dengan menunjukkan garapan musik dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan kolaborasi yang jarang dilakukan penggarap musik lain. Musiknya tak hanya terkesan megah, namun juga terasa cukup segar dan bergairah. Sayangnya, lirik dalam lagu cagar budaya amatlah pendek, seakan-akan diulang-ulang.  

Sampai akhirnya pengumuman juara. Juri sempat menyinggung soal seberapa penting kejelasan vokal dan pemilihan lirik. Akhirnya ditetapkan juara ketiga adalah Margarani, juara kedua Candra Gurnita dan juara pertama  adalah Hikari.

Juri juga memberi apresiasi khusus pada peserta nomor 6, Kedung-kedung Aw, karenatampil “berbeda”. Maaf, saya tidak mendengar jelas apa maksud dari penampilan berbeda tersebut karena saya sedang ada di belakang panggung. Selamat untuk para juara.[T]

Tags: bulelengcagar budayamusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saksi PKB Sejak 1979: Mie Ayam Racikan ala Parman

Next Post

Pemenang AJW 2022 Merebut Ruang Digital untuk Rayakan Kebebasan Berekspresi Warga

A.A.N. Anggara Surya

A.A.N. Anggara Surya

Pemain teater, menulis puisi dan cerpen. Tulisannya berupa ulasan pementasan teater sering dimuat di media massa. Kini sedang menempuh pendidikan di jurusan Bahasa Inggris, Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails

Duta Kota Denpasar “A Tribute to I Gusti Made Deblog” | Catatan Lomba Seni Lukis Wayang Klasik PKB 2022

by Dewa Purwita Sukahet
June 25, 2022
0
Duta Kota Denpasar “A Tribute to I Gusti Made Deblog”  | Catatan Lomba  Seni Lukis Wayang Klasik PKB 2022

Dua orang dari 22 peserta lomba melukis Wayang Klasik di Kalangan Ayodya, areal Taman Werdhi Budaya Art Centre, Bali di...

Read moreDetails
Next Post
Pemenang AJW 2022 Merebut Ruang Digital untuk Rayakan Kebebasan Berekspresi Warga

Pemenang AJW 2022 Merebut Ruang Digital untuk Rayakan Kebebasan Berekspresi Warga

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LONTAR USADA KERALA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

by Sugi Lanus
November 4, 2026
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata
Esai

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

by Hartanto
November 4, 2026
COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co