23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Cuci Otak”

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
April 3, 2022
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

“Saya akan mentaati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia.”— (Sumpah dokter Indonesia No ke-11)

Istilah cuci otak selalu  menarik. Entah itu pada makna harfiahnya maupun sebagai sebuah frase yang hari-hari ini menjadi populer sebagai satu tindakan medis yang tentu saja, kontroversial. Dalam makna harfiahnya, cuci otak kita ketahui merupakan sebuah proses yang tak biasa-biasa saja dan hasil prosesnya itupun acap kali luar biasa dan mencengangkan.

Istilah ini populer dalam dunia radikalisme-terorisme atau dalam kisah-kisah spionase. Akan mudah kita pahami, orang yang biasa-biasa saja takkan pernah menjadi seorang radikal, teroris atau  agen rahasia. Ia perlu dicuci otaknya supaya memenuhi syarat.

Artinya, harus ditanamkan gagasan-gagasan baru yang ideologis, disebut juga indoktrinasi, untuk menggeser keyakinan lamanya yang tidak sesuai dengan kebutuhan sebuah gerakan. Jika program cuci otak ini sukses, akan lahir individu-individu yang bersedia melakukan tindakan-tindakan ekstrim di luar nalar masyarakat pada umumnya dan tentu saja dampaknya pun tak main-main.

Ini bukti bahwa pikiran manusia sangat berbahaya walau ia tak tampak dan tak dapat dirasakan. Profil fisik manusia yang secara umum sama saja, terdiri dari kepala, badan, tangan dan kaki, dapat saja melakukan tindakan yang sangat beragam berkat kendali pikiran masing-masing. Kendali dari ruang gelap yang tak pernah dikenali.

Apakah ini sebuah kebetulan belaka, faktanya “cuci otak” yang dilakukan oleh dr Terawan Agus Putranto (TAP), juga telah menjadi polemik riuh saat ini. Polemik kian memanas saat TAP, dijatuhi sanksi pemecatan sebagai anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) akibat pelanggaran etik yang telah dilakukannya, atas rekomendasi dari sidang Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK).

Ayo Kolaborasi Untuk Layanan Kesehatan Mental yang Lebih Baik

Bagaimana kita melihat peristiwa ini? Saya akan berpijak pada prinsip-prinsip obyektifitas dalam menulis isu polemik ini. Pada artikel sebelumnya, saya pun pernah menulis sebuah otokritik terhadap IDI, organisasi profesi di mana saya bernaung.

Cuci otak ala TAP, memang menarik, sebab pada dasarnya hal itu merupakan satu prosedur medis biasa yang sudah diaplikasikan sejak lama, kemudian dimodifikasi oleh TAP. Prosedur medis tersebut dikenal sebagai Digital Subtraction Angiography (DSA) yang pada awalnya merupakan sebuah metode diagnosis, oleh TAP dimodifikasi sebagai sebuah terapi.

Yang dilakukan dari prosedur itu adalah, memasukan kateter (selang kecil khusus) ke dalam pembuluh darah otak disertai dengan penyemprotan zat warna yang kemudian dari pencitraan X-ray dapat dinilai keadaan dinding dalam pembuluh darah otak tersebut. Pada saat prosedur itu dilakukan, dilakukan pula penyemprotan satu obat bernama heparin untuk mencegah terjadinya pembekuan darah selama prosedur dilakukan.

Dari prosedur DSA tersebut, akan diketahui kemudian apakah pasien mengalami stroke, kelainan pembuluh darah lain atau sebaliknya pembuluh darahnya normal-normal saja. Itu kemudian menjadi dasar bagi seorang dokter ahli saraf (neurolog) untuk memberikan rencana terapi kepada pasien tersebut.

Nah, TAP kemudian mempromosikan prosedur ini sebagai satu pengobatan stroke kepada publik. Memang cukup banyak pasien yang memberikan testimoni, bahkan dari kalangan orang-orang penting dan tokoh nasional, merasa “lebih baik” setelah menjalani DSA atau “cuci otak” tersebut.

Rahasia Madu untuk Kesehatan

Namun ada beberapa hal mendasar yang harus publik ketahui. Pertama-tama, penyakit stroke sendiri adalah kompetensi seorang dokter ahli saraf, sementara TAP adalah seorang dokter ahli radiologi yang mendalami radiologi intervensi. Jadi, betulkah pasien-pasien yang di-”cuci otak” itu memang penderita stroke?

Kedua, prinsip dasar sebuah terapi medis adalah kedokteran berbasis bukti (KBB). Jadi bukan hanya atas dasar teori & testimoni. Sebab harus kita ketahui pula akan sebuah fenomena yang disebut sebagai efek plasebo yaitu suatu efek sugesti dari zat yang sebetulnya tak berkhasiat sama sekali. Ini dapat semakin mungkin dirasakan, apalagi kalau ternyata pasien tersebut memang bukan penderita stroke sebenarnya. 

Sudahkah dilakukan pencitraan pembuluh darah pasien, baik sebelum dan sesudah “cuci otak”? KBB menuntut rangkaian riset uji klinis baku sebelum satu prosedur medis dapat disepakati (konsesus) oleh perkumpulan dokter ahli menjadi sebuah pilihan terapi. Ini semua demi  melindungi masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip praktek kedokteran yang baik.

Dalam riset tersebut, tidak hanya efektivitas terapi yang dipublikasikan, pun tingkat kegagalan dan efek samping yang ditimbulkan terapi tersebut harus disampaikan. Sebuah prinsip kejujuran dan kerendahan hati sedari awal.

Ketiga, TAP mempromosikan prosedur terapi yang menurut IDI belum memenuhi kaidah-kaidah KBB. Dalam etika praktek kedokteran, bahkan prosedur terapi yang telah disepakati menjadi sebuah standar terapi oleh perkumpulan dokter ahli pun, tetap tidak diizinkan untuk dipromosikan secara komersil kepada masyarakat.

Hari Dokter Nasional: Saya Memilih Sebuah Otokritik

Keempat, dalam perkembangannya, IDI telah memberikan ruang kepada TAP untuk melakukan klarifikasi atas apa yang dipertahankannya sebagai sebuah prinsip yang kemudian dikenal sebagai “Terawan Theory”, namun hingga kini TAP belum menanggapinya. Tentu saja jika TAP bersedia, beliau harus membawa data-data ilmiah sesuai KBB yang dapat menguatkan teorinya tersebut yang menjadi dasar terapi “cuci otak”-nya.

Kira-kira bagaimanakah akhir drama ini? Masih ada waktu yang cukup bagi TAP untuk guyub dengan organisasi yang menaunginya guna mencari titik temu. Saya meyakini, jika metode ini kemudian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah sesuai KBB, IDI pasti akan siap membantu penelitian sesuai kaidah, terkait metode terapi kontroversial ini.

Untuk masyarakat luas, sudah sepatutnya selalu menguatkan literasi terkait isu-isu hangat agar menilai secara bias atau keliru tidak terlanjur menjadi budaya di era yang sudah sangat modern ini. Apalagi sampai menjadi korban cuci otak, hehehe! [T]

Tags: Ikatan Dokter Indonesiakedokteranmedistekhnologi medis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Minat Baca, BRIN Jawab Keresahan Publik dengan Akuisisi Pengetahuan Lokal

Next Post

Konser Tatap Muka Tjokorda Bagus | Tampilkan Mariani, Frando Hutabarat, dan Sars

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Konser Tatap Muka Tjokorda Bagus | Tampilkan Mariani, Frando Hutabarat, dan Sars

Konser Tatap Muka Tjokorda Bagus | Tampilkan Mariani, Frando Hutabarat, dan Sars

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co