Catatan Harian Sugi Lanus, 27 Maret 2017
Di Bali terdapat beragam jenis tradisi Nyepi, yang tidak terkait dengan perayaan Tahun tertentu, diantaranya:
1. Nyepi Abian (sehari dilarang ke kebun).
2. Nyepi Subak (sehari sampai 3 hari dilarang bekerja di sawah).
3. Nyepi Desa (beberapa desa merayakan ruawatan khusus setelahnya tidak boleh ada aktivitas di desa bersangkutan).
4. Nyepi Luh — Nyepi Muani.
5. Nyepi Pasih/ Laut/ Sagara
6. Nyepi Tawur Kasanga — inilah yang dirayakan bersama di Bali secara bersama di Pulau Bali.
Nyepi yang dirayakan secara serempak di Pulau Bali adalah Perayaan Tawur Kesanga yang secara keliru dikaitkan dengan pergantian tahun Śaka sehingga menjadi turun temurun disalahartikan.
Nyepi disebut juga “Nyunia” dan “Nyipeng” adalah perayaan dari Tawur atau Pecaruan. Bukan perayaan tahun baru.
Kenapa ada Nyepi Abian, Nyepi Subak, Nyepi Subak, Nyepi Luh dan Nyepi Muani, serta Nyepi Pasih/Laut/ Segara dikarenakan Nyepi-nyepi lokal di berbagai desa tersebut merupakan runtunan atau perayaan lanjutan dari Upacara Tawur atau Caru Desa yang dilakukan oleh desa-desa tersebut. Ini menjadi bukti bahwa Nyepi tidak ada hubungan dengan pergantian tahun.
Kenapa ada berbagai tradisi Nyepi?
Setiap Nyepi adalah Perayaan Upacara Tawur atau Caru Agung. Tradisi Nyepi ini kadang secara keliru dipahami sebagai kegiatan yang berdiri sendiri. Nyepi adalah sebuah persyaratan dari sebuah upakara āgama yang bersifat magi yang kita kenal sebagai Caru atau Tawur. Upakara Caru-Tawur yang mensyaratkan usai dilakukan Caru/Tawur harus dirayakan/diikuti dengan Brata Penyepi (Sipeng) atau Nyunia. Caru-Tawur ini esensinya adalah sesaji (banten) Pangresikan, Prayascita, Durmanggala, yang tujuannya ruwatan dan upah-upah (persembahan pada alam). Apakah Caru atau Tawur diadakan di Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dll, dimanapun dilakukan Tawur Agung, upakara magis ini mensyaratkan minimal pelakukanya dari Tawur wajib melakukan Brata Penyepian dan kawasan di sekitar atau lingkungan tempat Upacara Tawur ditutup sehari. Karena ini adalah persyaratan mutlak dari sebuah Upakara Tawur.
‘Ruwatan bumi’ (Tawur) untuk desa-desa dan bumi, ‘permohonan kesuburan’ (penyiwian) untuk perkebunan, ‘ritual mengalau hama’ (Nangluk Mrana) untuk persawahan/subak, ‘ritual penyucian’ (Prayascita) untuk berbagai leteh/kekotoran niskala adalah ritual Tantrik yang mengunakan doa-doa dan berbagai sarana sesaji yang diyakini masyarakat tardisional pra-Hindu yang punya daya magi yang bisa bekerja secara gaib. Ritual-ritual ini bukan hanya ritual yang bersifat simbolik, tapi diyakini efektif punya kekuatan magis menyeimbangkan alam kembali. Dipercaya dari berabab-abad lampau punya daya magis menyucikan dan mengembalikan tatatan seseimbangan kosmik. Pengembalian gaib ini dikenal dengan istilah ‘somya’. Ini terkait dengan konstelasi Surya-Chandra-Bhumi (Matahari-Bulan-Bumi) yang diyakini masyarakat prahistoris dan setelah ada pengaruh Hindu masuk ke Bali tidak dihapus malah diperkuat dengan doa-doa dan mantra Hindu sehingga Tawur menjadi berkekuatan berlipat dan berlapis — mengandung ajaran dari pengalaman mendalam masyarakat prehistoris Bali yang animistik-dinamistik serta dibubuhi lapisan magis Tantrik-Hinduitik.
Agar ‘ruwatan bumi’, ‘permohonan kesuburan’, ‘ritual mengalau hama’, ‘ritual prayascita’ dll yang dilakukan secara gaib mampu bekerja secara efektif maka harus ada ruang tenggang atau ruang jeda dari masa ‘nyomia’ (proses penyucian) selama sehari. Ini yang disebut sebagai “NYUNIA” (pengheningan lahir batin, buana alit-buana agung) dan bratanya disebut “NYIPENG” (brata 24 jam). Untuk masyarakat umum disebut NYEPI. Secara sastra brata disebut NYUNIA dan NYIPENG.
Berikut di desa mana saja beragam pelaksanaan Nyepi Abian, Nyepi Subak, Nyepi Subak, Nyepi Luh dan Nyepi Muani, serta Nyepi Pasih/Laut/ Segara dilakukan:
– Nyepi Abian
Krama Subak Abian di Desa Belatungan, Tabanan, memilik ‘Nyepi Abian’ yaitu tidak melakukan aktivitas pertanian, atau semua petani pantang datang bekerja ke kebun selama satu hari penuh. Nyepi Abian merupakan rangkaian ‘Upacara Nyiwi’ yang di Pura Subak yang ada di desa setempat. Dalam upakara ini Krama Subak memohon Tirta untuk dibawa ke rumah yang selanjutnya digunakan pada saat persembahyangan penyucian di kebun masing-masing. Upakara ini ditandai dengan sesaji ‘Tipat Sai’ (Ketupat Sai) dihaturkan di tempat pemujaan di kebun masing-masing petani (atau disebut Pelinggih Abian). Tujuannya memohon kesuburan.
– Nyepi Subak/Sawah
1. Desa Pakaraman Bangal Kecamatan Selemadeg Barat Kabupaten Tabanan melaksanakan ‘Nyepi Subak’ karena merupakan persyaratan setelah ‘Upakara Metabuh’ harus ada sehari Nyepi. ‘Tabuh’ adalah upakara ruwat sekaligus memohon kesuburan pertiwi.
2. Nyepi Sawah di Krama Subak Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, kalau tidak salah, disebutkan ada dua versi. Jika petani menanam padi Bali yakni padi beras merah, krama melaksanakan Nyepi selama tiga hari. Sebelum Nyepi, digelar upacara ‘Nangluk Merana’. Jadi ‘penyepian’ adalah persyaratan dari Upakara Nangkluk Mrana (memohon terbebas dari hama). Warga dan petani dilarang masuk areal persawahan atau subak.
– Nyepi Desa
1. Nyepi Desa di Desa Pakraman Kintamani adalah rangkaian dari pujawali di Pura Dalem Pingit Desa Pakraman Kintamani. Nyepi Desa ini menjadi momentum penyucian desa dengan mengajak semua warga desa tidak berpergian ke luar desa dan berdoa sepanjang hari Nyepi Desa.
2. Tiga desa pakraman di Karangasem (Desa Pakraman Tanah Ampo, Manggis, Karangasem dan Desa Datah) melakukan penyepian desa terkait ‘Ngusaba Segeha’ serta ‘Ngusaha Dalem’ di ketiga desa itu. ‘Ngusaba’ tersebut adalah upakara penyucian desa dari segala macam hal buruk.
3. Desa Banyuning, Buleleng, melakukan penyepian sehari setelah Upakacara Pecaruan di Catus Pata Desa Banyuning. Desa ditutup selama sehari sekalipun jalan nasional masih diijinkan dilewati kendaraan, namun krama/warga setempat melakukan Catur Brata Penyepian: Amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan).
Beberapa desa dan subak yang melakukan penyepian tersebut di atas hanyalah ilustrasi bagaimana sebenarnya ‘penyepian’ itu adalah persyaratan dari ritual ‘ruwatan bumi’, ‘permohonan kesuburan’, ‘mengalau hama’, ‘prayascita’ dll.
— Nyepi Luh-Muani
Nyepi yang terhitung sangat khas dan unik, tidak dirayakan umumnya di desa lain, adalah Nyepi Luh ( Predana) dan Nyepi Muani (Purusa) yang wajib dilaksanakannya oleh warga desa adat Ababi, kabupaten Karangasem.
Muani = laki dan Luh = perempuan. Pelaksanaan kedua Nyepi Purusa dan Nyepi Luh juga berlangsung setiap tahun sekali, tetapi waktu pelaksanaannya berbeda hari, selisih sebulan. Nyepi Luh dilaksanakan pada hari tilem kapitu (bulan glapp ketujuh perhitungan Bali) terkait dengan upacara agama di Pura Kedaton Desa Adat Ababi. Nyepi Muani dilaksanakan dalam tempo waktu sebulannya kemudian, tepatnya pada hari tilem kaulu (bulan glapp kedelapan perhitungan Bali). Pelaksanaan hari Nyepi Luh baru di berlakukan keesokan harinya setelah puncak upacara piodalan di Pura Kedaton Desa adat Ababi. Perempuan melaksanakan amati karya yaitu: tidak boleh bekerja, libur total, tidak boleh ada aktivitas atau kerja sehari–hari di rumah, tidak berpergian, dan ada larangan kerns untuk tidak mengendarai kendaraan bermotor, berlaku 12 jam dimulai pada pagi hari sampai jam 5 sore. Kulkul (kentongan) Pura Puseh dipukul ini tanda mulai dan berakhirnya Nyepi.
— Nyepi Sagara atau Laut
Segara/Pasih berarti pesisir pantai, laut maupun pasih. Nyepi Segara = tidak adanya aktivitas dan hening, sipeng di pesisir pantai dan laut .
Tradisi ini ada di Nusa Penida, dilakukan dalam rangka upacara Ngusaba Agung Penyejeg Jagat, dilaksanakan setahun sekali, setiap Punamaning Kapat sekitar bulan Oktober. Sehari setelah upacara pengusaban dilaksanakan upacara mepekelem. Keesokan harinya dilakukan Nyepi Segara selama 1 hari penuh, pukul 06.00 pagi sampai pukul 06.00 pagi keesokan harinya.
Tidak boleh ada kegiatan di laut, seperti: Bertani rumput, memancing, penyeberangan, memanen rumput laut. Semuanya dihentikan dalam sehari.
— NYEPI TAWUR KASANGA
Nyepi ini adalah yang paling umum diketahui di Bali dan Indonesia, perayaan TAWUR AGUNG atau penyucian jagat pada tepat hari Tilem Kasanga (hari akhir bulan ke-9 seusai kalender Bali), ini sebabnya disebut TAWUR KASANGA. Bertepatan setelah Nyepi, terjadi pergantian tahun Śaka yang terkait dengan tradisi tahun yang dipakai oleh Kerajaan-Kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara, seakan TAWUR KESANGA ini terkait dengan datangnya tahun Śaka. Padahal tidak.
Kekeliruan menyebut Brata Nyepi Tawur Kasanga sebagai menyambut tahun Śaka harus diluruskan. Berbagai Nyepi yang ada di Bali tidak terhubung dengan pergantian tahun tertentu. Hanya karena Tawur atau Caru Sasih Kasanga bertepatan besoknya adalah pergantian tahun Śaka dikait-kaitkan secara keliru. Kekeliruan ini berkelanjutan turun-temurun dan bergenerasi-generasi yang menyesatkan esensi Nyepi sebagai bagian dari Upacara Pecaruan atau Tawur.
Generasi muda pun akhirnya kehilangan pemahaman pada esensi Pecaruan dan Tawur karena akibat kesalahan menselebrasi Nyepi sebagai perayaan tahun baru Śaka. Sepatutnya generasi selanjutnya dikembalikan diajak memahami secara mendasar bahwa Nyepi serempak ini adalah Panyepian Tawur Kasanga — Brata Nyepi untuk merayakan secara batin Upacara Tawur Pecaruan yang telah dikerjakan sehari sebelumnya. Singkatnya, Nyepi tidak berkaitan dengan perayaan tahun tertentu. Nyepi setelah Tawur Tilem Kesanga adalah perayaan Tawur Kasanga
Upakara apa yang mengamanatkan penyepian?
Dalam Hindu Bali, sebenarnya, masih ada beberapa ritual lainnya mensyaratkan ‘penyepian’ sepanjang ritual tersebut memakai sesaji atau banten sebagai berikut:
– Banten Biakaon
– Banten Pangresikan
– Banten Prayascita
– Banten Durmanggala
– Berbagai Banten Caru atau Tawur
Sebagai contoh, di masa lalu, sepasang pengantin yang menjalani upakara ‘biakaon’ diwajibkan untuk melakukan salah satu ‘brata penyepian’ yaitu tidak diperbolehkan bepergian ke lain desa, harus berdiam di rumah selama 3 hari setelah menjalani upakara ‘biakaon’ tersebut.
Saya sendiri di masa kecil pernah ‘mabrata nyepi diri’ tidak boleh ke dapur selama 3 hari dan semua makanan diambilkan oleh ibu saya setelah menjalani ‘upakara Tubah’ (Matubah). ‘Tubah’ adalah semacam ‘prayascita alit’ (penyucian buana alit) ditujukan bagi orang Bali yang hari kelahirannya tergolong ‘berat’.
Berdiam diri di rumah (amati lelungan) diiringi doa serta ikhtiar penyucian diri itu disebut masekeb (mengurung diri secara lahir batin), bisa juga disebut sebagai ngeka-brata (Eka Brata).
Begitulah ‘panyepian’, ia adalah ‘ruang terbuka’ yang memberikan ‘instrumen magi’ bisa bekerja dengan ‘efektif’. Secara filosofis ini adalah ruang atau jeda untuk merenung. Ruang dimana kita khusuk-masuk ke dalam kontemplasi diri.
Brata penyepian adalah rangkaian dari upakara Tawur dan Caru, bukan perayaan tahun baru tertentu, yang diharapkan menjadi ruang kontemplasi merenungkan diri sendiri, lingkungan dan Ibu Pertiwi.


























