25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian II: Internalisasi

Ridwan Hasyimi by Ridwan Hasyimi
July 8, 2021
in Esai
Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian II: Internalisasi

Pedntas teater "Perempuan Tanpa Nama" oleh Komunitas Mahima, Buleleng, 23/07/2017 [Foto: Agus Wiryadi]

Tak dapat dipungkiri, ada kalangan yang memandang metode akting realis yang punya sekian varian itu sudah ketinggalan zaman. Apalagi dengan gempuran sejumlah aliran teater yang kini sering jadi perbincangan yang secara simpel dapat diringkas dalam bingkai teater kontemporer.

Tapi tetap saja, metode akting realis dibutuhkan. Seliar-gila apa pun aliran teater itu, sejauh masih berkaitan dengan aktor, metode ini masih relevan sebab ia adalah metode, cara, bukan gaya atau bentuk. Soal gaya, bentuk, dan aplikasinya, tentu bisa sangat kaya dan bermacam-macam sesuai dengan konsep pertunjukan yang disepakati.

Di tulisan sebelumnya, saya berbagi pengalaman tentang apa yang guru-guru saya ajarkan kepada saya tentang akting realis. Saya bukan anak kuliahan. Jadi, besar kemungkinan ada, atau bahkan banyak, perbedaan istilah atau apa pun dengan yang biasa digunakan oleh teman-teman kampus. Tapi itu tidak harus jadi soal. Teater jangan dikerangkeng di kampus melulu. Biarkan ia kawin dengan berbagai dunia mungkin yang ada yang barang tentu melahirkan terminologi yang boleh jadi berbeda satu sama lain.

Kembali ke soal akting. Di tulisan lalu, saya sampaikan bahwa sebelum aktor melakoni sebuah peran, pertama-tama ia harus tahu, kenal, sadar, paham, dan menerima tubuhnya. Setelah seorang aktor tuntas, atau setidaknya dianggap tuntas, barulah ia berkenalan dengan tubuh tokoh.

Sebetulnya, prosesnya tidak sekaku itu. Bisa sambil menyelam minum air. Sambil menganali tubuhku, kenali pula tubuh “aku yang lain”. Tapi, idealnya, ya, tuntas dulu dengan tubuh sendiri sebelum kenalan dengan tubuh tokoh.

Cara mengenalinya, pertama-tama, dari teks. Yang tidak tertera dalam teks, itulah ruang tafsir. Tapi jangan sampai tidak nyambung dengan teks. Misalnya, di teks tertulis ada seorang tokoh bernama Cecep Dadan Sobarna. Dikisahkan ia adalah seorang perantau. Sementara seting lakon berlangsung adalah di sebuah perdukuhan di Jepara, Jawa Timur, tahun 1980-an.

Aktor yang memerankan Cecep musti paham bahwa nama Cecep bukan nama yang nama yang umum bagi laki-laki di Jepara di tahun 80-an. Hal ini nyambung dengan keterangan dalam teks bahwa ia seorang perantau. Hanya saja, tidak ada informasi dari mana Cecep berasal. Lantas, dari mana Cecep berasal?

Cecep adalah nama yang umum digunakan oleh laki-laki di Jawa Barat (Sunda). Terlebih dengan kepanjangan Dadan Sobarna, hal ini lebih menguatkan lagi sebab baik Dadan maupun Sobarna juga adalah nama yang umum digunakan laki-laki di Jawa Barat.

Meski teks tidak menyuratkan daerah asal tokoh ini, namun, dari namanya besar kemungkinan Cecep berasal dari Jawa Barat. Hal ini penting diketahui sebab merupakan bagian dari biografi tokoh. Saya diajarkan oleh guru saya, Gusjur Mahesa, untuk menulis biografi tokoh selengkap mungkin. Jadi semacam cerpen atau autobiografi. Jadi, saya dan kawan-kawan aktor yang lain mengembangkan sejumlah keterangan yang tertulis di teks untuk kami jadikan biografi yang utuh. Lengkap dari mulai tokoh lahir sampai masa ketika peristiwa lakon berlangsung.

Kami juga menuliskan pandangan tokoh terhadap tokoh lain. Hal ini sangat penting karena akan menjadi dasar bagi aktor untuk eksplorasi dan mengembangkan karakter serta sikap luar-dalamnya kepada tokoh lain.

Setelah semua informasi prihal tubuh dan biografi tokoh didapat, selanjutnya tinggal menginternalisasikan ke dalam tubuh luar-dalam sang aktor. Proses internalisasi ini sebetulnya tidak kaku dalam arti tidak musti dilakukan setelah semua informasi ketokohan diperoleh.

Seperti yang pernah saya sampaikan di bagian awal, jawaban atas berbagai pertanyaan untuk menguak karakter tokoh kadang kala tidak ketemu dalam waktu singkat. Jadi, proses internalisasi itu ibarat memaham biak: dikunyah, ditelan, dikunyah lagi, ditelan lagi, dan seterusnya sampai pada titik pas. Akting dan teater secara umum adalah soal takaran. Ukurannya adalah pas.

Proses internalisasi meliputi segala hal ihwal tubuh luar-dalam, termasuk pikiran. Kalau untuk menjiwai emosi tokoh, biasanya aktor sudah punya metode untuk itu. Misalnya, dengan cara sang aktor mengingat momen tertentu dalam hidupnya yang mengandung muatan emosi yang mirip dengan emosi tokoh dalam suatu adegan.

Yang biasanya sukar—atau tepatnya sering dilupakan—adalah soal menginternalisasikan pikiran, atau lebih tepatnya, pola pikir tokoh. Tiap orang kan punya pikiran yang terbentuk dari suatu pola pikir atau paradigma tertentu. Pola pikir ini dibentuk dan ditentukan oleh banyak faktor. Agama, ideologi, bacaan, teman pergaulan, akar budaya, sejarah hidup, dan lain sebagianya adalah sejumlah faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola pikir seseorang.

Seorang aktor, sebagai manusia beradab dan berbudaya, barang tentu punya pola pikir sendiri. Demikian pula seorang tokoh. Meski, katakanlah, fiksi, namun ia harus hadir di panggung sebagai manusia utuh, punya tubuh luar-dalam yang utuh, termasuk pikiran dan pola pikir.

Ada kalanya pola pikir seorang aktor tabrakan dengan pola pikir tokoh. Umpamanya, dalam kehidupan sehari-hari aktor A adalah seseorang yang sangat religius. Suatu ketika, ia mendapat peran sebagai seorang atheis. Pola pikir orang religius tentu sangat berbeda dengan orang atheis. Nah, yang jadi tantangan sekaligus keasyikan buat aktor adalah bagaimana cara menyerap pola pikir tokoh secara utuh tanpa kemudian “kebawa-bawa” ke kehidupan pribadi.

Yang harus elastis dari aktor bukan cuma tubuh luarnya, tapi juga emosi dan pikirannya. Aktor harus mampu mengikuti arus namun jangan sampai terbawa arus. Apalagi terseret-seret. Kalau sampai terseret-seret jadinya bukan akting, tapi kesurupan. Repot.

Kira-kira, butuh waktu berapa lama menginternalisasikan tubuh luar-dalam (termasuk emosi, pikiran, dan pola pikir) tokoh ke dalam tubuh aktor? Sebentar atau lama?   [T]

___

BACA JUGA:

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Tags: seni pertunjukanTeaterTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pendidikan Ekokritik dalam Tiga Cerpen Pemenang Lomba Bulan Bahasa Bali III Tahun 2021

Next Post

Perupa Arya Palguna | Kembali ke Bali, Menyambung Ingatan

Ridwan Hasyimi

Ridwan Hasyimi

Pekerja Seni. Tinggal di Tasikmalaya, Jawa Barat

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Perupa Arya Palguna | Kembali ke Bali, Menyambung Ingatan

Perupa Arya Palguna | Kembali ke Bali, Menyambung Ingatan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co