6 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ada Sampah Plastik, Ada Kepedulian, Terciptalah Kaki Palsu dari Sampah Plastik

Jaswanto by Jaswanto
February 2, 2021
in Khas
Ada Sampah Plastik, Ada Kepedulian, Terciptalah Kaki Palsu dari Sampah Plastik

Made Sumanasa belajar berjalan menggunakan kaki palsu dari bahan sampah plastik

Kita mulai cerita ini dari Made Sumanasa (50), warga Kubutambahan, Buleleng, Bali. Oleh sebab yang tak diinginkannya, ia terpaksa menggunakan kaki palsu. Dan kaki palsu yang digunakannya bisa disebut sesuatu yang mengagumkan. Sesuatu yang bagi sebagian orang mungkin jauh lebih mengagumkan daripada kaki Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi saat mencetak gol. Sesuatu yang lebih spektakuler daripada kaki iblisnya (diable jamble) Sanji dalam serial manga One Piece karya Eiichiro Oda.

Kaki palsu mungkin masih terdengar biasa. Tapi kaki palsu yang dikenakannya terbuat dari sampah plastik, bukan terbuat dari resin, fiber, atau katalis. Kaki palsu ini ia dapatkan dari Yayasan Kaki Kita Sukasada (YKKS).

Nah, proses panjang penciptaan kaki palsu ini — mulai dari niat baik untuk menciptakan hingga produksi berkualitas tinggi yang dihasilkannya – memang mengagumkan.

Untuk membuat satu kaki palsu, YKKS membutuhkan dua kilogram sampah palstik yang sudah dicacah. Sampah plastik yang dipakai pun tak sembarangan karena hanya botol plastik saja yang bisa digunakan.

YKKS merancang kaki palsu dari botol plastik itu disebabkan karena selama ini kaki palsu memiliki kisaran harga yang cukup mahal, sementara kebutuhan terhadap kaki palsu terbilang banyak. Di sisi lain, banyak penyandang disabilitas di Buleleng masih dalam usia produktif.

“Kami melihat di mana penyandang disabilitas kencing manis (diabetes) di Buleleng sebagian besar dengan ekonomi menengah. Sehingga hati kami terdorong untuk membantu mereka,” tutur I Made Aditiasthana, pendiri Yayasan Kaki Kita Sukasada.

Tentang kaki palsu yang digunakan Made Sumanasa punya riwayat yang cukup panjang. Lelaki itu awalnya menderita luka pada kaki karena diabetes. Aditiasthana-lah yang merawat Sumanasa sejak awal. Ketika masuk, dokter menyarankan amputasi. Sumanasa menolak dan stress. Tapi Aditiasthana berhasil membuat lelaki itu tenang dan paham.

Sumanasa pun bersedia kakinya dipotong. Dan Aditiasthana memberinya kaki palsu secara gratis. Kaki itu dipakai hingga sekarang, dan lelaki dari Kubutambahan itu pun bisa berjalan ke mana-mana seperti manusia lain.

I Made Aditiasthana, foto paling kanan

Bermula dari Kepedulian

Yayasan yang sudah berdiri sejak 2019 ini membandrol kaki palsu dari sampah plastik ini seharga 1 hingga 1,5 juta rupiah per buahnya. Harga ini masih lebih murah dibandingkan kaki palsu fiber-resin yang mencapai 6 juta rupiah bahkan lebih. Namun, khusus penyandang disabilitas yang tak mampu membelinya, yayasan akan memberikannya secara cuma-cuma⸺atau gratis, tanpa biaya sepeser pun.

“Pembuatan alat sekitar satu bulan, setelah itu kami akan masuk pada proses eksperimen karena produk ini sudah pernah ada yang buat di NTB, tapi tidak booming,” imbuhnya.

Penggunaan metode daur ulang limbah plastik untuk kaki palsu ini sebenarnya sudah mulai sejak 2004. Tetapi baru menemukan  momentumnya pada 2019 saat Yayasan Kaki Kita Sukasada resmi didirikan⸺dan berbadan hukum.

Seperti yang sudah disinggung di atas bahwa, pengolahan sampah plastik untuk kaki palsu ini berawal dari rasa kepedulian Adit terhadap penderita diabetes yang kakinya sampai diamputasi. Berdasarkan data dari Seksi Pelayanan Kesehatan Primer Kabupaten Buleleng, pada tahun 2018 penderita diabetes militus di Buleleng mencapai 4.493. Sedangkan pada tahun 2019 mengalami kenaikan hingga 15.399 penderita diabetes militus. Hal ini menjadikan penyakit tidak menular ini berada di urutan ketiga setelah hipertensi primer di urutan pertama dan ISPA di urutan kedua dari sepuluh besar Penyakit Kabupaten Buleleng.

Masyarakat penderita diabetes jika terluka pada bagian kaki, biasanya akan berujung pada amputasi. Mau tidak mau, bagi mereka yang kakinya diamputasi pasti memerlukan kaki palsu. Sedangkan harga kaki palsu di Tokopedia, misalnya, tak ada yang di bawah 2 juta. Seorang dokter spesialis fisik dan rehabilitasi Prof. Dr. dr Angela BM Tulaar, SpKFR(K) juga mengatakan bahwa harga kaki palsu atau prostetik sekitar 2 jutaan (detikhealth, 2019). “Tentu hal ini sangat memberatkan pasien penderita amputasi (khususnya diabet) yang kebanyakan berada di kelas menengah ke bawah,” ujar Adit.

Berawal dari masalah inilah Adit bersama seorang rekannya, Beni Ariadi⸺sang pembuat kaki palsu, sedangkan Adit hanya mengonsep⸺akhirnya fokus pada pembuatan kaki palsu dari sampah botol plastik.

Karena merasa memiliki visi-misi sama, yaitu rasa kepedulian, mereka berdua pada Oktober 2019 mendirikan Yayasan Kaki Kita Sukasada. Tak hanya memiliki program pembuatan kaki palsu saja, yayasan yang berlokasi di Jl. Pratu Mas No 7 ini, juga memiliki program perawatan untuk pasien kencing manis yang tidak mampu dan pemberdayaan penyandang difabel.

Belajar Peduli pada Aditiasthana

Di Pakistan kita mengenal sosok Abdul Sattar Edhi, pekerja sosial yang wafat 8 Juli 2016 lalu., yang  yang memulai kerja-kerja sosialnya dengan membuka toko obat kecil di samping rumahnya, yang meawarkan obat-obatan sederhana, berapa pun bayarannya. Tempat itu kini masih menjadi rumahnya, yang ditinggali juga oleh istri dan empat anaknya. “Saya kira itu kewajiban saya sebagai manusia,” kata Edhi mengenang langkah-langkah awalnya dulu. “Saya dapat pastikan bahwa pemerintah kami tidak akan mengurusi layanan-layanan sosial seperti itu.

Pada 1957, dia mendirikan Yayasan Edhi untuk menerima donasi dalam rangka membangun tenda-tenda rumah sakit bagi korban flu Hong Kong yang mengancam kala itu. Dari seorang pengusaha, dia memperoleh dana untuk membeli mobil ambulan yang dibawanya sendiri untuk menjemput orang-orang sakit. “Itulah pertama kalinya saya memperoleh kepercayaan yang bersar,” katanya.

Pada 1965, Edhi menikahi Bilquis Bano, seorang perawat di satu klinik miliknya. Dinahkodai Biquis, Yayasan Edhi lalu membangun rumah bersalin gratis dan membantu proses adopsi anak-anak yatim atau bayi-bayi “terbengkalai”. Mereka menyiapkan keranjang bayi di banyak tempat untuk siapa saja yang tak menghendaki bayinya. Mereka juga mengumumkan nomor telepon yang bisa dihubungi untuk tujuan yang sama, tanpa minta keterangan siapa sang ibu atau lainnya. Di samping kantornya ada ayunan bayi dan tulisan: “Jangan Bunuh Anakmu.”

Salah satu periode paling mengerikan bagi Edhi dan Balquis adalah perang 1965 antara India dan Pakistan, ketika Karachi dibom. Selain merawat mereka yang terluka dan sekarat, keduanya harus memandikan 45 mayat (Edhi yang laki-laki, Bilquis perempuan) dan menyiapkan pemakaman mereka. Dalam memoarnya, A Mirror to the Blind (1996), Edhi terang-terangan mengecam mereka yang merasa jijik dan terlalu suci untuk menyentuh tubuh orang-orang mati.

Pemerintah Pakistan wajib malu kepada Edhi dan yayasannya, karena yayasan itu kini merupakan organisasi layanan sosial terbesar di negara itu. Sejak didirikan, yayasan itu telah menampung sekitar 20.000 bayi yang ditelantarkan, merawat sekitar 50.000 anak yatim, dan melatih lebih dari 40.000 perawat. Dan yang paling Edhi kagumi: jumlah armada ambulansnya kini terbesar yang dijalankan organisasi non-pemerintah di dunia. Jika Anda ke Pakistan dan sekarat tanpa sejawat sama sekali, telpon saja Yayasan Edhi!

Tetapi ini bukan tentang Edhi. Ini tentang I Made Aditiasthana, sosok di balik terciptanya kaki palsu dari sampah plastik untuk para penderita diabetes yang kakinya sampai diamputasi. Adit (panggilan akrabnya), menyulap sampah plastik menjadi sesuatu yang luar biasa⸺dan tak terduga. Adit memang bukan Abdul Sattar Edhi, tapi apa yang dilakukannya sepertinya sama.. Seperti kata Edhi, “Saya kira itu kewajiban saya sebagai manusia.” Adit memiliki YKKS, Edhi memiliki Yayasan Edhi.

Kepedulian Adit seperti narasi Injil Lukas tentang orang Samaria yang murah hati (Luk. 10: 25-27). Seperti dikisahkan Yesus, orang Samaria memiliki sikap peduli terhadap sesama yang menderita. Sikap keberpihakan yang ditunjukan oleh orang Samaria ini amat berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh seorang imam dan seorang Lewi. Imam dan Lewi mengabaikan begitu saja orang yang sedang menderita di pinggir jalan. Mereka mengabaikan realitas penderitaan yang ada di hadapan mereka. Mereka lebih mementingkan ego pribadinya dan mengambil jalan untuk menghindar dan membiarkan sang korban yang tergeletak, bergulat dan bergelut dengan penderitaannya sendiri.

Tentu saja, Adit dengan YKKS-nya bukan termasuk orang yang ‘neurosis’ (suatu kondisi di mana orang berusaha melarikan diri dari dirinya sendiri) seperti kata Fritz Perls. Orang neurosis mengorbankan diri mereka sendiri untuk mengembangkan dirinya. Akibatnya, mereka merasa hampa, kering, dan tidak bermakna. Sedangkan YKKS tidak. YKKS berani untuk menjadi diri sendiri⸺karena itulah sumber kebahagiaan.

Seperti halnya Yayasan Edhi di Pakistan, YKKS yang didirikan Adit juga dikenal imparsial, tidak memihak kelompok mana pun. Mereka melayani semua orang tanpa pandang bulu, tanpa mendahulukan yang Hindu maupun yang Muslim, atau agama lainnya. Barangkali, bagi Adit maupun Edhi, agama mereka adalah mengabdi kepada kemanusiaan dan percaya bahwa semua agama di dunia punya dasar-dasar kepercayaan.

Pada diri Adit, kita menyaksikan contoh bagaimana agama yang benar, yang merupakan rahmat bagi siapa pun, dijalankan dengan baik. Dengan sendirinya tanpa pamrih dan kesombongan. Terima kasih, Adit. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sudah Sampaikah di Tujuan?

Next Post

5 Hal Unik Pagerwesi di Buleleng || Akibat Pandemi, Yang Nomor 4 Berubah

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails
Next Post
5 Hal Unik Pagerwesi di Buleleng || Akibat Pandemi, Yang Nomor 4 Berubah

5 Hal Unik Pagerwesi di Buleleng || Akibat Pandemi, Yang Nomor 4 Berubah

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi
Ulas Film

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

by Made Adnyana
May 6, 2026
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika
Bahasa

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen? Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu...

by I Made Sudiana
May 5, 2026
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri
Esai

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

by Nur Kamilia
May 5, 2026
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur
Budaya

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

DESA Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let (pusat permukiman Desa Adat...

by Nyoman Budarsana
May 4, 2026
Aoroville: Kota Eksperimental
Esai

Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh
Persona

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas
Panggung

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant
Gaya

Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant

TIDAK semua pemain menikmati perjalanan yang sama dalam game. Ada yang menghargai setiap tahap perkembangan, ada juga yang lebih fokus...

by tatkala
May 4, 2026
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan
Ulas Rupa

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

by Made Chandra
May 4, 2026
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial
Esai

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

by Angga Wijaya
May 4, 2026
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari
Cerpen

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

by Kadek Windari
May 4, 2026
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo
Puisi

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

by Kim Young Soo
May 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co