23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lingga

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Wulan Dewi Saraswati       

SEBELUM tengah malam meme menghubungiku, suaranya lelah, tak bergairah. Aku pikir tidak ada yang tidak dapat ia hadapi kecuali kemalasan bapa. Setiap menerima panggilan dari meme malam hari, aku hanya diam. Aku gemetar. Seperti mengingat kejadian puluhan tahun, saat aku tidak diizinkan ke luar rumah.

“Berbahaya main di luar! Kamu harus diam di rumah. Kamu dengar?!” Suara bapa memekik telinga. Matanya melotot tajam. Aku diam. Hanya tersungkur di balik tirai sambil mengintip dari jendela anak-anak yang bebas main sepeda.

“Berbahaya?” tanyaku lirih. Air mataku berjatuhan sambil menggigit bibirku. Dia mendekat lalu membuka tirai, menarik rambutku agar aku bangkit dari persembunyian.

“Tidak semua pertanyaan perlu jawaban. Aku pun tidak pernah mendapat jawaban atas pertanyaanku. Mengapa kau lahir sebagai perempuan? Apakah Tuhan menjawab doaku? Tidak! Biar jadi misteri. Seperti misteri kelahiranmu,” gertaknya sambil meremas rambutku.

Aku bodoh. Hal yang harus kulakukan adalah teriak, menangis lantang agar tetangga menolongku dari siksaan ini. Aku tidak mengerti mengapa bapa membenciku. Apa karena aku perempuan?

“Bapa, Luh. Bapa hilang! Sejak seminggu lalu ia hilang. Polisi dan keluarga juga sudah mencarinya. Luh, bapa hilang!”kata meme membuyarkan lamunanku.

Meme kerap menghubungiku bila terjadi sesuatu di rumah. Sebagai anak tertua, aku berkewajiban lebih besar mengurus meme dan bapa. Selain itu, tidak ada penerus keturunan di keluarga kami. Penerus keluarga haruslah laki-laki. Tidak boleh perempuan mengambil hak atas warisan ataupun nama keluarga. Setelah aku dan adikku bekerja di Zwolle, meme dan bapa hanya berdua. Semenjak itulah bapa jadi berbeda. Banyak orang menuduh bahwa ini akibat keluarga kami yang dikutuk leluhur.

“Luh, Bapa sudah gila! Kamu tanyakan pada orang pintar, mungkin ada yang perlu ditebus. Sepertinya leluhur mengutuk keluargamu,” kata Mbok Rai adik Bapa sewaktu aku menjenguk meme dan bapa.  

 “Kadang dia berjalan sendiri ke pasar ikan sambil bernyanyi Juru Pencar!” imbuh Mbok Sri tetangga seberang.

“Kamu nanti bukan keluarga ini lagi, lebih baik Putu Suta yang mengurus masalah ini. Dia sepupu lelaki tertuamu dan pantas menjadi ahli waris,” sambungnya.

Semenjak kepergianku ke Zwolle , orang-orang selalu membahas ahli waris. Aku jenuh mendengar ocehan mulut api seperti mereka. Aku pun geram.

“Lin! Sampai kapan kau tidak menjelaskan ini kepada orang tuamu? Kau tidak bisa lagi menyembunyikan identitasmu,” tiba-tiba Kylie menyahut dari belakang. Ia nampaknya tahu aku mendapat telepon dari meme.

“Kalau kau ada waktu, kembalilah. Ini semua bukan salahmu. Bukan salah siapa. Memang sudah takdir keluarga kita tidak diberikan penerus. Sudahlah, tidak usah jadi beban. Kamu tidak perlu sampai melarikan diri ke negeri orang. Pulang saja, Luh. Lelah sudah meme mengurusi bapa. Warga desa juga sudah putus asa. Sia-sia saja,” kata meme yang kudengar isak tangisnya.

Hingga kini aku masih memanggilnya meme. Begitupun meme selalu menyebutku dengan Luh. Yah, aku Luh Lin. Semenjak usaha rumput lautku berhasil, bahkan sampai ke negeri Belanda, aku dan keluargaku tidak lagi jadi bahan olok-olokan. Paman dan bibi tidak lagi merampas hak kami, termasuk jatah beras dari sawah kakek. Orang-orang desa tidak lagi menghina meme yang tidak pernah bisa melahirkan anak laki-laki. Selain itu, bapa tetap saja malas tidak mau bekerja.

Tidak pernah kulihat bapa bekerja. Ia hanya sibuk menjual tanah-tanahnya kepada orang kota. Semakin laku, semakin tinggi nafsunya mencari gadis-gadis dekat terminal. Setelah itu, bapa punya utang. Kalau tidak segera dilunasi, bapa mengancam bunuh diri.

Akhirnya hasil penjualan ayam potong meme, diberikan padanya. Kesal sekali. Lelaki macam apa yang malas dan lemah seperti itu. Apa karena ia terlahir sebagai lelaki ia mampu meneruskan keluarga kemudian mendapat warisan? Toh nanti juga dijual. Tidak menjamin pewaris keluarga itu adi luhur sikapnya. Aku benci bila mengingat kejadian itu.

Semenjak aku di Zwolle bersama Kylie, aku lebih tenang. Aku jarang mengingat kejadian itu kecuali pada saat meme menghubungiku seperti saat ini. Isak tangis yang terdengar seperti lagu tidur malam saat masa kanakku dulu. Meme selalu menyimpan rasa kecewa lewat air matanya.

“Kalau aku pulang, apa meme akan tetap menerimaku?” tanyaku usai menenangkan diri.

“Mengapa tidak, Luh? Meme sangat merindukanmu dan Ris, adikmu. Namun sayang, adikmu sudah meninggal,” sahutnya semakin melemah. Aku meneguk wine, menenangkan diri. Udara sejuk Zwolle di akhir tahun sungguh membantuku menenangkan diri. Aku terdiam.

“Kalau saja bapa punya anak laki-laki pasti sudah hebat dia. Bisa main tajen, main di terminal, ngurusi bapa. Kalau kamu dan adikmu? Cuman bisa di rumah,” kata bapa ketika ia mabuk usai judi di bale banjar. Aku ingat benar, hanya aku yang dapat melawan bapa. Malam itu juga, selagi ia tidak sadar penuh. Aku siram kemaluannya dengan air hangat. Tidak ada yang berani membelaku sejak itu.

Malam itu adalah malam terakhir bapa merasakan nikmatnya menjadi lelaki. Kelaminnya terkelupas dan mengkerut. Ia hanya bisa tersungkur menahan kobaran panas. Setelah itu, tidak pernah kudengar kabar bapa ke terminal atau bale banjar satu-satunya yang ia tahu adalah kasur dan kamar mandi. Kakinya tidak berfungsi baik. Bila buang air kecil hanya tetes demi setetes. Bapa hanya menggerutu. Sepertinya ia mengutukku dalam hati. Aku tidak peduli. Kutukannya tidak akan didengar leluhur.

Bagiku, lebih baik bapa bermalas di rumah ketimbang keluyuran mencari orang-orang malas yang lainnya di luar. Aku sudah membantu leluhurku. Membantu mereka menyadarkan bapa sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab mengurus rumah. Ah, kejadian itu benar-benar membuat aku muntah. Cepat-cepat kuteguk sisa wine berharap kenangan itu segera tertelan.

“Besok aku pulang bersama temanku,” sahutku tenang.

“Terima kasih, Luh. Mungkin kehadiranmu dapat membuat bapa pulang. Meme harus ke kantor polisi, semoga sudah ada perkembangan tentang ini.”

“Apa benar meme ingin mencari bapa? Bukannya lebih baik ia tidak ada?”

“Luh!”

“Lelah, Me!”

“Tidak ada yang lebih pantas kau sebut bapa selain dia. Apa pernah dia menjualmu?”

“Mungkin saja. Kalau utangnya belum lunas!”

“Jangan lagi kau berbicara begitu. Kamu harus mengerti kondisi.”

“Kondisi bahwa kita menyerah pada takdir? Takdir bisa diubah.”

“Kamu anak perempuan yang selalu berbicara kasar tentang dia.”

“Aku tidak seperti yang meme bayangkan lagi.”

“Apa maksudmu, Luh?”

“Sudahlah. Takdir adalah perjuangan, Me. Aku sudah berjuang melawan takdirku!” Aku makin geram. Sloki ditangan kubantai, hampir terkena lengan Kylie. Untung saja, remah gelas itu tidak menusuk Kylie yang sedang menidurkan North.

“Kalau saja meme ditakdirkan untuk memilih sebagai ibu atau ayah. Tentu meme akan memilih sebagai ibu. Jadi ibu untukmu. Sudahlah, sampai jumpa. Meme tunggu.” Telepon ditutup. Isak tangis itu tidak lagi kudengar. Tapi North menangis sejadi-jadinya. Kylie panik dan memberikannya padaku. Aku mengayun North agar tidur lelap untuk beberapa waktu.

“Mengapa tak kau ceritakan semua?” tanya Kylie sembari membetulkan selimut.

“Nanti, setelah kita tiba di sana,” jawabku sekadar. Tengah malam kami pun berkemas. Beberapa perlengkapan yang benar-benar perlu saja dibawa. Perjalanan panjang yang memakan waktu 16 jam tentu melelahkan. Lebih baik North diamankan. Lebih baik ia ditaruh di koper agar tidak merepotkan. Robot bayi yang kubeli di Amerika itu memang cukup merepotkan.

“Me, perkenalkan temanku Kylie. Calon istriku,” itulah kata pertama yang kuberi buat meme  yang tidak kunjung menemukan bapa.

“Duh, ratuuuuuu! Meme pikir kau akan membantu!” sahutnya gemetar memendam amarah.

“Ini takdirku, Me! Takdir yang kuperjuangkan dari dulu! Ini semua untuk keluarga! Beginilah bentuk bantuanku, Me.”

“Tersiksa menjadi perempuan bukan berarti kau harus menjadi orang lain!”

“Me! Demi operasi, susah payah kukumpulkan uang, sampai pergi ke negeri luar hanya untuk menjawab keresahan keluarga ini!”

Di tengah perselisihan, muncul seseorang. Ia membuka pagar dengan menggeser engsel perlahan hingga decit besi tua itu terdengar. Kami diam. Tak saling menatap. Perlahan mataku melihat lelaki tua dengan gincu di bibirnya. Ia berjalan sambil bernyanyi Juru Pencar! Ya itu bapa!

“Siapa kamu? Mengapa di rumahku?” tanyanya.

“Perkenalkan aku Lingga, purusa di keluarga ini,” sahutku tegas.

“Lin?”

Keadaan semakin dingin. Aku ragu, apa benar ini bapa yang selalu punya tenaga untuk melawanku? Kali ini aku lihat benar gincu itu. Bapa ternyata hilang untuk kembali lagi ke terminal tempat perempuan malam berkubang! Aku geram, aku geram!

“Aku tidak lagi Lin!”

“Kau anak perempuanku.”

“Tidak lagi!”

“Ke mana saja bapa selama ini? Tidak hentinya meme mencari dan menangis karena bapa! Aku sudah jadi apa yang kalian ingin. Sekarang mari buat perayaan pernikahanku,” gertakku.

“Maaf. Aku pergi ke terminal. Menjadi perempuan binal.”

Kami hening. Tak saling menatap. Tak saling berpeluk. Mungkin juga leluhur membisu. Ternyata takdir adalah kutukan. (T)

Tags: Cerpen
Share58TweetSendShareSend
Previous Post

Hati Perempuan Bukan Rumah Bordil – Curhat Klise pada Suatu Senja

Next Post

Naik Delman Lebih Istimewa – Renungan dari Upanishad hingga Ibu Sud

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post

Naik Delman Lebih Istimewa - Renungan dari Upanishad hingga Ibu Sud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co