25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KETURUNAN GAJAH MADA DI BALI

Sugi Lanus by Sugi Lanus
January 25, 2021
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Januari 2021


1. Gajah Mada memiliki keturunan di Bali. Kisah ini masih beredar di Bali tahun 1842.

Kisah yang diturunkan secara turun-temurun ini mengatakan bahwa Gajah Mada memiliki keturunan dan tinggal di Bali Tengah yang sekarang dikenal dengan nama kawasan Mengwi. Keturunannya dikabarkan tinggal di sana, sebelum akhirnya terbentuk Kerajaan Mengwi sekitar tahun 1723.

2. Dimana bisa ditemukan naskah dan catatan yang menyebutkan Gajah Mada punya keturunan di Bali?

  • Di Kerambitan terdapat naskah ketikan yang mengatakan bahwa Gajah Mada memiliki 8 putra. Penjelasan ini terselip di antara kisah tentang para bangsawan di kerajaan di Bali. Sayangnya, naskah lontar aslinya tidak bisa saya temukan hanya tertinggal salinan dalam bentuk ketikan.
  • Tahun 1842 ada utusan Belanda ke Bali mencatat khusus bagaimana sistem pemerintahan dan strata sosial di Bali. Catatan khusus ini dilaporkan ke ke Jean Chrétien baron Baud — Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang ke-44 yang berkuasa antara tahun 1834 – 1836. Dalam catatan terungkap cukup panjang lebar tentang bagaimana keturunan Gajah Mada dan para Arya yang datang dari Bali menjadi penyusun strata kebangsawanan baru di Bali setelah mereka hijrah ke Bali. Sebelumnya tidak terdapat strata kebangsawanan di Bali, Gajah Mada dan keluarga para Arya serta pandita dari Majapahit yang membuat kemunculan atau adanya strata kebangsawanan di Bali.
  • Catatan lain yang juga ditulis penelit Belanda, yaitu R. Friederich (1887), mencatat bahwa ada keturunan dari Gajah Mada menjadi penguasa lokal yang tersebar di Bali. Catatan panjang R. Friederich seperti membenarkan catatan lain sebelumnya yang ditulis 1842. Gajah Mada dan keluarganya disebutkan sebagai penguasa dan wilayah Mengwi sebelum terbentuknya Kerajaan Mengwi dan Kerajaan Badung. Disebutkan pula bahwa informasi keberadaan Gajah Mada di Bali dihilangkan dari lontar USANA JAWA. Terjadi rekontruksi penulisan sejarah tradisional Usana dan Babad yang menghilangkan informasi keberadaan Gajah Mada di Bali.

3. Dari catatan bertanggal 14 Maret 1842 (Laporan ke Jean Chrétien baron Baud — Gubernur-Jenderal Hindia Belanda) kita mendapat informasi bagaimana terbentuknya kebangsawanan di Bali dan sistem strata di Bali adalah bagian dari dampak kepindahan masyarakat Jawa ke Bali. Muncullah gelar kebangsawanan di Bali yang tidak dikenal sebelumnya. Stara sosial pasca kedatangan bubaran  Majapahit ke Bali ini membentuk strata sosial yang ditemukan di Bali tahun 1842.

Catatan tersebut jelas menyebutkan bahwa:

  • Telah terjadi pergantian atau konversi agama di Majapahit.
  • Raja tua tidak rela ada pertumpahan darah dengan putranya. Raja Brawijaya tidak ingin ada pertumpahan darah antar masyarakat Majapahit. Oleh karena itu bagi yang setia mengikuti “paham Brahma” mereka diajak pindah ke Bali.
  • Disebutkan Raja Brawijaya berjuang keras pindah ke Bali bersama rombongan besar. Tidak terhindarkan ada penolakan dari masyarakat Bali. Terjadi pertumpahan darah di Bali akibat exodus masyarakat Majapahit. Penolakan masyarakat Bali menyebabkan banyak bentrok-bentrok di kalangan masyarakat pendatang Majapahit dan Bali mula.
  • Raja Brawijaya sendiri yang disebutkan men-setting berdirinya kerajaan baru di wilayah sekitar Klungkung [kemungkinan yang dimaksud adalah Samprangan dan Gelgel].
  • Gajah Mada menduduki wilayah Bali bagian tengah, yang kini dikenal sebagai Mengwi.
  • Semenjak itulah terjadi pembentukan strata sosial dan muncul gelar kebangsawanan di Bali. Kerumitan gelar kebangsawanan muncul karena ada kebiasaan berpoligami sehingga muncul berbagai gelar yang sangat rumit — kemungkinan yang dimaksud adalah asal strata dari istri atau latar belakang keluarga pihak perempuan turut menentukan penamaan atau gelar kebangsawanan dari anak-anak mereka. Sekalipun berayah atau bapak sama, tapi kalau beribu dengan latar belakang berbeda mereka menyandang status berbeda, tergantung juga sah tidaknya hubungan mereka, ini yang kadang membuat keturunannya punya beragam gelar, bahkan tidak memakai gelar formal, sekalipun masih diakui sebagai keturunan atau keluarga mereka.

4. Keturunan Gajah Mada disebutkan dalam laporan 1842 dan R. Friederich (1887) mereka masuk sebagian menjadi keturunan penguasa kerajaan Mengwi, bangsawan Marga, sebagian di Badung, dan sebagian ikut menyusun kebangsawanan di Karangasem. Keturunan Gajah Mada disebutkan bergelar Gusti.

5. Saya sendiri mendengar dari penuturan langsung dari Biang Bulan Trisna Djelantik (Prof. Dr. dr Ayu Bulantrisna Djelantik, spesialis THT) yang lebih dikenal sebagai maestro Legong, tak lain putri dari Dr. AA Made Djelantik, saudara dari Raja Karangasem terakhir, bahwa di masa kecilnya mendengar penuturan dari keluarganya kalau keluarga mereka punya darah kebangsawanan terkait Patih Gajah Mada. Informasi ini tidak umum di Bali namun “informasi internal” keluarga bangsawan inti ini masih ada jejaknya, kalangan terbatas yang lahir tahun 1940-an masih mengetahui kisah keberadaan keluarga yang punya leluhur terkait dengan Gajah Mada. Kisah lisan ini sejalan dengan catatan bertahun 1842 yang ditujukan kepada Gubernur-Jenderal Hindia Belanda Jean Chrétien baron Baud, dan sesuai dengan yang ditulis oleh R. Friederich (1887).

6. Teks lets Over Bulie en deszelfs bewoners (bertanggal 14 Maret 1842, yang merupakan laporan ke Jean Chrétien baron Baud — Gubernur-Jenderal Hindia Belanda) dan tulisan R. Friederich (1887) ‘An account of the island of Bali’ dimuat dalam Miscellaneous Papers Relating to Indo-China and the Indian Archipelago, Volume 2 (1887), menjadi rujukan menarik dan perlu dipelajari lebih jauh mengingat disebutkan oleh R. Friederich bahwa keberadaan Gajah Mada disengaja dilenyapkan dalam penulisan USANA JAWA. Kini USANA JAWA menjadi banyak rujukan penulisan sejarah lokal Bali. Demikian juga kisah “lenyapnya Gajah Mada” dan hilangnya jejak misterius Gajah Mada lenyap tanpa keturunan yang beredar di Jawa, yang menjadi opini yang beredar luas, ternyata sangat berbeda dengan sejarah lisan di Bali tahun 1842.

Pembentukan Kerajaan Mengwi tahun 1723 akhirnya “menumpuk” dengan sejarah sebelumnya, kedatangan Majapahit yang dikenal umum bertahun Śaka “sirna hilang kertaning bhumi” (1400) atau 1478 M. Sejarah Kerajaan Mengwi yang seakan menumpuk kisah keluarga Gajah Mada, membuat jadi tidak lagi terjejaki, padahal kisah itu dahulunya jelas disebutkan bahwa keturuan Gajah Mada disebutkan menjadi penguasa atau tinggal di wilayah Bali bagian tengah — dikenal selanjutnya sebagai Kerajaan Mengwi setelah dibentuk kerajaan ini. Seiring bertumbuhnya Kerajaan Mengwi itulah diperkirakan memudar pula ingatan keberadaan kedudukan Gajah Mada dan keluarganya di Bali bagian tengah ini.

7. Catatan saya pribadi, setelah membandingkan Usana Bali dan Usana Jawa, ada beberapa kejanggalan Usana Jawa memang sepertinya direvisi dan beberapa hal yang sensitif dihilangkan. Seperti Arya Damar yang dalam peperangan melawan laskar Bali secara “tidak sengaja” membunuh Pasung Grigis, lalu dalam USANA BALI disebutkan Pasung Grigis diajak berperang ke Sumbawa dan gugur di sana. Usana Jawa masih memuat gugurnya Pasung Grigis dalam perang di wilayah Ularan menghadang pasukan Arya Damar. Kebencian penduduk Bali mula yang berperang menolak Majapahit sepertinya ingin dilunakkan dalam penulisan Usana Bali dengan mengatakan Pasung Grigis — mahapatih di Kerajaan Bali sebelum ditaklukkan Majapahit — tidak gugur dalam perang di Bali melawan Arya Damar, tapi disebutkan berpulang melawan penguasa Sumbawa. Nama keturunan Arya Damar di Bali tersamar seperti “berganti nama” (?) atau “disamarkan” (?) menjadi Arya Kenceng, kemungkinan ingin “menghapus ingatan” dari masyarakat Bali mula yang ditundukkan oleh pasukannya Arya Damar bersama Gajah Mada. Demikian juga, kalau kita percaya sumber informasi dari R. Friederich — bahwa Usana Jawa telah diubah dan dihapus nama keberadaan Gajah Mada dan keturunannya yang berkuasa di kawasan Mengwi Revisi — mungkin punya maksud tertentu. Ada kemungkinan “pelenyapan informasi” keberadaan keluarga Gajah Mada di Bali sengaja dilakukan agar tidak ada sentimen atau kebencian muncul di kalangan masyarakat Bali mula yang ditundukkan di masa lalu. “Pelenyapan informasi” keturunan Gajah Mada ini juga sekaligus untuk menjamin kedamaian dari keturunannya untuk hidup sebagai “orang kebanyakan” yang tidak perlu lagi dibebani sejarah perang masa lalu yang sangat besar melekat pada nama Gajah Mada.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Raja Purana Pura Ulun Danu Batur

Next Post

7 Jurus Memperbaiki Diri untuk Melangkah pada Rencana Panjang | tatkalamuda

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
7 Jurus Memperbaiki Diri untuk Melangkah pada Rencana Panjang | tatkalamuda

7 Jurus Memperbaiki Diri untuk Melangkah pada Rencana Panjang | tatkalamuda

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co