7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Polemik Tentang Sains, Agama dan Filsafat antara GM dan AS Laksana – Sebuah Perbandingan

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
June 15, 2020
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Mengapa judul tulisan ini saya isi dengan kata perbandingan?

Begini. Hari hari ini dunia medis sedang dalam tekanan. Di satu sisi pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda menyurut, sisi lainnya kepercayaan masyarakat terhadap kami, petugas medis, dalam menangani situasi ini juga mulai tergerogoti. Banyak faktor yang mungkin bisa jadi penyebabnya. Kelesuan ekonomi, ketidakpastian hari esok apalagi masa depan adalah beberapa diantaranya.

Tapi yang sangat disayangkan adalah adanya pihak pihak yang bersuara miring tentang situasi ini, termasuk  atas kinerja kami dalam usaha ikut menanggulangi pandemi ini. Mulai dari tudingan konspirasi global, hingga usaha mencari keuntungan dari pihak rumah sakit termasuk dokter dengan menunggangi kesulitan yang tengah dihadapi masyarakat.

Dan saat yang menyuarakan itu adalah tokoh “publik” dengan penggemar yang cukup banyak, maka hal ini terasa mengganggu, seperti sebuah kampanye negatif terhadap usaha kita bersama untuk bisa segera lepas dari situasi ini. Wacana konspirasi global yang didengungkan sang tokoh, sepintas mengingatkan saya akan ide yang nyaris sejenis. “Indonesia bubar di tahun sekian”, kata tokoh lain  saat hangatnya persaingan kursi presiden di pilpres kemarin. Yang setelah ditelusuri, ide itu didapat dari sebuah cerita fiksi karangan orang asing, yang menyinggung negara kita.

Ide konspirasi ini pun saya dengar, termuat di sebuah novel karya penulis Eropa Timur yang kemungkinan dibaca sang tokoh, dan disandingkan dengan situasi  saat ini, yang mungkin menurut imajinasi liarnya adalah sesuatu yang sebangun. Kesimpulannya saat sebuah wacana didasarkan pada sebuah imajinasi ataupun cerita fiksi, mestikah kita membuang banyak energi untuk membahasnya, hingga kita melupakan apa yang semestinya kita lakukan sebagai sebuah bangsa?

Saya tak ingin membahas lebih lama tentang polemik itu. Pemakaian bahasa yang kasar, argumentasi yang dangkal tak berdasar. Seakan mengejek kewarasan kita sebagai orang yang berpendidikan.

Untungnya, pada saat-saat yang sama kita disibukkan dengan adu pikiran yang berwibawa antara dua tokoh yang kita kenal produktif berkarya di kancah penulisan tanah air. Goenawan mohhamad sang penulis catatan pinggir dan mantan pemimpin redaksi majalah Tempo, beradu pendapat secara elegan dengan sang penulis muda dari Jawa timur AS Laksana, seorang penulis cerpen dan esai yang juga terkenal di Indonesia.

Polemik ini diawali oleh AS Laksana, dengan mengkritisi pilihan sikap GM terkait peran sains dalam kehidupan sehari hari kita yang disampaikan GM dalam sebuah seminar, dipadupadankan dengan yang beliau tulis di media selama masa pandemi ini. Saya menangkap sikap GM ini dilandasi oleh kegemasan beliau melihat perkembangan penanganan pandemi Covid 19 ini oleh pihak pihak yang berwenang, dalam hal ini bidang kesehatan, yang notabene adalah bagian tak terpisahkan dari sains.

GM sampai merasa perlu menunjukkan kepada kita  kisah penanganan pandemi dimasa lalu , saat dr Cipto Mangunkusumo mengatasi pandemi Pes di sebuah kota di Jawa. Polemik yang diawali oleh kedua tokoh tadi, dalam perjalanannya kemudian di ramaikan oleh beberapa penulis lainnya, yang merasa tertantang untuk ikut unjuk pengetahuan mereka. Hingga kemudian kita bisa melihat dua kutub yang terbentuk. GM dan Ullil Absar Abdalla di satu sisi , sisi lainnya Sulak dan Nirwan Ahmad Arsuka. Kemudian beberapa nama yang ikut menyemangati mereka, antara lain Budi Hardiman, Taufiqurrahman, Saut Situmorang dan lainnya.

Saya tak ingin masuk ke materi, ataupun essensi dari perdebatan mereka. Karena saya merasa tak  mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal ini. Sains, agama apalagi filsafat memang selama ini adalah domain beberapa orang atau kelompok saja yang berkhidmat disana. Sebuah dunia yang menantang, menggairahkan, namun tak cukup dekat untuk bisa kita jangkau. Saya hanya ingin menunjukkkan apa yang pernah saya baca dan saya ingat tentang hubungan unik dan menarik diantara para pelaku polemik ini.

Goenawan Mohhamad kita kenal adalah salah satu penulis produktif di tanah air. Dia menulis sejak usia dini. Saat terjadi polemik kebudayaan di tahun 65 antara sastrawan kiri yang tergabung dengan lekra melawan para penentangnya. Dia adalah salah satu sastrawan yang ikut menandatangani Manifest Kebudayaan (Manikebu ) sebagai tandingan ide sastra sebagai panglima yang diajukan oleh Lekra.

Dalam Catatan Pinggir yang dia tulis, dia sering menyinggung tentang polemik sastra yang terjadi lebih awal, saat STA berpolemik dengan beberapa sastrawan terkait sastra Indonesia modern. Jadi tak diragukan lagi kemampuan dan kedewasaan beliau dalam menghadapi perbedaan pemahaman yang diajukan oleh lawannnya saat  berpolemik. AS Laksana bukanlah penulis kemarin sore. Banyak tulisannya menginspirasi para penulis muda.

Satu yang unik, kumpulan cerita Sulak pernah terpilih sebagai karya terbaik pilihan majalah Tempo beberapa tahun silam. Dimana kita ketahui, majalah Tempo identik dengan nama GM sebagai pendiri awal dan pemimpin redaksi yang cukup lama. Perseteruan antara kedua tokoh ini terendus media saat Indonesia terpilih sebagai negara tamu dalam ajang pameran buku terbesar di dunia yang diadakan di kota Frankfurt Jeman kira-kira 6 tahun yang lalu.

Kebetulan GM terpilih sebagai ketua kurator karya sastra Indonesia yang bisa ditampilkan di ajang itu. Sulak mempertanyakan alasan GM memilih tema buku yang dibawa kesana, dan penulis mana yang bukunya dipamerkan disana. “Kenapa mesti memilih tema 65, dan menunjukkan aib kita kepada orang lain? tak adakah tema yang lebih menarik dari negeri dengan 13 ribu pulau ini?” begitu protes Sulak sengit.

Jawaban GM seminggu berikutnya di kolom yang sama kurang lebih seperti ini. Ide tentang peristiwa 65 datang dari publik Jerman selaku tuan rumah, artinya bagi mereka issue tersebut masih merupakan sesuatu yang sexy dan memancing rasa ingin tahu yang dalam. Dan kebetulan ada karya yang mewakili zaman itu  baru saja dipublikasikan. Tanpa beliau sebut, kita tahu ada novel Amba dan Pulang yang masing masing ditulis oleh dua penulis wanita kita. Laksmi Pamuncak dan Leila Ch Chudori. Jadi kalau peristiwa ini yang kemungkinan masih menjadi residu diantara hubungan mereka berdua, hanya mereka yang tahu.

Dua nama yang juga terlibat dalam polemik ini adalah Nirwan Arsuka dan Fx Budi Hardiman. Kebetulan saya mempunyai banyak buku GM, jadi saya tahu bahwa kedua orang ini pernah membuat endorsement, kata pengantar untuk kumpulan tulisan GM. Jadi terdengar aneh saat mereka yang dulunya memuji GM (kata pembuka biasanya bersifat subyektif, tapi secara umum isinya hal yang baik atau pujian) sekarang terlihat berseberangan pendapat dengannya. Apakah ini sebuah pengkhianatan intelektual? Mungkin itu yang terbersit di benak kita. Tapi saat membaca tulisan panjang lebar mereka berdua yang jernih, runut dengan argumentasi yang mumpuni. Kita tak pantas menganggapnya begitu. Disinilah kepiawaian mereka, orang orang yang kepalanya telah dipenuhi kebijaksanaan. Saat mereka berbeda pendapatpun, itu ditunjukkan dengan bermartabat. Hal yang tak kita temui dalam polemik tentang konspirasi global yang dilancarkan dengan protes terhadap penanganan Covid-19, yang terkesan menyerang membabi buta, miskin argumentasi dan menihilkan empati.

Satu yang perlu kita syukuri adalah polemik ini melibatkan orang orang dari hampir seluruh penjuru negeri. GM yang orang Jawa Tengah, Sulak Jawa Timur, Budi Hardiman yang mungkin dari Sunda, Nirwan Arsuka orang Makassar, Saut Situmorang orang Batak. Itu artinya keinginan untuk berpolemik secara kesatria sudah menyebar ke seantero negeri. Kasarnya, mereka yang pintar sudah ada dimana mana, bukan hanya di Jawa saja. Satu yang perlu ditunggu adalah , tulisan jernih sosiolog kita dari Kupang Ignas Kleden. Dan yang cukup membuat saya bergairah barangkali ada satu nama dari daerah asal saya Bali yang akan  turun gunung ke kancah ini, siapa tahu.

Kembali sedikit ke tema polemik ini. Mempertentangkan antara sains, agama dan filsafat di hari hari ini, terutama dalam situasi pandemi  dan ditengah usaha kita keluar dari krisis , mungkin tak cukup efektif. Tapi sebagai penyeimbang ditengah ujaran tak mengenakkan yang miskin harapan tadi, ini seperti oase penyejuk, tempat kita menarik nafas panjang sejenak di tengah  polusi pemikiran yang bersiponggang.

Terkait wabah seperti ini, suara agama (yang dulu diwakili gereja) sudah lama kita lupakan. Dan untuk filsafat, saya rasa juga belum waktunya, kita butuh sesuatu yang segera, terarah dan bisa kita nilai keberhasilan maupun kegagalannya. Satu satunya tempat kita bersandar saat ini mungkin hanya Sains. Tak ada salahnya kita mengingat pernyataan tak terbantahkan Wiston Churchill, mantan perdana menteri Inggris yang legendaris itu. Mungkin Demokrasi bukanlah pilihan yang paling sempurna untuk Dunia. Tetapi sampai detik ini, adakah yang lebih baik dari itu?

Kita tinggal mengganti kata demokrasi dengan sains.

Tags: covid 19pandemipolemiksains
Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Tim Kreatif Tak Lagi Kreatif

Next Post

IGB Sugriwa, Pengalir Mata Air Sastra ke Berbagai Telaga Zaman

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
0
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

Read moreDetails

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails
Next Post
IGB Sugriwa, Pengalir Mata Air Sastra ke Berbagai Telaga Zaman

IGB Sugriwa, Pengalir Mata Air Sastra ke Berbagai Telaga Zaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co