23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Polemik Tentang Sains, Agama dan Filsafat antara GM dan AS Laksana – Sebuah Perbandingan

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
June 15, 2020
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Mengapa judul tulisan ini saya isi dengan kata perbandingan?

Begini. Hari hari ini dunia medis sedang dalam tekanan. Di satu sisi pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda menyurut, sisi lainnya kepercayaan masyarakat terhadap kami, petugas medis, dalam menangani situasi ini juga mulai tergerogoti. Banyak faktor yang mungkin bisa jadi penyebabnya. Kelesuan ekonomi, ketidakpastian hari esok apalagi masa depan adalah beberapa diantaranya.

Tapi yang sangat disayangkan adalah adanya pihak pihak yang bersuara miring tentang situasi ini, termasuk  atas kinerja kami dalam usaha ikut menanggulangi pandemi ini. Mulai dari tudingan konspirasi global, hingga usaha mencari keuntungan dari pihak rumah sakit termasuk dokter dengan menunggangi kesulitan yang tengah dihadapi masyarakat.

Dan saat yang menyuarakan itu adalah tokoh “publik” dengan penggemar yang cukup banyak, maka hal ini terasa mengganggu, seperti sebuah kampanye negatif terhadap usaha kita bersama untuk bisa segera lepas dari situasi ini. Wacana konspirasi global yang didengungkan sang tokoh, sepintas mengingatkan saya akan ide yang nyaris sejenis. “Indonesia bubar di tahun sekian”, kata tokoh lain  saat hangatnya persaingan kursi presiden di pilpres kemarin. Yang setelah ditelusuri, ide itu didapat dari sebuah cerita fiksi karangan orang asing, yang menyinggung negara kita.

Ide konspirasi ini pun saya dengar, termuat di sebuah novel karya penulis Eropa Timur yang kemungkinan dibaca sang tokoh, dan disandingkan dengan situasi  saat ini, yang mungkin menurut imajinasi liarnya adalah sesuatu yang sebangun. Kesimpulannya saat sebuah wacana didasarkan pada sebuah imajinasi ataupun cerita fiksi, mestikah kita membuang banyak energi untuk membahasnya, hingga kita melupakan apa yang semestinya kita lakukan sebagai sebuah bangsa?

Saya tak ingin membahas lebih lama tentang polemik itu. Pemakaian bahasa yang kasar, argumentasi yang dangkal tak berdasar. Seakan mengejek kewarasan kita sebagai orang yang berpendidikan.

Untungnya, pada saat-saat yang sama kita disibukkan dengan adu pikiran yang berwibawa antara dua tokoh yang kita kenal produktif berkarya di kancah penulisan tanah air. Goenawan mohhamad sang penulis catatan pinggir dan mantan pemimpin redaksi majalah Tempo, beradu pendapat secara elegan dengan sang penulis muda dari Jawa timur AS Laksana, seorang penulis cerpen dan esai yang juga terkenal di Indonesia.

Polemik ini diawali oleh AS Laksana, dengan mengkritisi pilihan sikap GM terkait peran sains dalam kehidupan sehari hari kita yang disampaikan GM dalam sebuah seminar, dipadupadankan dengan yang beliau tulis di media selama masa pandemi ini. Saya menangkap sikap GM ini dilandasi oleh kegemasan beliau melihat perkembangan penanganan pandemi Covid 19 ini oleh pihak pihak yang berwenang, dalam hal ini bidang kesehatan, yang notabene adalah bagian tak terpisahkan dari sains.

GM sampai merasa perlu menunjukkan kepada kita  kisah penanganan pandemi dimasa lalu , saat dr Cipto Mangunkusumo mengatasi pandemi Pes di sebuah kota di Jawa. Polemik yang diawali oleh kedua tokoh tadi, dalam perjalanannya kemudian di ramaikan oleh beberapa penulis lainnya, yang merasa tertantang untuk ikut unjuk pengetahuan mereka. Hingga kemudian kita bisa melihat dua kutub yang terbentuk. GM dan Ullil Absar Abdalla di satu sisi , sisi lainnya Sulak dan Nirwan Ahmad Arsuka. Kemudian beberapa nama yang ikut menyemangati mereka, antara lain Budi Hardiman, Taufiqurrahman, Saut Situmorang dan lainnya.

Saya tak ingin masuk ke materi, ataupun essensi dari perdebatan mereka. Karena saya merasa tak  mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal ini. Sains, agama apalagi filsafat memang selama ini adalah domain beberapa orang atau kelompok saja yang berkhidmat disana. Sebuah dunia yang menantang, menggairahkan, namun tak cukup dekat untuk bisa kita jangkau. Saya hanya ingin menunjukkkan apa yang pernah saya baca dan saya ingat tentang hubungan unik dan menarik diantara para pelaku polemik ini.

Goenawan Mohhamad kita kenal adalah salah satu penulis produktif di tanah air. Dia menulis sejak usia dini. Saat terjadi polemik kebudayaan di tahun 65 antara sastrawan kiri yang tergabung dengan lekra melawan para penentangnya. Dia adalah salah satu sastrawan yang ikut menandatangani Manifest Kebudayaan (Manikebu ) sebagai tandingan ide sastra sebagai panglima yang diajukan oleh Lekra.

Dalam Catatan Pinggir yang dia tulis, dia sering menyinggung tentang polemik sastra yang terjadi lebih awal, saat STA berpolemik dengan beberapa sastrawan terkait sastra Indonesia modern. Jadi tak diragukan lagi kemampuan dan kedewasaan beliau dalam menghadapi perbedaan pemahaman yang diajukan oleh lawannnya saat  berpolemik. AS Laksana bukanlah penulis kemarin sore. Banyak tulisannya menginspirasi para penulis muda.

Satu yang unik, kumpulan cerita Sulak pernah terpilih sebagai karya terbaik pilihan majalah Tempo beberapa tahun silam. Dimana kita ketahui, majalah Tempo identik dengan nama GM sebagai pendiri awal dan pemimpin redaksi yang cukup lama. Perseteruan antara kedua tokoh ini terendus media saat Indonesia terpilih sebagai negara tamu dalam ajang pameran buku terbesar di dunia yang diadakan di kota Frankfurt Jeman kira-kira 6 tahun yang lalu.

Kebetulan GM terpilih sebagai ketua kurator karya sastra Indonesia yang bisa ditampilkan di ajang itu. Sulak mempertanyakan alasan GM memilih tema buku yang dibawa kesana, dan penulis mana yang bukunya dipamerkan disana. “Kenapa mesti memilih tema 65, dan menunjukkan aib kita kepada orang lain? tak adakah tema yang lebih menarik dari negeri dengan 13 ribu pulau ini?” begitu protes Sulak sengit.

Jawaban GM seminggu berikutnya di kolom yang sama kurang lebih seperti ini. Ide tentang peristiwa 65 datang dari publik Jerman selaku tuan rumah, artinya bagi mereka issue tersebut masih merupakan sesuatu yang sexy dan memancing rasa ingin tahu yang dalam. Dan kebetulan ada karya yang mewakili zaman itu  baru saja dipublikasikan. Tanpa beliau sebut, kita tahu ada novel Amba dan Pulang yang masing masing ditulis oleh dua penulis wanita kita. Laksmi Pamuncak dan Leila Ch Chudori. Jadi kalau peristiwa ini yang kemungkinan masih menjadi residu diantara hubungan mereka berdua, hanya mereka yang tahu.

Dua nama yang juga terlibat dalam polemik ini adalah Nirwan Arsuka dan Fx Budi Hardiman. Kebetulan saya mempunyai banyak buku GM, jadi saya tahu bahwa kedua orang ini pernah membuat endorsement, kata pengantar untuk kumpulan tulisan GM. Jadi terdengar aneh saat mereka yang dulunya memuji GM (kata pembuka biasanya bersifat subyektif, tapi secara umum isinya hal yang baik atau pujian) sekarang terlihat berseberangan pendapat dengannya. Apakah ini sebuah pengkhianatan intelektual? Mungkin itu yang terbersit di benak kita. Tapi saat membaca tulisan panjang lebar mereka berdua yang jernih, runut dengan argumentasi yang mumpuni. Kita tak pantas menganggapnya begitu. Disinilah kepiawaian mereka, orang orang yang kepalanya telah dipenuhi kebijaksanaan. Saat mereka berbeda pendapatpun, itu ditunjukkan dengan bermartabat. Hal yang tak kita temui dalam polemik tentang konspirasi global yang dilancarkan dengan protes terhadap penanganan Covid-19, yang terkesan menyerang membabi buta, miskin argumentasi dan menihilkan empati.

Satu yang perlu kita syukuri adalah polemik ini melibatkan orang orang dari hampir seluruh penjuru negeri. GM yang orang Jawa Tengah, Sulak Jawa Timur, Budi Hardiman yang mungkin dari Sunda, Nirwan Arsuka orang Makassar, Saut Situmorang orang Batak. Itu artinya keinginan untuk berpolemik secara kesatria sudah menyebar ke seantero negeri. Kasarnya, mereka yang pintar sudah ada dimana mana, bukan hanya di Jawa saja. Satu yang perlu ditunggu adalah , tulisan jernih sosiolog kita dari Kupang Ignas Kleden. Dan yang cukup membuat saya bergairah barangkali ada satu nama dari daerah asal saya Bali yang akan  turun gunung ke kancah ini, siapa tahu.

Kembali sedikit ke tema polemik ini. Mempertentangkan antara sains, agama dan filsafat di hari hari ini, terutama dalam situasi pandemi  dan ditengah usaha kita keluar dari krisis , mungkin tak cukup efektif. Tapi sebagai penyeimbang ditengah ujaran tak mengenakkan yang miskin harapan tadi, ini seperti oase penyejuk, tempat kita menarik nafas panjang sejenak di tengah  polusi pemikiran yang bersiponggang.

Terkait wabah seperti ini, suara agama (yang dulu diwakili gereja) sudah lama kita lupakan. Dan untuk filsafat, saya rasa juga belum waktunya, kita butuh sesuatu yang segera, terarah dan bisa kita nilai keberhasilan maupun kegagalannya. Satu satunya tempat kita bersandar saat ini mungkin hanya Sains. Tak ada salahnya kita mengingat pernyataan tak terbantahkan Wiston Churchill, mantan perdana menteri Inggris yang legendaris itu. Mungkin Demokrasi bukanlah pilihan yang paling sempurna untuk Dunia. Tetapi sampai detik ini, adakah yang lebih baik dari itu?

Kita tinggal mengganti kata demokrasi dengan sains.

Tags: covid 19pandemipolemiksains
Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Tim Kreatif Tak Lagi Kreatif

Next Post

IGB Sugriwa, Pengalir Mata Air Sastra ke Berbagai Telaga Zaman

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
IGB Sugriwa, Pengalir Mata Air Sastra ke Berbagai Telaga Zaman

IGB Sugriwa, Pengalir Mata Air Sastra ke Berbagai Telaga Zaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co