25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pandemi dan Gangguan Kecemasan Gelombang Kedua

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
June 12, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Ada hal yang sampai sekarang sebenarnya tidak ingin saya bahas tetapi keadaan ini masih perlu mendapatkan perhatian yaitu pandemi Covid-19. Pandangan menarik yang saya lihat, tampaknya pandemi Covid-19 ini akan berlangsung lama dan mengubah cukup banyak tatanan kehidupan kita. Termasuk mungkin saja akan mengubah jenis dan konten gangguan mental yang terjadi di sekitar kita. Saya seperti juga Anda juga akan menjadi saksi atas perubahan-perubahan ini.

Dari sisi kesehatan mental, sebenarnya tanpa pandemi ini pun Indonesia khususnya Bali mempunyai pekerjaan rumah yang cukup banyak tersisa. Di Indonesia untuk gangguan mental emosional diatas usia 18 tahun terjadi pada 6% penduduk dan PR-nya adalah 91% di antaranya belum mendapatkan pertolongan.

Jadi kalau ada 10 orang belum tentu ada 1 orang depresi yang mendapatkan pertolongan. Untuk gangguan jiwa berat atau skizofrenia, provinsi Bali saat ini masih menjadi peringkat pertama di Indonesia persentase penduduk yang mengalami skizofrenia, yaitu 11 per 1000 dari rumah tangga warga Bali mengalami skizofrenia. Tentu saja sebagian diantaranya tidak diobati, dan masih ada yang terpasung.

Data diatas ada tanpa peran pandemi Covid-19. Bagaimana setelah itu? Keadaan terkini, dari beberapa hal yang diungkapkan teman sejawat saya jumlah gangguan mental yang kini meningkat pesat adalah hal-hal yang menyangkut gangguan kecemasan, gangguan kecanduan dan gangguan depresi. Angka yang terlihat gangguan-gangguan tersebut meningkat hingga dua kali lipat bahkan lebih.

Tipe Gangguan Kecemasan

Saya ingin membahas soal kecemasan yang sebelumnya pada kolom Jumat Mantap Jiwa (Jumanji) beberapa kali saya singgung. Mari kita lihat dari tipe-tipe sumber kecemasan. Ada dua tipe gangguan kecemasan. Pertama, Precrastination. Gangguan ini terjadi pada orang-orang yang terlalu cepat bertindak atau mengambil keputusan, sembrono. Hanya melihat sebagian data kemudian mengambil kesimpulan. Sering membuat kesalahan, sering cepat berubah dalam mengambil keputusan dan hal itu menyebabkan pengambilan keputusan yang terlalu dini.

Misalnya ada orang punya deadline satu bulan tapi dari sekarang sudah dikerjakan bahkan tiga minggu sebelumnya sudah selesai. Kelihatannya memang rajin, tetapi itu sebenarnya ingin menuntaskan kecemasannya dengan lebih cepat. Daripada saya cemas sebulan lebih baik saya kerjakan lebih awal, itu yang ada dalam pikirannya.

Bagaimana hal seperti ini jika dikaitkan dengan pandemi Covid-19? Biasanya ketika awal mendapatkan informasi tentang pandemi, bahayanya dia sudah mengisolasi dirinya atau tinggal di rumah bahkan sebelum ada anjuran pemerintah. Dan ketika keadaan sudah agak membaik tetapi belum benar-benar baik, dia juga sudah menyelesaikan isolasi dirinya di rumah. Paling cepat bekerja dan sebagainya.

Ciri lainnya, sangat terpengaruh dari pemberitaan media yang dia baca. Biasa terpengaruh oleh teori-teori konspirasi sehingga cenderung terlalu lebay tapi kadang terlalu abai. Hal ini sering saya temui pada klien di tempat praktik saya, gangguan kecemasan sering terjadi pada orang-orang seperti ini. Sangat reaktif terhadap penberitaan dan sangat reaktif terhadap perubahan.

Sekarang ini yang perlu mendapat perhatian kita bersama adalah soal ancaman the second wave atau gelombang kedua Covid-19. Kalau kita katakan sementara minggu lalu atau dua minggu lalu pandemi cukup mereda dan kita membicarakan new normal, kinikok kelihatannya cukup menaik dan beberapa hari yang lalu justru terjadi peningkatan tertinggi selama pandemi di Indonesia.

Pada orang-orang tipe ini akan segera mengalami kecemasan dan jika tidak ditangani akan mengalami gangguan kecemasan. Tipe gangguan kecemasan kedua yakni Procrastination. Itu kebalikan dari tipe pertama, justru selalu menunda-nunda. Jadi kalau ada tugas sering dikerjakan pada last minute atau menit-menit terakhir. Sangat perfeksionis, hasilnya harus bagus, dikerjakan tetapi hasil pekerjaan itu tidak dikumpul-kumpul. Selalu menunda, berharap ketika last minute ada energi yang luar biasa untuk menyelesaikan hal itu. Merasa semuanya ada dalam kendali dia.

Kita tahu bahwa dalam kehidupan kita ada hal-hal berada di dalam kendali kita dan ada yang berada di luar kendali kita, misalnya wabah ini. Bagaimana orang lain bersikap terhadap wabah adalah di luar kendali kita. Bagaimana keputusan pemerintah mengatur diri kita itu adalah juga di luar kendali kita.

Orang-orang pada tipe ini akan sangat terganggu dengan apa pun yang pemerintah lakukan. Sangat terganggu atas respon orang lain menghadapi pandemi. Tentu saja, sangat telat menghadapi perubahan. Ada juga klien yang saya temui mengalami gangguan kecemasan di mana dari awal sampai sekarang masih mengisolasi diri. Jadi ketika hendak berkonsultasi dengan saya masih secara daring (online) dan sampai saat strict melakukan isolasi diri di rumah.

Dan, sangat terpengaruh oleh pemberitaan, melihat atau membaca kenaikan orang yang positif terjangkit virus Corona. Jadi selalu update tentang hal itu. Ini tentu bisa menyebabkan kecemasan yang berujung pada gangguan kecemasan.

Gangguan yang Meningkat

Dua sumber tadi menyebabkan angka gangguan kecemasan di masyarakat meningkat. Sayangnya, tidak banyak yang mencari pertolongan sehingga gangguan kecemasannya akan memburuk. Ada juga tipe gangguan mental yang akhir-akhir ini sangat meningkat yaitu kecanduan, baik kecanduan zat berupa alkohol. Selain itu peningkatan kecanduan nikotin, dan juga psikotropika atau narkotika.

Juga kecanduan perilaku, misalnya kecanduan internet dan kecanduan game online karena di masa pandemi kehidupan sosial dibatasi jadi akhirnya kecanduan yang muncul berhubungan dengan teknologi.

Sebenarnya kecanduan ada hubungannya dengan kecemasan. Ketika kita mengalami kecemasan, kita berusaha mengobati diri kita sendiri dengan minum alkohol yang eksesif dengan jumlah yang luar biasa dan tergantung mood kita. Bahayanya adalah ketika kita mengalami kecanduan seperti ini menyebabkan paranoid, kita makin curiga dan memilih informasi hanya yang kita inginkan saja.

Makanya tak heran orang-orang seperti ini sangat mempercayai teori konspirasi, yaitu bagaimana dia tidak percaya bahwa pandemi Covid-19 adalah sesuatu yang nyata sehingga mengabaikan data-data ilmu pengetahuan. Kemudian merangkai rangkaian pikiran-pikirannya sendiri dan sering mencetuskan hal-hal emosional di media sosial. Hal ini harus kita sikapi bersama karena kalau tidak maka angka gangguan kecemasan akan makin tinggi.

Kemarin saya bertemu klien seperti ini yang mengatakan bahwa konspirasi terkait Covid-19 sudah semakin besar, karena kini orang-orang yang bicara di YouTube dan media sosial tentang teori konspirasi di-take down oleh penyelenggara media sosial.

Menurut dia hal itu makin menguatkan adanya konspirasi. Padahal sebenarnya kalau dipikir dengan perspektif lain hal itu adalah usaha yang sangat baik untuk membatasi informasi yang tidak benar, sehingga masyarakat dapat merespon dengan baik ketika menghadapi pandemi.

Ilmu Pengetahuan Sejati

Tapi apapun itu, sebenarnya pandemi ini bukan soal kita takut atau tidak takut, bukan soal cemas atau tidak cemas. Orang cemas pun bisa mengalami Covid-19, dan orang yang tidak cemas pun bisa mengalaminya. Tetapi bagaimana kita fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan, dan bisa pasrah atau memaklumi untuk hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan.

Seperti ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan yang sejati harus kita percayai karena dia tidak mengenal apapun pandangan politik kita, apapun agama kita, ataupun latar belakang kita. Ketika kita bicara soal ilmu pengetahuan sejati, itu terjadi tanpa melihat latar belakang kita.

Sama halnya dengan gravitasi. Anda boleh berbeda agama, berbeda ras, berbeda latar belakang atau berbeda pandangan politik, tapi karena gravitasi itu bersifat nyata kita semua mengalami gravitasi. Entah kita percaya atau tidak percaya akan gravitasi, kita tetap mengalami gravitasi. Hal yang sama berlaku pada pandemi Covid-19. Mudah-mudahan the second wave tak seburuk yang kita bayangkan dan kita semua tetap berada dalam keadaan mantap jiwa dan raga. [T]

Tags: kesehatankesehatan jiwapandemi
Share115TweetSendShareSend
Previous Post

Kegelisahan, Pengalaman Empirik, dan Kecintaan Terhadap “Natah Palekadan” – Pengantar Buku Orang Desa Bicara Desa

Next Post

Nusa Penida, Kecamatan Rasa Kepulauan – Istimewakah?

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Nusa Penida, Kecamatan Rasa Kepulauan – Istimewakah?

Nusa Penida, Kecamatan Rasa Kepulauan - Istimewakah?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co