23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kakek-Nenek Sayang Cucu Boleh Saja, Tapi… Yuk Belajar Parenting, Biar Tak Sesat Pikir

Candra Puspita Dewi by Candra Puspita Dewi
May 30, 2020
in Esai
Kakek-Nenek Sayang Cucu Boleh Saja, Tapi… Yuk Belajar Parenting, Biar Tak Sesat Pikir

Penulis dan anaknya

Memiliki anak dan kemudian menjadi orang tua, tentu jadi hal yang diidam-idamkan bagi siapa pun pasangan yang sudah menikah. Biasanya ada beberapa usaha yang dilakukan oleh sepasang suami istri untuk bisa cepat dapat momongan. Dimulai dari cara sederhana, semisal makan makanan sehat, mengubah gaya hidup, ikut program hamil, hingga ikut program bayi tabung yang tentu membutuhkan segudang uang.

Nah, sebelum menjadi orang tua, kita sering kali mendengar nasihat dari orang-orang bijak. Bahwa menjadi orang tua mesti siap lahir batin. Ya semua orang tau itu. Sebab butuh kesiapan fisik, mental, hingga materi. Ya semua orang juga tau itu. Tapi selain itu, ada satu hal lagi yang mesti diingat. 

Bahwa menjadi orang tua bukan hanya mesti siap fisik, punya mental yang bagus, dan punya uang, tapi juga mesti cukup ilmu . Ilmu apa? Ilmu parenting. Jadi perlu belajar lagi. Seperti membaca buku-buku parenting atau ikut kelas-kelas parenting, saya rasa menjadi wajib dilakukan oleh para orang tua atau calon orang tua.

Yang dibahas dalam buku atau kelas parenting biasanya seputaran pemberian ASI, MPASI paling tepat, alasan pentingnya bermain bagi anak, sampai membahas pola asuh terbaik. Pokoknya bahasan-bahasan ilmu parenting yang aktuallah. Supaya ga tersesat saat nanti punya anak.

Tapi tapi tapi, ada satu lagi yang dilupakan. Bahwa belajar parenting bukan hanya penting untuk orang tua dan calon orang tua. Namun juga penting untuk calon kakek nenek atau yang sudah sah jadi kakek nenek. Kenapa penting, ya itu untuk menyamakan sikap saja saat menghadapi, merawat, dan mengasuh seorang anak. Lebih-lebih pada orang tua yang butuh bantuan kakek nenek untuk membantu menjaga anak mereka nanti.

Bayangin deh tu ya, uda berapa generasi coba? Pola-pola pengasuhan anak yang dulu-dulu apa masih bisa diterapin? Kalau kaya bahasa sekarang kan, mesti diupgretlah itu kan ya.

Sering saya melihat, antara orang tua dan kakek nenek berjalan dengan pintarnya sendiri-sendiri. Seperti tidak mau mengalah. Si ibu bapak, pintar bersama ilmu-ilmu barunya. Si kakek nenek, pintar bersama ilmu-ilmu lama mereka yang belum tentu semuanya bisa terpakai atau diterapkan di saat sekarang. Yang sebenarnya lebih tidak baik lagi adalah, kakek nenek biasanya menggunakan pengalaman mereka saat merawat anaknya dulu sebagai senjata untuk membenarkan cara mereka dalam merawat dan mengasuh cucunya yang jelas-jelas hidup di zaman yang berbeda.

Padahal, ada beberapa pengalaman yang tidak sesuai lagi, jika diterapkan pada saat ini. Semisal, memberi makan anak di bawah usia enam bulan. Kalau dulu-dulu sih, banyak yang biasa anaknya dikasi makan sebelum usia enam bulan ya. Padahal belum boleh sebenarnya. Sebab usus anak di bawah usia enam bulan belum dapat mengolah makanan padat.

Ah, harusnya ga usah saya jelasin, ibu-ibu baru pasti paham betul tentang itu. “Tapi buktinya si ini dan si anu dulu saya kasih makan umur empat bulan, buktinya sampai sekarang umurnya tiga puluh, masih hidup.

“Oh iya Nek, syukur masih hidup. Itu namanya Nenek lagi beruntung. Ya bagus kalau beruntung. Kalau pas ga beruntung, gimana? Nanti paling-paling alasannya tidak tahu. Tapi kalau dikasih tahu apa percaya? Nah itu maksudnya, belajar parenting jadi bisa dimanfaatkan untuk mengonfirmasi, apakah pola asuh yang dulu-dulu masih bisa dipakai atau tidak di zaman sekarang ini. Ya kalau ga percaya sama ibu bapak dari cucu kalian, setidaknya kalau dokter yang kasih tahu, yang jelasin, yang ngajarin, kakek nenek pasti lebih percayalah ya.

Ada salah satu sanak saudara yang pernah curhat pada saya. Ia punya anak. Anaknya bernama Naumi. Naumi adalah cucu yang lama sekali dinanti-nanti. sehingga saat lahir, Ia disayang sekali oleh seisi rumah. Terutama oleh  kakek neneknya. Hari-hari Naumi dipenuhi kasih sayang dari kakek dan nenek. Seluruh fasilitas, lengkap tersedia untuk Naumi. Tak pernah lepas perhatian mereka untuk naumi. Sepanjang hari Naumi selalu dipangku, ditimang-timang, dan digendong. Tenaga dan napas mereka, direlakan demi Naumi. Naumi bak tuan puteri. Ia harus selalu bersih. Tidak boleh ada kotor apalagi terluka tubuhnya.

Saat Naumi berumur satu bulan atau dua bulan, mungkin sah saja jika Naumi tak pernah lepas dari gendongan orang tua atau  kakek nenek. Tapi ketika usianya lebih dari itu, menggendong tidak boleh terus-terusan dilakukan. Itu bisa menghambat kamampuan motorik anak. Itulah yang terjadi pada Naumi. Naumi tak dibiasakan bebas bergerak melatih otot-ototnya. Sehingga Naumi belum bisa tengkurap. Naumi juga belum bisa duduk. Padahal anak-anak seusianya sudah mulai belajar duduk. Bahkan ada yang sudah mulai belajar merangkak. Ibu dan ayah Naumi sudah memberi tahu kakek nenek untuk sesekali memberi kesempatan pada Naumi bergerak bebas. Tapi kata kakek nenek, “Nanti kalau sudah waktunya juga pasti bisa”. Jadi, karena kakek nenek tak bisa diberitahu, akhirnya ibu Naumi melatih Naumi secara diam-diam.

Saat Kakek Nenek sedang tidur, ibu Naumi akan membiarkan Naumi bergerak bebas sesuka hati Naumi. Naumi bergelinding ke sana dan ke mari. hingga akhirnya ia bisa tengkurap dan duduk tanpa ada luka dan tanpa ada tulangnya yang patah. Bagi ibunya, kalau berlatih, pasti terbiasa dan jadi bisa. Yang penting sudah cukup umur untuk boleh dilatih.

Ada lagi cerita dari teman kuliah saya yang katanya anaknya selalu disuruh tidur oleh kakek dan neneknya. Bahkan saat anaknya sedang senang-senangnya bermain. Ayah si anak sudah memberi tahu kakek nenek bahwa tidur memang penting. Tapi mengajak anak bermain juga tak kalah pentingnya. Lebih-lebih saat si anak berusia sepuluh bulan. Bermain bisa melatih akal anak, kata ayahnya.

Tapi kakek nenek tak mau percaya. Kasian kata mereka kalau cucunya capai. Padahal bayi akan memberi sinyal pada pengasuhnya kalau dia sudah capai. Semisal, nangis atau rewel. Semula, kakek nenek ini akan diajak ke acara seminar parenting. Tapi mereka tak mau ikut. Karena tak mau, ayah dari si anak punya akal.

Di rumah, ia memutar video-video seminar yang membahas ilmu-ilmu parenting. Itu dilakukannya setiap hari. Supaya kakek nenek menonton. Atau jika tak mau menonton, setidaknya mereka mendengar informasi-informasi terbarulah tentang cara mengasuh anak dari video-video itu. Dengan harapan, meluruskan kekeliruan tentang pengasuhan anak.

Belum selesai sampai di sana. Ada juga tetangga sebelah rumah yang bersedih cerita pada saya  perihal anaknya yang tak kunjung bisa berjalan. Yang kakinya selalu terbungkus kaos. Sebab kakek neneknya takut kalau-kalau nanti ia kedinginan dan sakit. Diumurnya yang sudah satu tahun delapan bulan, si anak belum juga bisa berjalan. Padahal itu adalah batas usia seorang anak bisa berjalan. Kalau belum bisa, berarti ada masalah.

Orang tua si anak juga sudah sering memberi tahu kakek nenek. Karena merasa tak pernah dipercaya dan didengar. Akhirnya ibu dan ayah si anak memutuskan membawa anaknya sekaligus kakek neneknya ke dokter anak langganan. Jadi semuanya diboyong ke sana. Setelah ditanya ke dokter, kenapa si anak belum bisa berjalan, ternyata salah satunya mungkin dikarenakan kaki yang selalu terbungkus kaos. Membungkus kaki anak dengan kaos tidak selalu baik rupanya. Sebab jari-jari kakinya tak terlatih untuk mencengkram tanah. Sehingga ia tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya saat berdiri.

Siapa lagi ya?? Oh iya seorang ibu yang saya kenal di puskemas. Waktu itu kami sama-sama mau berobat. Tapi yang sakit bukan dia, tetapi anaknya yang balita. Saya tanyakan sakit apa. Dia bilang sakit batuk pilek. Setelah itu dia curcol. Katanya, batu pilek itu berasal dari kakek nenek si anak. Kebetulan hari-hari si anak yang asuh kakek neneknya. Sebab ibu ini mesti kerja. Ayah si anak sudah meninggal. Jadi dia mesti tekun cari uang. Sebelum tertular batuk pilek, ibu ini udah bilang ke kakek nenek menyarankan pakai masker.

Tapi, bukannya mengiyakan malah ibu ini dikatai terlalu berlebihan. Malahan, si nenek mengatakan bahwa kalau anak batuk itu karena si ibu yang makan makanan manis. Kebetulan ibu ini masih memberi ASI selepas kerja. Jadi, yang di salahkan malah si ibu. Padahal, ya jelas batuk pilek berasal dari virus kan? Mungkin waktu itu imun si anak sedang kurang bagus jadi gampang tertular virus.

Nah, penularannya dari mana? Ya dari orang yang kena batuk pilek juga bukannya? Kalau yang kena batuk pilek ga pakai masker, jelas virus mudah menyebar. Nah, sesat pikir kan jadinya kalau kakek nenek ga mau perbarui pengetahuannya.

Sudah selesai. oh tunggu-tunggu saya baru ingat obrolan tahun lalu bersama kawan sekantor saya tentang anaknya yang mesti harus kudu wajib makaaaaannn mulu. Makan terooss. Kakek neneknya takut kalau telat makan, cucunya jadi sakit lambung. Alhasil, anak teman saya tak mau makan. Padahal, bukan begitu sebenarnya. Kita perlu juga membuat bayi merasa lapar. Coba deh orang dewasa kalau lapar, pasti kita akan makan kan? Sama juga dengan bayi. Yang penting jangan kelamaan ga dikasi-kasi makannya.

Nah, kalau baru lima menit lalu menyusu, habis 100 ml, ya mana mungkin bayi merasa  lapar. Jelaslah ia bukan tak mau makan. Tapi  sudah kenyang. Jadi, Perihal makan, bayi butuh jeda. Si ibu cuma butuh waktu  ngatur jam makan saja kok. Bukan malas. Nah, kalau yang ini, untung kakek neneknya cepat bisa beradaptasi dengan hal-hal baru tentang pemberian MPASI. Jadi tak pusing-pusing lagilah nyari cara untuk meyamakan pandangan dan sikap dalam mengahadapi dan merawat anak.

Nah begitulah jadinya kalau yang belajar parenting cuma orang tua dan calon orang tua. Supaya tidak terus bertentangan, supaya punya cara yang sejalan dalam meyikapi anak, alangkah baiknya kalau kakek nenek dilibatkan juga belajar parenting. Yuk belajar bareng-bareng! [T]

Tags: anak-anakibuKeluargaparenting
Share137TweetSendShareSend
Previous Post

Balada “Gelebeg” – [dengan rasa hormat kepada almarhum bapa]

Next Post

Dendam Seorang Arwah Gentayangan

Candra Puspita Dewi

Candra Puspita Dewi

Lulusan Undiksha Singaraja, kini jadi guru di Denpasar. Di sela mengajar, ia juga main teater di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Dendam Seorang Arwah Gentayangan

Dendam Seorang Arwah Gentayangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co