6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sejarah Kesehatan dan Kebangkitan Nasional(isme) Indonesia

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
May 26, 2020
in Esai
Sejarah Kesehatan dan Kebangkitan Nasional(isme) Indonesia

STOVIA, Sekolah Kedokteran di Batavia. {Sumber Foto Wikipedia]

“Para dokter STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) tak hanya menjadi pahlawan di tengah wabah, tapi juga bergelut dengan politik praktis. Sebagian dari mereka aktif di organisasi dan lantang menyuarakan nasionalisme lewat tulisan di surat kabar. Daya kritis mereka salah satunya disulut sikap pemerintah Kolonial terhadap kaum pribumi yang diskriminatif kala wabah terjadi” (Hans Pols, Profesor Sejarah Kesehatan dari Australia, Penulis buku Merawat Bangsa : Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia).

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menyejarah, artinya menggunakan tilikan masa lalu untuk bertindak bijaksana di masa kini dan masa yang akan datang. Oleh sebab itu, kita tidak perlu alergi berkiblat ke masa lalu dengan tujuan mendapatkan jalan keluar atas permasalahan yang kita alami di masa kini dan atau mengantisipasi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi di masa depan. Faktanya, bangsa kita belum bisa menjadi bangsa yang besar, bangsa yang menghargai sejarahnya. Sebab masa lalu hanya menjadi cerita usang yang tidak diminati di masa kini. Sebuah dongeng sebelum tidur yang dipenuhi cerita-cerita mistis dibanding usaha untuk menemukan hikmahnya.

Gagasan Hans Pols melalui bukunya di atas yang menjelaskan genealogi nasionalisme Indonesia yang bermula dari kegigihan priyayi Jawa lulusan STOVIA dalam memberikan pelayanan kesehatan khususnya memerangi wabah Pes di Malang pada tahun 1911 sangat menarik untuk dikaji. Apalagi momentum pada bulan Mei ini, kita dihadapkan pada dua hal penting yang seanalog dengan masa itu yakni masih eksisnya virus Corona dan peringatan kenegaraan tentang Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada hari Rabu, 20 Mei 2020.

Soetomo, Tjipto, Suwardi dan Abdul Rivai adalah segelintir anak-anak tamatan STOVIA yang memiliki empati besar terhadap diskriminasi Negara Kolonial terhadap pribumi kala wabah menggejala di beberapa tempat di Hindia Belanda. Meski mereka tercatat sebagai priyayi lokal yang mendapatkan akses sosial berupa keistimewaan mengecap pendidikan Barat melalui sekolah dokter di STOVIA, tidak mengurangi kadar  empati sosial terhadap saudara sebangsanya yang tengah kesusahan.

Di sisi lain, mereka juga melakoni aktivitas politik praktis melalui kegiatan-kegiatan agitasi di beberapa organisasi. Awalnya, mereka ikut memelopori lahirnya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 bersama dengan DR. Wahidin Sudirohusodo. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, gerakan organisasi yang terlalu Jawa sentris dan hanya berpusat pada aristokrasi Jawa membuat beberapa anggota tidak puas. Mereka keluar dari keanggotaan, lalu membentuk organisasi baru yang dirasa bisa mewadahi pikiran-pikiran radikal dan progresif demi mewujudkan nasionalisme pribumi yang dicitakan.

Saat itu, nama Indonesia belum populer, sehingga nasionalisme kolektif yang dibayangkan bersama adalah nasionalisme Hindia.  Baru ketika Tjipto dan Suwardi bersama dengan Douwes Dekker membentuk Indische Partij pada tahun 1912, nama Insulinde diketengahkan untuk menggantikan  Hindia Belanda (Nederland Indie) yang dianggap lambang supremasi Belanda.

Meski IP hadir sebagai organisasi politik modern pertama di Hindia Belanda yang mampu meradikalisasi konsep nasionalisme sebelumnya, namun populisme yang ingin dibangun dengan menghadirkan konsep insulinde kurang mendapatkan sambutan meriah. Insulinde, seperti juga konsep Nusantara atau Dipantara dianggap eksklusif oleh sebagian besar kalangan dan tidak mencerminkan pluralitas masyarakat Hindia Belanda.

Ucapan terimakasih terhadap radikalisasi konsepsi Indonesia yang sebelumnya bertendensi antropologis ke arah gerakan politis harus diberikan kepada PKI atau Partai Komunis Indonesia yang sebelumnya bernama PKH (Partai Komunis Hindia) yang dibentuk pada 23 Mei 1920. Sejak saat itu, beberapa organisasi yang muncul belakangan selalu menggunakan nama Indonesia seperti Perhimpunan Indonesia (PI) yang digagas penerima beasiswa Leiden seperti Mohamad Hatta dan Sutan Sjahrir pada tahun 1922, serta PNI (Partai Nasional Indonesia) yang lahir dari pemikiran Soekarno pada tahu 1927.

Dengan melihat bagaimana nasionalisme Indonesia bertumbuh di atas yang diawali dari kegundahan anak-anak STOVIA itu, kita bisa menyimpulkan bahwa ideologi yang kini kita sebut sebagai nasionalisme, meski dibungkus dengan pendidikan Barat dan didiseminasikan melalui bahasa Belanda, justru terkatalisasi melalui kehadiran wabah. Alasannya, wabah semacam Pes dan Kolera telah memperlihatkan konflik diametral yang jelas antara siapa yang disebut penjajah dan siapa yang disebut terjajah. Di sisi lain, kehadiran wabah mampu menjelaskan wajah mendua dari negara Kolonial, di satu sisi mengeruk kekayaan tanah pribumi, di sisi lain enggan bertanggung jawab manakala warganya sakit parah akibat penyakit menular tersebut.

Tjipto, kala mewabah penyakit Pes di Malang langsung turun tangan bahkan tanpa menggunakan alat pelindung semacam masker yang saat itu keberadaannya cukup baru baik di dunia medis Eropa apalagi Hindia. Pekerjaaannya sangat berisiko, sebab saat itu penularan Pes tidak hanya melalui gigitan tikus yang membawa virus, melainkan juga dari gigitan nyamuk yang sebelumnya telah mengigit tikus yang telah terkontaminsi oleh gigitan kutu pembawa bakteri Yersinia Pestis. Sejak saat itu, penggunaan kelambu menjadi popular terutama untuk melindungi seseorang dari ancaman gigitan nyamuk yang dianggap ikut menyebarkan penyakit Pes.

Dampak Pes di Eropa bahkan lebih buruk dibanding Hindia Belanda. Sebelum dunia medis mencapai perkembangan yang pesat pada awal abad XX, pada abad XIV, di Eropa mewabah penyakit Pes. Ciri-ciri fisik yang ditimbulkan seperti kematian jaringan pada ujung jari tangan, kaki atau hidung hingga warnanya yang menghitam menyebabkan penyakit ini mendapat julukan Black Death. Membunuh hampir 2/3 populasi Eropa. Penanganan terhadap penyakit ini semakin sulit dilakukan sebab predator alami tikus yakni kucing mengalami depopulasi besar-besaran karena dianggap lambang penyihir perempuan paganis Eropa. Hal ini bisa dimaklumi sebab Eropa tengah mengalami transisi dari era The Dark Age ke era Renaisans. Akibatnya populasi tikus tidak terkendali dan ikut menyebarluaskan penyakit Pes ke seantoro Eropa.       

Kesediaan Tjipto untuk terjun langsung ke Malang memperlihatkan segregasi sosial yang parah. Struktur masyarakatnya terkotak-kotak antara golongan pribumi yang paling bawah, Timur Asing di bagian tengah dan orang-orang Eropa di bagian atas. Mereka, orang-orang Eropa dan Timur Asing mendapatkan keistimewaan dan keleluasaan dalam berbagai hal. Mereka juga tergolong orang-orang mampu yang hidup dengan sanitasi lingkungan yang baik. Pribumi di sisi lain, hidup di lingkungan kumuh dan dengan sanitasi yang buruk sehingga memiliki potensi yang tinggi untuk terkena atau tertular penyakit.  

Status sosial pada struktur masyarakat Kolonial itulah yang menyebabkan mengapa tenaga kesehatan yang bersedia diterjunkan saat wabah merajalela itu minim. Dokter-dokter Eropa enggan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat pribumi yang paling banyak menjadi korban, sebab uang yang dibayarkan terlalu sedikit. Jikapun terpaksa melayani pribumi, mereka akan memberikan pelayanan seadanya dan bahkan sengaja menyampaikan diagnosis yang salah. Dokter-dokter Eropa itu lebih suka melayani orang-orang Timur Asing dan dari kalangan Eropa sendiri karena iming-iming bayaran yang tinggi.

Perilaku dokter-dokter Eropa ini akan berlanjut saat Hindia Belanda dihantam wabah Flu Spanyol pada tahun 1918. Parahnya lagi, mereka bahkan menaikkan tarif layanan kesehatan yang berdampak serius pada kenaikan harga beras. Akibatnya kelaparan di mana-mana. Penduduk pribumi Hindia kala itu tidak hanya mati karena terjangkit Flu Spanyol yang mematikan saja melainkan juga wabah kelaparan yang tidak kalah hebat.   

Kesadaran nasionalisme seorang Tjipto muncul dari upayanya untuk ikut berjuang menyelamatkan nyawa saudara sebangsanya dari wabah. Penyakit Pes di Malang menyadarkan nasionalisme seorang Tjpto dalam wujud politik, stigma dan organisasi sosial. Realitas-realitas kesehatan berbalut diskriminasi tersebut telah membentuk mental politik praktis pada diri anak-anak tamatan STOVIA itu. Beberapa di antaranya rajin menulis dan menyalurkan kegelisahan dan kritik terhadap diskriminasi negara Kolonial terhadap penduduk pribumi. Selain Tjipto yang nanti eksis di IP, ada Soetomo, DR. Radjiman Widyodiingrat serta Abdul Rivai. Mereka bahkan menjadi anggota parlemen yang aktif menyampaikan suara pribumi yang tertindas. Bahkan, nama terakhir aktif menulis di surat kabar, salah satunya Bintang Hindia.

Dalam historiografi Indonesia versi marxis kiri, konflik sentrifugal kaum borjuis dan proletar mungkin dianggap sebagai pemantik awal kebangkitan nasionalisme Indonesia. Pun demikian dengan marxis kanan ala Ben Anderson atau Rudolf Mrazek yang berhasil memotret perkembangan sistem transportasi di Hindia Belanda bahwa nasionalisme Indonesia berawal dari kemajuan print capitalism. R.E Elson, Werttheim dan Anthony Reid se-iya sekata menyatakan bahwa proto nasionalisme Indonesia berangkat dari gagasan – gagasan besar tentang pan austronesianisme sehingga menjadi konsep yang sakral. Bebeda dari gagasan yang ditawarkan historiografi arus besar di atas, saya melihat dimensi kesehatan, dalam hal ini kehadiran wabah Pes, Kolera dan bahkan Flu Spanyol sebagai alternatif historiografi Indonesia dalam melihat bagaimana kesadaran kebangsaan itu bertumbuh dan disemaikan ke dalam pemikiran-pemikiran besar.              

Kehadiran wabah Pes dan Kolera di Hindia Belanda pada medio pertama awal abad XX yang muncul berkelindan telah membantu membuka wajah sosial dari seseorang atau sekelompok orang. Darinya kita juga belajar arti ketulusan, siapa yang benar-benar peduli dengan sesamanya. Struktur sosial masyarakat Kolonial yang diskriminatif telah menimbulkan segregasi sosial yang parah, dan melalui wabah lah gambaran itu telah menghasilkan kesadaran nasional (isme) pada anak-anak muda STOVIA seperti Tjipto, Soetomo dan Abdul Rivai yang menjadi embrio bagi radikalisasi keindonesiaan di masa berikutnya. [T]

Tags: dokterkesehatannasionalismesejarah
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Duta Bahasa Provinsi Bali 2020, Hery dan Trisna Bukan Kaleng-Kaleng

Next Post

Tubuh Tanpa Makan

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Atat Yang Bijaksana #1

Tubuh Tanpa Makan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co