24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saatnya Anak Muda Jadi Kepala Desa

I Nengah Suarmanayasa by I Nengah Suarmanayasa
March 4, 2020
in Esai
Saatnya Anak Muda Jadi Kepala Desa

Ari Anggara, Kepala Desa Batuan, Gianyar, yang masih muda. [Foto; Facebook/ Edi Sumantra]

Anak-anak yang masih sekolah di tingkat Taman Kanak-kanak (TK) atau Sekolah Dasar (SD) pasti pernah ditanya oleh gurunya soal cita-cita. Tentu kata pertama dan paling sering muncul adalah ingin menjadi dokter, pilot, tentara, bahkan menjadi presiden. Hampir tidak pernah ada seorang anak yang dengan gagah berani menjawab ingin menjadi kepala desa (Kades). Apakah si anak salah, tentu tidak. Itu adalah hal yang wajar dan sah saja terjadi. Bisa jadi jseorang kepala desa atau jabatan Kades dianggap tidak begitu keren dan dianggap tidak memberikan peningkatan status sosial ekonomi bagi masa depan.

Jika kita mau jujur, tahun 2000-an wajah Kades masih tidak begitu keren, karena didominasi oleh wajah-wajah orang tua. Wajah yang mencerminkan sosok yang menjaga wibawa, sosok yang jarang tersenyum sehingga sangat susah diajak komunikasi oleh anak muda. Sehingga dipastikan anak muda sebelum lulus SMA tidak akan mengenali Kadesnya karena memang tidak ada kewajiban harus bertemu dengannya.

Hal lain yang juga menjadi penyebabnya adalah informasi tentang pemilihan maupun masa berakhirnya sang Kades juga tidak berkabar luas. Jika pun ada pemilihan Kades, dipastikan tidak akan meriah dan terkesan hanya diketahui oleh khalayak orang tua saja. Sehingga paling keren wajah Kades diisi oleh pensiunan polisi, atau pensiunan Pegawai Negeri Sipil atau pegawai swasta yang awalnya merantau di Denpasar dan terpaksa pulang kampung karena orang tuanya sudah meninggal. Intinya Kades bukanlah jabatan utama yang diidolakan oleh yang bersangkutan sehingga wajah Kades adalah identic dengan sosok tua yang relative susah dijangkau oleh anak muda.

Hadirnya Undang-undang 6/2014 tentang Desa merubah banyak hal tentang desa. Paradigma tentang desa berubah 180 derajat. Awalnya paradigma yang terbangun adalah membangun desa sekarang menjadi desa membangun. Artinya desa saat ini menjadi subjek pembangunan berbeda dengan konsep terdahulu yang menjadikan desa sebagai objek pembangunan. Saat ini, desa diberikan kewenangan lokal skala desa untuk menentukan nasibnya sendiri (rekognisi dan subsidiaritas). Desa diberikan kebebasan dalam membuat program kerja asalkan kegiatan tersebut arahnya untuk peningkatan kualitas masyarakat desa. UU desa juga membuat desa menjadi kaya mendadak.

Tiap tahun, desa menerima dana desa dari APBN rata-rata sebesar 1 Milyar, belum lagi dapat kucuran dana berupa BKK, ADD atau uang dari kabupaten masing-masing. Sebagai contoh, di kabupaten Badung, per tahun setiap desa bisa mengelola uang belasan milyar rupiah. Tahun 2020 ini, Desa Pelaga, Kecamatan Petang mendapat dana sebesar Rp 19.062.956.780. Dana tersebut berasal dari empat sumber yakni, dana desa, dana bagi hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah dan dana perimbangan. Sungguh angka yang sangat besar dan angka yang tidak terbayangkan sebelumnya boleh seorang kepala desa.

Ketika desa mengelola uang banyak, maka banyak kepala desa yang bingung. Ya bingung, karena penggunaannya harus dipertanggungjawabkan dengan rigit. Tapi ada juga Kades yang menganggap enteng tentang tanggungjawab penggunaan uang tersebut. Hal demikian membuat beberapa kepala desa tersangkut masalah hukum yang pada akhirnya mendekam di hotel prodeo. Kades yang yang sudah merasa tua dan merasa ketinggalan jaman merasa bahwa dana desa sangat memberatkan, sangat menyiksa batin, intinya dana desa membuat banyak kades yang tidak bisa tidur nyenyak di malam hari.

Sebenarnya tujuan dicairkannya dana desa sangat baik yakni memastikan bahwa Pemerintah hadir dan memberikan dukungan nyata dalam mewujudkan kesejehteraan masyarakat desa. Agar penggunaan dana desa tepat sasaran dan Kades terhindar dari jeratan hukum, maka anak muda wajib turun tangan untuk menjadi Kades. Anak muda identik dengan pekerja keras, dinamis serta adaptif dengan perubahan tentu sangat mendukung percepatan keberhasilan pembangunan desa. Apalagi di era connected society seperti sekarang ini, tentu Kades yang memiliki kemampuan teknologi sangat penting dan mutlak diperlukan untuk memastikan desa tidak tertinggal jauh dengan kota.

Desa Batuan, Sukawati Gianyar memulai sejarah baru. Tahun 2020, tepatnya tanggal 14 Pebruari 2020, seorang anak muda dengan status lajang yang baru berusia 28 tahun dilantik menjadi kepala desa Batuan. Tentu ini adalah berita bagus. Semoga berita menjadi pemantik semangat anak muda lainnya agar mengikuti jejaknya. Sebagai pemimpin di era milenial maka seorang Ari Anggara tahu betul langkah apa yang harus dilakukan.

Sehari menjabat sebagai Kades, sang Kades sudah mengambil 7 kebijakan dan langkah kerja hari pertama. Ketujuh hal tersebut meliputi 1) kebijakan tentang mobil operasional kantor, 2) penerapan pergub Bali No. 97, 3) Lounching hotline pemerintah desa, 4) lounching media sosial pemerintah desa, 5) penghapusan pungutan sukarela pendatang, 6) lounching layanan informasi dan 7) lounching layanan administrasi mendesak di luar jam operasional kantor desa. Ini adalah bukti nyata anak muda sangat dinamis, bekerja cepat dan suka akan perubahan. Jika bukan anak muda mungkin kebijakan ini tidak secepat itu bisa dilaksanakan. Yang paling menggembirakan kebijakan ini dishare langsung ke media sosial. Artinya sang Kades tahu betul media yang efektif dan efisien di era kekinian untuk mensosialisasikan program kerjanya.


BACA JUGA:

  • Ari Anggara, Dari Ketua OSIS, Ketua BEM, ke Kepala Desa

Cerita lainnya datang dari desa Dangin Puri Kauh, Denpasar utara. Seorang anak muda yang memiliki nama Ida Bagus Gede Ganaputra Karang mantan pembalap (drag race) terpilih menjadi kepala desa. Sosok ini menghabiskan masa mudanya dengan berbagai lomba baik di Indonesia maupun di luar negeri. Bapak kelahiran 18 Pebruari 1981 ini memimpin 1.724 KK, dimana 107 KK diantaranya masuk kategori Rumah Tangga Miskin (RTM) yang kini disebut Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Dengan semangat dan pengalaman yang dimiliki sang Kades bertekad untuk mengentaskan kemiskinan warga desanya. Semoga cerita anak muda yang menjadi Kades bisa menjadi virus untuk membuat anak muda lainnya tergerak pulang kampung untuk membangun desa. Sarjana pulang kampung dengan menjadi Kades adalah solusi terbaik untuk membantu pemerintah yakni membangun Indonesia dari desa. Akhir kata, saya ingin mengatakan bahwa saatnya anak muda pulang kampung, saatnya sarjana membangun desa, dan saatnya anak muda menjadi kepala desa. [T]

Tags: balikepala desapemudaperbekel
Share3TweetSendShareSend
Previous Post

Sambut “Pangerupukan” di Desa Penuktukan: Ketimbang Sound System, Lebih Baik Tektekan

Next Post

Dunia Alam yang Hanya Terlihat di Layar Kaca

I Nengah Suarmanayasa

I Nengah Suarmanayasa

Staf pengajar di FE Undiksha-Singaraja

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Dunia Alam yang Hanya Terlihat di Layar Kaca

Dunia Alam yang Hanya Terlihat di Layar Kaca

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co