6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Latihan Teater yang Bisa Dilakukan di Hari Valentine

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
February 13, 2020
in Esai
Festival Penonton, Penonton Festival

Ini bulan sudah Februari. Bulan perayaan cinta. Yang dalam dunia muda-mudi dirayakan setiap tanggal 14 sebagai hari Valentine. Di hari Valentine inilah begitu banyak macam cinta bisa kita saksikan, mulai di jalanan, taman kota, kafe, hingga beranda facebook. Mengamati muda-mudi yang merayakan cinta di hari Valentine. seperti menonton teater dengan berjibun lakon romantis di dalamnya. Cerita boleh jadi berkisar tentang persiapan, pertemuan, atau perjalanan cinta dengan segala macam persoalan yang menyertai. Sedang tokoh utamanya, tentu saja adalah pasangan pemuda dan pemudi itu sendiri.

Bagaimana para pemuda dan pemudi menanti hari Valentine, barangkali akan sama kualitasnya seperti perasaan Sampek dan Engtay menanti hari perjanjian tiba untuk bertemu menjalin cinta. Melihat para pemuda yang lalu lalang sepanjang jalan, keluar masuk toko bunga, menggendong sebungkus besar kado boneka dan kotak coklat, seperti menyaksikan Romeo yang mabuk kepayang pada Juliet. Sementara membayangkan pemudi memilih pakaian yang pas, berkaca, menata dan merias diri menanti kekasihnya adalah membayangkan rasa gugup, kangen, dan haru Dewi Sita yang campur aduk menunggu datang jemputan Rama di Alengka.

Situasi-situasi tersebut, jika ingin dipertentangan, tentu akan banyak ditemukan perbedaannya. Namun jika ingin dicari kemungkinan dalam konteks pemanggungan teater, perasaan cinta yang bertebar di hari Valentine ini sesungguhnya dapat menjadi bahan belajar aktor dalam melatih kesadaran, khususnya tentang laku manusia sebagai makhluk yang senantiasa memiliki hasrat mencintai dan dicintai. Mengingat dalam lakon teater itu sendiri, sedikit banyak pasti menghadirkan cinta di dalamnya. Walau bukan sebagai tema utama, minimal menjadi pemanis cerita. Mulai dari cinta tak terbalas, cinta beda kelas, cinta segi tiga, cinta pura-pura, cinta eksistensialis dan berbagai jenis cinta lainnya.

Perihal adegan percintaan, Iswadi Pratama, sutradara Teater Satu Lampung sempat menunjukan bagaimana cara membangun impuls dalam diri aktor dengan menggunakan pendekatan akting Stanislavsky. Ceritanya kebetulan adalah dua orang kekasih yang akan berpisah. Diputarkan oleh Iswadi sebuah musik romantis kepada hadirin. Sementara kedua peserta lain yang berperan sebagai tokoh dibiarkan melakukan tindakan bebas sewajarnya. Pada menit selanjutnya, kedua aktor mulai diberi arahan yang runut dalam rangka membangun situasi adegan. Dengan pelan dan sabar, dituntunnya mereka untuk menghayati segala tindakan satu persatu untuk kemudian sampai pada adegan perpisahan.

Begitu berkesan latihan tersebut sampai kini. Bukan lantaran akting kedua aktor yang mengharu biru. Melainkan dalam workshop yang digelar di Kampus Padjajaran, Jawa Barat 2013 lalu itulah, untuk pertama kalinya benar-benar dibuat ngeh akan pentingnya metode latihan pemeranan.  Pada sederet kasus, seringkali pertunjukan hanya menyoal konsep pemanggungan dan spektakel pentas. Sedang kerja-kerja mempersiapkan peran adalah urusan kesekian. Karena itu juga motif-motif tentang cinta yang notabene begitu sederhana sekalipun biasanya luput pula dibedah dan didiskusikan dalam dapur kelompok teater.

Pada pentas semacam ini, cinta cenderung diintrepretasi sebatas menerima dan menolak perasaan. Lebih-lebih segala tindakan yang dihadirkan adalah laku-laku klise. Apabila tokoh-tokohnya saling menerima, saling mencintai misalnya, laku yang dihadirkan umumnya ditandai dengan berpengangan tangan, berpelukan, sampai ciuman kening. Sementara pada adegan menolak cinta, biasanya akan ditunjukan dengan bloking pemain yang saling berjauhan, tatapan sinis tokoh yang menolak dengan melipat tangannya penuh keangkuhan. Semua seperti dibuat-dibuat. Palsu. Tak wajar.

Tak ada impuls dalam diri aktor. Tak ada muatan emosi yang membuat getar hati penonton. Bagaimana bisa membuat penonton bergetar? Jika dialog “aku cinta padamu” hanya dihafal lalu diucapkan sekadarnya. Bagaimana bisa menghidupkan panggung pertunjukan? Apabila buket bunga di genggaman aktor hanya disikapi sebagai properti pentas. Hal ini tentu berlainan ketika menyaksikan laku cinta muda-mudi di sekitar saat merayakan Valentine.

Sebelum dan sesampainya hari Valentine, debar cinta telah dipupuk sedikit demi sedikit. Dengan sabar sang pemuda sudah menyisihkan uangnya setiap hari untuk dibelikan bunga. Hemat makan, hemat minum, hemat rokok. Sembari menyisihkan uang, ia cari desain buket terbaik yang sekiranya mampu meluruhkan hati pujaannya.  Saat uang sudah terkumpul, pemuda itu mesti merelakan diri buat berdesakan, mengantri karena saking banyaknya pembeli di toko tersebut. Usai berdesakkan, ia tersendat-sendat di jalan yang macet oleh pasangan-pasangan lain. Pemuda itu terus saja melaju menuju rumah perempuan. Kian dekat menuju rumah, kian cepat detak jantungnya. Pada buket bunga inilah, ia endapkan sepenuhnya perasaan, harapan, dan cita-cita, hingga akhirnya sampai pada pernyataan cinta pada kekasih.

Dalam konteks ini, pernyataan cinta sang pemuda kepada kekasihnya tentu akan jauh kualitasnya jika dibanding dengan ungkapan cinta ala kadar dari seorang aktor dengan lawan mainnya. Tak ada motif yang lahir dari batinnya. Padahal, menurut Iswadi, motif memiliki peranan penting dalam menentukan sasaran kreatif peran. Tiga jenis sasaran yang dimaksud adalah sasaran mekanis, sasaran naluriah, dan sasaran psikologis. Ketiga sasaran ini menjadi salah satu hal penting yang mesti dipahami aktor dalam upaya menumbuhkan impuls dalam permainan.

Sasaran mekanis merupakan kebiasaan-kebiasaan yang lazim dilakukan sehari-hari tanpa adanya muatan motif tertentu. Contohnya ketika mengucapkan sayang sehari-hari pada kekasih. Tak ada cinta di dalamnya. Tak ada getar di ucapannya. Sebab sudah terlalu sering kita menggunakannya hingga menjadi kebiasaan sehari-hari. Sementara ketika mengucap sayang pada kekasih setelah lama kita tinggalkan bekerja di luar kota adalah salah satu contoh sasaran naluriah yang di dalamnya mengandung muatan psikologis berupa rasa gembira.

Pada sasaran psikologis lebih kompleks lagi, karena mengandung motif emosi yang lebih dalam dan muncul dari kesadaran. Sasaran psikologis misalnya terjadi ketika mengucap sayang untuk meminta maaf kepada kekasih setelah kemarin malam sempat kepergok selingkuh dengan perempuan lain.

Kendati telah dipilah dan diuraikan sedemikian rupa, ketiga jenis sasaran ini memang cukup sulit untuk dibedakan terlebih saat melakukan rutinitas sehari-hari. Sebab ketiganya saling berkelindan dan kerap muncul dalam waktu yang hampir berdekatan sehingga mesti dipilah dengan hati-hati dan penuh kesadaran. Maka di sinilah pentingnya hari Valentine, khususnya bagi para aktor yang kehilangan motif bagaimana caranya mengungkapkan rasa cintanya di atas panggung.

Merayakan Valentine bersama kekasih barangkali menjadi ruang belajar untuk mengenali jenis-jenis motif dan sasaran kreatif peran. Caranya? Segeralah kau luangkan diri mengunjungi toko bunga dan coklat. Pilih satu yang cocok untuk kekasihmu. Adakah debar cinta yang masih bergelora saat menyerahkannya pada kekasih? Yang hadir sebagai motif psikologis? Atau jangan-jangan bunga, coklat dan kata cinta yang terucapkan terasa kosong? Sama sekali tak mengandung muatan motif apapun? Jika benar demikian, belilah satu lagi buket bunga untuk diserahkan kepada mantan. Rasakanlah motif emosi yang memenuhi batinmu. Jika toh masih tetap tak terasa motif yang hadir, paling tidak kau akan merasakan pukulan tiba-tiba dari kekasih baru mantanmu.

Nah! Itulah yang disebut sebagai motif dan sasaran! Motif psikologis, dengan pukulan yang merupakan sasaran naluriah sebagai tanda amarah yang ditujukan kekasih sang mantan pada dirimu! Bangsat ci! Rayu ci tunang cang! [T]

Denpasar, 2020

Tags: Hari ValentineTeater
Share31TweetSendShareSend
Previous Post

Mari Pelihara Babi Hitam Agar Kembali Jadi Tuan Rumah di Bali

Next Post

Wartawan Kuliah di Fakultas Ekonomi, Ada yang Salah?

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
Wartawan Kuliah di Fakultas Ekonomi, Ada yang Salah?

Wartawan Kuliah di Fakultas Ekonomi, Ada yang Salah?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co