24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hujan dan Kampung Saya yang Semakin Memanas

Jaswanto by Jaswanto
November 29, 2019
in Esai
Priayi Kecil

Seorang penulis, wartawan, sekaligus editor, yang esainya selalu saya tunggu setiap hari Minggu, esai yang selalu dimuat di kolom ‘Jeda’ detik.com, sang maestro, sang idola, Mumu Aloha menulis esai berjudul Senja Sehabis Hujan yang Ditunggu-tunggu membuat saya semakian mengidolakannya. Di tengah-tengah huru-hara zaman seperti ini, esai Mumu Aloha memang semacam oase di tengah gurun pasir yang gersang. Menjadi semacam penghilang dahaga dikala kita merasa tenggorokan begitu kering; dan segera membutuhkan air sebagai obat penawarnya.

Kali ini Bang Mumu (begitu saya memanggilnya walaupun saya belum pernah bertemu sekalipun dengannya) menulis esai tentang suhu Bumi yang semakin memanas—yang menewaskan manusia dibanyak tempat—dan perubahan iklim yang tidak menentu. Tulisan ini, mengingatkan saya pada sebuah buku karya Jostein Gaarder—penulis bestseller ‘Dunia Sophie’—yang berjudul Dunia Anna.

Dalam Dunia Anna, ada sebuah dialog yang selalu saya ingat. Dialog antara Anna dengan Dokter Benjamin—seorang laki-laki berusia sekira 60 tahun, rambutnya panjang dan beruban, serta diikat ekor kuda. Di salah satu cuping telinganya ada anting bintang violet kecil, dan di saku jas hitamnya ada sebuah pena merah. Pandangan matanya tampak jenaka dan sangat menunjukkan ketertarikan dan perhatian kepada Anna saat bercakap-cakap.

Dokter Benjamin bertanya: “Ada sesuatu yang kamu khawatirkan, Anna?” Anna lansung menjawab: “Pemanasan global.” Dokter penyabar itu sedikit terkejut. Dia jelas-jelas seorang dokter berpengalaman. Baru kali ini dia tampat terkejut dengan jawaban Anna, lalu dia bertanya lagi: “Apa yang kamu bilang barusan?”

Anna menjawab: “Saya bilang kalau saya khawatir akan perubahan iklim yang diakibatkan oleh ulah manusia. Saya takut kalau kita yang hidup saat ini mempertaruhkan iklim dan lingkungan bumi ini tanpa memedulikan generasi selanjutnya.”

Sang psikiater terperenyak beberapa detik sebelum menjawab: “Mungkin itu sebuah ketakutan yang nyata, yang sayangnya tidak bisa saya sembuhkan. Kalau saja kamu bilang takut pada laba-laba, mungkin akan lain kejadiannya. Itu adalah masalah fobia, dan itu bisa diterapi, misalnya dengan desensitiasi secara bertahap atas objek fobia itu. Namun, kami tidak bisa mengobati ketakutan pasien akan pemanasan global.”

Pemanasan global. Tentu saja saya bukanlah seorang aktivis lingkungan yang berjuang mengampanyekan pentingnya menanam pohon agar miliar ton CO2 yang dilepaskan manusia di atmosfer dapat diatasi, atau gadis remaja seperti Anna yang memiliki ketakutan yang tidak biasa—yang bahkan seorang psikiater berpengalaman pun tak bisa menyembuhkan ketakutannya. Meskipun begitu, sebagai seorang manusia normal, untuk merasakan dampak pemanasan global, tentu saja saya sadar akan hal itu.

***

Saya mendapat kabar dari kampung halaman saat saya menelpon Emak (saya rindu nian, semoga bulan ini Tuhan dan semesta mengizinkan saya untuk bisa pulang kampung barang sejenak), katanya di kampung saya, yang datang hanya gerimis yang malu-malu seperti perawan yang hendak dinikahkan. Mungkin bagi sebagian orang, turunnya hujan tidaklah penting, tapi bagi orang-orang kampung saya, datangnya hujan adalah soal berlangsungnya kehidupan itu sendiri.

Turunya hujan, bagi orang-orang kampung saya—yang notabene mayoritas petani—seperti turunnya sebuah keajaiban itu sendiri. Hujan turun, artinya bibit jagung, cabai, kacang tanah, singkong, bisa segera ditanam. Semakin cepat hujan turun, semakin bahagia orang-orang kampung saya. Begitupun sebaliknya, semakin lama hujan turun, semakin sengsaralah mereka. Maka, turunnya hujan bagi mereka adalah segala-galanya.

Soal musim hujan, orang-orang di kampung saya sudah tak lagi memakai primbon untuk menghitung musim dan menyesuaikan tanaman dan waktu panen di sawah dan ladang. Primbon—seperti saya kutip di majalah Forest Digest—yang berasal dari perhitungan-perhitungan kuno berdasarkan pengalaman sehari-hari, tak lagi sesuai atau bisa memprediksi perubahan cuaca. Setiap tahun ada perubahan-perubahan waktu tanam karena palawija tak sesuai dengan iklim yang berganti. Musim hujan tak lagi terjadi pada kurun September-April, tapi bulan-bulan kering antara Mei-Agustus.

Penyair Sapardi Djoko Damono—seperti yang tertulis dalam majalah Fores Digest (2019)—, mesti membuat satu puisi lagi untuk menyesuaikan perubahan iklim ini.

Ketika ia menulis Hujan di Bula Juni dan diterbitkan oleh Grasindo pada 1994 (atau pertama kali terbit di surat kabar tahun 1989), musim masih sesuai dengan penanggalan primbon. Dalam sajak itu, Sapardi menggambarkan bahwa hujan bulan Juni sebagai ketabahan karena air jatuh dari langit itu salah masa: rintiknya menghapus jejak kemarau yang panjang. Tapi kini, hujan bulan Juni bukan lagi metafora untuk ketabahan karena pada pertengahan tahun itu di beberapa daerah justru sedang banjir. Di Jakarta, pada Juni 2018, tinggi banjir mencapai satu meter.

Jarak antara puisi Sapardi dengan hari ini mungkin sekira 30 tahun. Dalam kurun itu cuaca berubah, iklim berganti dan penanggalan primbon tak berlaku lagi. Perubahan-perubahan cuaca yang pendek itu menunjukkan bahwa ada yang sedang berubah (tidak baik-baik saja) di alam semesta.

Apa penyebab perubahan iklim ini? Tentu saja suhu Bumi yang semakin memanas (itu semua akibat aktivitas manusia dan segala penghuninya).

Benar atau tidak, kata Goddard Institute for Space Studies (GISS), lembaga penelitian semesta milik NASA, mencatat suhu bumi naik 0,8 derajat Celcius sejak 1880, seratus tahun setelah dimulainya Revolusi Industri, ketika era pertanian berubah menjadi pengolahan barang di pabrik. Sebab, dua pertiga kenaikan tertinggi dimulai sejak 1975 sebesar 0,15 – 0,2 derajat Celcius per dekade.

Tentu saja ini bukan mitos, seperti yang diyakini Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Udara panas yang terjadi akibat perubahan iklim sebagai dampak pemanasan global memang bukan sebuah dongeng. Kita merasakannya, walaupun belum “separah” cerita-cerita dari negeri yang jauh—yang sudah dituliskan oleh Bang Mumu dalam esainya. Tetapi tetap saja, hal ini tidak bisa kita pandang remeh.

Oh iya… terkahir, hampir saja saya lupa, melalui telpon, Emak menceritakan kepada saya bagaimana pohon-pohon bambu di sepanjang jalan di kampung saya telah habis ditebang. Pohon-pohon bambu yang sudah ada sejak dulu sebagai pagar kampung dan pemecah angin itu, kini hanya tinggal batang-batang kering yang kurus dan ranggas.

Alasannya tidak jelas, kenapa pohon-pohon warisan leluhur itu dibumi hanguskan. Mendengar berita ini dari Emak, rasanya seperti ada benda tajam yang dihujamkan ke dada saya. Saya benar-benar tidak habis pikir, kenapa orang-orang itu begitu tega menghabisi sumber-sumber oksigen itu. Sampai di sini saya tidak bisa meneruskan. Hanya saja, semoga kita tidak mewariskan “air mata” kepada generasi yang akan datang, alih-alih mewariskan “mata air” kepada mereka.

Ibu Bumi, maafkan kami.

Jumat, 29 November 2019.

Tags: hujankampungkampung halaman
Share49TweetSendShareSend
Previous Post

Hujan, Jambore Pemuda Indonesia 2019 dan Kenangan yang Menyertainya

Next Post

Hal yang Timbul Usai Menonton “PM TOH” Oleh Benni Andika dari Aceh

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Hal yang Timbul Usai Menonton “PM TOH” Oleh Benni Andika dari Aceh

Hal yang Timbul Usai Menonton “PM TOH” Oleh Benni Andika dari Aceh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co