3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hal yang Timbul Usai Menonton “PM TOH” Oleh Benni Andika dari Aceh

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
November 29, 2019
in Ulasan
Hal yang Timbul Usai Menonton “PM TOH” Oleh Benni Andika dari Aceh

Benni Andika dari Aceh membawakan PM Toh di Canasta Creative Space Denpasar

Penonton dipersilahkan memasuki halaman belakang Canasta, lalu dipersilahkan untuk duduk bebas sesuka hati. Di halaman sudah dipersiapkan beberpa tikar yang membentang untuk menjadi alas untuk penonton duduk lesehan. Ditiap sisi halaman ditutupi kain hitam dan terpasang beberapa lampu warna di tiap sudut halaman.

 Kami sebagai penonton yang tidak tahu apa yang akan terjadi duduk dengan tenang, sambil bercakap-cakap kecil dengan teman disebelah kami. Kemudian tak lama datang seorang berpakaian hitam panjang, dengan bordiran mote berwarna emas dan dengan topi yang menyerupai mahkota khas Aceh. Entah apa namanya.

Di depan mata kami atau dari seberang area penonton ada sebuah benda yang berbentuk kotak yang dibungkus dengan tikar dan alat pukul tongkat di atasnya, mungkin yang di dalam tikar tersebut adalah bantal yang dibungkus. Kemudian ada nampan dari rotan, yang di atasnya ada kain biru bercorak terlipat rapi. Orang dengan baju hitam berbodir mote emas dan bertopi mahkota tersebut adalah Benni Andika berasal dari ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) Aceh.

Benni adalah salah satu penampil dalam rangkaian Parade Teater Canasta 2019. Benni berasal dari pulau yang sangat jauh dari Bali, bahkan katanya untuk naik pesawat saja memerlukan transit dahulu di kota Jakarta. Di tempatnya yang jauh di sana ada satu kesenian yang amat menarik bernama PM Toh.

PM Toh adalah sebuah kesenian mendongeng yang menceritakan legenda ataupun mitos-mitos dari Aceh, pada penampilan tersebut Benni membawakan cerita tentang Mitos Ahmad Ramanyang. Benni membuka dengan dendang Aceh dan disertai dengan tarian Saman, kami penonton merasa tertuju melihat pembukaan dalam penampilan Benni. Karena pada kehidupan sehari-hari di lingkungan memang tidak ada dendang atau kidungan seperti yang dibawakan Benni, apalagi disertai dengan tarian Saman yang hanya menggunakan gerakan tepuk tangan dan menepuk bagian badan.

Ini hal baru yang saya jumpai dalam pertunjukan, walaupun mungkin bagi orang Aceh ini udah menjadi keseharian bagi mereka. Tapi saya sendiri yang menyaksikan pertama kali ya saya sangat merasa unik dan menarik.

Kemudian setelah Benni berdendang dan mengucap salam dengan suara sedikit melengking, lalu perlahan mulai memasuki ke cerita tentang Ahmad Ramanyang dalam cerita tersebut ada beberapa tokoh seperti tokoh bangsawan, Ahmad Ramanyang, ibu Ahmad Ramanyang, serta istrinya.

 Tokoh-tokoh tersebut dimainkan oleh Benni sendiri, terkadang dia menjadi salah satu dari tokoh tersebut tentunya sesuai dengan alur cerita dan pembawaan khas dari tiap tokoh. Ditambah dengan improvisasi yang sangat lucu dan pas, membuat saya sebagai penonton merasa seperti didongengkan. Kemudian  setelah cerita selesai Benni menutup kembali dengan dendang dan salam.

Saya merasakan bagaimana fenomena yang sering terjadi di sinetron atau film ketika ada orang tua mendongengkan anak kecil, yang membuat anak tersebut menjadi ketakuan karena ceritanya atau bahkan menjadi tertidur lelap karena terlalu indahnya.

Saya merasa seperti itu ketika melihat dan mendengar Benni membawakan cerita tersebut, karena pada masa kecil saya sendiri tidak ada hal semacam itu di dalam lingkungan keluarga. Apalagi saya yang kecil di kampung tentunya hal semacam di dongengkan sebelum tidur itu menjadi sebuah hal yang tak terpikirkan saat kecil di kampung. Boro-boro didongengkan sebelum tidur, saya di kampung waktu kecil benang layangan saya semput atau kusut saja sudah sedihnya minta ampun jadi taka da waktu untuk bertanya ke orang tua saya apakah saya tidak didongengkan sebelum tidur.


Benni Andika dari Aceh membawakan PM Toh di Canasta Creative Space Denpasar

Nah kembali ke PM Toh yang dibawakan Benni, sebenarnya Mitos Ahmad Ramanyang ini ceritanya hampir sama dengan Legenda Malin Kundang. Hanya saja Mitos Ahmad Ramanyang ini versi Acehnya. Kemunculan seni mendongeng atau PM Toh ini pertama kali dipopulerkan oleh orang bernama Tengku Adnan, Tengku Adnan adalah pedagang obat berasal dari Aceh yang berdagang antar lintas provinsi ataupun pulau.

Tengku Adnan untuk berdagang ke tiap daerah tersebut memerlukan transportasi tentunya. Di Aceh pada masa itu ada transportasi pertama kali bernama PM Toh, jadi sebenarnya PM Toh itu berasal dari nama sarana transportasi pertama di Aceh yang ditumpangi Tengku Adnan untuk berdagang. Seperti kebanyakan dagang obat di pasar, saya sendiri baru menyadari bahwa tiap dagang obat tersebut ternyata pembawaanya seperti berdendang atau berlagu. Kadang sesekali untuk menyampaikan suatu info produk itu, dagang obat tersebut mempunyai cara menyampaikan sangat unik yang membuat orang datang penasaran.

Katanya, Tengku Adnan itu selalu melakukan hal tersebut di tiap kota yang disinggahi oleh transportasi PM Toh. Jadi dimanapun PM Toh berhenti untuk istirahat, Tengku Adnan menyempatkan diri untuk berdagang obatnya sambil menceritakan legenda ataupun dongeng dari Aceh. Sampai akhirnya PM Toh itu dikenal sebagai pertunjukan oleh orang-orang yang menyaksikan. Padahal nama PM Toh itu hanya berasal dari alat transportasi yang digunakan oleh Tengku Adnan.

Saya sangat  membayangkan betul semisal ketika Tengku Adnan mampir di kota yang sudah pernah disinggahinya, mungkin respown masyarakat kala itu seperti melihat mobil sirkus datang. Dan sebagai isyarat berkumpul karena akan adanya sebuah pertunjukan. Saya membayangkan Tengku Adnan datang kemudian masyrakat berteriak “PM toh datang ee PM Toh datang!”, semua warga berbondong-bondong datang sambil membawa sanak saudaranya untuk mendengerkan kisah dari Tengku Adnan.

Karena apapun yang diceritakan dalam pertunjukan PM Toh pastilah tentang legenda yang mempunyai dampak baik bagi pendengarnya, untuk sekiranya menjadi sarana informasi dan menjadi penolong untuk orang tua ke anaknya. Saya sempat berfikir bahwa mungkin pada zaman dulu orang-orang Indonesia khususnya yang tinggal di desa atau perkampungan. Memang suka didongengkan, mengetahui Tengku Adnan lewat mas Benni saya menjadi ingat ketika saya masih MTs/SMP saat pelajaran SKI (Sejarah Kebudayaan Islam), guru saya pernah bercerita bahwa salah satu Wali Songo yaitu Sunan Kalijaga menyebarkan dakwah atau ajaran Agama Islam itu lewat wayang kulit. Ada suatu kesamaan saya rasa dalam menyampaikan sesuatu antara Tengku Adnan dan Sunan Kalijaga, hanya saja konteks tujuanya yang berbeda.

 Menonton PM Toh, saya seperti merasa diajarkan kembali berbuat akan hal-hal baik. Saya rasa PM Toh dengan cara membawakan seperti itu punya peluang besar secara seni pertunjukan untuk memperluas pengenalanya, dan ini sangatlah cocok untuk ditonton oleh anak-anak. Kalau di Bali mungkin sama halnya seperti menonton Wayang saat acara-acara odalan di Pura. Menonton kesenian tradisi semacam itu mempunyai pengalaman serta perasaan batin yang sulit untuk dibicarakan kalau tidak merasakanya sendiri. Karena mungkin kendala Bahasa atau hal lainya. Seperti misal saat saya menonton PM Toh ada beberapa kosa kata yang saya tidak tahu artinya karena Bahasa daerah, kemudian dengan logat yang sangat berbeda pada umumnya saya sebagai orang yang tinggal di Bali menjadi suatu daya tarik tersendiri mengenai perbedaan logat.

 Kalau dilihat pada hari ini, kesenian-kesenian seperti PM Toh mungkin sangat sedikit yang mengetahui. Tentu saja kalah popular dengan para Youtuber, akhirnya kesenian tua atau kesenian tradisi itu mulai sedikit peminatnya. Saya rasa mungkin kalau mau dikembangkan perlulah ada semacam pengembangan dari segi cerita atau hal-hal yang digunakan saat pertunjukan, agar sedikit lebih kekinian dan menjadikan efek penasaran masyarakat tentang kesenian semacam PM Toh atau kesenian tradisi lainya. Untuk menimbulkan dan mengembangkan kembali seni-seni tradisi saat ini, tanpa melepaskan hakikat dan akar-akar tradisi.

 Saya ada perasaan takut ketika menuliskan ataupun membicarkan kesenian tradisi, karena tradisi itu dalam pandangan saya adalah hal yang suci dan sakral. Sehingga saya sebagai orang kampung yang besar dan tumbuh di kota yang urban, apalagi ditambah sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan kesenian tradisi merasa sangat berdosa ketika mengutiknya sedikitpun. Untuk menjaga hal tersebut saya akhirnya mencoba memberikan pandangan dari segi penonton saat saya menonton PM Toh. Tidak ada tujuan lain, dan untuk mengakhiri panjang lebar yang saya sampaikan tadi saya sangat dengan hati-hati pula menyelesaikanya. Sekali lagi, hanya sebuah pembacaan selesai menonton pertunjukan. Tidak lebih. Saya takut dosa. [T]

Tags: AcehCanasta Creative SpaceParade Teater CanastaPM Toh
Share26TweetSendShareSend
Previous Post

Hujan dan Kampung Saya yang Semakin Memanas

Next Post

Teater Enter di Parade Teater Canasta dan Tindakan Lanjutannya

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Teater Enter di Parade Teater Canasta dan Tindakan Lanjutannya

Teater Enter di Parade Teater Canasta dan Tindakan Lanjutannya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co