24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anomali Diri dalam “Api Kata”

B. B. Sugiono by B. B. Sugiono
November 3, 2019
in Ulasan
Anomali Diri dalam “Api Kata”
  • Judul : Api Kata
  • Penulis : Kim Al Ghozali AM
  • Penerbit : Basabasi, 2017
  • ISBN : 9786023913336
  • Jumlah Halaman :107

___

Kim Al Ghozali AM tak menentukan untuk menjadi siapa dan apa! Tapi ia lebih mementingkan menjadi botol kosong: menerima segala bentuk cairan, entah itu miras ataupun zamzam. Hal semacam itu tidak hanya ia kutuk ke dalam diri sendiri, tetapi juga ia berlakukan untuk diri yang lain: diri yang hidup dalam Api Kata.

Buku kumpulan puisi ini jika dilihat dari judulnya Api Kata merupakan transformasi dari sebuah judul puisi  pada halaman 79 buku ini, yaitu “Bara Api Kata”. Puisi dalam “Bara Api Kata” oleh penulisnya ditujukan khusus untuk Umbu Landu Paranggi selaku guru yang telah menjadikannya yakin pada jalan puisi, begitupun bimbingan-bimbingan yang tiada lelah, seperti yang disampaikan pada akhir pengantar.

Membaca puisi-puisi dalam buku Api Kata seolah-olah juga tertarik-terseret untuk mengenali sosok penulisnya yang memiliki pola pandang yang luas dan antikemonotonan. Hal tersebut bisa dilihat pada puisi pembukaannya yang begitu kuat menyajikan pandangan sufistik: tak ada sayap di punggungku / sebagai nabi mikraj melintasi/ batas burung-burung terbang// (“Musahab Puisi Tercipta” hlm. 11). Tentu hal ini adalah suatu cara untuk  meminta kembali dan lebur pada masa lampau. Mengenang waktu-cerita yang keberadaannya telah terjadi berabad-abad yang lalu dan mencoba menjadi pengingat tentang perjalanan yang dilakukan Sang Nabi dari Masjidilaqsa ke Sidratulmuntaha (langit ke tujuh). Bahkan ungkapan-ungkapannya terus diperkuat dengan narasi-narasi baru, sekalipun terhimpun dalam satu judul: kata satu-satunya/ bekal manusia pertama turun/ ke dunia// kata adalah mahluk sorga// (“Musahab Puisi Tercipta” hlm. 12) . Ungkapan-ungkapan ituterus-menerus menguatkan kejadian-kejadian heroik di masa lalu dan menghadirkan Adam dan Hawa sebagai pemilik segala kata yang diwariskan Tuhan dari surga.

Penulis merasa tak cukup menggambarkan pola pandang sufistik yang dituangkan untuk mengawali 40 puisi yang terhimpun dalam buku Api Kata. Oleh karena itu, ia terus-menerus bertualang untuk mencari diri-diri, pola pandang yang lain: pada lekuk bibir perempuan rusia/ masih mengalun nada-nada pesta/ bau wiski/gelayut sepi/ dan kami terus terjaga/ bulan karam di atas meja makan/ sebuah hotel/ malam bikin kota jadi sedih/ lampu sepanjang jalan/ menyeret musik ke dalam mimpi// (“Suatu Malam di Sebuah Hotel” hlm. 17). 

Pengeksploitasian diri dalam penggalan bait ini menggambarkan keliaran seorang penulisnya. Menunjukkan bagaimana mengemas penguasaan indra untuk menjadi pengamat dan peneliti atas sesuatu yang pernah dilihat, dirasakan, dan menjadi pelaku tanpa campur tangan sesuatu  di luar dirinya. Lalu kami pergi seketika/ dari kamar hotel di pembaringan/ pada tanah dan kesia-siaan ini/ yang tak lagi cinta// (“Suatu Malam di Sebuah Hotel” hlm. 19).Dalam penggalan puisi tersebut, kata digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang lebih besar dari kata-kata itu sendiri, yaitu tentang diri si penulis.Ia Mengungkapkan perjalanannya tentang kehidupan seorang penulis yang benar-benar berposisi sebagai botol kosong. Tidak ingin menjadi otonom yang monoton atas entitas diri: karakter maupun kefanatikan ideologi.

Terlepas dari hal itu, penggalan puisi ia paham/ langkah hanya tertuju pada tugu perbatasan/ dan tak ada yang bisa ditinggalkan/ selain kenangan bagi seorang kawan/ serta kekasih/ atau cinta juga keisengan masa remaja// kini pertanyaan panjang akan cemas kematian/ segera terjawab ketika badan sudah terbujur/ tanpa beban// (“Menjelang Eksekuti Mati” hlm. 29)menggambarkan tentangkembali menjadi sosok baru layaknya seorang sejarawan yang takingin tertinggal oleh segala peristiwa. Tentunya hal ini sangat relevan dengan pernyataan Wellek dan Werren (dalam I Wayan Artika, 2016), yaitu sastra menceritakan sejarah sehingga sastra dapat dipandang sebagai dokumen sejarah. Dalam buku puisi ini, sejarah tidak hanya menjadi cerita yang merekam segala bentuk-bentuk peristiwa lampau, tetapi juga dipelintir menjadi pemberi pesona hias yang luar biasa dengan pilihan-pilihan diksi yang bisa dinikmati: terlebur ke dalam  setiap kata-kata dengan makna yang sulit rampung.

Tidak cukup hanya sampai di situ, sang penulis terus menggali diri, melompati bentuk-bentuk yang telah dijajaki semasa perjalanan atau pencarian jati diri yang tak pernah selesai. Sosok realisme yang dibagun semakin menjadi-jadi: kuat dan teguh. Bahkan kentara seperti yang berusaha digamparkan pada penggalan puisi berikut. Sebuah tempat/ menghimpit/ ketegaran dan keberanian/ darah panas dan kehormatan/ di sini jimat besi berkilau telah/ tersarung dan tergantung/ sebagai sejarah atas darah/ mengalir sia-sia; mungkin juga kasta/ bagi kelelakianmu// (“Jeruji” hlm. 31).Hal ini seakan menjadi penjara bagi kata-kata dan bait-bait yang lahir karena kata dibuat begitu tajam untuk mengungkap sebuah peristiwa kelam yang pernah disaksikan oleh mata ataupun telinga. Sang diri penulis pun mencoba menempatkan bahasa sebagai penyalur dan pengungkap rahasia-tersebunyi. Dalam hal ini, seolah bahasa menjadi seorang petugas kebersihan yang keras kepala ingin menyapu segala sampah kebohongan.

Namun, hal yang sedikit berbeda disampaikan dalam penggalan puisi berikut: tapi ia—yang telah ibrahim temukan/ dalam pengembaraan sunyinya—tak akan meninggalkannya dalam detik-detik/ menjelang celaka// (“Pembakaran Ibrahim” hlm. 42).Diri yang hadir pada puisi dan penggalan bait tersebut seolah mengambarkan sosok kanak-kanak yang begitu mudah menerima dan mengangkat persoalan mitos-mitos, sangat polos, juga lugu. Hal yang sama terlihat pada  penggalan puisi karena cinta/ kau rengut segala/ daya kusimpan//tak ada birahi// mawar dan lembut rambutmu terbit/ dari sepasang angin-gelombang// (“Sebab Cinta” hlm.43) yang begitu lembut menggambarkan erotisme. Sama seperti yang terangkum di halaman berikutnya, kubikin cahaya dari serpih mimpi semalam/ kekasih/ kristal mawar akan segera memenuhi lembah kita/ impian-impian kita/ dan kita menyaksikan hari-hari/ keluar masuk dari pintu waktu// (“Prelude” hlm. 45),kata seolah menjelma nyanyian-nyanyian paling damai yang muncul dari dalam goa kesunyian dan menggambarkan gairah yang berkaitan dengan erotisme.  Begitu anggun, indah, takada sedikitpun kegalakan yang dipamerkan, kecuali estetik-puitiknya. Peralihan diri penulis untuk menjadi sosok selanjutnya tetap dipertahankan dengan penuh ketidakpuasan: tidak ingin menjadi sesuatu yang satu ‘monoton’. Tetapi ingin menjadi sosok yang terus mengalami perubahan ‘berganti-ganti’ dengan penuh pencarian jati diri yang disampaikan jati diri yang disampaikan lewat kata dalam puisi-puisinya.    

Kampung halaman yang begitu dekat dengan sosok kehidupan penulis masuk menjadi objek penting dengan gaya ungkap surialisme sehingga terus menimbulkan kebaruan di antara yang masih baru [dalam artian, kebaruan yang terwakili oleh kata-kata dalam setiap puisi yang terkumpul dalam buku Api Kata untuk menggambarkan kebaruan yang dimiliki penulisnya],  seperti pada penggalan puisi batu yang menggelinding/ menjadi kampung/ kampung batu/ hati sekeras batu/ para lelaki dengan badan tegap/ dan kaki-kaki besi/ memacu kuda api/ memacu kuda api/ menembus belantara sepi/ menelusuri rimba suci// (“Watu-Ewuh” hlm. 89). Dari dalam kampung kata-kata digaungkan menjadi sedemikan rupa, warna, dan pesona yang tak semua orang bisa memilikinya. Penggalan bait ini oh alam malam yang bening dan hening/ dua kali kecil berjumpa di ujung desa/ percik air bersuara ganjil, burung-burung malam/ ikan jadi-jadian/ monyet-monyet kutukan/ dan pohon beringin keramat// (“Balada Malam Desa” hlm. 97) seolah adalah penghantar untuk memasuki “pintu gaib” kampung yang sedang ingin disampaikan oleh Sang Diri Penulis. Ia mencoba memberita tahu tentang hal-hal yang ada di kampung yang tak semua orang bisa menyaksikannya, seperti adanya ikan-ikan gaib, monyet yang sejatinya bukan sebangsa monyet, dan pohon beringin yang angker yang semuanya ada tanpa harus percaya dengan keberadaannya.

Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan adalah kegigihan sosok Sang Diri Penulis yang bersedia membuka pintu atas diri selebar mungkin, bahkan tidak terbatas. Ia bersedia menampung segala bentuk yang kemudian dihidupkan ke dalam kehidupan puisi yang merupakan hasil olahan dari dunia nyata. Persoalan-persoalan semacam ini bisa menjadi hal yang sulit, terutama terkait pemaduan segala bentuk: pengetahuan, paham, agama, karakter, dan sebagainya, yang ternyata dapat diselesaikan secara tuntas oleh Sang Diri Penulis (Kim Al Ghozali AM) dalam kumpulan puisinya. Keluwesan tersebut tidak mungkin semata-mata tanpa dasar dan tujuan. Kalau melihat pernyataan Mahmoed Darwish dalam sebuah puisinya yang diterjemahkan oleh M. Bundhowi: sebuah puisi di waktu yang sulit/ adalah bunga-bunga indah di atas kuburan, kemungkinan Kim Al Ghozali AM juga ingin bermakna seperti yang disampaikan Mahmoed Darwish dalam puisi tersebut. Ia menemukan keindahan dalam kepelikan. Ia memposisikan diri sebagai anomali. Ia menjadi apa saja dalam dalam puisi-puisinya. [T]

Tags: BukuCerpenresensi buku
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

Pasca Minikino Film Week 5: Bali International Short Film Festival Gelar Workshop dan Layar Tancap di Lombok

Next Post

Menyelami “Sisi-Sisi Yang Menghidupkan” dari Gallang Riang Gempita

B. B. Sugiono

B. B. Sugiono

lahir di Tempuran, Bantaran, Probolinggo. Kini merantau di Singaraja, Bali; menjadi pekerja teks: penyair dan prosais. Untuk menghubunginya bisa melalui nomor 082301299466. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di sejumlah media massa di Indonesia, cetak maupun elektronik, antara lain: Koran Tempo, Harian Rakyat Sultra, Denpasar Post, Malang Post, Kurung Buka, Galeri Buku Jakarta, dan lain-lain. Salah satu pendiri Majalah Lentera Bayuangga (MLB).

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Menyelami “Sisi-Sisi Yang Menghidupkan” dari Gallang Riang Gempita

Menyelami “Sisi-Sisi Yang Menghidupkan” dari Gallang Riang Gempita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co