KOTA, bagi sebagian orang, adalah sumber energi dan kesibukan. Namun bagi penyair asal Jembrana-Bali, Nanoq da Kansas, kota adalah ruang kegelisahan yang berulang. Dalam puisi “Seputar Kota Mencari Heningmu”, ia menggambarkan manusia modern sebagai makhluk yang tersesat di antara beton, limbah, dan gerak yang tak pernah berhenti. Puisi ini menjadi semakin relevan ketika dibaca bersamaan dengan Nyepi , saat seluruh kota dipaksa berhenti, tetapi hening tetap harus ditemukan di dalam diri sendiri.
Di baris pembuka:
menyerupai tikus, masih kucari heningmu
metafora tikus terasa cerdas dan ironis. Tikus, makhluk kota yang sering tersembunyi dan hidup di sela-sela, menjadi simbol manusia yang terasing. Pencarian hening bukan sekadar fisik, tetapi batin yang hilang di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk kota. “Heningmu” menyiratkan sesuatu yang persona; bisa diri sendiri, kekasih, atau bahkan pengalaman spiritual, yang menjadi rindu di tengah dunia urban.
Selanjutnya, puisi menggambarkan kota yang agresif dan merusak:
di pondasi-pondasi departemen
kulubangi beton dengan cakar waktuku
Kata-kata ini menunjukkan perjuangan manusia melawan beton dan struktur modernitas. Beton bukan hanya fisik, tetapi simbol sistem kota yang kaku, dingin, dan menekan. “Cakar waktuku” memberi kesan bahwa waktu sendiri menjadi senjata yang mengikis manusia. Limbah deterjen rumah tangga dan dekorasi gang menegaskan kota sebagai ruang yang kotor, sibuk, dan penuh residu kehidupan yang menempel pada jiwa penghuninya.
Gambaran gerak kota semakin nyata:
sejauh dua puluh empat jam
putaran oplet dan taxi
menujumu
Gerak yang terus-menerus tapi tanpa tujuan ini mengilustrasikan paradoks urban, bergerak tanpa benar-benar tiba. Oplet dan taxi menjadi simbol ritme kota yang memaksa manusia tetap berada dalam arus, meski tujuan batin tidak pernah tercapai. Nyepi menawarkan kontras yang menarik, yakni gerak dihentikan, tetapi hening batin tetap tidak otomatis hadir.
Puisi kemudian menyoroti absurditas pencarian hening:
di manakah terminal terakhir
tata ruang dilingkarkan trotoar
kota dilengkungkan antara hasrat dan kebutuhan
seluruh gerak jadi samar
bagai gerimis di permukaan kaca bus
Terminal, dalam metafora ini, adalah tempat berhenti, pulang, atau menyelesaikan pencarian. Kota modern, dengan hasrat dan kebutuhan yang tak henti, tidak menyediakan terminal. Bahkan perempatan yang “menyodorkan keterhenyakan” hanya jeda sementara, berbeda dengan hening Nyepi yang disengaja dan disakralkan.
Ironi kota diperkuat dengan penunjuk arah yang “tak pernah berhenti ketawa”. Sistem yang seharusnya memberi arah justru mengejek pencari hening. Tidak ada petunjuk yang jelas; semuanya samar. Dalam Nyepi, tidak ada papan arah, tidak ada tanda fisik, namun manusia diberi kesempatan untuk menemukan arah batin.
Puisi juga menyingkap kerinduan manusia pada alam dan kesederhanaan:
memang kesepianku yang salah
bagaimana kuingin padi menghampar dalam warna aspal
juga sepetak kebun tomat
Kerinduan ini bukan nostalgia biasa. Padi di atas aspal dan kebun tomat di kota adalah simbol keinginan manusia untuk kembali ke sesuatu yang murni, liar, dan organik. Kehidupan kota yang penuh perhitungan tidak menyediakan ruang semacam itu. Ketika halaman rumah kost digantikan oleh “kebun perhitungan”, manusia modern semakin terasing dari pengalaman alami yang menyentuh hati.
Akhir puisi:
andai saja dapat kuibadahkan sepi ini …
Di sinilah titik temu antara puisi dan Nyepi. Sepi ingin diibadahkan, diangkat menjadi ritual personal. Nyepi, secara kolektif, menghadirkan hening yang diwajibkan, tetapi puisi ini mengingatkan bahwa tidak semua sepi dapat dipaksakan menjadi ritual. Hening yang dicari manusia kota tetap lebih kompleks, lebih liar, dan lebih personal.
Di hari Nyepi, lampu-lampu padam, jalanan lengang, dan langit terasa lebih dekat. Tapi sunyi fisik tidak otomatis menenangkan batin. Seperti tikus yang menyerupai manusia, pencari hening tetap menggali beton waktu, menelisik limbah pengalaman, dan menavigasi perempatan kota yang selalu mengejeknya. Ritual kolektif memberi ruang, tetapi hening sejati tetap harus ditemukan dalam diri sendiri.
Melalui puisi ini, Nanoq da Kansas menghadirkan dialog antara hening yang dicari dan hening yang diwajibkan. Kota yang gelisah menolak manusia untuk tenang, sementara Nyepi mencoba memberi jeda. Namun, hening tetap harus ditempa dari batin. Sunyi dan riuh berjalan beriringan, tergantung bagaimana manusia menempatkan pencariannya.
Puisi juga menekankan bahwa pencarian hening bukan hanya soal menghindari kebisingan, tetapi soal memahami diri, menemukan arah batin, dan menyeimbangkan hasrat dan kebutuhan. Nyepi menyediakan peluang, tetapi pencarian harus tetap aktif, baik dalam sunyi, dalam kesendirian, bahkan di tengah kota yang tidak pernah tidur.
Seperti tikus yang menyerupai manusia, kita terus mencari hening, menyusuri beton, gang, dan perempatan, sambil berharap suatu hari sepi itu bisa diibadahkan. Puisi ini menjadi pengingat bahwa hening sejati bukan hadiah dari luar, tetapi penemuan dari dalam. Dan Nyepi, dengan segala kesakralannya, hanya menyediakan ruang, bukan jawaban. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole




























