SEBANYAK 14 Sekaa Teruna Teruni (STT) se-Kesiman, Denpasar, mengikuti Parade Fragmentari Ogoh-ogoh pada malam pengerupukan Nyepi, Rabu (18/3/2026) malam. Selain memeriahkan hari pengerupukan, parade itu juga diniatkan untuk menghidupkan kembali taksu bencingah di Kesiman.
Bencingah dulu dikenal sebagai sebuah ruang, di mana pada ruang itulah biasanya Raja dan rakyat bertemu. Melalui momen hari pengerupukan ini bencingah kembali dihidupkan sebagai ruang ekspresi seni dan kebudayaan.
Gelar Budaya Bencingah yang berisi parade ogoh-ogoh ini itu digelar di Bencingah Puri Kesiman, dan oleh generasi muda di Kelurahan Kesiman, kegiatan itu dimaknai sebagai upaya serius mengembalikan ruang bencingah sebagai pusat kekuatan seni dan tradisi.
Secara historis, bencingah merupakan bagian dari palemahan puri—ruang terbuka yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat interaksi sosial antara penguasa dan masyarakat, tetapi juga menjadi pusat aktivitas budaya dan kesenian. Namun, seiring perkembangan zaman, istilah dan fungsi bencingah mulai jarang digunakan hingga perlahan terlupakan.
Ketua Karang Taruna Kelurahan Kesiman, I Komang Kusuma Yudha, mengatakan pemilihan “Bencingah” sebagai tajuk kegiatan merupakan upaya sadar untuk menghidupkan kembali nilai historis dan kultural tersebut di tengah masyarakat modern.
“Bencingah ini kami angkat kembali agar tidak hilang. Dulu ini ruang budaya, tempat interaksi dan kekuatan seni. Sekarang kami hidupkan lagi melalui kegiatan generasi muda,” ujarnya.
Menurutnya, Gelar Budaya Bencingah tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan, tetapi ruang aktualisasi yang berakar pada semangat kebersamaan sekaa teruna. Berbeda dengan sejumlah festival yang cenderung bergerak ke arah komersial, kegiatan ini justru menitikberatkan pada nilai budaya dan partisipasi pemuda.
Pada pelaksanaan tahun ini, konsep parade dikemas dalam bentuk fragmentari, yakni perpaduan antara ogoh-ogoh dengan unsur teater, tari, dan komposisi musikal. Konsep ini menjadi pembeda dibandingkan tahun sebelumnya yang juga menghadirkan pementasan dan pawai obor.
Sementara itu, Lurah Kesiman, I Nyoman Nuada, menilai kegiatan tersebut sebagai bentuk nyata peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan tradisi Bali.
“Parade ini bukan hanya menampilkan ogoh-ogoh, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai tradisi melalui kreativitas. Ini bukti bahwa modernisasi tidak menghilangkan kecintaan terhadap budaya,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan antarbanjar serta memperkuat semangat gotong royong di masyarakat.
Sebanyak 14 ogoh-ogoh yang akan ditampilkan berasal dari berbagai banjar di Kesiman dengan beragam tema dan garapan artistik. Penampilan para peserta akan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari akademisi dan praktisi seni.
Melalui Gelar Budaya Bencingah, kawasan Bencingah Puri Kesiman kembali difungsikan sebagai panggung budaya—memadukan estetika, spiritualitas, dan kebersamaan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi penegasan bahwa ruang-ruang tradisional seperti bencingah masih relevan sebagai pusat kehidupan budaya di tengah perubahan zaman.
Ke depan, Karang Taruna Kesiman berharap Bencingah tidak hanya dikenang sebagai istilah lama, tetapi kembali hidup sebagai ikon ruang budaya yang tumbuh bersama kreativitas generasi muda. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























